
Semalaman Fabilio menunggu Eveleen sadar dan tidak tidur, ia merasa bersalah karna berprasangka buruk lagi pada Eveleen yang hampir kehilangan nyawanya. Ia menjadi takut karna saat itu, Fabilio hampir meninggalkan Eveleen di sana pada waktu itu karna kesal. Saat pagi Chao pergi ke rumah sakit bersama Alice untuk melihat, "papa!" ucap Chao yang masuk ke ruangan mereka. "hai Chao chao" ucap Fabilio menggendong Chao ke pelukannya. "papa terimakasih sudah menyelamatkan mama" ucap Chao. "aku nyaris tidak menyelamatkannya" batin Fabilio. "aku bangga sama papa" ucap Chao. "terimakasih anak ku" ucap Fabilio dengan senyuman.
"terimakasih" ucap Eveleen yang baru sadar mendengar percakapan mereka. "Eveleen?!" kaget Fabilio dan Alice. "kamu sudah sadar? apa ada yang sakit?" tanya Fabilio, sedangkan Alice menekan tombol untuk memanggil dokter datang. "tidak ada yang sakit, aku baik-baik saja" ucap Eveleen. "apa perut mu masih sakit?" tanya Alice. "tidak juga, berapa jahit perut ku ini?" tanya Eveleen. "mungkin 4" ucap Fabilio yang pernah mengalami. "empat?! perutku jadi berbekas" ucap Eveleen merajuk. "mama, kamu mencemaskan jahitannya dari pada luka mu" ucap Chao. "Chao chao, jika ada bekas luka pada tubuh mama, itu sangat buruk" ucap Eveleen. "aku menerima mu apa adanya" ucap Fabilio memegang tangan Eveleen. "ekhemm... inget ada yang jomblo disini" ucap Alice menyindir. "haha kakak masih jomlo" tawa Chao. "kamu kan juga ga punya" ucap Alice. "ada 3 sebagai pacarku, 4 gebetan, 10 cadangan" ucap Chao membuat Eveleen dan Alice membulatkan mata. "hahah hebat" ucap Fabilio tos dengan Chao.
"apa kamu yang mengajarkannya?" tanya Eveleen. "hanya sedikit pengalaman" ucap Fabilio dengan hati-hati. "Chao chao! itu kerterlalulan kamu tidak boleh mempermainkan perasaan wanita" ucap Eveleen memperingati. "kata papa itu memang harus membekas pada pria" ucap Chao.
plak...
__ADS_1
"apa yang kamu ajarkan pada anak ku!" kesal Eveleen memukul lengan Fabilio. "anak mu anak ku juga" ucap Fabilio. "apa kamu juga menyimpan banyak wanita di belakangku?!" kesal Eveleen. "tentu tidak! itu saat aku masih SMA dan masih menjadi lelaki nakal" ucap Fabilio tak mau Eveleen marah. "apa kamu membuat anak ku mejadi lelaki nakal seperti mu?!" ucap Eveleen. "tidak begitu maksud ku" ucap Fabilio. "hah~ pasangan bodoh ini masih saja bertengkar karna hal kecil" ucap Alice yang melihat Eveleen sudah baik-baik saja. "lanjitkan saja, aku akan pergi" ucap Alice yang tidak di dengar mereka berdua karna asik beragumen. Chao yang dengar hanya melambai pada Alice yang akan pergi, Chao pun hanya duduk di pangkuan Fabilio sambil mendengar celotehan orang tuanya yang, "terlihat bodoh" batin Chao.
Selesai dicek oleh dokter Eveleen, keadaannya membaik dan hanya menunggu lukanya yang akan mengering dan infusnya habis. "jika kamu sudah sehat ayo kita menikah" ucap Fabilio membuat Eveleen tersenyum mengangguk. "jangan meninggalkan aku lagi" ucap Eveleen. "itu tidak akan pernah terjadi lagi" ucap Fabilio. "mama, aku sudah cek pria yang melakukan itu pada mama, tapi aku dengar dia sudah di bunuh seseorang" ucap Chao dan membuat Eveleen dan Fabilio saling menatap.
