
"kondisi nona Eveleen sudah stabil, tapi demamnya harus turun dalam waktu dekat jika tidak, pembuluh darahnya akan pecah" ucap dokter. "aku belum pernah mendapat pasien seperti nona Eveleen, dan juga kalian tidak bisa membawa Eveleen ke sini lagi, kalian harus membawanya ke psikolog prof. Lucas" lanjut dokter. "bukankah prof. Lucas pergi karna urusan pribadi?" ucap Johnny. "ah aku lupa, aku tidak tau lagi dokter terbaik psikolog selain prof. Lucas" ucap dokter. "aku akan mencari kebenarannya" ucap Luiz yang akan menelfon seseorang. "tidak bisa, prof. Lucas sudah pergi lebih dari dua tahun yang lalu, tapi tidak pernah kembali sampai sekarang" ucap Johnny. "tapi aku... " ucapan Luiz terhenti. "tidak ada yang bisa melacak keberadaan nya walau hecker sekalipun" lanjut Johnny. "bagaimana kamu bisa kenal prof. Lucas?" tanya dokter. "prof. Lucas adalah dokter psikolog Eveleen dahulu, aku membawanya hingga Eveleen tidak pernah kambuh lagi, kecuali orang yang terdekatnya atau orang terpenting dalam hidupnya tersiksa atau disakiti dengan fisik" jelas Lucas.
"baiklah aku akan kembali bekerja" ucap dokter pamit dan pergi. "siapa orang yang menyiksa mu kemarin?" tanya Luiz. "seseorang yang sedang dalam daftar ku" ucap Luiz terhenti setelah melihat seseorang masuk le runagan mereka. "Fabilio?" sapa Alice. Fabilio hanya berdiri di depan pintu, ia merasa menjadi pecundang di hadapan Johnny dan Eveleen setelah ia menyebabkan masalah lalu datang tanpa diundang. "apa yang kamu lakukan masuklah, lakukan seperti yang pernah kamu lakukan yang membuat Eveleen sadar dengan cepat!" ucap Alice menarik Fabilio masuk dan berdiri di dekat Eveleen. "apa yang kamu lakukan di sini" dingin Johnny dengan tatapan tajam. "tenang saja, Eveleen akan sadar setelah Fabilio memeluknya" ucap Alice yang yakin. "apa kamu merasa bangga atau seperti pecundang?" smirik Johnny. "aku akan menyembuhkan Eveleen, setelah itu... " ucapan Fabilio terpotong. "aku bilang... apa kamu merasa bangga atau pecundang berensek!!" ucap Johnny jalan dan menarik kasar krah baju Fabilio.
"apa yang kalian lakukan?!" kaget Luiz menjauhkan mereka. "berensek seperti mu tidak pantas untuk datang!" ucap Johnny emosi. "apa? apa? yang terjadi?" tanya Luiz. "aku ingin membuat Eveleen sadar saja" melihat Eveleen yang tidak sadar. "berensek!" gumam Johnny. "biarkan saja Fabilio membuat Eveleen sadar, bicarakan saja masalah pribadi kalian nanti" ucap Alice yang tidak tau apa-apa. "bukan Fabilio yang menyebabkan semua ini bukan?" ucap Luiz yang asal menebak. Fabilio langsung menatap Johnny yang juga menarap nya tajam, "nanti selesaikan urusan kita" ucap Johnny yang tidak ingin orang lain ikut campur dengan urusan mereka. Johnny kembali duduk di ranjangnya yang dari tadi menahan rasa sakit saat berdiri, "lakukan Fabilio" ucap Alice.
Fabilio mendekat dan melihat keadaan Eveleen yang membuatnya bersedih, "maafkan aku" batin Fabilio duduk di sisi ranjang Eveleen. "berikan aku sedikit pribadi, aku sedikit gugup" ucap Fabilio yang ingin Luiz dan Alice menunggu nya di luar. "baiklah kami keluar" ucap Alice membawa Luiz keluar hingga pintu tertutup rapat. "izinkan aku hanya memeluknya" ucap Fabilio kepada Johnny. "buktikan pada ku kalau kamu bisa membuat Eveleen lebih baik" ucap Johnny dingin. Fabilio mendudukkan Eveleen dan memeluknya dengan erat dan nyaman, "maafkan aku Eveleen, aku terlalu gegabah karna kamu menolak ku" bisik Fabilio uang tidak di dengar Johnny. "aku akan terus berada di sisi mu, aku tidak akan meninggalkan mu, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi" bisik Fabilio. "aku tidak akan meninggalkan mu Eveleen" ucap lembut Fabilio dan memeluknya lebih dalam lagi.
