
Eveleen terus di dorong tapi tetap bisa bertahan sekuat tenaganya, "apa lagi kamu hanya tinggal jatuh, dan semuanya selesai" ucap pria itu. "tidak akan! siapa kamu sebenarnya?!" ucap Eveleen. "jika kamu selamat, kita akan bertemu lagi" ucap pria menekan luka yang di lengan Eveleen. "aghhh tidakk!! agghh!!" ringis Eveleen yang sudah tidak bisa bertahan karna lenagnnya bertambah sakit. "selamat tinggal" ucap pria itu mendorong kuat tubuh Eveleen hingga terjungkal ke belakang. "aaaa!!!" teriak Eveleen yang jatuh dari atap. Pria itu langsung pergi dari atap, Fabilio dan Leo masih berlari ke atas menggunakan tangga darurat padahal Eveleen sudah di dorong dari atap gedung. Ponsel Fabilio terus bergetar hingga Fabilio mengangkatnya "presdir aku mendengar beritanya" ucap Mark. "jangan mengganggu ku" ucap Fabilio terus meniki tangga bersama Fabilio. "kenapa tidak baik lif?" tanya Mark. "lifnya mati" ucap Fabilio. "seseorang membuatnya berhenti seperti sudah di rencanakan, tapi sudah berjalan kembali! tapi presdir! presdir Eveleen menggantung di atas gedung menggunakan tangannya!" ucap Mark membuat Fabilio berhenti melangkah. "ada apa?!" tanya Leo yabg merasa Fabilio berhentu. "lif sudah di perbaiki" ucap Fabilio membuat mereka langsung pergi kelif.
Saat masih di lantai 25 Fabilio keluar dari Lif, naiklah dulu ada yang harus aku lakukan, Eveleen sekarang bergantung dengan tangannya" ucap Fabilio dan Leo mengangguk. "aghhh" Eveleen sudah tidak tahan lagi. "tolong! tolong!" teriak Eveleen yang tangannya sudah licin. "Eveleen! Eveleen!" teriak Leo yang udahh berada di atap. "Leo! Leo! aghhh" Eveleen sudah tidak sanggup lagi, hanya tinggal satu tangan untuk bertahan. Semua orang yang melihat juga panik dan takut kalau Eveleen akan jatuh dari atas gedung. "bertahan lah!" bergegas ke sumber suara. "Leo jangan anak ku!!" teriak Eveleen melepas genggaman nya dan berselang beberapa detik Leo tidak dapat menangkap tangan Eveleen. "EVELEEN!!!!" teriak leo yang di dengar samlai ke bawah. "aaa!!!" teriak semua orang dari bawah menutup mata mereka. Eveleen hanya pasrah dan ia berfikir ini adalah akhir dari hidupnya, ia jatuh kebawah dan menutup matanya.
Happ....
__ADS_1
Fabilio yang di depan jendela lantai 25 melihat Eveleen akan jatuh di hadapannya pun bersiap melompat menangkap Eveleen dengan cepat dan pas tepat di pelukannya. Fabilio yang memakai tali pengaman pun hanya terhempas ke kaca lantai 10 hingga pecah karna tubuhnya yang terbanting disana. Petugas keamanan pun datang ke ke lantai 10 sesuai perintah, Eveleen terlihat baik-baik hanya pingsan dan lukan memar, tapi Fabilio terluka parah hingga mengeluarkan darah di kepalanya karna melindungi Eveleen dari benturan kaca. "cepat bawa ke ambulan!" ucap petugas keamanan. "bagaimana dengan Eveleen?" tanta Fabilio yang masih berusaha sadar. "nona Eveleen baik-baik saja" ucap petugas itu hingga Fabilio lega dan tidak menyadarkan diri setelahnya.
Mereka dibawa ke rumah sakit yang sama untuk di periksa, "bawa ke ruang operasi" ucap dokter membawa Fabilio ke ruang operasi. Sedangkan Eveleen masih diobati karna luka-luka yang dilakukan oleh pria yang mendorong Eveleen tadi. Leo, Luiz, Johnny, dan Alice langsung ke rumah sakit untuk melihat keadaan mereka, "diamana korban kecelakaan yang tadi?" tanya Johnny. "nona Eveleen sudah di pindahkan ke ruang VVIP 2 dan tuan Fabilio sedang melakukan proses operasi" ucap suster. Johnny, Luiz dan Alice langsung ke ruang Eveleen, sedangkan Leo langsung ke ruang tunggu operasi menunggu kabar Fabilio.
"Eveleen! Eveleen" khawatir Alice masuk ke ruangannya. "hiks.. kamu bilang akan menemani ku saat belanja hari ini" tangis Alice. "tenang saja Eveleen akan baik-baik saja" ucap Luiz yang berusaha menenangkan. "Johnny apa kamu tidak papa? kamu terlihat pucat" ucap Luiz. "aku baik-baik saja" jawab Johnny. "hiks.. jangan hiks... " tangis Eveleen yang membuat mereka terkejut. "Eveleen kamu sudah sadar?" tanya Luiz. "Eveleen, Eveleen aku di sini tenanglah" ucap lembut Johnny mengelus lembut pipi Eveleen. "hiks... " Eveleen mulai membuka matanya perlahan walau masih menangis. "hei hei, kamu baik-baik saja? aku ada di sini" ucap Johnny menghapus air mata Eveleen. "hiks.. Johnny huaa!!" tangis pecah Eveleen memeluk leher Johnny. "kamu baik-baik saja, ada aku disini" ucap Johnny mengusap rambut Eveleen.
