
Ketiga pria tampan itu masih mencari keberadaan Eveleen di berbeda tempat. Mereka sudah mencari dimana-mana tapi tidak dapat menemukan keberadaannya, Fabilio sungguh cerdik hingga bisa menyembunyikan Eveleen tanpa sepengetahuan Johnny sang mata-mata. "makanan datang" ucap Fabilio membawa beberapa makanan yang terlihat lezat. "kamu sangat hebat masak, ini buka beberapa lagi, ini untuk 10 orang mah bisa" ucap Eveleen melihat makanan yang bayak di atas meja. "kamu harus makan yang banyak agar cepat sembuh" ucap Fabilio duduk di samping Eveleen. "ku rasa bisa mengbiskannya" ucap Eveleen yang membuat Fabilio berfikir tak percaya. "kalau begitu selamat makan sayang" ucap Fabilio lembut. "kamu juga sayang" senyum Eveleen. Saat mereka sedang makan, Eveleen terpikir sesuatu dan memutuskan untuk langsung bertanya. "apa tidak ada pembantu?" tanya Eveleen. "mereka akan datang jika pagi nanti untuk membersihkan rumah" ucap Fabilio. "apa hanya kita berdua di sini? dan jelaskan kenapa aku bisa di sini" tanya Eveleen lagi membuat Fabilio berhenti makan. "kita hanya berdua di rumah dan beberapa bodyguard di luar, masalah kenapa kamu ada di sini adalah.... aku menculik mu" ucap Fabilio membuat Eveleen kaget. "bagaimana bisa kamu menyulikku?! Bagaiman dengan Chao chao?! bagaimana dengan Alice, Johnny dan Luiz mereka kasti khawatir!" ucap cepat Eveleen.
"yaa mereka memang sedang mencari mu, tapi tenang saja aku tidak membuat masalah besar hanya saja aku membawa mu tanpa izin" jelas Fabilio. "Fabilio?!" Eveleen tidak tau harus bicara apa. "dan Chao chao dia baik-baik saja aku sudah mengirimkan seseorang untuk melindungi Chao chao dari jauh dan dekat" jelas Fabilio lagi. "tapi..."
Pletak...
__ADS_1
"ini tetap saja tidak baik!" memukul kening Fabilio. "sayang! aku melakukan ini untuk kita, jika tidak pasti Johnny tidak akan membiarkan ku mendekati mu" rengek Fabilio memegang keningnya. "tetap saja menyulikku adalah ide yang buruk, Johnny bisa saja meminya bantuan pada pemerintah, apa kamu tidak memikirkannya?! dasar bodoh" ucap Eveleen. "aku juga terpaksa, karna kalau Johnny tau aku yang membuatmu terluka pasti dia akan membunuh ku" ucap Fabilio. "aku tidak akan membiarkan mu mati" ucap Eveleen. "sayang aku seorang mafia, bisa saja aku di bunuh kapan saja oleh orang-orang yang sudah lama mencari ku seperti Johnny" memegang tangan Eveleen. "dia tidak akan" ucap Eveleen menatap mata Fabilio. "kenapa tidak?" tanya Fabilio. "kurasa bukan dia, tapi yang lain" ucap Eveleen kembali melahap makanannya. "lalu siapa?" tanya Fabilio ingin tau. "ntah lah, kalau benar Johnny pasti sudah membunuh mu dari dulu, padahal dia sudah sering melihat mu" ucap Eveleen. "benarkah? tapi kamu benar, yasudah lah kalau begitu kamu harus istirahat dulu, besok. kita akan jalan-jalan" ucap Fabilio. "asik" ucap Eveleen segera menghabiskan makanan nya.
Keesokan harinya Eveleen merasa lebih baik, dan segera menagih janji Fabilio yang akan Membawanya jalan-jalan. Eveleen pergi menuju kamar Fabilio yang tertutup, "Fabilio, Fabilio apa aku boleh masuk?" tanya Eveleen dari luar. Eveleen tidak mendengar sautan Fabilio hingga memutuskan untuk masuk ke dalam yang ternyata pintunya tidak terkunci. "Fabilio aku datang" ucap Eveleen yang masuk membuka pintu yang membiarkannya terbuka. "Fabilio! Apa kamu mandi? Aku ada di kamar mu!" sorak Eveleen. "sebentar!" ucap Fabilio yang memang di kamar mandi. "owh dia di kamat mandi" ucap Eveleen sambili melihat isi kamar Fabilio. "pria memang butuh lerawatan juga" ucap Eveleen melihat beberapa skinker di meja rias Fabilio. Eveleen melihat beberapa foto tiga anak kecil yang sangat menggemaskan. "yang mana Fabilio?" berusaha menebak. "apa yang tidak senyum itu? Dia memang dingin" ucap Eveleen melihat satu anak yang terlihat dingin di foto.
