LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
Kelas baru, temen baru, guru lama


__ADS_3

"Kenapa ya Bu? Ada yang bisa saya bantu?" Ujar Maya sambil menjabat tangan sambil mencium tangan gurunya.


"Sini, sini, bantu saya bawakan tas ini ke ruang guru ya!" Sambil menyerahkan tas berisi setumpuk buku pada Maya.


"Oh, Okay Bu... Siap... Ummm nggak ada lagi?"


"Nggak! Makasih ya! Ya uadah, sana cepetan! Keburu telat ikut upacara nanti!"


"Ehm, ya Bu, saya duluan" ujar Maya sambil berlalu.


Dasar anak itu, ternyata sebenarnya sopan ya, hanya gayanya saja rupanya... Batin Bu Tiwi.


***


Sampailah Maya di ruang guru.


Tok tok tok....


"Maaf, permisi, meja Bu Tiwi di sebelah mana ya?"


Eh, kok tumben Maya masuk ruang guru... Batin Bu Ros guru Matematika.


Namun ia tetap menjawab "itu di belakang meja Pak Aji!" Sambil mengacungkan telunjuknya ke arah meja yang ia sebut.


"Ah, terimakasih ya Bu" sambil berjalan ke arah meja yang di sebutkan.


"Ya, sudah cepat sana naik ke kelas baru kamu, nanti terlambat ikut upacara lho!"


"Eh, oh, ya Bu, sekali lagi terimakasih" sambil menunduk hormat.


Eh, sopan juga ya... Tidak seperti yang ku duga... Pikir Bu Ros.


***


Selesai berurusan dengan amanat yang diberikan Bu Tiwi, Maya merasa lega. Akantetapi, saat ia tiba di depan kelas dan akan masuk kelas ia harus bisa melawan arus anak yang keluar kelas. Karena Pak Beny telah memberikan perintah kepada semua murid untuk keluar dari kelas masing-masing dan berbaris di lapangan.


Maya yang sedikit kaget karena teman - temannya tiba-tiba berbondong bondong keluar kelas hanya sibuk dengan pikirannya.


Huh, males banget dah upacara... Eh iya, ntar aku duduk sama siapa nih... Yah, gara-gara keasyikan nulis novel nih jadi kesiangan.... Dahlah...


Akhirnya sudah tidak banyak yang keluar kelas Maya masuk.


Maya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, mencari di mana keberadaan sahabatnya yang ia ketahui seharusnya mereka satu kelas.


"Hmmm, Lili sama Citra, Amara sama Nala, Ira sama......" Ia mengedarkan pandangannya mencari tas Ira "ah itu dia... Lah dia sama Andrea... Terus sama siapa aku..."


Sekali lagi ia meneliti adakah bangku kosong di kelas itu selain 1 meja dengan dua bangku berada di paling depan.


Busetdah... Masa yang sisa didepan kaya gitu??? Mana aku gak kenal sama yang di sekitarnya lagi... Nge rusak mood banget dah... Gerutu Maya.


Masih berpikir bagaimana caranya menghindari meja yang ia anggap terkutuk itu.


Tiba-tiba...


"Maya, kamu Maya kan?" Merasa namanya dipanggil ia menoleh.


"Iya, kenapa?" Tanyanya dengan raut muka yang sama sekali menunjukkan ekspresi.


"Sini, duduk sini aja," ajaknya, "aku belom ada pasangan soalnya"


"Oh ya udah," ujar Maya sambil berjalan ke arah anak yang memanggilnya.


"Kamu mau duduk di sebelah mana? Tembok atau jalan?"


"Ah, terserah kamu aja..." Ujar Maya masih tanpa ekspresi.


"Oh, Okay deh, aku pinggir ya"


"Yaa"


Bed mood kah dia... Gitu amat mukanya... Lagi dingin gini... Tambah dingin liat muka dia kaya gitu... Batin Amany cewek yang mengajak Maya duduk bersamanya.


Setelah Maya meletakkan tas nya, ia merapikan dasi dan mengambil topi nya.


"Yuk keluar, udah pada baris kan yang lainnya? Muter lewat barisan belakang aja," ajak Maya.


"Yok"


***


Maya yang hari itu sedang Bad mood dengan wajah tanpa menunjukkan ekspresi yang bersahabat membuat beberapa teman yang belum kenal dengannya tidak mau berlama lama saling tatap.


Selama upacara berlangsung sebenarnya Maya sangat penasaran dengan anak perempuan yang tadi terlambat bersamanya dan sekarang ada di sebelahnya.


Kulitnya gelap, rambutnya panjang bergelombang sampai bahu lebih sedikit, tingginya se pundak Maya lebuh sedikit, kalau dilihat lihat manis juga.


