
Maya, Marcel, Lucas, mereka memilih Xandra. Walaupun Gading sudah mengetahui jawabannya tapi ia tetap menyebutkan kandidat ke dua supaya ketahuan siapa yang golput.
"Oke, turun! Siapa pilih Marcel?"
Hanya Xandra dan Evan yang mengangkat tangan.
"Oke, buka mata kalian! Dan kembali ke posisi semula!"
"Jadi siapa yang kepilih kak?" Tanya Lucas.
"Xandra tiga, Marcel dua," ujarnya.
"Buset, ya udah lah..." Ia memasang muka datarnya kembali.
"Tim kamu atur baik baik ya!" Ujar Pak Beny yang tiba tiba sudah ada di sana.
"Yaaa"
"Baik, silahkan kembali ke kelas masing masing!"
"Yaa" jawab mereka serempak.
"Xandra, kemari sebentar!" Panggil Pak Beny.
Mendengar itu, Xandra segera berbalik menghampiri gurunya.
Teman temannya saling berpandangan penuh tanda tanya.
"Kenapa pak?" Tanyanya.
"Ini HP kamu, jangan diulang seperti tadi mengerti?!?"
"Baik Pak, terimakasih...."
"Sama sama...."
***
Dari kejauhan kelas A agak berisik. Jamkos lagi emang? Brisik gini... Pikir Xandra.
"Tok, tok, tok, misi..." Ujar Xandra setelah sampai di depan kelasnya.
"Masuk!" Ujar Rico.
Xandra melihat teman temannya dengan santuy nya memainkan ponsel mereka tanpa peduli dengan keberadaan CCTV. Billy sibuk dengan tik tok nya, Bintang sibuk membaca buku Bahasa Indonesia, Valley dengan santuy nya menggabungkan tiga kursi menjadi satu dan dipakainya untuk rebahan, Rahfi sibuk dengan sketsa yang dibuatnya, Amany entah hanya tidur-tidur an atau memang sungguhan tertidur di atas meja, Amara sibuk dengan novel Sherlock Holmes, Citra sibuk menonton drakor, ada juga yang mabar. Hampir semua sibuk dengan diri sendiri kecuali beberapa yang sedang gibah dan mabar menimbulkan sedikit kebisingan.
Ia berjalan tanpa suara menuju mejanya. Dengan perlahan tanpa mengganggu Ama ia duduk di kursinya. Ia tidak memiliki ide akan menulis cerita apa saat diam seperti itu. Karena hanya diam begitu saja ia merasa aneh. Ia memutuskan untuk ikut merebahkan kepalanya di atas meja. Tak lama kemudian ia tertidur karena lelah melakukan kegiatan fisik seharian.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah.
TEETtt.. TEETttt... TEETttt... TEETtttt....
Bel berbunyi, Xandra terbangun dari tidurnya. Ia mengusap usap matanya yang masih terasa berat.
"Astaga, sejak kapan lo di sini May?" Tanya Ama.
"Hehe, maap ngagetin... Gue gak mau ganggu elo tidur sih..."
"Healah... Ya udah hayuk pulang..." Ajak Ama.
"Yaa... Kamu duluan aja... Gue masih harus beresin tugas tugas ku..."
"Okee deh, duluan yak... Bubye...."
"Yaa.. Bye..."
Setelah ia membereskan barang miliknya ia menghampiri sahabatnya.
"Gimana surat kemarin?"
__ADS_1
"Udah gak ada di tempat... Nggak tau kemana ngilang nya..." Jawab Lili, "tapi, cokelatnya kurang satu, bunganya masih tiga..."
"Yah, dua bagi enam dong," celetuk Amara.
"Ye, cuman mau coklatnya doang... Kasian Lili tauk... Dasar suka ambil kesempatan dalam kesempitan...." Ujar Xandra.
"Hehehe, enak si..."
"Eh ini, coklat nya dipotek potekin jadi enem... Udah dijemput papi nih..."
"Woke shap.." Nala langsung gercep membagi dua batang coklat menjadi enam bagian.
"Eh, terusan ya... Pake sepeda lagi soalnya... Ntar juga harus kerjain emteka banyak banget," pamit Xandra setelah memakan coklat bersama.
"Oke, gue juga duluan yak..." Ujar Lili.
"Keluar barengan dong.... Gue juga mau pulang..." Ujar Nala.
"Sekalian kita semua aja dah..." Tambah Amara.
"Ya udah... Yuk... Lagian dah pada beres beres semua..." Celetuk Ira.
Mereka keluar bersama. Xandra memisahkan diri untuk menuju parkiran sepeda.
***
Sesampainya di rumah, Xandra segera membersihkan diri.
"Huah... Cape... Panas..." Keluhnya, "di kulkas masi ada es krim gak ya..."
Ia turun ke dapur dan membuka frezer. "Yey ada..." Diambilnya satu cup es krim coklat dan naik kembali ke kamarnya. Ia menghabiskan es krimnya sambil mendengarkan alunan musik klasik yang menenangkan. Setelah habis ia mengatur timer lagu dan merebahkan dirinya di kasur. Beberapa saat kemudian ia tertidur.
***
Di sisi lain, Robby sedang bersama Nella pacarnya di taman kota.
"By, kerumah kamu boleh?" Tanya Nella, "aku pengen ketemu mama kamu..."
