
Memang sudah bukan kejutan lagi. Lampu merah perempatan jalan tersebut jika sudah memasuki jam pulang sekolah atau kerja pasti harus menunggu selama lima menit. Coba deh hitung, lima kali enam puluh. Tiga ratus detik!! Ya, tiga ratus detik lamanya Andre harus terus menunduk. Ditambah panasnya udara yang bercampur dengan karbondioksida yang dikeluarkan oleh kendaraan sekitar.
"Whuah.... Puanas banget By... Tau gini gue ngangkot aja..."
"......." Robby diam tidak menanggapi apa yang dikatakan Andre.
Ini sudah 250 detik lamanya ia menunduk. Lama kelamaan lehernya terasa pegal, keringatnya juga sudah bercucuran membasahi baju yang ia kenakan.
Tanpa sadar ia melepaskan hoody yang menutup rambut saking panasnya. Ia gunakan itu untuk mengipasi tubuhnya dan mengacak rambutnya.
Di sisi lain, ada seorang polisi yang mengamati gerak gerik Andre dari jauh. Ia mengamati dengan seksama, ya, dari jauh terlihat seseorang membonceng tanpa memakai helm. Segera ia menyeberangi lautan manusia plus kendaraan untuk menindaklanjuti kelakuan Robby dan sahabatnya itu.
"Heh, dipakek lagi cepetan! Ketahuan repot ntar!" Ujar Robby melihat apa yang dilakukan Andre lewat spion motor.
"Huh, iya bawel... Sapa suruh maksa gue nebeng elu, gini nih yang ada..."
"Eghm, eghm..." Polisi itu sudah sampai di sebelah kiri mereka dan berdehem untuk memberitahukan keberadaannya.
Mendengar deheman itu mereka terlonjak kaget. Tapi mereka mengira itu adalah supir mobil di sebelah jadi mereka cuek saja. Karena mereka cuek begitu Pak polisi itu menepuk pundak Robby.
"Hoi!" Ujar si Pak polisi.
"Astagat, bakap eh bapak ini ngagetin aja..." Ujar Robby berusaha setenang mungkin. Walaupun sebenarnya ia khawatir jika sampai ditilang, mau ditaruh dimana mukanya nanti saat hal itu diketahui orangtua? Entah itu orangtua nya atau Andre.
"Minggir dulu ya nanti! Nggak boleh kabur! Atau tau kamu akibatnya! Paham?!?" Ujarnya sembari mematikan mesin motor Robby dan mengambil kuncinya.
Lah, udah diambil kuncinya gitu mau kabur gimana... Lari juga gak bakal sekencang kalo pake motor juga.... Cari mati emang... Ujar Andre dalam hati.
"Iya Pak Jono..." Jawab Robby menyebut nama si Pak polisi.
"Kok tau nama saya dari mana? Stalker ya kamu?" Tanya ya curiga.
"Ya ampun, nggak Pak... Saya bukan stalker..."
"Terus kamu tau dari mana?"
"Lhah itu nama bapak ada di baju..." Ujar Andre menanggapi pertanyaan si bapak.
"O iya... Ya udah, ini kunci di saya kalau kalian coba kabur silahkan, nanti hukuman tambah berat, paham?!?"
"Ya," jawab mereka berdua bersamaan.
__ADS_1
Setelah itu, Pak Jono kembali ke pinggir jalan tempat ia semula berdiri sembari mengawasi gerak gerik mereka. Setelah dirasa Pak Jono sudah jauh Andre mulai mengomel.
"Huh, dibilang juga apa... Kena tilang kan jadi nya..."
"Ya udah si ya... Diliat dulu maunya si bapak... Sapa tau kita nggak kena tilang..."
"Cih, elu tuh ya... Sialan emang!!"
"Yah, maaf..."
"Huh"
Pak Jono tersenyum sendiri melihat kelakuan mereka. Terbesit rencana untuk melihat seberapa akrab dan setia mereka. Tak lama kemudian lampu hijau menyala, menandakan siapapun yang sedang menunggu diperbolehkan untuk tancap gas. Berhubung kunci motor sudah jatuh di tangan Pak Jono, Robby dan Andre mau tak mau harus turun dari motor dan menuntun motor itu ke pinggir jalan.
Sesampai nya di pinggir jalan mereka segera mendekat ke Pak Jono. Melihat kedatangan mereka Pak Jono mengangguk anggukan kepalanya senang.
