
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Cahaya dari sang surya juga sudah berebut untuk masuk ke dalam kamar Maya melewati ventilasi jendela. Akan tetapi, ia masih saja meringkuk di balik selimut. Robby memasuki kamar adiknya itu dan membuka gorden kamar tersebut.
"Ihh, silau! Ganggu deh..." Gumam Maya.
"Mau sampe kapan tidur terus? Udah siang Sweetie..."
"Jijik elah, jangan panggil aku kayak gitu!!"
"Hmmm, makannya bangun! Setengah tujuh ni! Atau perlu digebyur dulu? Ntar kalo digebyur kamu harus keramas lagi... Kan repot... Cepetan, atau ku tinggal..." Cerocos nya sambil berlalu keluar dari kamar adiknya tanpa memberi kesempatan pada Maya untuk komentar.
"HAH?!? GILA!!!" Maya tersentak mendengar apa yang dikatakan Robby. Ia langsung memasuki kamar mandi, tidak sampai dua menit ia sudah selesai dan langsung berpakaian. Tiga menit kemudian ia sudah menuruni tangga. Disambarnya botol minum dan kotak makan yang sudah Robby siapkan. Dengan tergesa-gesa ia memakai kaos kaki dan membawa sepatunya keluar, menutup mengunci pintu menghampiri kakaknya yang tengah menunggu di atas motor kesayangannya.
"Udah?" Tanya kakaknya.
"Udah, Ayuk buruan... Ulangan jam pertama nih.." Pinta Maya.
"Serius pake sepatu sambil jalan ngebut?"
"Iya udah bodo amat! Cepet dong..."
"Hedeh... Mangkanya kalo bangun jangan kesiangan kalo udah tau ada ulangan, tiati jatoh!" Ujar Robby mengingatkan Maya.
"Hmmm," jawab Maya sambil mengenakan sepatu dengan susah payah. Sementara Robby memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang cukup padat. Dia meliuk-liuk mencari celah di antara padatnya jalan, agar cepat sampai ke sekolah adiknya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat satu menit mereka baru sampai. Namun, pintu gerbang sekolah sudah tertutup rapat. "Keknya yang nutup Pak Dwi deh... Dah ya, aku duluan... Aku saranin kalo nggak bisa lompat pager nggak usah maksa... Kalo kenapa napa malah repot..." Ujar Robby mengingatkan adiknya.
"Ya, makasi dah anterin... Pulangnya?"
"Ntar aja kamu hubungin," jawab Robby sambil berlalu.
Tinggalah Maya yang merapat ke tembok sekolah supaya tidak terekam CCTV dan tengah berpikir bagaimana caranya supaya ia bisa masuk ke dalam sekolah tanpa harus melewati hukuman dari guru piket dan CCTV.
"Hei," sapa Gading yang kebetulan sedang bolos jam pertama di sekolahnya.
"Eh, kakak... Kok bisa di sini?? Bukannya sekarang jam skolah?? Bolos??"
"Iya emang aku bolos... Jam segini kok kamu baru dateng?"
"Bangun kesiangan aku kak... Bingung gimana mau masuk... Kalo ngelewatin guru piket ntar dihukum trus ulangan susulan kan nggak enak..."
"Mau aku bantuin?" Tanya Gading.
__ADS_1
"Mau... Kayak gimana caranya?" Tanya Maya. Tanpa menghiraukan pertanyaan Maya, Gading meraih tangannya dan menariknya ke tembok belakang sekolah. Setelah sampai, Ia tersadar telah menggenggam tangan adik kelas nya itu terlalu lama sehingga langsung ia lepaskan. Keduanya salah tingkah hingga Maya berusaha angkat bicara. "Ke-kenapa kesini kak? Ini kan tembok?? Aku nggak bisa lompat setinggi itu..." Tuturnya.
"Eghm, ya aku bantuin..."
"Maksudnya?!?! Aku pakai rok lho kak!" Ujarnya waspada.
"Iya lho yank, kamu ngapain? Bolos kok malah berduaan sama ni anak kecil satu ini??" Tanya Winda pacar Gading yang tiba-tiba sudah ada di belakang Maya.
"Eh, bukan gitu... Dia itu anggota tim... Trus, dia telat... Ada ulangan di jam pertama juga... Ntar klo kenapa napa kan tim kecoreng namanya cuman gara-gara dia..." Jawab Gading. "Kamu bolos juga? Kok nggak ngomong sama aku? Kan bisa jalan bareng..."
"Ak—"
"Tolong dong, kakak-kakak jan sibuk pacaran... Ni, kalian emang mau nolong aku nggak nih? Klo nggak ku pergi aja... Cari solusi lain ya, mon maap..." Cerocos Maya memotong apa yang ingin dikatakan Winda.
"Ya udah yank, kamu bantuin di aja dulu... Jangan liat yang aneh-aneh!!" Ujar Winda mengingatkan.
"Beres, aku padamu..." Jawab Gading. Ia segera mengambil posisi kuda-kuda di dekat tembok dan mengulurkan tangannya untuk dijadikan pegangan oleh Maya.
"Emang kakak kuat angkat aku di pundak???"
"Iya, udah... Keburu kamu telat ulangannya lho..." Jawab Gading. Ragu-ragu Maya naik ke atas pundak Gading, tangannya merambat di tembok untuk menjaga keseimbangan sementara Gading menegakkan dirinya perlahan. Setelah sampai di atas, Maya ragu untuk naik ke tembok karena saking tingginya jarak antara tembok dengan tanah. "Heh, nunggu apa kamu? Cepet naik ke tembok, turun ke bawah!! Berat kamu tuh kalo terus terusan berdiri di sini...." Ujar Gading.
