
Jack yang merasa keanehan pada Fabilio langsung memegang tangan Fabilio dan denyut nadinya. "overdosis! pasti meminun obat-obatan!" ucap Jack yang tau. "sudah ku bilang, hanya obat biasa" jawab Fabilio dengan tenang. "obat penenang! presdir Fabilio meminum obat penenang berlebihan!" ucapnya mendekati Fabilio dan meletakkan tangannya di dada Fabilio. "jantungnya berdetak cepat! cepat bawa presdir sebelum terlambat" ucap Jack merasakan detak jantung Fabilio yang lebih cepat. "tapi presdir.." ucapan asisten Jack terputus. "kita tunda dulu" ucap Jack dan i anggukkan asistennya.
"aku tidak mau" ucap Fabilio menolak. "presdir, bukankah anda merasa sedikit pengap dan jantung mu berdetak cepat, ayo sebelum Chao chao tau kondisi mu" ucap Jack membujuk. "hm" dehem Fabilio menurutinya. Saat sudah sampai di lobby, Fabilio kehilangan kesadarannya hingga keamanan pun juga membantu menolong Fabilio memasukkan ke mobil. "presdir Fabilio sedang lelah, jadi jangan khawatir" ucap Daniel menengkan pegawai yang ada di sana. Mereka segera pergi ke rumah sakit sambil Jack terus menekan perut Fabilio agar mengeluarkan zat-zat yang ada di perut Fabilio hingga sampai di rumah sakit. "tolong kami!" sorak Jack hingga para perawat langsung turun tangan membawa troli membaringkan Fabilio.
Tubuh Eveleen dan Kayle sedang di hangatkan dengan kolam air panas masih belum sadar dan dokter Jeon sedang mengobati luka tembak di lengan Fabilio. "apa suhunya sudah turun?" tanya dokter Jeon. "sudah dokter, sudah normal" jawabnya. "angkat mereka ke kamar dan tukar pakaiannya dengan yang lebih hangat, tingkatkan suhu ruangan dari biasanya agar keringat mereka keluar" pesan dokter Jeon. "baik" jawab mereka.
Eveleen dan Kayle dibawa ke ruangan yang sama dan pakaian mereka diganti bergantian. Mereka diberi infus oleh dokter Jeon dan dibiarkan istirahat setelahnya. "jangan biarkan siapa pun masuk selain aku" pesan dokter Jeon. "baik!" jawab mereka.
Saat hari sudah mulai malam, Kayle terbangun karna merasa suhu terlalu hangat. Saat ia bangun ia melihat Eveleen tidur di sampingnya, "bukan aku yang melakukannya" ucap Kayle memeluk pinggang Eveleen dan menenggelamkan wajahnya di bahu Eveleen.
tok..
tok..
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu dan Kayle langsung bergegas untuk menjaga jarak dengan Eveleen. "anda sudah sadar tuan" dokter Jeon masuk berjalan menuju arahnya yang akan turun dari ranjang. "bagaimana keadaannya" tanya Kayle turun dari ranjang.
"nona Eveleen mulai membaik, tapi tidak dengan mentalnya" jelas dokter Jeon. "permisi, tuan Kayle kita harus pergi ke negara RD" bergegas.
"butuh waktu berapa lama?" Kayle bergegas ke luar kamar dan memakai pakaian hangatnya. "kenapa tuan cepat sekali berubah, padahal ia rela terjun ke kolam demi nona Eveleen" batin dokter Jeon.
"sekitar beberapa minggu tuan" jawabnya. "apa semuanya sudah di persiapkan?" tanyanya sambil berjalan turun ke bawah. "tuan Joen sudah mempersiapkan semuanya tuan" Kayle hanya mengangguk.
"anna saya titip nona Eveleen, jangan sampai ada orang yang menyakitinya, jika terjadi sesuatu kamu hubungi saya diam-diam, dan saya tidak ingin tuan Kayle melihat nona Eveleen terluka, jika kamu gagal dalam hal ini saya akan membakar mu hidup-hidup" jelas dokter Jeon panjang lebar kepada anna.
"bagus" dokter Jeon pergi dan menyusul Kayle yang akan menaiki helikopter. Kayle naik dengan melihat tidak suka dengan dokter Jeon, "dia kenapa lagi?" batin dokter Jeon.
