
Sesampainya di ruang BK, Maya melihat rekaman CCTV memutar adegan saat Billy menghinanya.
Gilaa ini seriusan?! Mereka tau dong yang aku lakuin.... Makin rumit aja... Batin Maya.
Untung nggak ada guru lain di sini...
"Duduk situ!" Perintah Bu Dyah.
Maya mengangguk lalu duduk.
"Bisa ceritakan apa yang Billy lakukan sampai memukulnya?"
"........."
"Kenapa diam?"
"Saya sudah memaafkan nya Bu... Tidak perlu diungkit kembali... Dan kalau memang ibu ingin menghukum karena saya melakukan kekerasan ya silahkan saja. Karena, saya memang salah sudah memukul orang lain."
Ckckck... Anak ini,... Sungguh murah hati... Gumam Bu Dyah dalam hati.
"Baiklah jika itu mau mu... Silahkan hormat tiang bendera selama satu jam!"
Lagi lagi hanya dibalas dengan anggukan dan segera keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintahnya.
Dia ini perempuan... Irit sekali bicaranya... Gumam Bu Dyah dalam hati.
Maya dan Billy berpapasan di pintu ruang BK. Billy menatap Maya sinis dan dibalas Maya dengan tatapan kosong.
"Kenapa memanggil saya Bu?" Tanya Billy setelah duduk tanpa dipersilahkan. Sementara Dimas dan Angga masih berdiri.
"Angga? Dimas?" Tanya Bu Dyah tanpa memedulikan pertanyaan Billy.
"Yaa?" Jawab mereka bersamaan.
"Kalian dicari Pak Beny di perpustakaan!"
"Ah, baik bu" jawab Dimas.
Dan dibalas dengan anggukan oleh Bu Dyah.
Setelah mereka berdua keluar, Bu Dyah mengeluarkan tatapan khasnya yang membuat anak SMP 403 tidak berani menatapnya.
"Apa yang kamu lakukan tadi?"
"Kapan ya Bu?"
"Kantin?"
"Makan"
"Hanya itu?"
"Iya"
"Pipi?"
"Hah? Oh temen habis nabok nyamuk dipipi saya"
"Sampai seperti itu? Nyamuknya sebesar kecoa kah?"
"Hmm, iya sampai seperti ini" ujar Billy tanpa mempedulikan pertanyaan terakhir.
Hmmm,.... Tidak mau jujur rupanya... Sepertinya harus diputar rekamannya....
Bu Dyah memutar kembali kejadian di kantin. Terlihat jelas disana muka Maya dan Billy.
Glekk, Billy menelan ludah. Sejak kapan ada CCTV di kantin?!
Bu Dyah menahan senyum nya melihat reaksi Billy yang sangat kaget melihat rekaman CCTV yang ia putar.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"........"
"Billy!"
"......."
"Sudah bisu dan tuli kah?"
"......."
"Baiklah..." Ujar Bu Dyah sambil membuka HP nya dan memutar rekaman suara kejadian di kantin yang dikirim oleh Bu Tiwi.
"......" Billy tetap diam. Karena dia memang membenci Maya. Bahkan perasaan itu bertambah karena Maya berani memukulnya secara tak terduga.
"Masih tidak mau mengaku? Apakah kamu mau digitukan?"
Billy menggeleng.
__ADS_1
"Mau saya laporkan yang satu ini ke orang tua Maya dan kamu?"
Billy terkejut dengan tawaran yang satu itu. "Jangan Bu, jangan! Lebih baik hukum saya saja"
"Sampai kapan kamu kapok, Hmm?"
"....." Billy tidak bisa menjawab.
Bodo amat dihukum yang penting jangan sampe ke orang tua... Huh... Sial!!
Tapi siapa yang ngerekam tadi? Nggak mungkin ada yang ngaduin pake rekaman kaya gitu? Guru kah? Masa sih? Gilaa.... Kalo emang guru...
"Okay, silahkan hormat bendera di lapangan selama dua jam, bersihkan semua toilet disekolah ini sepulang sekolah!"
"Uhh... Ya deh Bu...."
"Dan ingat sekali lagi kamu menghina teman, kelakuan kamu akan sampai ke orang tua. Dan jangan lupa mintamaaf ke Maya!"
"Yaa" ujar Billy sambil keluar dari ruangan.
Cih, minta maaf? Maya? Nggak sudi deh....
"Ckckck, Pembuat ulah kalau nggak buat ulah nggak puas ya?" Ujar Bu Dyah saat Billy sudah keluar.
***
Billy berdiri di balkon kelas VIII sebelah ruang BK untuk memandang keadaan sekolahnya tanpa sepengetahuan Bu Dyah.
Eh, itu Maya? Kok dia hormat bendera juga? Kan yang ngejek aku... Turun aja lah, ntar tanyain...
***
"Panas" gumam Maya di tengah lapangan sekolah nya.
Merasa ada seseorang yang berdiri di sebelahnya refleks Maya bergeser dan melihat ke arah orang tersebut.
"Elo?"
"Iya gue, siapa lagi yang langganan berdiri di sini? Kaya lo nggak tau aja" ujar Billy.
"Oh"
"Lo berdiri di sini? Tumben?!"
