
"Okay, saya tinggal ya!" Ujar Pak Beny.
"Yaa" jawab mereka yang ada di sana serempak.
"Okay, duduk dulu melingkar di bawah pohon situ," ajak Gading pada mereka.
Mereka segera melakukan yang diperintahkan. Si anak yang memuji kalau ia ganteng sudah menempati posisi tepat di depannya supaya lebih gampang mantenginnya.
"Oke, kalian udah lengkap, tolong perkenalan diri dulu!"
Semua saling berpandangan kecuali Xandra, ia menatap bola di sampingnya dengan tatapan kosong, dalam hatinya bersenandung tidak jelas lagu apa. Merasa sebal karena tidak ada yang kunjung memperkenalkan diri, tanpa disuruh ia memulai duluan.
"Hai, gue... Xandra, dari sembilan A..." Haaahh harus pake nama ini lagi... Pikirnya kesal.
Sontak semua mata tertuju padanya, karena tidak ada angin tidak ada hujan ia lebih dulu angkat bicara. Xandra mengedarkan pandangannya ke semua yang menatapnya. Nggak bisa biasa ya liatin nya... Emang salah ya? Lagian siapa suru lama. Pikirnya.
"Hai Xandra..." Waw, berani ya... Gak kaya yang lain pake suruh suruhan... Pikir Gading.
Xandra hanya membalas dengan anggukan dan senyum tipis, ia bisa merasakan kalau anak yang tadi memuji Gading menatapnya tak suka.
"Gue Lucas, dari sembilan C," sambungnya dan diteruskan oleh yang lain hingga akhir.
"Gue Maya, dari sembilan B," sambil menunduk malu untuk bersitatap dengan Gading. Mendengar hal itu Xandra kaget. Cih, Buset dah ada lagi yang namanya Maya... Harus pake nama Xandra ampe kapan sih... Pikirnya.
"Evan, sembilan D"
"Sembilan E, Marcel"
Xandra manggut manggut mendengar mereka memperkenalkan diri. "Mmmm, tempat duduk Maya sama Lucas tuker deh... Jadi urut gitu..." Celetuk nya mengingat kelas mereka hampir berurutan.
"Wkwkwk, iya ya..." Ujar Gading menanggapi. Sementara itu Maya menatap Xandra iri karena bisa membuat Gading berbicara padanya.
"Oke lah, semua udah saling kenal... Sekarang, berhubung kalian yang cewek pada pake rok... Kita tes teknik dasar kalian... Masih bagus, lebih bagus, atau malah berkurang..."
"Nggak pemanasan kak?" Tanya Xandra.
"Oh iya, hmmm kamu yang pimpin ya!"
"Heeee?!?"
"Iya, aku ketempat Pak Beny dulu bentar, jadi aku pasrah in ke kamu"
"Hah?!?"
"Iya, dah ya... Ini bolanya kalo aku belum balik ok?"
"Nggak ada yang lain ya?"
"Menurutmu?"
"Oke lah... Hhhh" Xandra menghela nafas berat. Dari arah yang berlainan Maya melontarkan tatapan iri tidak suka. Setelah menyerahkan semua ke tangan Xandra, Gading menyusul Pak Beny ke ruang BK sesuai rencana yang sudah disepakati.
"Hmmm" Xandra mendekati Maya. "Gak papa, gue gak bakalan rebut kakak tadi itu dari lo, sans ae, lo ambil aja!" Ujarnya sambil menepuk bahu teman barunya itu.
"Oke guys, mulai ya pemanasan nya.... Dari kepala dulu," satu, dua, tiga, empat, lima,....."
***
__ADS_1
Di ruang BK.....
Bu Ros mengamati pergerakan Xandra yang menyebabkan ia tidak masuk ke kelas walau bel telah berbunyi lewat CCTV. Ckckck, anak ini... Sampai lupa waktu... Pikirnya.
Tok, tok, tok, tok....
"Masuk!" Ujar Bu Ros.
"Xandra saya pinjam ya... Latihan untuk bermain lawan SMP Dirga," ujar Pak Beny.
"Kalau itu saya sih okay... Tapi, pelajarannya bisa menjamin kah nggak akan njeblos kayak anak lain yang anggota tim?"
Pak Beny memiringkan kepalanya, "ku pikir dia bukan tipe begitu... Tapi, kalau memang perlu saya tau orang yang tepat"
Bu Ros yang mendengar pernyataan tersebut mengangkat kedua alisnya mengisyaratkan benarkah?
Tok, tok, tok....
"Masuk!!" Perintah Bu Ros dan Pak Beny secara bersamaan. Membuat mereka saling pandang selama beberapa saat.
"Permisi, sesuai rencana bapak saya kesini," ujar Gading.
"Nah, ini orang yang tepat yang saya maksud..."
"Saya kenapa ya pak?"
"Duduk dulu sini, jangan berdiri kayak gitu!!" Ujar Bu Ros.
"Wah, makasi buu..."
"Anak tadi?" Tanya Bu Ros tak paham sama sekali.