"Sekarang boleh?"
"Ijin dulu sama ortu kamu! Ntar dicariin lagi..."
"Iya..." Segeralah ia menghubungi mama dan papanya.
"Ya udah yuk berangkat sekarang... Biar pulangnya gak kemalaman kalo kamu pengen lama lama..." Ujar Robby sembari memakaikan helm pada Nella. Dan memakai miliknya sendiri. Setelah itu mereka melaju ke rumah Robby.
"By, adik kamu Cewe cowo?"
"Kenapa emang?"
"Nanya aja, gak bole emang?"
"Boleh kok, dia cewe...."
"Jarak berapa taun kalian?"
"Empat tahun"
"Oooo"
Mereka memasuki halaman rumah Robby.
"Dah sampe... Yuk masuk..."
Robby mempersilakan Nella masuk ke rumahnya.
"Duduk sini dulu ya... Aku ambilin minum," ia meninggalkan Nella untuk mengambilkan susu dingin di dapur.
Nella yang ditinggalkan di ruang tamu penasaran dengan bagaimana rupa adik dari pacarnya itu. Tapi, anehnya di ruang tamu itu tidak ada foto keluarga seperti di rumah rumah kebanyakan. Kayak gimana sih muka adiknya? Mirip dia kan ya harusnya... Pikir Nella yang sudah menyerah mencari cari foto.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Robby datang membawa segelas susu coklat kesukaan nya.
"Waaa, makasi By..." Ujarnya girang sambil menerima pemberian pacarnya.
Robby duduk di sebelah Nella dan membuka ponsel nya untuk menghubungi Maya adiknya sedang di mana.
***
Tring... Tring... Tring...
Tiga pesan masuk. Maya terbangun dari tidurnya karena merasa terganggu dan melihat siapa yang menghubunginya. "Haish, siapa si ganggu aja..."
Rob gans: hoi lo di mana? Udah sampe rumah kan?
Rob gans: sepeda gue udah di tempat mestinya udah...
Rob gans: lo mesti lagi dikamar... Turun dong, pacar gue mau kenalan!
Xxan: Y.
***
Nella mengintip melalu bahu pacarnya untuk melihat siapa yang dia hubungi.
Lah, dia chat sama siapa kok kontaknya Sweetie gitu? Jangan jangan dia punya selain aku.... Hiihh... Pikir Nella curiga. Ih, profilnya cantik gitu... Mana gak mirip mukaknya sama dia lagi... Ini pasti cewek dia selain aku...
"By, kamu beneran cinta sama aku?"
"Kok nanya gitu? Nggak yakin sama cinta ku?"
"Ah, nggak nggak, lupain..."
Ni anak kenapa si... Kok nanya yang aneh aneh... Pikir Robby.
Seperti biasa, Nella menyandarkan kepalanya di bahu Robby. Ia mencoba melupakan apa yang baru saja ia lihat. "Nell, aku ke kamar mandi dulu ya..." Pinta Robby sambil mengangkat kepala pacarnya yang tengah asyik bersandar.
"Yaa"
Beberapa saat kemudian turunlah Maya ke ruang tamu menuruti kemauan kakaknya.
Eh, itu pacarnya... Cantik... Pinter masak juga gak ya... Pikirnya iseng.
Nella menyipitkan matanya melihat Maya turun. "Dia!?! Cewek yang Robby kontak tadi..." Gumamnya "jadi bener dia punya cewek lain?!? Satu rumah juga lagi.." Gerutunya.
"Hai," sapa Maya sembari menyunggingkan senyumnya.
"Gue?" Tanya Nella.
"Iya, pacarnya Robby kan?"
Lah, ni cewek nyebut nggak pake gelar apapun berarti jelas jelas dia gada hubungan sekeluarga sama Robby nih... Gawat... "Lo pasti cewek simpenan Robby kan?"
Maya mengangkat sebelah alisnya. An**k!! Nggak serendah itu dia! Nyesel gue senyum n**r! Tau gitu nggak senyum... Bener bener nggak cocok sama Robby... Nggak tau apa apa asal njeplak aja... Pikir Maya kesal. Hmmm... Liat seberapa jauhnya lah.. "Menurut kakak?"
"Berani banget lo panggil gue kakak?!? Udah jelas salah malah..."
Robby yang mendengar keributan segera menghampiri mereka. Sesampainya di sana, ia mengangkat sebelah alisnya pada Maya menanyakan apa yang terjadi.
Maya mengerti isyarat itu, "dia yang mulai duluan kok..."
"Lo itu!! Udah rebut Robby dari gue!" Ujar Nella.
"Kebalik! Situ yang rebut dari aku! Aku udah dari dulu! Kalo nggak tau kebenarannya jangan njeplak dulu!" Balas Maya yang sudah gemas ingin membungkam mulut pacar kakaknya itu.
"Nell... Dia itu—"
"Gue pulang! Buaya lo By! Selama ini lo udah punya dia masi mau gue!" Teriaknya sembari mengambil tas nya dan segera keluar dari rumah itu.
Setelah memastikan Nella sudah tak terlihat Maya melipat tangannya di dada dan menggelengkan kepala. "Salah pilih lu! Calon adik ipar dibilang cewek simpenan... Nggak trima gue! Putusin aja deh!"
__ADS_1
"Hhhh"