
Hari yang sudah mulai malam Eveleen masih belum di temukan, Fabilio tambah khawatir karna di tempat-tempat Eveleen biasa kunjungi tidak ada jejak di sana. Saat itu Eveleen sedang di buntuti seseorang dari jauh dan sudah beberapa hari ia mengikuti Eveleen tanpa ada yang sadar. Saat suasana yang sepi Eveleen yang sedang berjalan-jalan di sekitar perumahan jadi merasakan kalu ia sedang di ikuti Seseorang. Tapi ia tidak peduli dan terus berjalan dengan santai, "presdir!" ucapnya yang menyentuh bahu Eveleen. "kamu?!" kaget Eveleen yang ternya itu adalah pegawai nya yang pernah menjadi penggemar Eveleen waktu itu dan di terima di perusahaannya. "aoa yang presdir lakukan di tempat yang sepi ini?" tanyanya. "bukan urusan mu" ucap Eveleen terus melanjutkan perjalanan nya.
"apa karna presdir Fabilio?" tanya nya. Eveleen berhenti setelah mendengar nama Fabilio itu, "kamu benar, karna aku terlalu mencintai nya" ucap Eveleen dengan pandangan yang kosong. "lepaskan saja presdir Fabilio" ucapnya. "aku tidak bisa" ucap Eveleen. "kamu harus bisa" ucapnya. "aku tidak mau" ucap Eveleen. "kenapa kamu tidak melihat ku sebagai pria?" ucapnya menyudutkan Eveleen ke tembok di sampingnya. "apa yang kamu lakukan" ucap Eveleen tidak melawan. "aku menyukai mu" ucapnya pada Eveleen. "aku tidak ingin bercanda, sana pergi" ucap Eveleen mendorong pegawainya itu. "aku sudah mengikuti dan mencari tau apa yang paling kamu suka, jadilah kekasihku" ucapnya menahan tangan Eveleen.
Pegawai nya itu ternyata sudah mengikuti Eveleen sebelum bekerja di perusahaan EYS, Ia teropsesi dengan Eveleen karna wajah Eveleen memikat hatinya begitu saja. Hingga selama ini dia sudah mengikuti Eveleen dan memfoto gerak-gerik Eveleen diam-diam. "aku tidak menyukai mu, aku hanya menyukai Fabikio" ucap Eveleen melepas paksa genggaman pegawai itu. "menikahlah dengan ku!" ucapnya memaksa Eveleen yang masih menatap kosong. "kamu bukan Fabilio!" ucap Eveleen mendong pegawai itu. "jika aku tidak bisa memiliki mu, Fabilio juga tidak boleh memiliki mu!" marahnya mengeluarkan pisau lipat yang ada di sakunya. "apa Fabilio akan kembali" Eveleen bicara sendiri.
Stash....
__ADS_1
"akkk" oerut Eveleen di tusuk olehnya hingga mengeluarkan darah, "ap-apa yang kamu lakukan?" ucao Eveleen memegang sisi baju pegawai nya itu. "aku tidak mendapatkanmu, orang lain pun tidak boleh" ucap pegawai gila itu.
Stash...
"aghh" Tusukan kedua ia lakukan, Fabilio yang menemukan Eveleen tepat di depannya beberapa meter sedang memeluk pria lain. "dia melakukannya lagi" batin Fabilio kecewa. Eveleen yang melihat Fabilio di depannya pun memegang perutnya yang berdarah karna tidak bisa teriak. "tolong aku" batin Eveleen memperlihatkan tangannya yang berdarah pada Fabilio yang masih berdiri di depannya. "tidak mungkin!" batinya panik setelah melihat tangan Eveleen yang berdarah.