__ADS_1
"tapi kamu belum pulih" ucap Johnny. "aku tidak papa percayalah" ucap Eveleen yang sebenarnya tidak mau Eveleen bertemu dengan Fabilio. "biarkan aku bicara dengan Eveleen dulu" ucap Johnny. "tapi... baiklah" ucap Luiz yang membawa Alice ikut keluar. Saat pintu tertutup sempurna, Johnny langsung menatap serius Eveleen. "apa yang yang ingin kamu bicarakan?" tanya Eveleen yang ikut serius. "kamu kekasih Fabilio?" tanya Johnny membuat Eveleen menunduk diam. "apa itu benar?" Johnny kecewa yang sudah membaca raut wajah Eveleen. "benar" ucapnya menunduk. "hei, tatap mata aku jawab yang jelas" ucap Johnny mengangkat dagu Eveleen. "benar, aku kekasih Fabilio" ucap Eveleen. Perasaan Johnny seketika remuk mendengar jawaban Eveleen, ia kecewa dan merasa terlambat untuk menyatakan perasaannya. "ternyata aku terlalu lamban" ucap Johnny berusaha tersenyum. "maksudmu?" tanya Eveleen. "kenapa harus Fabilio? kenapa harus dia? kamu bisa celaka seperti tadi" ucap Johnny membuat Eveleen terdiam.
"sudahlah jangan di pikirkan, kamu ingin bertemu Fabilio bukan? aku akan mengantar mu" ucap Johnny menunduk mengambil kursi roda Eveleen yang sudah ada di sudut ruangan. "Johnny, apa kamu tidak papa?" tanya Eveleen khawatir saat Johnny menggendongnya dengan wajah yang pucat. "tentu aku baik-baik saja" ucap Johnny berusaha tegar padahal perutnya berdarah karna tertusuk pisau saat mengejar orang yang akan membunuh Eveleen tadi. "aku ada urusan dulu, tolong jaga Eveleen selagi aku tidak ada" ucap Johnny memberi alih kusi roda Eveleen ke Luiz. "kamu tidak akan lama kan?" tanya Eveleen merasa ada yang aneh. "aku tidak lama" memberikan senyumannya menatap Eveleen. "tanpa kamu minta aku akan menjaganya" ucap Luiz membawa Eveleen walau Eveleen merasa kalau Johnny sedang tidak baik-baik saja. Saat tiba di ruang tunggu operasi, mereka melihat Fabilio duduk dengan tenang walau dari matanya terlihat sangat khawatir.
"Leo" ucap Eveleen membuat Leo menoleh ke arahnya. "Eveleen kamu baik-baik saja?" tanya Leo yang didorong ke arah Leo. "aku baik-baik saja bagaimana dengan Fabilio?" tanya Eveleen. "dia masih di operasi, dan belum keluar juga" ucap Leo. "apa kamu masih terluka? baju mu berdarah" ucap Leo khawatir melihat pinggang baju Eveleen bernoda merah. Mereka yang tidak tau melihat baju Eveleen, "tidak ada luka... " Eveleen mengingat kalau Johnny mengangkatnya ke kursi roda tadi. "Johnny! Johnny pasti terluka! Luiz cepat cari dia!" ucap Eveleen panik dan khawatir. "tunggu sebentar" ucap Luiz bergegas mencari Johnny. "pasti terjadi sesuatu padanya" ucap Eveleen panik tangannya bergetar. "Ev-Eveleen Johnny pasti baik-baik saja, Luiz sedang mencari nya" berusaha menenangkan Eveleen yang melihat ia akan kambuh.
__ADS_1
Tidak sengaja Eveleen merasakan hal yang mengganjal di saku bajunya, ia mengecek dan ternyata ada kertas di sana. "kertas apa itu?" tanya Alice yang melihat. Eveleen membuka kertas itu yang nertulisan pamitan Johnny yang akan pergi, "Eveleen, aku harus menangkap orang yang melukai mu tadi, jangan khawatir aku baik-baik saja" seketika Eveleen yang membacanya, air matanya keluar. "tidak! tidak! itu bahaya!" ia melakukan pelacakan hologram di cincinnya, ternyata ia sudah di blokir oleh Johnny hingga tidak tau keberadaan Johnny sekarang. "dia terluka hiks... apa yang harus aku lakukan? hiks... " tangis Eveleen. "aku tidak menemukannya" ucap Luiz yang kembali. "aku akan kembali" ucap Leo yang pergi. "hiks... hiks.. " Eveleen tidak berhenti menangis hingga matanya membengkak. "semuanya akan baik-baik saja" ucap Leo yang datang dan memasangkan headphone ke telinga Eveleen.
"hiks..." segukan Eveleen menatap Leo. Leo hanya mengangguk dengan senyuman dan berlutut menghapus air mata Eveleen. "tolong jaga Eveleen, aku akan menjemput Chao chao dulu" ucap Luiz yang dianggukan mereka. Beberapa jam mereka menunggu dokter pun keluar dari ruang operasi. "bagaimana keadaan Fabilio dokter?" tanya Leo. "operasi berjalan lancar, serpihan kaca dan luka di kepalanya juga sudah membaik, tapi kaki tuan Fabilio patah dan harus di beri gips untuk beberapa minggu ke depan" jelas dokter. "apa aku boleh melihat Fabilio?" tanya Eveleen. "kami harus memindahkan pasien dulu" ucap dokter pergi.