__ADS_1
"sampai kapan kamu memeluknya" ucap Johnny tak terima. "dia akan baik-baik saja, jika di sadar peluk dan katakan aku akan..... " ucapan Fabilio terputus. "aku akan menjaga mu" lanjut Johnny yang sudah tau dengan kata-kata itu saat Eveleen sadar. "maafkan aku sudah bertindak gegabah, aku pergi duku" tunduk Fabilio yang benar-benar merasa bersalah. "tindakan mu tidak salah kepada ku, tapi jika Eveleen kenapa-napa aku akan membunuh mu hari itu juga" pesan Johnny penuh ancaman. Fabilio segera pergi dan tangannya tiba-tiba di pegang oleh Eveleen, Johnny juga tidak menyangka kalau tindakan dari Fabilio membuat Eveleen cepat sadar. "Johnny~" ucap Eveleen dengan mata tertutup. "Johnny? kurasa benar Eveleen menyukai Johnny" batin Fabilio. "Eveleen? kamu sudah sadar?!" ucapnya mendekat ke ranjang Eveleen. "Johnny~" ucap Eveleen masih dengan mata tertutup.
Fabilio melepas genggaman Eveleen dan segera pergi dari ruangan itu, ia takut kalau membuat Eveleen mengingat kejadian semalam. "kamu sudah mau pergi? padahal kami baru saja membeli cemilan" ucap Alice membawa plastik putih. "tidak papa, aku ada urusan mendadak, kalian bisa masuk sekarang karna Eveleen sudah sadar" ucap Fabilio. "benarkah?!" ucap Alice segera laru dan masuk ke dalam ruangan bersama Luiz. "Eveleen tatap mata ku, aku baik-baik saja, aku akan melindungi mu" ucap Johnny saat Eveleen membuka matanya. "Johnny~" ucap Eveleen membuka tangannya agar di peluk. "aku disini menjaga mu" ucap Johnny memeluk Eveleen yang mengeluarkan air mata tanpa suara. "Eveleen aku punya kabar baik dan kabar baik lainnya, ingin mendengar yang mana dulu? " ucap Johnny melepaskan pelukan. "kabar baik dulu" ucap Eveleen. "aku akan disini bersama mu dengan waktu yang lama" ucap Johnny mengahapus air mata Eveleen. "baguslah" memeluk Johnny kembali. "apa kabar baik lainnya?" tanya Eveleen dalam pelukan. "kamu akan melihat wajah tampanku setiap hari" ucap Johnny mengacak lembut rambut Eveleen.
"kabar baik apaan itu" melepas pelukannya. "Eveleen!" ucap Luiz dan Alice yang ngos-ngosan berlari ke arahnya. "kamu baik-baik saja?" tanya Alice. "tentu saja" ucap Eveleen dengan senyuman. "tadi Fab..." ucap Luiz terputus. "apa kamu merasa lebih baik?" tanya Johnny mengalihkan pembicaraan. "aku merasa baik, tapi..." Eveleen tiba-tiba mengingat Johnny di pukuli oleh Fabilio tadi malam. "Eveleen, apa ada masalah?" tanya Alice. "Johnny! kamu baik-baik saja bukan?!" Eveleen gemetar. "hei! hei!" Johnny meraup kedua pipi Eveleen dan membuatnya menatap Johnny. "aku baik-baik saja, kamu percaya pada ku" ucap Johnny menatap dalam Eveleen. Eveleen tidak menjawab tapi mengangguk dan menatap Johnny kalau ia percaya padanya. "kita akan lalui ini bersama" ucap Johnny memegang tangan Eveleen yang tidak gemetar lagi.
Cupp..
__ADS_1
Cupp..
Cupp..
kecupan itu berulang kali oleh Johnny dan Luiz yang tidak mau mengalah, "apa ini yang dibilang mengambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Alice menarik kepala mereka yang akan mencium pipi Eveleen kembali. "aku kewalahan dengan kalian berdua" ucap Eveleen kembali berbaring. "Eveleen, Chao Chao baik-baik saja" ucap Alice yang sedang menyingkirkan dua pria itu. "Alice sayang, aku baru saja akan bertanya padamu" ucap Eveleen mencium tangan Alice. "kita sudah sehati, jangan di ragukan lagi" ucap Alice. "Luiz kamu bisa kembali bekerja dan Johnny kamu berbaringkah jangan banyak bergerak" perintah Alice yang langsung dituruti. "baiklah ku pergi dulu" ucap Luiz membawa jasnya. "owh iya aku membawakan ini karna aku sering melihat mu memakai nya" ucap Alice memberikan Headphone kepada Eveleen. "aku sampai lupa kalau Headphone ini sangat berguna" memakai nya sambil berbaring.
"tidurlah, aku akan menjaga mu disini" ucap Alice walau tidak di dengar oleh Eveleen. "nona Alice, apa kamu bisa mencari perumahan yang dekat dengan rumah Eveleen?" tanya Johnny. "apa kamu akan tinggal di sini?" tanya Alice. "untuk saat ini, iya" ucap Johnny. "aku akan mencarinya jangan khawatir, dan juga panggil aku Alice jangan oakai nona" ucap Alice. "baikan, Alice" ucap Johnny. "tapi, apa aku boleh tau tentang kehidupan Eveleen sebelumnya?" tanya Alice. "tentu" ucap Johnny dengan santai. "apa Eveleen mengalami masa-masa yang buruk saat itu? maksudku, dia pernah mengalami masa yang sulit saat berama ku dan aku baru tau kalau masa saat bersama mu adalah masa yang lebih sulit baginya" jelas Alice. "sangat sulit hingga ia pernah mencoba bunuh diri" ucap Johnny.
__ADS_1