Ia ingin menanyakan siapa namanya dan dulunya di kelas apa. Namun urung, karena Pak Dhar sedang ada di belakangnya. Ia terkenal sebagai guru yang suka jewer murid yang ribut saat upacara.


Terpaksa ia tunda hingga masuk kelas. Karen Pak Dhar terus terusan berdiri di belakangnya.


***

__ADS_1


BUBAR JALAN!!


Akhirnya, lega juga... Kaki gua pegal banget. Ujar Maya dalam hati.


Murid yang lain berbondong bondong memasuki kelas masing masing. Rasanya jika dilihat lihat, hanya Maya yang melangkah gontai ke kelas nya tanpa teman disampingnya. Yah, itu karena ia datang terlambat. Jadi, ia tak sempat bergabung dengan sahabatnya yang sudah didepan dan berkenalan dengan teman yang lain serta berbagi cerita. Terlebih lagi mood nya yang sedang buruk.


***


"Hai," sapa cewek yang mengajaknya tadi "masuk duluan gih! Kamu kan pojok..." Membuyarkan lamunan Maya


"Eh, hai! Ah Okay"


Setelah mereka berdua duduk Maya yang sedari tadi penasaran akhirnya menanyakan juga. Ia memutuskan untuk membuka percakapan.


"Eh, nama kamu siapa?"


"Amany, panggil aja Ama"


"Ohh" ujar Maya sambil manggut manggut.


"Kamu dulu kelas mana si?" Kini gantian Ama yang bertanya.


"Aku kelas A"


"Ohhh" kali ini Ama yang ber ohh ria.


"Lha kalau kamu?"


"Kelas D"


"Hnnn? Sorry sorry..."


"Gak papa... Dari kelas D"


"Ooo, oya kok kamu bisa tau nama ku dari mana? Perasaan jarang deh aku main ke kelas kamu"


"Hehe, iya, kan aku pernah denger ada yang manggil nama kamu. Nah, tadi aku cuman main tebak aja berharap bener nama kamu, eh taunya bener"


"Ooooo"


Pagi itu mereka fokus terhadap pikiran masing masing hingga tiba waktunya istirahat.


TEETttt.... TEETttttt....


"Kamu bawa bekal, emmm siapa nama kamu tadi," Maya menahan malu karena lupa siapa nama teman sebangku eh salah... Semeja deng, kalo sebangku berarti satu kursi buat ber dua dong... Nggak lucu deh.


"Ama, Ama, Amany"


"Iya nggak papa, pertanyaan kamu tadi... Aku nggak bawa bekal, maaf ya"


"Oh, ya udah... Aku kesana dulu ya" sambil menunjuk ke arah para sahabatnya.


"Okay"


***


Maya: "Hai guys... Gabung yak"


Lili: "wokay, sini sini" sambil menepuk bangku sebelahnya.


Amara: "Kok tadi pagi telat? Tumben juga kamu masuk ruang guru. Dihukum dulu emang?"


Maya: "nggak lah, tadi tuh aku bangun siang, tros di parkiran guru ketemu tuh sama Bu Tiwi, mau ngelak kaga isa, yodah deh... Awalnya emang aku pikir bakal dihukum... Ngarep banget ada yang lewat buat aku gandolin... Tapi ternyata cuman disuruh naruhin barangnya ibuk nya..."


Citra: "oohh"


Nala: "wew"


Maya: "yah, Mau di katakan apalagi... Kita tak akan pernah satu...."


"Engkau di sana dan ku disini, meski hati ku memilihmu....." Mereka sontak meneruskan lagu dengan suara agak pelan supaya tidak ada yang terganggu. Tapi, tetap kedengeran. Dan semakin lama semakin keras saja. Tapi, berhubung suara mereka bagus - bagus jadi, tak apa lah.


Hingga akhirnya...


"Jangan perna kau ragukan, engkau kan selalu dilangkahku...."


"HOI!! KONSER MULU!!" Teriak Andrea tepat di antara telinga Ira dan Amara.


Membuat mereka yang sedang menghayati lagu tersentak kaget.


Mereka berdua kesal dan diam-diam menjiwit Andrea.


"AUWWW, sakit ih"


"Siapa suruh teriak di kuping orang! Budeg tau!" Teriak mereka persis di masing masing telinga Andrea. Ia meringis, ngilu telinganya.


"Hah? Gudeg tau? Ya iyalah gue tau! Orang Jogja gini kok gatau"


"Yahh, elu tau diri dong, ngagetin orang masih bawaannya nyelelek aja!" Sahut Maya.