"bukan aku yang tengah atas" ucap Fabilio yang dari tai melihat Eveleen yang sibuk melohat fotonya. "benarkah? Wah kamu bisa tersenyum dengan manis ternyata, wah!!" Eveleen baru sadar setelah menoleh ke belakang kalau Fabilio hanya memakai handuk sepinggang dengan rambut yang masih basah. "apa tubih ku sangat bagus?" tanya Fabilio memamerkan dengan melihat ke cermin yang memantulkan tubuhnya. "ntah lah sebenarnya biasa saja, tapi aku merasa malu" wajah Eveleen memerah. "hei-hei biasa apanya, wajahmu memerah" ucap Fabilio melipat tangan di dada. "aku sudah biasa melihat tubuh seperti itu, tapi aku merasa malu kalau itu kamu" ucap Eveleen membuat Fabilio kesal. "tubuh siapa yang kamu lihat?!" ucap Fabilio mendekat. "biasanya Luiz dan Johnny" ucap Eveleen dengan santai. "jangan pernah memerah memerah dihadapan mereka, hanya aku saja yang boleh" ucap Fabilio memegang pipi Eveleen yang merah. "tuan saya saya.... " pembantu Fabilio datang untuk membersihkan rumah tiba-tiba melihat Fabilio tidak berpakaian dan juga melihat Eveleen di depan Fabilio. "maaf saya menggangu!" segera pergi. "ka-kamu salah paham!" ucap Eveleen. "salah paham apanya jika bersama ku tidak menggunakan pakaian" senyum jahil Fabilio.
__ADS_1
Saat Eveleen keluar ia sudah memekai beberapa riasan yang ada di meja rias yang membuatnya lebih cantik walau natural. "nona tuan menunggu anda di bawah" ucap salah satu pembantu itu. "baiklah" ucap Eveleen segera ke bawah. Fabilio yang melihat Eveleen turun dari tangga melihat Eveleen terpesona walau Eveleen menghunakan pakaian pria yang sedikit kebesaran. "Fabilio kamu harus membeli pakian ku" ucap Eveleen tutun ke bawah. "tentu" ucap Fabilio masih menatap anggun Eveleen yang jalan ke arahnya. "kamu sangat tampan sayang" ucap Eveleen melihat Fabilio menggunakan pakaian bebas tanpa jas. "kamu juga cantik sayang, apa kamu tau pakaian siapa itu?" tanya Fabilio. "ntah lah, aku hanya memakai yang ada di ruang ganti saja. "itu baju ku sayang, kamu memakai kamar ku, tapi itu terlihat sangat cocok untuk mu" ucap Fabilio mengusap lembut rambut Eveleen. "tubuh mu sangat tinggi, aku kebesaran memakainya" ucap Eveleen. "tidak terlalu dalam untuk mu, kamu sudah tinggi" ucap Fabilio menarik pinggang Eveleen agar lebih dekat.
"kamu terlihat sudah sehat, tapi sebelum pergi kita harus mengecek nya dulu" ucap Fabilio. "tapi aku merasa baik-baik saja, ayolah kita pergi sekarang aku tidak sabar" ucap Eveleen menolak. "tidak, kamu harus di periksa dulu, dokter nya akan datang" ucap Fabilio dan detik itu juga dokter benar-benar datang. "selamat pagi" ucap dokter jalan ke arah merela. "ayo kita periksa dulu keadaan mu nona" ucap dokter menyuruh Eveleen berbaring di sofa. "sana" ucap Fabilio melihat Eveleen ingin menolak. "baiklah" ucap Eveleen menurut. Dokter memeriksa keadaan Eveleen dengan teliti, "tidak ada masalah pada nona Eveleen, tapi jangan terlalu kelelahan ya" ucap dokter setelah mengeceknya. "sudah ku bilang aku baik-baik saja" ucap Eveleen. "tetap saja agar aku tidak kepikiran" ucap Fabilio. "kamu memikirkan ku?" senyum Eveleen. "tentu saja" ucap Fabilio ikut senyum. Dokter kaget dan membeku melihat senyuman Fabilio kepada Eveleen, "aku tidal salah lihat bukan" batin dokter. "terimakasih sudah memeriksa kekasihku, sampai jumpa" ucap Fabilio membawa Eveleen pergi. "kekasih? tuan Fabilio punya kekasih? Dan senyuman itu sangat tulus, syukurlah" batin dokter.
Mereka pergi ke berbagai tempat untuk jelan-jalan dan juga belanja yang banyak seperti pakaian untuk Eveleen. "ingin membeli susuatu yang lain?" tanya Fabilio. "ntah lah" ucap Eveleen berfikir. "kita lanjut jalan dulu" ucap Fabilio memegang tangan Eveleen. "sebentar, aku ingin beli sesuatu" ucap Eveleen berhenti berjalan. "apa" tanya Fabilio. Eveleen melepaskan genggaman Fabilio dan berdiri di hadapan Fabilio. "aku beli bibirmu cupp... " ucap Eveleen mendekat dan menegcup singkat bibir Fabilio lalu berlari. Saat Eveleen akan berlari Fabilio menarik tangan Eveleen ke pelukannya dan memeluk pinggang Eveleen. "ini free" ucap Fabilio memegang teguk leher Eveleen untuk menciumnya dengan lembut. Mereka berciuman di tengah kota tanpa menghiraukan orang lalu lalang. Jantung mereka berdetak kencang hingga merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam diri mereka, seolah-olah ada yang terbang di dalam diri mereka.
__ADS_1
Deg...
"ntah kenapa aku merasa sedih" batin Johnny memegang dadanya. "kamu kenapa?" tanya Leo yang di sampingnya. "perasaan ku tidak enak" ucap Johnny. "tenang saja Eveleen akan baik-baik saja" ucap Leo yakin.