LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
Balkon atas


__ADS_3

"Aaaam... Nyem, nyem, manis ya By...."


"Masi yakin yang lo masukin garem?"


"Iya tuh, sama sama putih sama juga bentuk toplesnya..."


Robby memutar bola matanya jengah. "Lo nggak tau bedanya garem sama gula hah?!"


"Nggak... Hehe" Maya nyengir.


"Dasar, malu malu in lo gitu aja nggak tau mana lo udah kelas 9 lagi... Kalo cuma liat lo nggak bisa bedain, lo bisa kan ngerasain dulu...." Omelnya.


"Iya iya maap deh..."


"Huh" Ia melanjutkan masak memasaknya. Sementara Maya hanya bersandar pada kulkas memperhatikan kakaknya.


Eh, sesama kulkas menyatu... Wkwkwk... Pikir Robby.


"Hmmm baunya enak, laper aku..."


"Cih, makan doang kalo masak payah"


Maya mberengut "hmm"


"Ya udah, nih makan... Daripada telat, kan repot" ujar Robby sambil meletakkan piring di atas meja makan.


"Makasi zeyenk" sambil menunjukkan senyum Pepsodent nya.


"Hmmm"


Mereka berdua makan dengan cepat dan tidak banyak bicara.


"Nih, lo cuci, gue abis duluan"


"Ish, ya deh"


"Gak usah ngeluh! Gue udah masak! Gue naik ya..."


"Yaa" sudahlah memang begitu adanya.


Setelah selesai mencuci Maya naik ke kamarnya untuk mengganti baju.


***


Maya berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia memilih ikat rambut berwarna hitam miliknya dan mengucir tinggi rambutnya. Hmmm makin panjang ni rambut... Tapi, kalo rambut gue pendek banget juga wagu... Aish, bomat... Yang penting kelulusan masih bisa disanggul. Atau apapun itu... Abis itu baru potong lagi...


Ia mengemasi buku pelajarannya, mengenakan headset, dan bergegas keluar kamar.


Sebelum berangkat ia memasuki kamar kakaknya terlebih dahulu. Belum sempat memegang handel pintu kakaknya sudah membuka terlebih dahulu.


"Eh By, gue berangkat ya..."


"Ya udah, keluar bareng gue juga mau berangkat..."


Mereka turun bersama dengan Maya di depan.


"Oi, nih dibawa bekalnya! Duitnya dihemat dulu!"


"Eh, makasi By, perhatian banget lo..." Beruntung sumpa yang jadi cewek dia...

__ADS_1


Robby hanya membalas dengan anggukan. Setelah itu mereka mengenakan sepatu bersama di depan rak sepatu dekat pintu. Maya mengeluarkan sepeda dari ruang depan dan mengunci rumah, sementara Robby mengeluarkan motor dari garasi dan menguncinya.


Tak lupa Maya memutar lagu terlebih dahulu sebelum ia berangkat.


"By, duluan yo..." Pamitnya


"Ya, tiati!"


Dan hanya di balas dengan anggukan sambil berlalu.


***


Sampailah Maya di sekolah. Setelah memarkir kan sepeda ia melenggang di koridor sekolah untuk masuk ke kelasnya. Beugh, ni sekolah ato bangunan tua si? Sepi banget... Pikirnya.


Akhirnya ia sampai di kelas, dan di sana masih belum ada yang datang. Hmmm mending aku ke balkon atas deh... Ia meletakkan tas di tempat duduknya dan naik ke lantai tiga sekolahnya menuju balkon yang memang jarang anak ke sana karena takut dengan rumor hantu Mbak Sri.


Memang, awalnya Maya merasa takut karena beberapa anak melihat Mbak Sri menampakkan wujudnya saat sedang sendiri. Tapi, karena ia sendiri selama ini belum pernah melihat secara langsung ia biasa biasa saja. Dan memang suasana balkon atas sepi, banyak angin yang bertiup, cocok untuk menyendiri bahkan sampai tertidur saking banyaknya angin.


"Hhmm... Haaa..." Maya menghirup udara segar pagi itu, angin sepoi sepoi menerpanya. Memutuskan untuk duduk di salah satu kursi dan memutar lagu Next to You - Justin Bieber salah satu musisi favorit nya.


You've got that smile


That only heaven can make


I pray to God every day


That you keep that smile


You are my dream


There's not a thing I won't do


'Cause you are my dream


Ia bernyanyi mengikuti lirik lagu yang sudah ia hafal sambil memikirkan bagaimana kelanjutan cerita yang dibuatnya dan mengetikkan di HP nya. Saking asyiknya mengetik dan mendengarkan lagu ia sampai tidak mendengar bel masuk kelas. Yah sebenarnya memang suara bel kelas tidak terlalu keras ketika berada di balkon ditambah lagi, Maya sendiri sedang mendengarkan lagu.