"Yeah, Xandra," ujar Pak Beny. "Yah, kalau dia nggak tanggung jawab kamu bisa lempar jabatan ke Marcel... Tapi, saya minta kamu bimbing Xandra tadi denga baik ok?"
"Haaah, umm ya deh Pak..."
"Oh ya, kalau sampai nilai nilai dia anjlok karena latihan yang kalian adakan, kamu bertanggung jawab sebagai tentor dia ok?" Tambah Bu Ros.
"Lhah, kenapa saya sih Bu? Nggak ada yang lain?"
"Kamu sudah lulus dari sini, dengan nilai terbaik pula, apa salahnya kalau kamu yang bimbing dia?"
"Saya kan nggak kenal dekat sama dia Bu...." Rengek nya.
"Waktu di lapangan kamu bisa deketin lah..."
"Betul itu..." Ujar Pak Beny.
"Hhhh" Gading menghela nafas berat "ya sudah, baiklah...." Yang desak gue dua guru kek gini mau lawan kek mana sumpa.... Tobat, tobat.... Itung, itung temen baru aja deh....
***
"Oke, pemanasan kita udah selesai... Masuk ke teknik dribbling yuk..."
"Wokee, dari sapa dulu ni?" Tanya Marcel.
"Elo duluan aja..."
__ADS_1
"Oke dah"
"Ummm ni bola ada lima juga satu yang lo pegang empat nya ada di koridor sana tu... Mending langsung praktek satu satu ae..." Ujar Xandra.
"Iya juga, yo dah ayo ambil... Tapi ntar kalo diomelin gegara itu bola kita ambil elo ya!" Ujar Evan.
"Hmmm serah udah ayok ambil...."
Setelah mereka mengambil, tanpa diberi aba aba mereka langsung mempraktikkan teknik dribbling. Beberapa anak yang melewati lapangan memandangi mereka. Berhubung yang cowok ganteng ganteng mulai menyebar juga kalau mereka sedang latihan, mulai banyak anak cewek yang keluar masuk kelas sambil curi curi pandang ke arah lapangan.
"Eh, istirahat dulu yuk capek nih... Banyakan keringetan ntar bajunya bau..." Ajak Maya kepada Xandra.
Hmmm, iya sih... Tapi gue pengen lanjut, udah lah daripada bajunya bau kecut pas masuk kelas kan gak enak... "Guys, kalian mau istirahat gak? Udah hampir jam istirahat juga ini..." Ujar Xandra.
"Ya udah ayok kantin, haus gue," jawab Evan.
Mereka mengumpulkan bola menjadi satu dan berjalan menuju kantin.
"Buk, air mineral lima yak, jangan yang abis dari kulkas ya!..." Ujar Xandra setelah mereka sampai di kantin.
"Ni neng air nya..." Sambil menyerahkan kelima botol air itu. "Spuluh ribu ya!"
"Ni buk duitnya..." Ujar Marcel.
"Nggak! Pake yang ini buk! Bukan yang itu!" Cegah Xandra sambil menyodorkan selembar sepuluh ribuan pada Bukantin.
"Wah, pada ditraktir tho critanya?"
"Iya buk, terimakasih ya..." Jawab Xandra.
"Sama sama neng..."
"Nih, buat kalian!" Sambil menyodorkan empat botol dari kedua tangannya.
"Lhah, makasih ya, ni aku ganti uangnya," ujar Marcel.
"Nggak usah diganti! Itu buat kalian! Jangan pada minum es!"
"Seriusan? Makasiiih," ujar Maya.
"Ya..." Jawabnya sambil melenggang pergi ke salah satu meja yang ada. Anehnya, mereka berempat mengekor di belakangnya, seperti sudah akrab saja.
"Hei, boleh tau nggak kenapa lo disini juga? Biasanya anak kelas A jarang banget ikut olahraga kek gini...." Tanya Lucas.
"Iya tuh, biasanya kan Ikutnya olimpiade olimpiade gitu. Gak olahraga gini.." Tambah Evan.
"Otak kalian encer encer semua. Lo pasti masuk salah satunya..." Ujar Marcel.
"Kalian juga ahli banget di pelajaran akademik..." Tambah Maya.
"Hmm, masalah otak encer... Semua pasti punya ke encerannya sendiri... Masalah ahli banget di pelajaran akademik itu emang gak sepenuhnya salah... Tapi, buat gue itu nggak bener... Emang gue bisa pelajaran akademik, nilai juga di atas KKM tapi, gue lebih bisa di bagian non akademik...." Jawabnya. "Kalo masalah gue kenapa di sini, ya gue gak tau... Gue tiba tiba aja dipanggil sama Pak Beny buat ngikutin dia... Nggak tau sama sekali kalo gue masuk tim..."
Mereka ber ohh ria mendengar penjelasan Xandra.
"Xandra!!" Panggil seseorang dengan suara berat dan agak berteriak.
Merasa terpanggil ia melihat ke arah sumber suara. Mati aku.... Ini jamnya dia... Mana ke ciduknya di kantin lagi... Sial sial sial... Rutuk nya dalam hati.
__ADS_1