
Johnny masih belum sadar hingga pesawat sampai di bandara, mereka sudah sampai tapi tanda-tanda kesadaran Johnny belum kelihatan. Merela masih di dalam pesawa karna menunggu kursi roda untuk Johnny. "apa aku memukulmu terlali keras?" Eveleen jadi sedih merasa bersalah. "apa dia sangat lemah?" tanya Fabilio. "dia bukan lemah, hanya saja aku memukul di titik yang salah" ucap Eveleen. "huaa... Johnny maafkan aku! bangun~" rengek Eveleen menggoyang-goyangkan tubuh Johnny yang berbaring. "hei hei kenapa kamu menangis, dia akan sadar" ucap Fabilio kepada Eveleen. "huaaa!!!" tangis Eveleen yang pecah karna sudah menahannya dari tadi. "hah~~" Johnny yang sadar mengambil nafas dalam-dalam. "Jo-Johnny?! huaa... akhirnya kamu sadar!" memeluk Johnny lega terlapas dari kekhawatiran.
"ada apa?! kenapa kamu menangis? dimana aku?" tanya Johnny yang baru sadar dan merasakan kepala belakangnya sakit. "maafkan aku" ucap Eveleen merasa bersalah. "kamu melakukannya lagi?!" kesal Johnny duduk memegang kepala belakangnya. "maafkan aku, aku tidak akan mengulangnya lagi" memegang lengan Johnny. "kenapa kamu sadarnya sangat lama? lemah" ucap Fabilio yang kesal melihat Eveleen memegang lengan Johnny. "bukan urusan mu" ucap Johnny berdiri dan keluar dari pesawat yang di pegangi Eveleen, "kursi rodanya sudah datang" ucap Eveleen melihat seseorang membawakan kursi roda untuk Johnny. "untuk siapa?" tanya Johnny. "duduk lah, kamu tidak akan bisa berjalan dengan baik" ucap Eveleen memaksa Johnny untuk duduk di kusi rodanya. Fabilio memegang tangan Eveleen saat akan mendorong kursi roda Johnny. Eveleen hanya tersenyum dan membimbing setu tangan Fabilio mendorong kursi roda Johnny dan tangan Eveleen di atas tangan Fabilio.
Fabilio hanya tersenyum dan ikut mendorong kursi roda Johnny dengan sebelah tangannya. "Eveleen, apa aku masih hidup?" tanya Johnny. "tentu kamu masih hidup" jawab Eveleen. "kenapa aku tidak bernafas?" tanya Johnny. "kamu hanya tidak sadar" ucap Eveleen. "kenapa dia?" tanya Fabilio pelan. "hanya efek samping jika kepalanya dipukul" ucap Eveleen. "apa itu kelemahannya?" tanya Fabilio. "tidak juga, dia sama seperti mu mempunyai masa lalu seperti kamu punya mimpi buruk dan Johnny memiliki titik sensitif karna masa lalu" jelas Eveleen. "Eveleen kamu bukan pemukul ku bukan?" tanya Johnny. "bukan, tenang saja aku akan menjaga mu" ucap Eveleen. "dia hilang keaadaran?" tanya Fabilio. "dia merasa masa lalu kembali lagi, ini kedua kalinya aku memukul kepalanya" ucap Eveleen yang di anggukkan Fabilio.
__ADS_1
"Johnny kamu bisa istirahat dulu" ucap Eveleen menjulurkan tangannya. "baiklah" ucap Johnny memeluk tangan Eveleen yang di julurkan tadi. "apa yang kamu lakukan?" tanya Fabilio berhenti. "kamu bisa menolong ku mendorong kursi roda Johnny?" ucap Eveleen yang tidak bisa mendorong kursi rodanya lagi karna tangannya sudah di peluk Johnny. "Leo, bantu aku" ucap Fabilio kepada Leo yang berada di belakang mereka. "kenapa aku?" ucapnya langsung pergi. "sial, kamu bantu Johnny" ucap Fabilio kepada bodyguard nya. "baik" ucapnya. Fabilio berdiri di samping Eveleen dan menggenggam tangan Eveleen yang nganggur. "ayo" ucap Eveleen dengan senyuman. Eveleen berjalan diantara Johnny yang memeluk tangannya dan Fabilio yang menggenggam tangan sebelahnya. Saat jalan ke luar, semua perhatian hanya pada mereka terutama Eveleen yang dikelilingi pria tampan.