Dengan ragu-ragu Maya naik ke tembok. Semakin dilihat jarak antara saat ini ia berada dengan tempat yang seharusnya ia pijak terasa semakin menyeramkan. "Udah Ndra, kamu tinggal loncat turun!" Ujar Gading dari belakang bawahnya.
"Langsung aja kenapa si?"
"Takut elah..."
"Haish... Udah yank, kamu ikut loncat juga aja... Kasian dia... Kan cewek..." Ujar Winda menasihati Gading. "Aku tunggu di Burjo depan ya... Laper soalnya..."
"Hhhh, ya deh..." Dengan terpaksa ia naik ke atas dan langsung loncat turun.
"Ihhh, nggak keseleo kaki nya kak?"
"Nggak, udah sini loncat! Aku tangkep nih..." Ujarnya sembari merentangkan tangannya bersiap untuk menangkap Maya.
"Takut kak..."
"Nggak usah takut... Ntar aku tangkep... Yuk, 1,2,3..."
Maya memberanikan untuk melompat pada hitungan ke tiga dan...
__ADS_1
Brughh,.. Ia terjatuh mencoba untuk mendarat sendiri tanpa bantuan Gading. Memang ia bisa berdiri di tanah tanpa keseleo namun, ia kehilangan keseimbangan sehingga menimpa badan Gading yang ada di hadapannya. Sementara Gading sendiri tidak siap, mereka pun jatuh ke tanah dengan posisi Gading di bawah dengan Maya di atasnya dan bibir mereka tidak sengaja menempel satu sama lain selama beberapa saat. Wajah mereka memanas, jantung berpacu dengan sangat cepat. Pasalnya, mereka berdua sama sekali belum pernah berciuman. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Dan Maya yang terlebih dahulu tersadar, buru-buru bangkit berdiri merapikan rok nya.
"Makasih ya kak..." Ujar Maya yang langsung berlari meninggalkan Gading karena malu. Sementara di sisi lain, tanpa mereka sadari ada seseorang yang cemburu melihat mereka dari awal hingga akhir.
Okeey, karena ini di sekolah, kita pakai panggilan ke duanya Maya ya...
Xandra berjalan dengan tergesa-gesa sambil menetralkan detak jantungnya dan berusaha untuk melupakan melupakan kejadian yang baru saja ia alami. Namun, semakin ia berusaha, justru semakin menggebu sekaligus menggelitik memori nya. Ya ampun... Ciuman pertama ku... Sial sial sial... Kok gini sihhh.... Rutuknya dalam hati. Mana dia udah punya pacar lagi, mana dia juga ada yang suka lagi... ****** udah kalo sampe kejadian tadi ada yang liat...
Sesampai nya di depan kelas, ia mengintip ke dalam terlebih dahulu apakah ada guru atau tidak. Setelah ia pastikan aman dari guru ia memutuskan untuk masuk.
"Lah, lo kok baru dateng May? Tu mukak juga kayak kepiting rebus gitu..." Tanya Rico setelah ia masuk.
"Hehe, iya... Kepanasan... Ngebut tadi.., bangun kesiangan..." Tuturnya.
"Eh, ada kebo masuk sekolah..." Celetuk Billy.
"...." Xandra sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Billy. Ia langsung duduk di tempat duduknya untuk menghindari kecurigaan guru terhadapnya. Karena di atas meja guru sudah ada buku pelajaran IPS.
"Ma, Ama, gurunya ke mana? Ku pikir bakal dapet sambutan yang pamit dari guru..." Ujar nya setelah ia duduk.
"Tadi keluar lagi abis naruh buku... Kita di suruh belajar dulu..."
Belum sempat ia merespon, Bu Tri memasuki kelas Xandra dengan langkah agak terburu buru.
"Selamat pagi yang sudah menjelang siang anak-anak... Sudah siap ulangan??"
Hmmm, kayaknya Bu Tri nggak sadar kalau aku telat... Baguslah, pikir Xandra penuh kelegaan.
"Sudah Bu,..." Ujar mereka serempak.
"Baik, langsung saya bagikan lembar soalnya ya... Jawabannya tulis disitu saja... Waktu pengerjaan satu jam... Yang sudah boleh dikumpulkan duluan... Tidak boleh ada coretan koreksi dan tipex ya!"
"Lah, kalau pake bolpoin terus salah masa nggak boleh di apa apain??" Tanya Andrea.
"Pake pensil aja dulu kalau takut salah..." Ujar Xandra.
"Ya deh..." Jawab Andre.
Segera Xandra kerjakan dengan cepat sesuai dengan apa yang diingat setelah ia mendapatkan kertas soal. Tangan nya bergerak lincah menuliskan semua jawaban dari soal yang ada. Tidak sampai tiga puluh menit ia sudah bisa menyelesaikan soal tersebut. Namun ia tidak langsung mengumpulkannya. Namun Ia malah mengambil kertas coret coretan dan ia gunakan untuk menulis ide-ide cerita.
***
__ADS_1
Sementara di sisi lain...
Gading kembali melompati pagar dan berusaha menetralkan dirinya untuk menghadapi pacarnya. Se sampainya di Warung Burjo, ia mendapati pacarnya sedang makan es bubur kacang hijau dengan asyiknya. Hufft... Semoga aja dia nggak tau... Kalau tau... Putus? Kenapa rasanya aku enteng banget mikir putus? Apa aku udah nggak sayang sama dia? Atau... Argghh... Gading frustrasi dengan apa yang ia pikirkan.