LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
°•28•°


__ADS_3

"AAAAAAA!!!!" teriakan di pagi hari yang membuat Eveleen kaget dan menuju arah suara yaitu di kamar. "ada apa?!" ucap Eveleen membuka pintu kamar yang di huni Fabilio dan Leo yang berada di lantai. Fabilio dan Leo juga kaget karna kedatangan Eveleen yang tiba-tiba, "apa yang terjadi?" ucap Fabilio yang di lantai dengan keadaan berantakan. "apa kalian tidak ingat?" ucap Eveleen melipat tangan didada di depan pintu. "apa itu?" mereka berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Fabilio mengingat kalau ia memeluk Leo, menyatakan perasaan kepada Eveleen, dan menciumnya. Leo mengingat kalau ia sangat aku dengan Fabilio, menyatakan perasaan kepada Eveleen, dan juga mencuimnya. Fabilio dan Leo saling tatapan dan mereka frustasi "Aaaaa!!!!!" teriak mereka lagi.


Beberapa menit kemudian Fabilio dan Leo selesai mandi dan jalan ke ruang makan dari arah yang berbeda. "duduk lah" ucap Eveleen dan mereka menurut. "makan soop lah ini untuk pereda mabuk kalian" ucap Eveleen menaruh mangkuk di depan mereka. "apa? bagaimana kamu ada di sini?" tanya Leo tidak mengingat semuanya begitupun dengan Fabilio. "seseorang menelfon ku dan menyuruh menjemput kalian yang sangat-sangat mabuk!" kesal Eveleen. "apa yang kalian pikirkan hingga mabuk tak sadarkan diri! kalian buang-buang waktu aja" ucap Eveleen seperti sedang memarahi anaknya. "bukan apa-apa, tapi apa yang terjadi pada kepala ku? rasanya sakit sekali sampai sekarang" ucap Fabilio memegang kepalanya yang sakit. "aku juga, apa kita berkelahi?" ucap Leo. "ntah lah" ucap Fabilio memakan soop buatan Eveleen. Eveleen hanya diam karna ia lah yang memukul mereka berdua saat itu dengan keras.


"maafkan aku" batin Eveleen. "kenapa kamu masih di sini?" tanya Fabilio. "kamu bisa mencari kunci gembok itu" ucap Eveleen. "rumah ku tidak bergembok" ucap Leo. "apa kamu tidak ingat semalam? aku ingin pulang saat itu" ucap Eveleen. Leo mengingat kejadian dimana saat itu ia merantai pintu nya lalu di gembok dan membuang kuncinya ke toilet. "aishhh" merasa malu pada diri sendiri, di depan Eveleen ia melakukan hal-hal yang bodoh. "hahah" kekeh Fabilio menertawakan. "dan kamu!" ucap Eveleen menunjuk Fabilo yang tertawa. "kamu! ingin terbang?!" ucap Eveleen membuat Fabilio mengingat kembali. Saat itu Fabilio heboh ingin terbang seperti anak kecil dan membuat keributan di rumah menyuruh Eveleen membuatnya terbang. "Hahaha!!!" tawa Leo yang tidak bisa berhenti.

__ADS_1


"cepat habiskan, lalu buka pintu itu kembali" ucap Eveleen meminum jus stroberi nya. "apa kalian ingin sebuah hadiah misteri dari ku?" ucap Eveleen mendapat perhatian. "apa itu?" tanya Fabilio. "jika aku katakan itu bukan misteri" ucap Eveleen. "lalu?" Eveleen hanya tersenyum jahil dan membuat mereka merinding. "dimana kamu tidur semalam?" tanya Leo. "ku rasa kamar mu, maaf aku tidak bilang karna Fabilio terus membuat masalah" mengingat saat Fabilio mengejar Eveleen untuk membuatnya terbang. "tidak papa asal kamu nyaman" ucap Leo membuat Fabilio kesal. "rumah mu sangat bersih dan kamar mu tertata dengan rapi, aku merasa nyaman" ucap Eveleen. "apa kamu sudah mengabari orang rumah?" tanya Leo. "aku sudah mengabarinya" jawab Eveleen. "owh iya, dua hari lagi Chao chao anak ku ulang tahun yang ke 6, kalian di undang" memberikan kartu undangan ulang tahun masing-masing kepada mereka.


"aku akan datang" ucap Leo mengambil kartu undangan itu. "apa yang Chao chao sukai? aku akan membungkus hadiahnya" tanya Fabilio mengambil kartu undangan juga. "bawa saja yang kalian inginkan, Chao Chao pasti menyukainya" ucap Eveleen. "baiklah akan ku pikirkan" ucap Fabilio. Tak lama kemudian mereka selesai makan dan bersiap-siap untuk pulang setelah gembok itu bisa di buka. "aku pinjam mobil mu dulu! terimakasih!" ucap Fabilio langsung pergi. "sampai jumpa lagi, ingat jangan minum alkohol lagi" pesan Eveleen. "baiklah, terimakasih" ucap Leo yang di anggukkan Eveleen. "aku pergi dulu" ucapnya melambai dan Leo membalas lambaian Eveleen. Mereka pergi menyibukkan diri masing-masing seperti biasa, Eveleen pulang ke rumahnya untuk membersihkan diri. "Chao chao mama akan menjemput baju sekolah mu, kamu mau ikut atau di rumah sama Alice?" tanya Eveleen yang sudah siap-siap untuk ke kantor. "aku ikut saja, kakak Alice katanya mau belanja, aku tidak mau pergi belanja" ucap Chao. "kenapa?" tanya Alice. "perempuan sangat lama untuk belanja, aku sebangai laki-laki terbebani" ucap Chao membuat Eveleen dan Alice terkekeh. "baiklah, hati-hati di jalan" ucap Alice mengacak lembut rambut Chao. "aku pergi dulu, kartu nya ada di meja" ucap Eveleen yang meninggalkan black card nya di meja untuk Alice.