"maukah kamu jadi istri ku?" tanya Fabilio. Eveleen mengangguk dengan senyumannya, dan Fabilio menguarkan cincin itu dari sakunya dan memasangkannya ke jari manis Eveleen. "bertahanlah" ucap Fabilio. "ap-apa aku akan mati?" tanya Eveleen. "tidak! jangan bicara seperti itu ku mohon hiks... sialan! mereka lama sekali!!!" marah Fabilio yang menunggu anak buahnya. "kami datang tuan!" ucapnya membawa mobil, Eveleen dan Fabilio masuk ke dalam mobil dan segera ke rumah sakit. "Eveleen! Eveleen!" Fabilio melihat Eveleen tidak sadarkan diri lagi. "cepat!" ucap Fabilio khawatir.
__ADS_1
"bertahanlah sayang" mereka sampai di rumah sakit dan di bawa ke ruang operasi sesuai perintah dokter karna Eveleen tertusuk. Fabilio sangat khawatir dan tidak bisa diam di tempat dan terus mondar-mandir untuk menunggu keadaan Eveleen. Kurang lebih satu jam dokter pun keluar dari ruang operasi, "bagaimana dengan keadaan Eveleen dokter?" tanya Fabilio mendekat. "nona sekarang sudah baik-baik saja, kami akan memindahkan nona sekarang" ucao dokter. "syukurlah, terimakasih dokter" ucap Fabilio dan dokter pun pergi.
Saat Eveleen sudah di pindahkan ke ruang VVIP, Fabilio baru mengabarkan keadaan Eveleen kepada Alice dan Luiz karna mereka sahabat Eveleen. Fabilio menunggu Eveleen sadar dan tibalah Alice dan Luiz di ruangan mereka. "apa yang terjadi?! siapa yang menusuk Eveleen?!" ucap Luiz yang baru saja datang dan ngantuk ekspresi khawatir. "aku sudah mencari taunya, ternyata dia adalah pegawai dari Eveleen sendiri yang teropsesi dengannya" ucap Fabilio. "apa dia sudah ditangkap?" tanya Alice. "kurasa sudah" ucap Fabilio bohong. Sebenarnya Fabilio sudah menangkap pegawai itu dengan cepat, pegawai itu di tangkap oleh anak buah Fabilio saat dia pulang ke rumah.
Fabilio memerintahkan anak buahnya untuk membunuh pegawai itu dengan cara membakarnya hidup-hidup karna sudah melukai Eveleen. Sekarang pegawai itu diikat dan duduk di sebuah kursi dan di siram dengan minyak di sekitar tubuhnya. "aku tidak takut mati jika Eveleen mati bersama ku!" ucapnya. "katakan saja pada ibumu" ucap anak buah Fabilio. "lepaskan aku! lepaskan!!" ucapnya teriak. "lepaskan dia" ucap ketua dan anak buah lainnya membuka ikatakan itu. "aku ingin kamu bernari" ucapnya menghidupkan korek api. "tidak, tidak jangan! maafkan aku! aku tidak akan mengulangnya lagi!" ucapnya memohon.
"katakan saja setelah bertemu dengan tuhan mu" ucapnya melempar korek itu pada pegawai yang sudah mati ketakutan.
__ADS_1
"Eveleen maafkan aku yang tidak mengerti perasaan mu" ucap Alice. "tenang saja, Eveleen akan baik-baik saja" ucap Fabilio. "ini semua salah mu! kamu harus tanggung jawab" ucap Alice "aku akan menikahi Eveleen agar bisa menjaganya setiap saat" ucap Fabilio membuat Alice dan Luiz diam sejenak untuk mencerna kata-kata Fabilio. "kamu ingin menikahi Eveleen ?!" serentak mereka. "aku sudah melamarnya, dan aku resmi sudah melamarnya dan akan segera menikahinya saat ia sudah sembuh total" ucap Fabilio. "aku tidak setuju!" ucap Luiz. "aku setuju! kamu memang harus tanggung jawab atas Eveleen dan Chao chao" ucap Alice. "aku sudah memikirkannya dengan matang, kamu tidak perlu khawatir apa-apa lagi" ucao Fabilio. "aku akan benar-benar melepaskannya" sedih Luiz. "aku berjanji akan mejaga Eveleen dan Chao chao!" ucap Fabilio dengan jelas dan membuat mereka berdua menjadi sedikit yakin dengan kegigihan Fabilio pada Eveleen.