
Fabilio dan Eveleen pergi menuju rumah Fabilio dengan menggunakan mobil pribadi, "seseorang mengikuti kita" ucap Eveleen melihat ke belakang. "aku tau" ucap Fabilio yang melihat sebuah mobil hitam terus mengikuti mereka. "apa yang harus kita lakukan?" tanya Eveleen. "kita akan mengambil jalan sepi kamu harus berhati-hati" ucap Fabilio. "hm" dehem Eveleen yakin. Fabilio memberhentikan mobilnya di tempat atau jalan yang sepi, ia keluar dari mobil dan di ikuti Eveleen. "kenapa kamu turun? aku menyuruh mu untuk didalam" ucap Fabilio. "kamu akan butuh bantuan ku" ucap Eveleen santai. "tidak perlu, bawahan ku akan datang" ucap Fabilio memaksa Eveleen untuk masuk. "baiklah aku akan melihat mu dari dalam" ucap Eveleen masuk ke dalam mobil kembali.
Ternyata bukan hanya satu mobil yang mengikuti mereka, ternyata ada dua mobil dan 5 motor berhenti dindepan Fabilio. "ini lebih sedikit dari yang ku duga" ucap Fabilio saat musuhnya itu turun dan memakai pakaian hitam tertutup. Mereka berdiri di depan Fabilio beberapa meter, "atasan kalian masih hidup? ku kira sudah mati terbakar" ucap Fabilio smirik. "apa kamu takut?" tanya ketua musuh itu. "hah~ wellcome" ucap Fabilio menyuruh mereka maju. "serang!" ucapnya maju bersama yang lain. Fabilio terus menangkis dan berusaha menyerang, sedangkan Eveleen khawatir melihat Fabilio bertarung sendiria, "kenapa kekasihku sangat gengsian" ucap Eveleen keluar dari mobil dan berusaha membantu Fabilio.
Brakk!!
Satu musuh jatuh di tangan Eveleen, mereka sempat terdiam melihat Eveleen. "aku pernah bilang kalau aku ahli bela diri" ucap Eveleen. "aishh.. kenapa kamu keluar?!" ucap Fabilio khawatir. "kenapa?! kita buat permainan saja" ucap Eveleen membuat mereka berfikir. "permainan?" bingung musuh. "siapa yang paling banyak menumbangkan mereka dan tanpa luka akan dikabulkan satu keinginannya" ucap Eveleen kepada Fabilio. "tidak masalah" ucap Fabilio bersiap menyerang. "ternyata mereka, kukira kita juga" ucap salah satu musuh. "kamu ingin bermain?" tanya Eveleen. "iya!" semangatnya. "apa kamu gila?!" marah ketuanya. "maaf" ucapnya sadar. "jika salah satu dari kalian menang akan aku beri satu permintaan juga" ucap Eveleen membuat mereka diam-diam tertarik. "apa lagi?" ucap Fabilio maju untuk menyerang.
__ADS_1
Brak..
Brukk....
Mereka terus bertarung hingga salah satu dari mereka tumbang dan jatuh tak sadarkan diri. Fabilio dan Eveleen tidak terluka sedikit pun dan para musuh tidak ada yang bisa melawan mereka. "ku rasa aku yang menang" ucap Eveleen yang sudah menumpukkan semua musuh itu agar mudah di hitung saat menang. "aku hanya mengalah" ucap Fabilio yang gengsi. "awas!" ucap Fabilio berlari ke arah Eveleen. "Aagghhh!!!" ringis Eveleen saat lengannya yang sakit di cengram kuat oleh musuhnya. "jangan mendekat! aku tau kamu sedang terluka" ucapnya terus menekan lengan Eveleen. "aghhhhh!" ucap Eveleen membalikkan musuh itu dengan sekuat tenaga hingga jatuh dihadapannya. "aghh" ringis Eveleen memegang tangannya. "ayo kita pergi dulu" ucap Fabilio membawa Eveleen setelah menembak semua musuh itu dengan pistol dengan penyadap suara.
Brukk...
__ADS_1
Johnny memukul Fabilio hingga jatuh, "kamu tidak akan bisa menjaga Eveleen! kamu hanya membuatnya terluka dan dalam masalah" marah Johnny dan segera mengantar Eveleen ke kamar. "Fabilio?" batin Eveleen yang ingin menolong, tapi Fabilio hanya menganggukkan kepalanya bertanda tidak papa. "kami akan periksa dulu" ucap salah satu dokter. Johnny memberikan ruang pada dokter dan segera menghubungi Luiz bahwa Eveleen sudah di temukan agar ia segera balik. "ini baru saja di jahit" ucap dokter yang membuat Johnny mendekat untuk melihat. "apa sebelumnya kamu terluka? kenapa? apa yang terjadi?" tanya Johnny khawatir. "nanti aku akan jelaskan" ucap Eveleen. "ini seperti luka tembakan" ucap dokter lagi. "kamu harus membicarakan nya nanti" ucap Johnny dengan nada serius. Setelah Eveleen diobati, dokter keluar dengan pesan kalau tidak boleh ada siapapun yang tau tentang luka Eveleen.