"......."
"......."
"HOI, masih manusia kan lo?"
"Masih kok,"
"Ya udah jawab!!"
"Gue pengen lo diem hormat sama tuh tiang bendera selama satu jam! Ngerti?!"
"Nggak!"
"Terserah!" Ujar Maya sembari bergeser untuk menambah jarak mereka.
"Wkwkwk, pasti gegara mukul gue ya? Iya kan? Ngaku aja deh!"
"Pede!" Maya menutupi kenyataan bahwa ia memang dihukum karena memukul Billy.
"Yah, emang orang ganteng mesti pede dong... Nggak kaya lo!"
"Hmmm" Males dah nanggepin, yang ada nambah panjang aja...
"Billy! Mau ditambah jam nya? Biar mateng tuh kulit?" Panggil Bu Dyah dari lantai dua "dari tadi gangguan Maya terus? Kalau suka ngomong! Bukan gangguin!"
"Nggak usah Bu, makasih.." Jawab Billy "CIH, siapa juga yang suka sama cewek kayak dia?"
Maya tersenyum tipis mendengarnya.
"Sial, ganteng gue ilang ntar nambah item"
"Ckckck, mana pede nya? Katanya ganteng, kok nggak pede nambah item?"
"Sialan lo!" Umpat Billy.
***
Sementara itu, di perpustakaan....
"Mana Pak Beny? Katanya di sini? Kosong gini?" Celetuk Angga.
"......."
"Aelah, lo masih manusia kan?"
__ADS_1
"Tuh, ada orang di belakang rak situ" ujar Dimas sambil menunjuk ke arah lemari buku besar di hadapan mereka.
"Masa sih itu? Nggak ada tuh"
"Masa yang gue liat demit sih Ngga? Nggak lucu ih?!"
"Iya nggak lucu! Kebelet pipis nih gue... Kamar mandi dulu ya!"
"Ya udah sono!"
Setelah Angga keluar Dimas penasaran dengan apa yang tadi ia lihat. Ia mengintip lewat sela sela buku.
Itu, kok ada merah merah gitu? Perasaan di balik ini juga tembok deh... Batin Dimas.
Mana Angga lama banget lagi...
Dimas semakin penasaran, ia melihat ke belakang rak buku tersebut dan dari belakangnya...
Bwaa
Pak Deny mengageti Dimas yang penasaran.
Hwaaa... hiyatt, bukhh..
Dimas memukul perut Pak Beny, membuat guru itu terjatuh.
Ukhh...
Rintih Pak Beny.
"Astaga, maaf Pak... Aku pikir demit tadi... Bapak nggak papa kan?"
"Bwahahahahahahahhhahahahhh" Angga tertawa mendatangi mereka berdua.
"Nggak papa, cuma masih nyeri ini perut.."
"Maaf pak, mau saya ambilkan teh hangat atau bubur hangat?" Celetuk Dimas khawatir akan keadaan gurunya.
"Hahaha, Haduh, sakit, yang ada bapak muntahin atuh teh sama buburnya"
"Eh iya ya..." Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Wah, sayang banget nggak aku rekam tadi... Muka lo lucu banget tau!"
"Sialan lo! Emm, ini bapak sama Angga sekongkol nih?"
"Nggak, kebetulan aja Pak nya udah di belakang lo waktu gue masuk... Yah, gue tonton dong reaksi lo..." Celetuk Angga.
"Hadeh... Lucu juga kamu Dim, kaya cicak ngejar sinar merah merah itu... Nyampe nggak sadar kalau bapak di belakang mu"
Dimas meringis mendengar perkataan Pak Beny. Sabar deh gue, dikerjai guru kek gini, sial, sial...
"Okay, kalian suka main game bukan?"
"Yaa?" Celetuk mereka berdua bersamaan.
"Gimana kalau kalian belajar bikin animasinya?"
"Buat apa?" Tanya Dimas.
"Persiapan lomba lawan SMP Dirga, mau? Kalau nggak masih ada yang lain sih"
Hmmm, gimana Ngga? Kita kalah in tuh SMP Dirga! Sekalian bolos pelajaran juga sih kalau boleh... Dimas melakukan telepati ke Angga.
Masalah kalah in SMP sebelah lo mau. Tapi, bikin animasi game? Nggak gampang!
Angga membalas pertanyaan Dimas.
Hadeh, lupa? Kalo lo bisa jadi apa aja asal lo mau? Nggak pengen bolos pelajaran nih?
Mmm, ya udah, gue mau kita kalah in SMP Dirga!!
Yah, mereka memang memiliki kemampuan yang spesial.
"Mau Pak... Kita mau" ucap Dimas
"Okay, nanti pulang sekolah kalian ke lab komputer ya?!"
"Siap ndan!" Celetuk Angga
"Oye, sekarang balik ke kelas kalian! Mulai sekarang sekali saya liat kalian bolos pelajaran, keluar dari tim! Mengerti?"
"Siap, paham!" Celetuk Dimas.
Pak Beny manggut manggut senang.
Maaf ya Dim, bapak iseng... Nggak nyangka bakal seperti itu reaksi mu. Batin Pak Beny.
***
__ADS_1