
Leo yang mengetahui kalau Eveleen yang marah di bar miliknya pun datang untuk melihat keadaan di sana. "apa yang terjadi?" tanya Leo. "nona Eveleen berpesan kalau tuan Fanilio atau Leo tidak boleh bermain dengan wanita yang belum dinikahi, atau tidak kami akan di pecat oleh mu" jelasnya yang pernah bertemu dengan Eveleen. "tuan Fabilio bersama nona yang tamu kita di kamar VVIP hingga di lihat nona Eveleen saat mereka nekat" ucap pelayan yang mendengar alasan wanita tadi. "aishhh, lalu bagaimana Fabilio?" tanya Leo. "pingsan tak sadarkan diro setelah di pukuli nona Eveleen" ucap pelayan.
derttt...
"tuan, nona Eveleen pergi ke hotel XXX" panggilan dari bawahannya yang mencari tau keberadaan Eveleen. "baiklah" ucap Leo pergi ke hotel dimana Eveleen berada. Saat tiba di hotel, Leo menanyai keberadaan Eveleen di petugas Loby. "diaman kamar wanita yang bernama Eveleen?" tanya Leo dengan cemas. "maaf tuan, nona ini tidak mengizinkan orang mengetahui nya" ucap pegawai itu. "ini mendesak! cepat beri tahu!!" panik Leo. "tidak bisa tuan, ini sudah aturan dari hotel kami" ucap nya lagi. "Eveleen dalam masalah besar! jika dia kenapa-napa bagaimana?!" marahnya. "maaf tuan kami tidak bisa" ucapnya terus menolak. "Eveleen orang yang sedang mengalami mental yang khusus, jadi aku hanya mengeceknya baik-baik saja jika kalian tidak percaya pada ku kalian bisa mengawasi ku, takutnya ia depresi jangan lupa bawa kunci cadangan" jelas Leo panjang lebar. Dengan menerima anggukan dari semua pegawai, Leo di izinkan menemui Eveleen bersama dengan rekan-rekan pegawai.
"cepatlah" mereka segera menuju kamar Eveleen dengan cepat. Setelah tiba di depan pintu kamar Eveleen, mereka segera membukanya tanpa pikir panjang setelah melihat kekhawatiran Leo. Saat pintu terbuka tampak lah ruangan Eveleen seperti kapal pecah dan adanya darah yang berserakan di mana-mana hingga di tembok sekalipun. "EVELEEN!!" teriak Leo mencari keberadaan Eveleen. Saat mendengar suara air yang mengalir, Leo bergegas ke kamar mandi dan melihatlah Eveleen yang sudah tenggelam tak sadarkan diri di dalam air bathtub yang terlihat merah. "EVELEEN?!!" teriaknya mengangkat Eveleen dari bathtub yang terus mengalir.
__ADS_1
Pelayan yang di sana panik dan menelfon ambulan untuk menolong Eveleen. "Eveleen, Eveleen, sadarlah" memberikan nafas buatan dan menekan-tekan dada Eveleen untuk penyelamatan pertama. "sadarlah" terus berusaha menyelamatkan Eveleen yang sudah sangat pucat. "sadarlah sadarlah sadarlah! ku mohon" paniknya yang terus berusaha. "huk... hukk..." batuk Eveleen yang mengeluarkan air dari mulutnya. "kamu tidak papa?" memegang pipi Eveleen dan memeluknya. "aku khawatir pada mu" merasa lega walau Eveleen tidak menjawab nya yang menatap kosong.
"ambulan sudah tiba tuan" ucap salah satu pegawai. Eveleen di bawa ke rumah sakit oleh Leo dan mengabarkan keadaan Eveleen pada Luiz dan Alice. Beberapa jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi, "bagaimana keadaan Eveleen dokter" tanya Luiz yang sudah tiba dengan Alice. "banyaknya serpihan kecil kaca membuat kami sedikit kesusahan mengeluarkannya, air yanga da di tubuhnya sudah tidak ada karna pertolongan pertama, tapi nona Eveleen sepertinya mengalami panas yang tinggi" jelas dokter dan pergi. "jangan lagi" isak Alice dan dipeluk Luiz untuk menenangkan nya. "kami akan memindahkan pasien sesuai permintaan anda" ucap salah satu dokter mendorong ranjang Eveleen. Eveleen di pindahkan ke ruang rawat VVIP atas permintaan mereka, Eveleen tidak sadarkan diri dengan wajah yang pucat dan di kedua tangannya yang di perban.
"apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Luiz. "aku tidak tau, hanya saja salah satu pegawai ku melihat Eveleen emosi hingga aku menyuruh seseorang menemukan keberadaan Eveleen yang ternyata di hotel, perasaan ku tidak enak hingga menyusulnya yang ternyata sudah kacau dan menemukannya di bathtub dengan air berwarna merah" jelasnya. Alice tidak bisa berkata apa-apa hingga lemas duduk di sofa untuk istirahat karna syok. "Eveleen?!" ucap Johnny masuk ke dalam kamar dengan wajah yang khawatir. "kenapa ini terjadi lagi?! aku baru saja mencemaskan hal ini" ucap Johnny berdiri di samping ranjang Eveleen. "dengan siapa Eveleen bertemu tadi?!" kesal Johnny. "ntah lah" ucap Leo yang berbohong. "sudahlah, duduk dulu kamu akan membuat Alice bangun" ucap Luiz. Johnny duduk di samping ranjang Eveleen dengan menggenggam tangan Eveleen yang di perban.
Hari pun pagi, Eveleen tidak juga sadar dan panasnya tambah naik, Johnny tidak tidur sekali pun untuk menunggu Eveleen bangun. Leo, Luiz, dan Alice masih tidur di sofa, Johnny juga mendapat kabar kalau rekaman Eveleen yang terjadi sebelum itu sudah di hapus hingga tidak bisa di pulihkan. "Johnny, apa kamu tidak tidur semalam?" tanya Leo yang bangun. "hm" dehem Johnny yang masih menatap Eveleen. "aku harus balik, jika Eveleen sudah sadar tolong kabari aku" ucap Leo pergi dari ruangan Eveleen. Saat itu Leo memasang wajah yang marah dan geram untuk pergi menemui Fabilio yang masih di barnya. Fabilio yang baru bangun memegang kepalanya hingga merasa tubuhnya terasa remuk. "apa yang terjadi?" ucap Fabilio yang merasa wajahnya babak belur. Saat melihat ke cermin, terlihat hidungnya yang mengeluarkan darah yang sudah beku. "siapa yang memukul ku semalam?" ucap Fabilio memikirkan apa yang terjadi semalam. "ASTAGA?!" syok Fabilio yang mengingat kalau Eveleen datang saat ia bermain dengan seorang wanita.
__ADS_1
Fabilio di pukuli oleh Leo yang baru saja datang hingga jatuh, "kamu memang berengsek, tidak tau malu! pria sialan" maki Leo. "apa yang kamu lakukan?!" ucap Fabilio menarik krah baju Leo dengan kesal. "seharusnya aku tidak melupakan mu seorang pembunuh! kamu hampir membunuh orang yang ku sayang lagi! apa hidup mu hanya membunuh orang-orang yang tidak bersalah?! sadarlah bodoh!" ucap Leo membuat Fabilio mematung. "apa terjadi sesuatu pada Eveleen?" ucapnya menjadi memucat panik. "kamu hampir membunuhnya berensek! sialan!" mendorong Fabilio yang masih mencerna kalimat Leo. "aishh aaa!!!" teriak Fabilio yang frustasi. "pasti Eveleen kembali untuk menemui ku" batin Fabilio mengacak rambutnya frustasi. "aku harus melihatnya" Fabilio segera pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Alice.