"katakan yang ingin kamu katakan" ucap Johnny duduk di sisi ranjang Eveleen setelah pintu kamar tertutup sempurna. "saat itu aku sadar dan melihat tempat yang aneh, tapi aku tidak di lukai hingga Fabilio datang untuk menolong ku dua hari yang lalu" jelas Eveleen dengan sedikit percikan kebohongan. "oke, lalu?" ingin mendengar lanjut walau punya beberapa pertanyaan. "aku sudah di bawa pulang dan Fabilio memberikan ku dokter hingga mentalku kembali pulih dengan cepat dan Ntah kenapa itu sangat cepat saat penyembuhannya" lanjut Eveleen. "Saat malam. hari aku terbangun dan melihat Fabilio pergi dari rumah menggunakan mobilnya, aku diam-diam mengikutinya dengan motor bodyguard yang sudah aku suruh untuk bungkam, dan ternyata ia bertemu dengan mafia lainnya hingga terjadi perkelahian" ucap Eveleen. "aku bersembunyi di salah satu gedung itu, dan menolong Fabilio diam-diam hingga aku terluka saat tertembak di bagian lengan atas" ucapnya.
"biarkan aku memeluk mu dulu" ucap Johnny langsung memeluk Eveleen. "aku sekarang tidak papa, dan jangan beri tahu Fabilio kalau aku menolongnya pada malam itu" ucap Eveleen di sela pelukannya. "kamu tau itu berbahaya, tapi kenapa kamu masih saja keras kepala untuk melindungi nya" tanya Johnny melepaskan pelukannya. "aku tidak tau, dan anggap saja aku berlatih menggunakan senjata lagi" ucap Eveleen yang tidak ingin orang tau tentang hubungannya dengan Fabilio. "tadi kamu bilang audah selamat dua hari ya ga lalu bukan, kenapa tidak mengabari ku?" ucap Johnny. "maafkan aku, aku tidak kepikiran saja dan pikiran ku sedang kosong waktu itu" ucap Eveleen. "dan apa kamu melapaskan cincin negara di rumah?" tanya Johnny. "aku tidak ingat" ucap Eveleen yang merasa kalau ia tidak. pernah melepaskan cincin itu sekali pun setelah Johnny memasangkannya untuk nya waktu itu. "jangan pernah melepaskannya lagi" ucap Johnny memasangkannya cincin mata-mata itu kembali ke jari manis Eveleen.
"aku tidak akan melepaskan nya, mungkin aku tidak sadar kalau cincin itu lepas mungkin saat tidur" ucap Eveleen. "baiklah kamu istirahat dulu, saat waktu yang tepat kita segera balik agar semua orang merasa lega" ucap Johnny. "apa paman dan bibi tau?" tanya khawatir. "tidak, Luiz melarang ku karna mereka memiliki penyakit jika panik dan terkejut" jelas Johnny. "bagaimana dengan keadaan Chao chao?" tanya Eveleen. "Chao chao baik-baik saja, Alice menjaganya dengan baik" ucap Johnny membuat Eveleen tenang. "jangan meninggalkan ku" ucap Eveleen menaruh tangan Johnny ke kepalanya untuk membelai dengan lembut. "percaya pada ku, tidurlah dengan nyenyak" ucap Johnny membuat Eveleen tenang dan murah tertidur.
__ADS_1
"apa kamu yang menculik Eveleen?" tanya Leo yang duduk di ruangan Fabilio. Fabilio yang mendengar itu menjadi tertegun yang awalnya membelakangi Leo dan langsing menghadap ke Leo. "apa kamu benar?" melihat ekspresi Fabilio yang telah ia temukan jawabannya. "sejak kapan kamu menyadarinya?" tanya Fabilio. "saat sudah tiba di negara QQ" ucap Leo. "kenapa tidak menghubungi ku?" tanya Fabilio. "aku tidak suka membuat masalah, jadi aku akan membiarkannya saja" ucap Leo. "kalau begitu jangan mendekati Eveleen lagi, dia kekasih ku sekarang" ucap Fabilio membuat Leo kaget. "ternyata kalian menghabiskan waktu bersama disana, tapi... aku tidak bisa menyerah begitu saja" ucap Leo. "apa maksud mu? bukankah ku sudah bicara dengan jelas?" ucap Fabilio. "itu cukup jelas, tapi kamu baru kekasih bukan suaminya, berhati-hatilah jika ada sedikit celah aku akan mengambil Eveleen dari mu" ucap Leo keluar dari ruangan itu membuat Fabilio kesal yang terdengar seperti ancaman baginya.