"kamu melakukannya lagi?" batin Eveleen. "bukan aku" batin Fabilio. "masih saja?! apa kamu gila?!" batin Eveleen dan menatap tajam. "sudah ku bilang bukan!" ucap Fabilio membuat Chao keget. "kenapa papa yakin dia belum dibunuh?" tanya Chao. "bu-bukan bicara pada mu, aku hanya kepikiran sesuatu" ucap Fabilio menatap Eveleen. "aku kira papa memarahinku" ucap Chao. "papa tidak pernah marah pada mu sayang" ucap Fabilio mengacak lembut rambut Chao. "aghhh" ucap Eveleen meringis kesakitan. "apa?! apa yang sakit?!" panik Fabilio. "hahah aku bercanda haha" tawa lepas Eveleen. "jangan bercanda yang serius!? kesal Fabilio. "hahah aku hanya kesal pada diri ku sendiri karna sakit" ucap Eveleen. "kenapa kesal?" tanya Fabilio. "aku ingin cepat dinikahi kamu" ucap Eveleen membuat Fabilio salah tingkah.
Beberapa hari kemudian Eveleen dan Fabilio pergi ke toko gaun pengantin dan mencobanya. "sangat cantik" ucap Fabilio melihat gaun yang di pakai Eveleen. "kamu juga sangat tampan calon suamiku" ucap Eveleen. "apa kamu tau apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Fabilio mendekat. "apa" tanya Eveleen. "aku ingin memakan mu" ucap Fabilio menaik pinggang Eveleen. "sekarang?" tanya Eveleen menggoda. Pegawai di sana hanya mebalikkan badan membelakingi mereka yang sedang bermesraan.
__ADS_1
Siap dengan gaun, mereka hanya tinggal menunggu hari untuk segera menikah. Surat undangan sudah mereka sebarkan untuk pernikahan yang tertutup. Hanya pada orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalam pesta pernikahan mereka nanti. Depatnya di hari H, gedung yang mewah itu didatangi banyak orang-orang ternama. "Eveleen kamu sangat-sangat cantik! sayang jangan lupakan aku ya" ucap Alice. "tidak mungkin aku melupakan mu" ucap Eveleen. "bersiaplah acara akan di mulai" ucap Alice. "hm" gumam Eveleen mengangguk dengan senyuman. "selamat" ucap Leo masuk ke ruang Fabilio. "sudah ku bilang akan mendapatkan Eveleen" ucao Fabilio yang sedang berkaca. "karna dari itu aku bilang selamat" ucap Leo. "terimakasih untuk kali ini" ucap Fabilio menghadap Leo.
Leo melihat Fabilio dari bawah ke atas ntah kenapa ia merasa Fabilio tumbuh dengan cepat. "apa. kamu menangis?" tanya Fabilio melihat genangan air mata Leo. "tidak, hanya mengantuk" ucap Leo berbohong. "kamu tidak menguap bodoh" ucap Fabilio. "hanya kasihan pada Eveleen akan menikahi pria berengsek seperti mu" ucap Leo menahan air matanya. Fabilio yang peka kalau kakaknya meningis karnanya, "bisakah aku memeluk mu" ucap Leo pada Fabilio tanpa memandangnya. "aku sedang berbaik hati, hanya satu kali" ucap Fabilio membuka tangannya lebar tapi memalingkan wajah. Leo berjalan kearahnya perlahan dan memeluk Fabilio dengan erat, "aku harus melepaskan mu" ucap Leo dengan suara beratnya. Fabilio hanya tersenyum dibaliknya melihat tingkah kakaknya yang penuh dengan emosi.
"jangan menangis di jas ku" ucap Fabilio. "aku tidak meningis" ucap Fabilio yang sudah mengeluarkan air matanya. "aku hanya mengatakannya sekali, jaga kesehatan mu" ucap Leo menghapus air matanya. "terimakasih kakak" ucap Fabilio. Leo melepaskan pelukannya dan langsung pergi tanpa melihatkan wajahnya yang baru saja menangis.
Acara pun di mulai, Eveleen jalan di antara tamu undangannya dengan anggun, Fabilio dan Chao berdiri di depannya. "apa Johnny akan datang?" batin Eveleen yang terus mencari Johnny. Saat sudah di hadapan Fabilio dan Chao mereka bergandengan dan saling berhadapan, mata Eveleen tetap mencari keberadaan Johnny tapi, masih tidak ketemu. "apa yang kamu cari?" tanya Fabilio. "bukan apa-apa" kecewa. "dia disana" ucap Fabilio menatap arah belakang Eveleen. "hah?" menoleh ke belakangnya. Nampaklah Johnny yang jalan kedepan untuk melihat mereka lebih dekat, Johnny menatapnya dengan senyuman. Johnny mengode Eveleen untuk lanjutkan, dan memberikan kedua jempolnya dengan senyuman. Eveleen mengangguk dengan senyuman karna Johnny datang, acara pun dimulai hingga pengucapan janji dan sahnya suami istri ini dengan ciuman.
__ADS_1