"Kenapa kalian naik motor yang pakai helm cuman satu doang hm?" Tanya Pak Jono.
"Dia maksa buat nebeng saya Pak, padahal saya udah bilang kalau nggak bawa helm dua," jawab Robby. Maaf ya Ndre... Nggak ngerti lagi gue harus ngomong apa... Ucapnya dalam hati.
Lah kampre*! Kok gue jadi tumbalnya!?! Umpat Andre dalam hati.
"Nggak," jawab Robby santai.
"Elo!! Sialan!!" Umpatnya kesal, "nggak trima gue gini caranya!"
"Lah, emang iya kok..." Ujar Robby mengedipkan sebelah matanya pada Andre. Dan dibalas dengan pelototan sebal oleh Andre. Banyak orang yang cekikikan melihat perdebatan mereka sambil menunggu lampu hijau menyala kembali.
Pak Jono menahan tawanya melihat kelakuan mereka berdua.
"Sini tunjukkan SIM sama STNK kamu!" Ujar Pak Jono pada Robby.
Robby segera mengeluarkan kedua benda tersebut dari dompet dan menyerahkannya pada Pak Jono. "Ini Pak..."
"Oke, berhubung surat kamu lengkap, kamu nggak saya tilang..."
"Fyuhh..." Mereka menghembuskan nafas lega.
"Kalian saya perbolehkan pulang..."Tapi,..." Pak Jono menggantungkan kalimatnya membuat mereka berdua tegang kembali.
"Tapi apa Pak??" Tanya Andre.
__ADS_1
"Kalian saya hukum punya dua hukuman, satu push up lima puluh kali! Dua, Kalian harus jalan sendiri sendiri pulangnya!"
"Gimana maksudnya Pak?" Tanya Robby.
"Oke, saya nanya dulu nama kalian. Bingung nanti kalau cuman nyebut kamu kamu kamu...."
"Kamu, kamu, kamu, kamu, terheeebatt..." Celetuk Andre menyanyikan lagu CJR(coboy junior)
"Hush, malah nyanyi..." Tegur Robby. "Saya Robby Pak..." Jawabnya.
"Kalau saya Andre..."
"Hmmm, sekarang kalian lakukan hukuman yang pertama!"
"Ya..." Jawab mereka berdua bersamaan.
Mereka langsung menjatuhkan diri ke tanah dan segera melaksanakan hukuman. Setelah selesai lima puluh hitungan mereka kembali berdiri.
"Maksudnya yang hukuman kedua gimana Pak?" Tanya Robby.
"Ya, jadi maksud saya jalan sendiri sendiri, Robby kamu boleh pulang tapi tinggalin si Andre! Biarkan dia jalan kaki!"
"HAH!?!" Ujar mereka bersamaan.
"Saya beri dua pilihan, Robby yang jalan terlebih dahulu sementara Andre menunggu disini selama satu jam atau Andre yang jalan duluan sementara Robby nunggu?"
Mendengar hal itu Andre melemparkan tatapan kesal pada Robby yang sudah melemparkan kesalahan padanya ditambah dengan apa yang baru saja dikatakan Pak Jono.
Buset dah, taruh mana mukakku... Masa dia jalan kaki... Mana tadi aku lempar kesalahan ke dia lagi... Ujar Robby dalam hati. NGGAK DUA-DUANYA PAK!!... Sialan...
Sialan lo By, gara gara elo gue merana gini... Coba tadi gue gak nebeng dia, slamet udah... Lha ini, udah jatuh ketimpa tangga pula... Hadeh nasib, nasib... Rutuk Andre dalam hati.
"Sebelum kalian tentukan pilihan, kunci motornya nggak saya balikin lho!!" Ujar Pak Jono.
Asemmmmmmmm, rutuk Robby dalam hati.
Cih, gak usah balikin sekalian aja Pak, Pak, tanggung amat... Biar impas gitu ya... Gue kudu jalan kaki gini... Ujar Andre dalam hati.
Sial, nggak mungkin Andre nggak jengkel sama gue... Gila, mukak nya aja udah kusut kek baju blom disetrika gitu... Gak mungkin gak jengkel... Harus kayak gimana gue? Ujar Robby dalam hati.
Menurut Robby, tidak ada pilihan yang aman. Semuanya membutuhkan kerelaan dan kesabaran. Yah, itu akibat dari yang ia lakukan mau tidak mau harus ia jalani.
__ADS_1