LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
Hadeh, kelakuan


__ADS_3

Xandra mengangkat sebelah alisnya sebal lalu pamit pulang.


"Gue duluan ya... Byee..."


"Bye... Ti ati!!" Jawab Lili.


Hari itu Xandra mengayuh sepedanya sekuat tenaga untuk sampai di rumah. Benar benar tidak seperti biasanya ia seperti itu. Niatan untuk membuat catatan dan mempelajari kembali bergejolak di dalam dirinya. Ditambah dengan tekad untuk mempersiapkan se sempurna mungkin rencananya untuk hari esok. Saking kuatnya mengayuh ia terlalu sering menarik rem mendadak untuk menghindari kecelakaan yang tidak diharapkan.


Sesampainya di rumah, ia segera membersihkan diri. Setelah itu, ia mengenakan baju rumah yang menurutnya nyaman dipakai ketimbang baju lain yang ia punya. Merasa sudah segar kembali tanpa merasa gerah ia membaringkan tubuh di kasur empuknya.


"Kruukk" perutnya bergemuruh hebat.


"Haiyah, pake bunyi..." Keluhnya. Yah mau tidak mau Ia harus memasak jika tidak ada makanan yang siap untuk disantap di dapur. "Moga moga tumis nya masi ada...." Harapnya, membayangkan keberadaan si pengisi perut.


Segera ia turun ke dapur untuk memeriksa keberadaan si pengisi perut.


Sesampainya di dapur, ia menggeledah ruangan tersebut untuk menemukan apa yang ia inginkan. Sayangnya, nihil. Sayur kangkung yang ia inginkan sudah habis.


"Hadeh, sial temenan cah... Kudu banget ya masak..." Keluhnya.


Karena rasa lapar yang melanda itu teramat sangat menyiksanya. Ia dengan sigap mengisi air di panci dan mengambil sebungkus mie. Dibukanya bungkus itu dan ia memasukkan nya ke dalam panci. Akan tetapi, ia merasa masih belum cukup jika hanya makan satu porsi saja. Diambilnya satu bungkus lagi dan ia masukkan isinya ke dalam panci. Menunggu mie nya mendidih ia tuangkan bumbu ke dalam mangkuk. Bau nya menggelitik hidung Maya serta membangkitan rasa laparnya lebih dari sebelumnya.


Setelah matang, ia masukkan kedalam mangkuk dan ia aduk. Ia menyantap mie nya dengan lahap sampai habis. Mangkuk nya ia bersihkan dan kembalikan ke tempat semula.


"Huah, kenyang banget... Enak deh kayaknya kalo rebahan dulu baru belajar lagi..."


Segera ia kembali ke kamarnya dan naik ke kasur, sementara rasa kantuk dan lelah kembali menghampirinya. Tak butuh waktu yang cukup lama ia sudah tertidur pulas.


***


Di kampus Robby, jam pelajaran telah usai. Sudah saatnya mereka diperbolehkan pulang. Ia mengabaikan rentetan pesan dan panggilan dari Nella yang gelisah dengan apa yang ia katakan.


"By, langsungan?" Tanya Andre sahabat karib nya sejak SMP itu.


"Heem, mau nebeng? Ato mau konsultasi?"

__ADS_1


"Hah, konsultasi apaan sih?"


"Yaaa, konsultasi gimana caranya ngadepin Nella lah ya..."


"Bajir, emang ya cogan, cap Play Boy juga gak nih?"


"Hadeh, serah lah... Lo anggep gue gimana"


"Hehehe, iya deh pan kapan kalo gue udah mentok aja... Masih berlaku kan tawarannya?"


"Nggak!" Tolaknya.


"Asem, jahat bener sama sahabat sendiri... Ganteng ganteng iblis ya..."


"Heh, ngomong nya dijaga dong! Jelas jelas ganteng kayak malaikat gini lo bilang iblis," sahut Dea sambil melotot sebal ke arah Andre yang membela Robby tidak terima jika idolanya sebagai cowok idaman diejek.


"Hadeh, mulai nih fans nya..." Ujar Andre.


"Dah yuk, cabut," ajak Robby yang ia tujukan untuk Andre. Namun, justru Dea malah kegirangan mendengarnya.