Fabilio pun melajukan kendaraannya, "Chao chao, saat kamu pertama sekolah ingin hadiah apa dari papa?" tanya Fabilio. "tidak per.... " ucapan Eveleen terputus. "aku ingin drone!!" ucap Chao dengan semangat. "aku bisa membelikannya untuk mu" ucap Eveleen. "tapi ini hadiah dari papa" ucap Chao. "baiklah, papa akan belikan pada mu" ucapnya membuat Chao senang begitu juga dengan Eveleen. Beberapa menit kemudian mereka sampai di sekolah Chao, "sekolahnya bagus, dan di penuhi anak-anak yang manis" ucap Fabilio melihat di sekelilingnya. "Luiz yang rekomendasi ini sekolah yang cocok untuk Chao" ucap Eveleen. "tidak ada tes bukan?" tanya Chao. "tidak, kamu bisa melakukan hal yang normal di sini dan tidak akan merasa bosan" Chao senyum dengan menganggukkan kepala. "ayo kita ambil seragamnya dulu" ucap Eveleen. "aku pinjam Chao chao dulu" ucap Fabilio kepada Eveleen. "baiklah" ucap Eveleen pergi. "Chao chao, kamu lihat anak-anak yang sedang bermain bersama itu?" menunjuk ke anak-anak yang sedang bermain bola bersama. "cobalah untuk bergabung" ucap Fabilio. "aku tidak yakin" ucap Chao mundur ke belakang Fabilio.

__ADS_1


"ingin mencoba?" tanya Fabilio. "tidak" ucap Chao menolak. Fabilio bersimpuh menyama tinggikan tubuhnya dengan Chao, "segala sesuatu itu harus di coba, kamu tidak akan menyesal, jika kamu sudah menyerah sebelum perang kamu akan menjadi pecundang" bujuk Fabilio. "mau papa temani?" tanya Fanilio. Chao mengangguk dan jalan menuju lapangan memegang tangan Fabilio. "coba lah" ucap Fabilio. Chao malah bersembunyi lagi di belakang Fabilio, guru yang di sana juga melihat Chao yang sedang di bujuk dan menghampiri nya. "hai~ aku akan menjadi guru mu nanti" sapa guru wanita itu. "nama nya siapa?" ucapnya berdimpuh membujuk Chao. "aku Chao Chao" ucap Chao di belakang Fabilio "maaf, Chao Chao tidak bisa dekat dengan orang-orang baru" ucap Fabilio dan di mengerti guru. "anak-anak, kita dapat teman baru lagi!!" ucap gurunya membuat anak-anak itu berkumpul di hadapannya. "apa yang harus kita lakukan jika ada teman baru?" tanya gurunya. "menyapanya!!" ucap anak-anak itu dengan serentak. "sekarang kalian kedatangan teman bernama Chao Chao" ucap guru. "hai Chao chao!!" sapa mereka.


"Chao chao, apa kamu ingin main bola bersama?" tanyanya jalan ke arah Chao. Chao merasa tertarik tapi belum percaya diri, "nama ku Lin lin" ucap anak laki-laki itu. "nama ku Chao chao" jawab Chao tidak bersembunyi lagi dan mulai tertarik. "papa akan menunggu mu" ucap Fabilio membuat Chao tersenyum. "ayo" menarik tangan Chao untuk bermain di lapangan. "anak-anak memang seprrti itu, kita tidak bisa memaksa tapi bisa membuatnya tertarik" ucap guru tersebut. "Chao chao bukan anak yang biasa, di anak yang genius jadi dia lebih banyak belajar dari pada sosial" ucap Fabilio. "owh iya, aku juga mendengar kalau satu anak genius yang di rahasiakan masuk ke sekolah kami, jadi dia Chao chao" ucap guru mengangguk. Eveleen yang sudah mengambil seragam sekolah Chao pun mencari Fabilio dan Chao disekitar. "Eveleen!" panggil Fabilio melihat Eveleen yang sepertinya mencari mereka. "istri anda sangat cantik" puji guru tersebut.


Eveleen pun jalan menuju ke arah nya dan menyapa sang guru, "dimana Chao?" tanya Eveleen. "dia sedang bermain dengan dunianya" ucap Fabilio menunjuk Chao sedang bermain. "wahh" Eveleen terharu melihat Chao seprti anak normal lainnya. "kalian terlihat sangat serasi, dan Chao chao terlihat tampan seperti papa nya" ucap guru membuat Eveleen terdiam. "Haha apa Chao chao mirip dengan ku?" ingin memancing guru. "tentu, rambut dan wajahnya mirip dengan mu" ucap guru dengan jujur. Fabilio dan Eveleen saling menatap satu sama lain, mereka bingung tapi yang di katakan guru memang benar tidak ada yang salah. "ap-apa saya salah bicara?" tanya guru yang melihat ekspresi mereka yang aneh. "iya" ucap Eveleen. / "tidak" jawab Fabilio dengan serentak. Guru menjadi bingung karna Fabilio dan Eveleen saling menatap dalam yang penuh dengan kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2