
Eveleen yang kehilangan akal sehatnya menodongkan pistol yang ia pegang ke kepalanya. "no-nona!" panik dokter Jeon. "dia bersungguh-sungguh!" batin Kayle panik. "kamu ingin membunuh ku bukan? aku akan mengabulkannya" ucap Eveleen menutup matanya.
Dorrr...
"Eveleen!!!" teriak mereka yang melihat percikan darah. "aghh" Semua orang terkejut saat Kayle tiba-tiba memeluk kepala Eveleen dan membiarkan lengannya tertembak mengelurkan darah. Saat Eveleen sadar kalau Kayle terluka ia jadi panik dan khawatir, "Ka-kayle~ ma-maafkan aku" paniknya menghadap Kayle. "aku tidak papa, kamu baik-baik saja kan" ucap Kayle menghapus air mata Eveleen. "in-ini salah ku, aku... aku melukai mu.. " tangannya gemetar dan membuang pistol yang ia pegang. "aku tidak papa, tenanglah" memegang tangan Eveleen yang genetar.
"jangan mendekati ku... kamu, akan terluka" ucap Eveleen melepaskan genggaman Kayle dan berjalan mundur ketakutan. "tidak, tidak, ini bukan salah mu, tenanglah" ucap Kayle menenagkan Eveleen. "jangan mendekat!!... maaf.. maafkan aku" ucap Eveleen terus berjalan mundur saat Kayle terus mendekatinya. "tenanglah, aku baik-baik saja" ucap Kayle terus mendekat. "berhenti!!" teriak Eveleen membuat Kayle berhenti. "nona dengarkan aku, ayo lakukan perlahan-lahan ok" bujuk dokter Jeon.
"diam!! apa kamu tidak lihat!! dia terluka karna ku!!" ucap Eveleen frustrasi dan panik. "jangan bergerak!!!" teriak Eveleen melihat Kayle yang akan mendekatinya. "baiklah-baiklah, aku tidak akan mendekat, kamu tenanglah" ucap Kayle terus membujuk. Melihat mereka diam di tempat Eveleen langsung berlari "Eveleen!" panik mereka bergerak. Eveleen dengan cepat membuka pintu balkon dan berlari melompat dari sana hingga jatuh kebawah dalam kolam berenang yang tidak sepenuhnya beku, hingga ia tenggelam di air es yang dingin. "dia tidak bisa berenang!" panik dokter Jeon.
"Eveleen!!!" teriak mereka dan Kayle yang tidak dapat menolong Eveleen. "tuan!!" kaget mereka melihat Kayle ikut melompat dari sana dan jatuh ke dalam air es itu.
__ADS_1
Bruss...
Kayle melihat Eveleen dihadapannya menutup mata, ia menarik tangan Eveleen dan Eveleen membuka matanya juga melihat Kayle. Kayle menarik Eveleen tapi Eveleen terus berontak hingga Kayle kesusahan menarik Eveleen keatas air. Eveleen yang terus berontak sudah mulai kehilang energi dan nafasnya dia mulai tidak sadarkan diri tapi tetap berontak semampunya.
"Cepat! hangatkan airnya!!" perintah dokter Jeon. Kayle langsung menarik Eveleen keatas air dan mulai bernafas dan langsung ditolong anak buahnya karna ia merasa menjadi beku dan kehilangan tenaganya. "hah~" tubuh Kayle yang terasa membeku berusaha tetap sadar dan menekan dada Eveleen. "hook hook" Eveleen batuk mengeluarkan air di mulutnya. "dasar wanita bodoh" ucap Kayle langsung tumbang yang masih sadarkan diri. "cepat bawa ke pemandian air hangat!" ucap dokter memerintah anak buahnya membawa Kayle dan Eveleen dengan cepat.
"Fabilio! apa yang kamu minum!" ucap Luiz yang melihat Fabilio meminum suatu obat saat masuk ke kantor Fabilio. "bukan apa-apa" ucap Fabilio menyembunyikan kotak obat itu. "apa kamu memakan sejenis obat terlarang?!" ucap Luiz menebak. "apa kamu gila?!" kesal Fabilio. "kamu yang gila! apa yang kamu minum?!" ucap Luiz merebut mengambil kotak kecil itu dari tangan Fabilio. "itu bukan apa-apa" ucap Fabilio saat Luiz berhasil merebutnya dari tangannya. "obat... penenang?!" ucap Luiz tak percaya membuat Fabilio membuang mungka.
plakk...
