
"Xandra!!" Panggil seseorang dengan suara berat dan agak berteriak.
Merasa terpanggil ia melihat ke arah sumber suara. Mati aku.... Ini jamnya dia... Mana ke ciduknya di kantin lagi... Sial sial sial... Rutuk nya dalam hati.
Mereka yang duduk semeja dengan Xandra terkaget mendengar suara tersebut. Punya masalah apa dia? Kok bisa gitu amat cara panggilnya... Pikir Maya.
Mereka melontarkan tatapan cemas ke arah Xandra. Sementara Xandra hanya membalas dengan tatapan meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa.
"Ruang BK sekarang!" Perintah Bu Ros guru yang memanggilnya tadi.
"Ya Bu," jawab Xandra sambil mengekor dibelakangnya.
***
"Duduk!" Perintah Bu Ros.
"Ya"
"Kenapa kamu? Nggak biasa nggak masuk kelas tepat waktu?"
"Ya Bu maaf, saya salah, saya kebablasan... Tapi, ibu jangan salah kira kenapa tadi saya di kantin," pintanya.
"Kenapa saya harus begitu?"
"Karena saya di sana dalam posisi diberi tanggung jawab dari Pak Beny..."
"Benarkah? Tanggung jawab apa memangnya?"
"Iya, bener Bu... Tadi saya dipanggil beliau untuk menjalani latihan persiapan bertanding sama SMP Dirga..."
"Yakin kamu mau ikut? Nggak fokus sama pelajarannya aja?"
"Ya, saya yakin...."
"Baiklah, tetap saja kamu saya hukum karena kamu salah! Kerjakan apa yang teman mu kerjakan di kelas tadi, dan akan saya tambah tiga puluh soal nanti saya kirimkan! Ingat! Kumpulkan jawabannya besok saat jam istirahat!"
"Ya Bu, boleh saya pergi sekarang?"
"Ya,"
"Terimakasih" Mateng.... Kalo tugasnya banyak lembur gue malem ini... Keluhnya dalam hati.
Ia keluar dari ruang BK dan berjalan kembali ke kantin.
***
TEETtt... TEETttt...
Bel berbunyi menandakan sudah waktunya istirahat. Kelas IX A masih sibuk dengan tugas yang Bu Ros berikan. Amara merasa aneh saat tadi pelajaran masih berlangsung karena, HP nya bergetar enam kali berturut turut. Siapa sih ini, tadi lagi pelajaran kirim pesennya gak tanggung tanggung.... Pikir nya sambil membuka WhatsApp nya untuk mengecek. Ealah Maya.... Udah gue duga pasti dia di balkon... Tapi, kalo masalah sampe lupa waktu... Kemungkinan dia disana nulis novel... Tebaknya.
Amayay: ya, ntar klo ada yang nanyak gue kasi tw.
Amayay: ni udah istirahat lo kemana aja?!?
Amayay: jangan aneh aneh!!!
Amara mengirimkan tiga pesan beruntun pada Xandra. Tapi, hanya centang satu saja. Ni anak HP nya mati apa gimana sih? Cuman centang satu gini... Gerutunya dalam hati.
***
Karena bel istirahat telah berbunyi dan Gading tak kunjung menemukan mereka ber lima ia memutuskan untuk membeli sesuatu di kantin.
Sesampainya di kantin ia mengedarkan pandangannya ke semua meja yang ada disana.
"Eh itu mereka," gumamnya sembari berjalan menghampiri mereka dan melupakan tujuan awalnya.
"Hei," sapanya saat sudah dekat dengan mereka.
"Hai, kak..." Jawab Maya sambil malu malu.
"Eh, kok tau kita di sini?" Tanya Evan.
"Jangan marahin kita lho! Ini Xandra yang ngajak..." Ujar Marcel.
"Iya tu..." Tambah Lucas.
"Lha sekarang dia di mana? Orang nya aja gak sama kalian gini..." Tanya Gading.
"Tadi dia dipanggil Bu Ros suruh ke BK," ujar Lucas.
"Oh, ya udah istirahat dulu ntar mulai lagi..." Ujar Gading "By The Way diantara kalian yang paling mantep siapa? Mulai dari lo deh May... Menurut lo siapa?"
"Hah," Maya kaget ia tidak menyangka akan mendapat giliran yang pertama. "Umm, Marcel si, tapi Xandra juga..."