***


"Selamat pagi anak anak!" Sapa Bu Ros guru matematika.


"Pagi buuu" jawab mereka penghuni 9A serentak.


Bu Ros mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, ia menemukan kursi kosong akantetapi ada tas seseorang di sana.


"Amany, sebelah kamu siapa?"


"Maya bu eh salah, Xandra maksud saya..." Kemana si dia tumben belum masuk.


"Kemana dia? Kok belum masuk kelas?"


"Saya tidak tahu Bu, dia datang lebih awal ketimbang saya..."


Bu Ros manggut manggut mendengar penjelasan Ama. "Apa ada yang tau?"


Sontak semua anak menggeleng. Kemana anak itu? Pikir Bu Ros. Tiga puluh menit berlalu namun, Xandra tak kunjung datang, ia masih asyik menikmati angin yang berhembus sembari menggerakkan jarinya di layar handphone.


"Anak anak, tugas ini dikerjakan sebaik baiknya ya! Nanti dikumpulkan! Saya keluar sebentar," ujar Bu Ros sambil berlalu.


"Ya Bu"

__ADS_1


"Wokey shap"


"Ish ya deh..."


Berbagai macam jawaban membaur jadi satu.


Bu Ros memutuskan untuk melacak keberadaan Xandra melalui CCTV.


***


Sementara di balkon...


"Hoahmm" Xandra meregangkan tubuhnya, matahari terasa semakin menyengat.


Ia mengecek jam di ponsel miliknya.


"Hah!?! Ini seriusan?!" Matanya membelalak kaget. Karena masih tidak percaya ia mengecek arloji di tangannya. "Gila gila, ini beneran oye udah jam stengah lapan?!"


Ia menggeleng tak percaya. Hmmm, kalau aku sekalian nyekip jam pelajaran mau kabur dari mana? Ini lantai tiga, belom pernah aku lompat ampe bawah... Xandra memeras otak untuk mencari cara untuk kembali atau tidak sama sekali alias bolos sekolah. Aish, pusing balik kelas aja lah, bebas syukur, ketahuan ya syukurin... Pikirnya tak diambil pusing atau khawatir. Setelah mengantongi ponsel dan headset nya, ia bergegas turun ke lantai dasar.


Setelah mengintip ke kelasnya ia kaget melihat kelas tanpa ditunggu oleh guru. Ia memutuskan untuk mengetuk pintu dan masuk. Sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke kelas tiba tiba pundaknya ditahan oleh seseorang.


"Pak Beny?!?" Ujarnya terkejut.


"Ikut saya sekarang!" Perintahnya.


Xandra mengikuti guru nya sembari mengirimkan pesan beruntun pada Amara.


Xxan: Am, gw tadi pagi di balkon


Xxan: barusan gw turun, lo liat kan?


Xxan: lengkapnya gw kasi tw nnt...


Xxan: kalo guru masuk nanyain, bilang kalo gw dipanggil Pak Beny


Xxan: mudeng kan?


Xxan: tolong ye, nuhun.


Saat di tengah lapangan, tiba tiba Pak Beny menghentikan langkahnya, otomatis Xandra yang masih asyik dengan ponselnya tidak melihat. Bukhh...


Orang lain yang melihatnya cekikikan, Xandra malu sekali.


"Ampun Pak, maaf, saya nggak liat..." Ujarnya sambil menunduk malu karena, sudah menubruk punggung gurunya. Yah, kalo punggung gebetan oke aja ato malah punggung cogan. Lha ini, guru sendiri.


"Berikan ponsel mu! Berjalan itu harus fokus! Bukan malah kayak kamu gini, ngerti!"


"Yaa" jawabnya sambil menyerahkan ponselnya pada genggaman gurunya.


"Baris sana di sebelah yang lain!" Perintahnya.


Mau ngapain ini?! Gue gak terlalu kenal mereka tapi gue tau dimana kelas mereka. Pikir nya. Lhah itu cowok uda SMA ngapain juga?? Pake bawa bola basket kaya gitu??


"Okay perhatian anak anak! Disebelah bapak ini namanya Gading, dia alumni sekolah kita, kalianyang sudah berasa di sini telat terpilih menjadi anggota Tim basket untuk melawan SMP Dirga, mengerti?" Ujar Pak Beny.


Semua yang ada di sana mengangguk angguk paham.


"Hai, yah kaya yang Pak Benny bilang, nama gue Gading gue sekarang kelas dua. Di Sini aku bakal bantuin kalian persiapkan diri ngelawan SMP sebelah..." Tuturnya.

__ADS_1


"****, ganteng..." Bisik anak yang di sebelah Xandra. Mendengar itu ia memutar bola mata sebal.


__ADS_2