"Gudeg gudeg, budek kali atuh neng!" Sahut Angga sembari berlalu. Dan langsung dibalas pelototan oleh Andrea.

__ADS_1


TEETt... TEETtt... TEETttt...


"Yahh, udah bel aja belum ke akan nih bekal aku..." Gerutu Maya


"Yee, makannya kalo mau nyanyi manfaat dikit gitu, ngasilin uang gak kaya elo gini, penyanyi amatiran, walaupun suara emang bagus sih," sahut Andrea.


"Paan si lo!" Sahut Maya sembari menoyor kepala temannya.


"Auww..." Andrea meringis kesakitan karena jidatnya menjadi sasaran empuk Maya.


Sementara Maya dan Andrea asyik saling membalas hingga tak menyadari kehadiran Bu Tiwi.


"Pssstt, May, berenti deh kalo nggak mau diterkam," ujar Edo.


"Paan sih, ganggu aja" sambil membalas tabokan Andrea.


"EHM, Ehm" sontak keduanya menoleh ke arah Bu Tiwi.


Mereka sangat kaget sekaligus malu sekali, menyadari teman teman serta gurunya sedang menatap mereka berdua.


Glekk... Maya menelan ludahnya.


"Mati kita May...." Bisik Andrea.


Bu Tiwi menatap tajam ke arah mereka berdua. Namun, Maya tak begitu peduli.


Ini kedua kalinya, lolos syukur, gak isa lolos ya syukurin deh. Batin Maya.


"Maya, Andrea, kembali ke tempat duduk kalian sekarang!"


Tanpa banyak Ba Bi Bu mereka langsung kembali ketempat masing-masing.


"Baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini ya......."


Mereka melakukan kegiatan pembelajaran dengan khidmat. Berhubung gurunya galak ya, gitu deh.


TEETtt... TEETttt.... TEETtttt..... TEETttttt.....


"Baiklah anak-anak, pelajaran kali ini telah usai! Maya, Ndrea, sebagai hukuman kalian berdua yang akan piket selama seminggu kedepan hanya kalian! Jadi yang lain tidak boleh membantu! Sekian, silahkan berdoa secara pribadi dan pulang ke rumah masing masing, selamat siang!" Bu Tiwi sempat melemparkan tatapan tajam nya ke arah Maya dan Andrea sesaat sebelum akhirnya keluar kelas.


***


Anak-anak penghuni kelas 9A langsung berebut keluar kelas dan pulang ke rumah masing masing. Hanya tersisa Maya dan Andrea.


"Nggak nyangka kena hukuman yang ringan ya," Andrea membuka percakapan.


"Iya ya, ini termasuk ringan... Dahlah, pegel aku..."


"Hufttt, pulang yok"


"Ya udah ayok... Senep mata ku lama lama kalo disuruh disini terus"


Mereka pun keluar bersama menuju ke gerbang sekolah.


"May, duluan yo, udah dijemput noh" kata Ndrea sambil menunjuk mobil yang menjemput nya.


"Oh, Okay ti ati yak, bye bye"


"Yoi, shapp"


Maya menunggu sebentar hingga tiba tiba sebuah Moge hitam berhenti didepannya.


Astaga, kaget aku... ****, ni orang nggak ada akhlak ya... Rutuk Maya dalam hati. Eh, tunggu tunggu kok plat motornya punya Robby?


Hingga akhirnya sang pengendara membuka helm nya.


"Lah, elo By? Katanya gue suruh gojek aja, gimana sih lo, dasar gak konsisten!" Omel Maya pada kakaknya.


"Hehe, iya, tadi pagi cuma bercanda doang, iseng ae bikin lo kesel"


"Huh, serah. Tapi, lo dah nyampe sini jadi gue numpang! Titik gada koma okay!!"


"Iya iya Kanjeng, selow ajahh..."


"Idihhh jijik By!"


....BRMmmmm....


"Elah iya iya... Oya muka lo kaya vampir tuh darat eh datar banget sih... Kenapa emang?"


"Ish, Kepo"


"Hmmm? Gitu ya? Yodah deh, besok besok gak bakalan gue ajarin main gitar ya!"


"Ah, yodah... Jadi, tadi tuh........."


Sepanjang perjalanan Maya menceritakan keluh kesahnya pada kakak tersayangnya.


Termasuk senangnya punya teman baru yang cantik dan baik seperti Amany.


Yah, begitulah mereka. Ada masalah dikit pasti salah satu dari mereka langsung tau dan nggak akan ada niatan memendam. Deket banget, udah kayak sahabat, sodara, sekaligus pacar, kata Maya.

__ADS_1


***


__ADS_2