"Hmm, Yaya... Kalo kamu Cel?"
"Nggak ngerti si, tapi Xandra oke," jawab Marcel.
__ADS_1
"Lucas?"
"Marcel mantep dah!" Serunya.
"Evan?"
"Paling mantep ya dua yang disebut Maya. Mereka punya plus minus nya... Kalo dijadikan satu T-O-P BGT!" Ujar Evan.
"Sejak kapan kakak di sini?" Tanya Xandra yang tiba tiba sudah berada di ujung meja.
Semua yang ada di meja itu terlonjak kaget mendengarnya.
"Harusnya dia yang nanya ke elo!" Ujar Maya sedikit nge gas.
"Santuy dong ngomongnya mbak," jawab Xandra.
"Sumpa, jangan jangan kaki lo gak napak ya?" Tanya Evan.
"Ato, jangan jangan lo itu siluman... Hiyyy," celetuk Lucas.
"Pfftt... Genter mabrung!" Celetuk Marcel
"Cih, Bajaj! Uda jelas manusia gini!" Ujar Xandra.
"Udah udah, berantemnya udah ya... Sekarang, kamu duduk! Kita bahas tim kita sekarang!" Perintah Gading.
"Yaaa" ujar Xandra malas.
"Kalian udah cukup istirahat bukan?" Tanya Gading.
"Udah" jawab mereka serempak.
"Oke, kalo gitu sekarang balik ke kelas masing masing buat cari tau tugas kalian yang ketinggalan gara gara kalian dari tadi pagi di lapangan! Sekarang!"
"Yaa," jawab mereka serempak dan segera memasuki kelas masing masing.
Hmmm, Xandra bisa jadi kapten... Dia gak egois... Sejauh ini oke oke aja... Pikir Gading. Makan dulu aja lah...
"Buk, nasgor satu yak..."
"Ya den..."
***
"Oik, dari mana aja lo?!? Dikontak gak respon..." Panggil Amara begitu melihat Xandra memasuki kelas.
"Janji lo cerita in ke gue!"
"Iya, gue crita..." Ujarnya sambil membalik kursi yang ada di depan meja mereka.
"Gue tadi pagi di balkon atas nulis novel sambil dengerin lagu, kaga denger bel udah bunyi... Setelah gue sadar kalo udah lewat jam masuk kelas gue turun maunya sih masuk kelas ya... Tapi, malah dipanggil sama Pak Beny... Ya udah deh... Sekarang baru aku dibolehin masuk kelas..."
"Lhah, lo disuruh apa emang lama amat? Hampir seharian lo gak di kelas..." Tanya Nala.
"Gue dimasukkin ke tim basket sekolah buat lawan SMP sebelah..."
"Ealah selamat berjuang euy!" Ujar Lili yang ikut nimbrung disana.
"Makasi, oya masa disana ada yang namanya Maya juga... Ampe kapan sih aku pake nama Xandra..."
"Wew, sabar yak..." Tambah Ira.
"Eh gue liat cogan tadi anak SMA gitu... Di lapangan..." Ujar Citra ikut nimbrung.
Xandra heran sekaligus menduga duga bahwa orang itu adalah kak Gading ia melongok kan kepala di jendela untuk melihat siapa yang Citra maksud.
"Oalah itu... Namanya Gading..."
"Kok tau??" Tanya mereka bersamaan.
"Ya tau, lha wong dia yang bimbing latian gue," oya, ada tugas apa dari Bu Ros tadi?"
"Enak ya, bisa lo gebet sekalian atuh...." Ujar Citra.
"Astaga,...." Jawab Xandra "Citra Citra..."
"Ada tuh, tadi dikasih liam puluh soal di kertas... Mana susah susah lagi..." Nala menjawab pertanyaan Xandra.
"Busett... Bu Ros tega abis..." Keluhnya.
"Lahhh emang kenapa?" Tanya Citra.
"Gue disuruh ngerjain soal yang tadi kalian kerjain plus tiga puluh soal tambahan yang dia kasih..."
"Waw..." Celetuk Ira "yang sabar yak..."
"Kertasnya masih ada gak?"
__ADS_1
"Ada tuh di meja guru..." Jawab Amara.
"Xandra!!!" Panggil seorang laki laki.