Saat mereka sampai ke mobil, Eveleen dikejutkan dengan wajah Johnny yang berubah menjadi hitam perlahan walau hanya dibeberapa titik seperti hidung pipi dan bibir. "apa? apa yang terjadi pada wajah Johnny?!" panik Eveleen yang membuat Fabilio, Leo, dan sopir menoleh ke belakang. "apa?! kenapa dia?!" kaget mereka. "wajahnya seperti di coret dengan spidol, kukira dia mendapat penyakit" ucap Eveleen memegang wajah Johnny yang mudah di hapus. "apa karna spidol tadi? tapi padahal tidak ada tinta" batin Fabilio bingung. "tapi siapa yang mencoret nya? padahal tadi tidak ada" ucap Leo. "apa kamu melakukan sesuatu pada wajah Johnny?" tanya Eveleen curiga pada Fabilio. "kenapa kamu curiga pada ku? aku tidak melakukan apapun" ucap Fabilio kesal menghadap ke depan kembali.
"kalian punya nyali yang besar hingga mengepung kami di tempat yang ramai" ucap Fabilio. "siapa yang menyuruh kalian?" tanya Leo. "kami ingin Eveleen" ucapnya turun dari motornya dan di ikuti yang lain. Mereka menjadi sorotan banyak mata disana, "Eveleen tidak da hubungannya dengan kalian" ucap Fabilio. "dia berhubungan dengan kami ucapnya. "hah?" bingungnya. "jangan bicara omong kosong, pergilah" ucap Leo. "tidak akan" ucapnya. "siapa atasan kalian?" tanya Leo. "bukankah kami sedang menjemput nya" ucapnya langsung menunduk setelah Eveleen keluar dari mobil. Fabilio dan Leo yang melibat mereka di segara sisi sedang membungkuk pun melengah ke belakang, betapa kagetnya mereka setelah melihat Eveleen keluar dengan anggun dari mobil.
__ADS_1
"hai" sapa Eveleen kepada mereka pria motor. "kakak! kami sudah mendengar kamu sakit hingga mencari tau keberadaan mu, tapi ternyata kamu terlihat sehat hari ini" ucap salah satu dari mereka. "kakak?!" kaget Fabilio dan Leo. "kalian membuat keributan disini, minta maaflah dan pergi dari sini, aku akan menghubungi kalian" perintah Eveleen. "maafkan kami!" serentak mereka membungkuk dan segera pergi. "sampai jumpa kakak!" serentak mereka sebelum pergi. "hati-hati" ucap Eveleen yang membuat semua orang yang melihat menganga. "apa kamu ketua yang mereka bilang?" tanya Leo. "kita harus masuk dulu, kita membuat macet" ucap Eveleen masuk ke dalam mobil. "maafkan kami" ucap Eveleen masuk ke dalam mobil yang di ikuti Leo dan Fabilio.
Mobil pun jalan kembali, "apa itu benar?!" tanya Fabilio langsung saat masuk ke dalam mobil. "benar, mereka bawahan ku" ucap Eveleen. "wahh, apa kamu gangster?!" tanya Leo tak menyangka. "tidak, hanya saja karna aku pernah membantu mereka, kami tidak melakukan hal yang jahat" ucap Eveleen menyandarkan kepala Johnny ke bahunya kembali. "wah, kamu ketua dari pria-pria tadi?!" masih tidak percaya. "siapa?" tanya Johnny yang sadar. "hei apa kamu sudah sadar?" ucap Leo. "apa kamu memukul kepala ku tadi?" tanya Johnny kepada Eveleen. "maafkan aku" ucap Eveleen. "apa kamu baik-baik saja saat aku tidak sadar?" tanya Johnny. "aku baik-baik saja" ucap Eveleen lega Johnny baik-baik saja. "Johnny, apa kamu tau Eveleen ketua geng motor?" tanya Fabilio. "tentu, aku kakak kedua" ucap Johnny membuat mereka lebih menganga. "kalian geng motor dulu? wahh kalian memang punya banyak kenangan masa lalu" ucap Leo.
"jadi bisa dikakatan Eveleen ketua yang di panggil kakak, dan aku sebagai sekretaris Eveleen yang dipanggil kakak ke dua?" ucap Johnny. "jadi kalian masih berhubungan dengan mereka hingga sekarang?" tanya Fabilio yang tidak tau apa-apa tentang kehidupan Eveleen. "tidak, aku sudah lama meninggalkan kelompok itu, tapi nah kenapa mereka menemukan ku hari ini" ucap Eveleen. "apa mereka datang tadi?" tanya Johnny yang tadi belum sadar. "tadi" ucap Eveleen. "apa yang mereka lakukan? apa mereka tidak bekerja?" ucap Johnny. "kita harus menemui mereka nanti" ucap Eveleen. "jangan! maksud ku apa kamu tidak. ingin menemui Chao chao terlebih dahulu?" ucap Fabilio membuat mereka terdiam. "tentu saja aku menemui Chao chao dulu, setelah itu aku menemui mereka dengan Johnny" ucap Eveleen. "terserah" ucap Fabilio pasrah dan kesal, Eveleen yang menyadarinya tidak bisa berbuat apa-apa karna ada Leo dan Johnny.
__ADS_1