Mendengar Dea berkata seperti itu, Robby memutar bola matanya kesal. Sementara Dea tidak menyadari betapa kesalnya Robby. Andre yang melihat hal itu menahan tawanya supaya tidak meledak begitu saja. Karena sudah kesulitan menahan ia tidak dapat menahan bahunya untuk bergetar menahan tawa nya atau dia akan ngompol di tempat.


"Cih, geer banget si jadi cewe... Orang gue ngajak Andre. Eh elu nya juga pengen... Hmmm, tapi boleh si sebener nya..."


Mendengar hal itu sontak membuat para penggemar Robby dari segala penjuru menoleh ke arah Dea dengan tatapan iri. Ya, mereka semula hanya curi curi dengar saja apa yang akan dikatakan Robby.


"Eh, beneran boleh?" Tanya nya kegirangan.


"Boleh, gue kan bawa motor, duluan Andre yang gue ijinin buat nebeng juga, dan lo telat... Jadi, gue kasi tumpangan di rodanya kalo lo masi pengen..." Ujarnya sambil menyandang tas miliknya dan menarik Andre keluar kelas. Sontak semua teman yang menatapnya iri tergelak, dan itu membuat wajah Dea merah padam.


Aaaaaaaaaaaaaa, Sial, ternyata... Gue salah... Bodoh banget sih kamu... Dea, Dea, jangan diulang lagi! Keluh Dea dalam hati.


"Hei, tawaran nebeng masih berlaku... Mau nggak? Ato lebih milih ngangkot?" Tanya Robby setelah mereka sampai di parkiran kampus.


"Emang lo bawa helm dua?"

__ADS_1


"Enggak..."


"Elah, gue gak mau lo ditilang... Gue ngangkot aja..." Ujar Andre sembari melangkah hendak meninggalkan sahabatnya itu menuju halte.


"Eh," Robby sembari menarik tas yang disandang Andre untuk menahannya supaya ia tidak pergi terlebih dahulu.


"Hiih... Gak usah pake tarik tarik segala ngapa sih?"


"Udah nebeng gue aja... Lebih cepet... Lagian lo ngapa si gak bawa motor ato mobil sendiri? Punya lo kemana semua?"


"Lah, ntar kalo ditilang gimana?"


"Gampang, ntar kan cuma lewat in satu lampu merah doang kalo ke rumah lo... Sans aja... Ntar pas sampe lampu merah kalo ada polisi lu turun dah trus nyebrang duluan nungguin gue..."


"Edan apa... Ogah.., terima naik angkot oi," tolaknya.


"Oke, lo naik aja sono... Tapi besok lo gak bakal gue bantu buat deketin Nella."


"Asemmm, iya iya gue nebeng dah... Lo tuh ya... Ngasi tumpangan maksa banget.."


Robby segera naik dan sengaja tidak mengenakan helm miliknya.


"Elah, lo bawel kaya cewek... Cepetan naik!"


Andre memandangnya kesal dan segera naik. Mereka melaju mendekati lampu merah dan dari jauh sudah terlihat seseorang yang mengenakan seragam polisi. Robby yang melihat orang itu langsung menepikan motornya.


"Ndre, kita minggir bentar. Ada bapaknya tuh di depan sono..."


"Haish, tuh kan... Dibilang juga apa... Males banget kudu jalan segini jauhnya... Trima naik angkot nji*..." Omelnya.


Robby tidak menghiraukan omelan Andre. Ia masih fokus mengawasi pergerakan si bapak polisi itu. Hingga lampu yang menyala sudah berganti merah. Melihat hal itu Robby segera mengenakan helm nya dan melaju kembali mengambil lajur kanan membaur dengan mobil yang ada.


Andre kaget dengan apa yang dilakukan Robby mulai khawatir.


"Ndre, tundukin pala lo! Lo pake hoody kan? Tutupin rambut lo!" Perintah nya.

__ADS_1


Andre mengangguk paham dan segera melakukan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Mereka sekarang berada diantara empat mobil yang menghalangi pandangan jika ada yang berniat untuk yang berusaha melihat keberadaan mereka. Andre merasa aneh. Untuk pertama kalinya ia membonceng tidak mengenakan helm di tengah lampu merah pula.


__ADS_2