Panggilan itu menarik perhatian semua anak yang ada di sana.
"Siapa itu?" Tanya Andrea.
"Cieh, yang dicariin cowok," goda Nala.
"Paan sih n**r!"
"Sono gih temuan dia..." Ujar Ira.
"Hmmm" ujar nya sambil berlalu menghampiri Gading yang menunggu di depan pintu kelasnya.
"Napa kak?"
"Udah tau tugas tugas nya?"
"Tugas apa ya?"
"Tugas kamu yang ketinggalan lah pinter!!"
"Udah... Terus kenapa kakak ke sini? Masa cuma mau nanyain gitu doang?"
"Kumpulin anggota tim di lapangan sekarang!" Cih, emang gue apaan... Naksir dia aja nggak... Masak ke sini cuma nanya gitu doang..
"Oke kak, aku ambil kertas soal dulu ya baru aku kumpulin..."
"Ya cepet!" Ujarnya sambil berlalu.
Xandra segera bergegas ke meja guru mengambil soal dan menyelipkan kertas itu di tasnya dan segera keluar ke kelas IX B memanggil Maya.
"Misi... Maya ada?" Tanya nya begitu sampai di depan pintu kelas B.
"Ya?" Sahut Maya.
"Disuruh kumpul sama Kak Gading... Bantuin gue panggil yang lain.." Pintanya.
"Ya... Gue panggil Lucas lo Evan ya... Sama Marcel juga... Hehe..."
"Hmmm"
Mereka segera menuju kelas teman se tim mereka.
"Misi... Evan?" Tanya Xandra setelah sampai di kelas temannya.
"Ya?" Tanyanya sambil menghampiri Xandra.
"Turun ke lapangan sekarang! Udah ditunggu Kak Gading!"
"Oke shap ndan!"
Mereka berpisah, Xandra ke kelas E sementara Evan turun ke lapangan menyusul Lucas dan Maya.
"Misi... Marcel disini gak?" Tanyanya sambil melongok ke dalam kelas E.
"Napa nyari in? Kalo suka bilang dong!"
"Geer banget lo sumpah... Gue cuma nyampe in perintah dari Kak Gading buat turun ke lapangan sekarang juga!"
"Oooh... Oke..."
***
"Xandra sama Marcel mana?" Tanya Gading setelah ada tiga anak di depannya.
"Bentar lagi turun kak... Baru panggil Marcel..." Jawab Maya.
"Oke..." Hmmm, dia gercep ya... Baguslah... Sangat cocok... Pikirnya senang.
Gading yang merupakan teman dekat Marcel sangat mengerti sifat buruknya yang paling parah. Ia memutuskan untuk menjadikan Xandra kapten. Walaupun, masalah teknik lebih unggul Marcel tapi, sayangnya Marcel tidak terlalu bisa mengatur emosinya saat sedang marah. Terutama jika ada yang mengejek tim atau dirinya secara terang terangan.
Setelah beberapa saat terlihat Xandra berjalan ke lapangan diikuti Marcel di belakangnya.
"Udah lengkap kak, maaf aku telat," ujar Xandra.
"Ya, nggak papa..." Jadi aku mau kasi pengumuman. Dua hari lagi kita bakal latihan rutin! Sebelum dua hari itu kalau kalian belum punya Jersey tim silahkan buat! Kalau sudah berarti tinggal nunggu latihan rutinnya. Dan satu lagi, aku udah putusin kalau Xandra kaptennya"
"Apa!?! Kenapa gue? Masa keputusan sepihak?!? Nggak adil kak! Kenapa nggak voting si?"
"Oke, kamu, Marcel maju!" Jangan hadep sini! Balik kanan! Tutup mata! Nggak boleh melek!"
"Mereka kandidat nya?" Tanya Lucas.
"Yup, kalian juga bakal tutup mata dan cukup angkat tangan dan hindari cek cok diantara kalian karena kalian satu kesatuan yang harus utuh sampai akhir! Kandidat juga boleh milih, tapi nggak boleh ada yang golput! Oke, kalian tutup mata semua... Siapa yang pilih Xandra?"
__ADS_1
Maya, Marcel, Lucas, mereka memilih Xandra. Walaupun Gading sudah mengetahui jawabannya tapi ia tetap menyebutkan kandidat ke dua supaya ketahuan siapa yang golput.