Helikopter mulai bergerak dan terbang meninggalkan rumah. Saat Anna akan masuk ke kamar Eveleen, kepala belakangnya dipukul oleh seseorang hingga tak sadarkan diri. Ternyata seorang wanita bernama Gyska yang dikenal dengan wanita sederajat Kayle karna melakukan kerja sama yang sudah sangat yang lama, semua orang tau itu.
__ADS_1
"bawa dia" perintah Gyska kepada anak buahnya. "baik" membawa Anna dari sana. Gyska masuk ke kamar Eveleen, ia melihat Eveleen terbaring masih belum sadarkan diri. "kenapa Kayle peduli dengan mu, apa yang kamu punya" melihat Kayle yang selama ini sangat hangat dengan Eveleen. "ruangan mu sangat hangat, bukan, terlalu hangat" smiriknya.
Gyska berjalan ke arah mengatur suhu hingga membuat ruangan itu dingin dan membuka jendela balkon kamar Eveleen. "istirahat lah dengan tenang" ucapnya langsung pergi. Suhu ruangan Eveleen sudah sangat dingin hingga tak ada yang tau kalau Eveleen akan membeku di sana. Di saat ruangan itu sangat dingin, Eveleen sadar dengan keadaan sangat lemah. "di-dingin sekali, siapapun to-tolong aku" berusaha menyelamatkan dirinya. Tubuhnya susah bergerak dan lemas, hingga ia ingat kalau ada tombol untuk memanggil bodyguard Kayle untuk datang jika ia butuh pertolongan. Tombil itu terletak di bawah kasurnya, hanya ia dan Kayle yang tau tombol rahasia itu.
Eveleen menekan tombol itu dan menunggu bantuan, hingga tak butuh waktu yang lama, para bodyguard itu langsung ambil langkah untuk segera ke kamar Eveleen yang di jaga oleh anak buah Gyska. "menyingkirlah" mereka menyingkirkan anak buah itu dan segera masuk ke kamar Eveleen.
"Nona!" mereka bersepuluh bergegas membatu Eveleen dan menaikkan suhu kehangatan kembali. "dimana... dimana Kayle" lemasnya. "tuan sedang pergi, nona jangan khawatir kami akan melindungi dan akan menjaga nona" ucap salah satu dari mereka. "Fabilio! Fabilio dimana?!" Eveleen kehilangan akal sehatnya kembali. "nona.. " "kubilang dimana Fabilio sialan!" marah Eveleen. "nona! TENANGLAH!" membesarkan suaranya hingga Eveleen terdiam.
"apa yang kamu lakukan" temannya yang sadar kalau temannya membentak Eveleen. "nona sadarlah, itu hanya omong kosong, Fabilio tidak ke sini dan tidak akan ada yang berani menyentuh mu jika ada kami di sini! kami akan menjaga mu, kamu bisa melakukan apa yang kamu mau jika bersama kami, tidaka da tekanan apa pun itu! ku mohon bantuannya kami juga tidak ingin terkena masalah, aku bersungguh-sungguh untuk menjaga nona" bujuknya panjang lebar menatap mata Eveleen yang awalnya kosong hingga menatapnya kembali hingga timbulnya kepercayaan disana.
"tapi hiks.. aku ingin pulang... hiks.. " mencengkam erat lengan baju bodyguard itu. "nona bersabarlah, kami juga tidak bisa melakukan itu tanpa perintah tuan" jawabnya. "aku hiks.. butuh bantuan hiks.." masih mengeluarkan air matanya.
"katakan nona" mereka mendengarkan dengan baik. "pelukan hiks... aku butuh pelukan hisk..." mereka saling tatapan satu sama lain. "kami.. kami tidak beran...." Eveleen menarik bodyguard itu ke pelukannya tanpa mendengar jawaban bodyguard itu. "hiks... huaa.... " tangisannya tambah keras. "no.. nona tenanglah" memeluk kembali dengan ragu dan berusaha menenagkannya.
__ADS_1
"bagaimana keadaan Fabilio dokter?" tanya Jack bersama Daniel. "Overdosis yang membuatnya keracunan obat, sekarang tuan Fabilio sedang istirahat dalam masa pemulihan" jawab dokter. "baik terimakasih dokter" mereka segera masuk. mereka melihat keadaan Fabilio sedang di infus berbaring tak berdaya.