Johnny yang baru datang dari luar rumah sakit membeli beberapa makanan untuk Alice dan untuknya tidak sengaja berpapasan dengan Fabilio. "apa yang kamu lakukan di sini?" dingin Johnny. "bagaimana keadaan Eveleen?" tanya Fabilio. "bukan urusan mu lagi, sekarang pergilah sebelum aku membunuh mu" ucap Johnny dengan tatapan mematikan. Fabilio yang tidak bisa apa-apa setelah Johnny mengetahui ia seorang mafia harus menurutinya. "Eveleen maafkan ku" batin Fabilio kembali dan pergi ke mobilnya. "kenapa aku terus membawa masalah pada hidup Eveleen" kesalnya membenci dirinya. "apa kamu melihat Fabilio? katanya dia akan datang" ucap Alice. "tidak" dingin Johnny meletakkan makanan di atas meja. "kapan Luiz pergi?" tanya Alice. "tadi saat kamu masih tidur, sekarang sarapanlah dulu" ucap Johnny duduk di sofa.
"jangan mengundang Fabilio lagi, dia tidak ada urusan dengan Eveleen" ucap Johnny. "tapi Eveleen menyukai nya" ucap Alice. "Eveleen tidak menyukai nya lagi" ucap Johnny membuat Alice mengernyitkan kening. "bagaiamna kamu tau?" tanya Alice. "Eveleen sudah menolaknya saat kami di pantai waktu itu" ucap Johnny melahap makanannya. "benarkah?! apa terjadi sesuatu saat di pantai? ku dengar kamu bertemu dengan Eveleen saat di pantai juga, apa itu sebuah kebetulan" ucap Alice panjang lebar. "bukan urusan mu, yang penting Fabilio tidak da urusannya dengan Eveleen, ingat pesan ku" pesan Johnny yang di anggukkan Alice. "tapi tetap saja Fabilio akan ku kabari" batin Alice menjawab.
"jika kamu membawa Fabilio diam-diam tanpa sepengetahuan ku, kamu akan ku kubukan tanpa jejak" ancam Johnny dengan ajah yang serius. "Jo-Johnny, jangan menjadi orang yang mengerikan, aku bisa takut" ucap Alice ketakutan. "aku hanya bercanda, habiskan makanan mu" ucap Johnny dengan senyuman membuat Alice sedikit lega. "dengan siapa kamu tinggal kan Chao chao?" tanya Johnny. "aku menitipkan ke paman dan bibinya Luiz saat akan ke sini bersama Luiz" ucap Alice. "apa mereka tau keadaan Eveleen?" tanya Johnny. "tidak, mereka bisa saja khawatir dan akan syok jika tau keadaan Eveleen yang tidak biasa saat masuk ke rumah sakit, kami merahasiakannya" jelas Alice.
__ADS_1
"apa kamu tidak pulang dulu dan mengganti pakaian tidur mu?" tanya Johnny. "kamu benar, aku akan pulang setelah ini" ucap Alice memakan sarapannya. Fabilio yang frustasi dari tadi hanya marah-marah kepada semua pegawainya hanya karna masalah sepele seperti tali sepatu, dasi, dan apapun itu bukan masalah yang tidak di besar-besarkan. "apa terjadi sesuatu presdir?" tanya Daniel. "pergilah dari hadapan ku" dingin Fabilio. "tapi presdir kamu bisa ceritakan pada ku apa yang terjadi kemarin" ucap Daniel. "pergilah! jangan membuatku membunuh mu!" marah Fabilio. "ku anggap itu tidak berhasil" gumam Daniel yang tidak di dengar Fabilio. "apa presdir Eveleen menolak presdir lagi? atau presdir Eveleen kambuh saat melihat presdir Fabilio?" batinnya terus bertanya.
"Jack, aku akan menggantikan Eveleen sementara" ucap Luiz menelfon Jack. "presdir Eveleen ada dimana presdir?" tanya Jack. "Eveleen tidak bisa di ganggu dulu" ucap Luiz. "padahal aku baru saja bertemu dengannya dan pulang dengan wajah yang biasa saja" ucap Jack. "apa kamu tau Eveleen pergi kemana semalam?" tanya Luiz. "tidak tau, dia hanya mengatakan akan bertemu seseorang sebentar, saat aku katakan akan menemaninya dia menolak" jelas Jack. "baiklah, jika ada sesuatu yang bisa ku bantu hubungi saja aku" ucap Luiz. "baik presdir" ucap Jack kembali bertugas. "siapa orang itu hingga membuat Eveleen depresi?" Luiz yang bicara sendiri.