"apa kamu gila?!" spontan memukul kepala Fabilio. "beraninya!!" kesal Fabilio. "ma-maaf, tapi... bagaimana jika Chao chao tau?! sudah begitu lama Eveleen menghilang kamu selalu mengkonsumsi nya?! apa kamu ingin keracunan?!" marah Luiz yang peduli. "jangan sampai Chao chao tau" ucap Fabilio menundukkan kepalanya. "aku.. aku tau perasaan mu, tapi kamu harus ingat Chao chao masih membutuhkan mu" ucap Luiz. "aku hanya lelah untuk terus menangis sepanjang waktu, aku tetap ingin terlihat kuat di depan Chao chao" ucap Fabilio menahan air matanya. "obat... obat ini dosisnya tinggi, apa kamu tidak papa?" tanya Luiz nelihat kotak obat itu.
__ADS_1
"aku baik-baik saja" ucap Fabilio yang tenang kembali ke kursinya. "lihatlah obatnya cepat bereaksi, aku akan menyita obat ini dan jangan pernah beli lagi dan aku datang hanya merasa bosan" ucap Luiz. "hem" dehem Fabilio. "ingat jangan beli lagi, kamu dengar?" tanya Luiz. "hem" dehem Fabilio lagi. "baiklah, sampai jumpa" ucap Luiz keluar dari ruangan Fabilio. "kenapa? kenapa perasaan ku masih tidak tenang" ucap Fabilio memegang dadanya. "sial" ucap Fabilio membuka laci mejanya yang berisi banyak obat penenang itu.
"aku tidak membelinya lagi, tapi aku masih mengkonsumsi nya" ucap Fabilio langsung mengkonsumsi 5 pil sekaligus dan dibantu oleh air putih biasa. "hah~ tenanglah Eveleen akan baik-baik saja" ucapnya menenagkan diri sendiri sendiri. Beberapa menit kemudian, "presdir, kita akan mengadakan rapat dengan perusahaan EYS" ucap Daniel masuk ke ruangannya. "baiklah" ucap Fabilio tenang berdiri dan segera keluar dari ruangnnya. "apa anda baik-baik saja presdir?" tanya Daniel melihat Fabilio pucat. "aku baik-baik saja, tapi.. " Fabilio tidak menyambung ucapannya. "tapi apa presdir?" tanya Daniel.
"kenapa aku keluar?" tanya Fabilio. Daniel mengerutkan dahinya, "anda akan rapat hari ini" jawabnya dengan bingung. "benar, ayo" ucap Fabilio keluar dari ruangannya. "presdir jas anda..., baiklah presdir hari ini lebih aneh" ucap Daniel membawa jas Fabilio. "apa presdir sudah mengikhlaskan presdir Eveleen? dia terlihat sangat tenang" batin Daniel mengekori Fabilio. Mereka menaiki lif menuju ruang rapat. "presdir, anda harus memakai jas dulu" ucap Daniel memakaikannya. Sekilas Daniel merasakan tangan Fabilio sedingin es, ia kaget dan langsung menggenggam tangan Fabilio segera.
"presdir! tangan anda sangat dingin!" panik Daniel. "apa kamu merasa udara menjadi pengap?" tanya Fabilio merasa sedikit pengap dan jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya. "tidak, udara dan suhu terasa normal presdir" ucap Daniel khawatir. "jangan khawatir aku baik-baik saja" ucap Fabilio memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Tak butuh waktu yang lama mereka sampai di ruang rapat dan menunggu Jack sang pengganti Eveleen untuk datang kerapatnnya. "selamat siang presdir" ucap Jack dengan asisten wanitanya. "selamat siang presdir" sambut Daniel dan Fabilio hanya duduk menghadap kedepan. Jack memberi kode pada Daniel seolah bertanya apa yang terjadi pada Fabilio. "dia sedang banyak pikiran" ucap Daniel dengan pelan. "oww" mengangguk mengerti.
"silakan duduk presdir " ucap Daniel mempersilakan. Saat Jack dan asistennya duduk, Fabilio malah berdiri dan segera pergi dengan pikirannya yang ling lung. "presdir anda mau kemana?" tanya Daniel. "bukankah aku tadi ingin keluar?" tanya Fabilio dengan tenang. "hah? apa yang anda bicarakan? apa anda sakit?" tanya Daniel. "hem?" bingung Fabilio duduk kembali. "kenapa?" tanya Jack. "aku tidak tau, dia benar-benar seperti orang ling lung dari tadi" ucap Daniel.
Jack yang merasa keanehan langsung memegang tangan Fabilio dan denyut nadinya. "overdosis! pasti meminun obat-obatan!" ucap Jack yang tau. "sudah ku bilang, hanya obat biasa" jawab Fabilio dengan tenang. "obat penenang! presdir Fabilio meminum obat penenang berlebihan!" ucapnya mendekati Fabilio dan meletakkan tangannya di dada Fabilio. "jantungnya berdetak cepat! cepat bawa presdir sebelum terlambat" ucap Jack merasakan detak jantung Fabilio yang lebih cepat.
__ADS_1