LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
°•55•°


__ADS_3

Fabilio meeting menggunakan pakaian berjas dasi dari rumah Eveleen menggunakan laptopnya, barang-barang Fabilio sudah dibereskan oleh anak buahnya di kamar yang telah disiapkan. Beberapa menit Fabilio meeting akhirnya selesai, Fabilio yang ingin ke kamar dibantu Eveleen menuju ke kamarnya yang ada di bawah karna kaki Fabilio sedang sakit dan susah untuk naik ke diatas tangga. "kamu akan tidur di sini, jangan terlalu heboh karna kamar Chao chao disebelah mu" ucap Eveleen membantu Fabilio duduk di sisi ranjang. "kamar yang bagus taoi tidak luas" ucap Fabilio mendongak menatap Eveleen yang dihadapannya berdiri. "ada dua kamar yang lebih luas kamar ku dan Chao chao" ucap Eveleen. "kamu tidak befikir aku akan meminta tidur dengan mu bukan" goda Fabilio. "kamu mau sayang?" tawar Eveleen dengan senyuman jahil. "boleh kah?" menarik pinggang Eveleen. "tentu tidak" ucap Eveleen dengan santai. "kamu bisa istirahat dan aku akan melanjutkan pekerjaan ku" ucap Eveleen jalan keluar kamar Fabilio. "tunggu, aku... " tidak menyambung perkataannya. "apa?" tanya Eveleen membalikkan badannya. "aku... "masih ragu.


"katakan" ucap Eveleen melipat tangan di dadanya. "aku ingin mandi" ucap Fabilio sedikit tidak enak. "lalu?" tanya Eveleen lagi. "aku bisa melepas jas ku, tapi tidak bisa membasahkan kaki ku saat mandi dan tangan ku masih kaku untuk diangkat terlalu tinggi, bantu aku melepaskan pakaian dan tolong bantu aku keramas saja" ucap Fabilio agak ragu. "ba-baiklah" agak gugup tapi kasihan kalau Fabilio akan merasakan rasa sakitnya lagi jika banyak bergerak. Eveleen jalan ke arah Fabilio, "apa kamu membiarkan pintunya terbuka?" tanya Fabilio melihat pintunya terbuka lebar. "oeh iya" ucap Eveleen kembali menutup pintu dan jalan menuju arah Fabilio yang berdiri dengan bantuan tongkat.


Eveleen berdiri di depan Fabilio yang lebih tinggi darinya, "pegang pinggang ku" ucap Eveleen meletakkan tongkat Fabilio di sisi ranjang. "maaf merepotkan mu sayang" ucap Fabilio memegang pinggang Eveleen dengan kedua tangannya hang tidak bisa naik lebih tinggi untuk memegang bahu Eveleen. "kamu tidak merepotkan ku, aku memang seharusnya membantu mu, karna aku kamu seperti ini" ucap Eveleen menatap mata Fabilio. "aku yang memutuskan melakukannya, ini bukan salah mu, maku mencintai mu" ucap Eveleen matap mata Eveleen. "aku juga mencintai mu" ucap Eveleen. Fabilio tersenyum bahagia, dan mengangkat lehernya mendongak ke langit-langit kamar. Eveleen sempat ragu membuka kemeja Fabilio walau pernah melihat tubuh indah Fabilio. "leher ku pegal" ucap Fabilio yang mengangkat lehernya agar Eveleen mudah membuka dasi dan kancing bajunya. "sebentar" ucap Eveleen yang mulai membuka dasi Fabilio dan menggantungkan dilehernya. Eveleen mulai membuka kancing baju Fabilio satu persatu dengan wajahnya yang memerah, dari dada hingga perutnya terlihat berbidang.


Fabilio cengengesan, "jangan terus memandang, kamu bisa menyentuhnya juga" goda Fabilio.

__ADS_1


Duk...


"agk" kaget Fabilio saat perutnya dipukul Eveleen. "eh! maaf, makannya jangan menggoda ku terus" ucap Eveleen merasa bersalah. "baiklah, baiklah aku tidak akan menggoda mu" melihat gemas Eveleen "apa sakit?" tanya Eveleen khawatir. "tidak, kamu bisa melanjutkannya" ucap Fabilio yang masih memegang pinggang Eveleen. Eveleen melepaskan kemeja Fabilio dari tangan kanan lalu ke kiri agar tidak membuat lengannya meregang. Fabilio bertelanjang dada dan meninggalkan celana panjangnya, "aku akan membantu mu keramas" ucap Eveleen membantu Fabilio jalan ke kamar mandi. Fabilio dituntun untuk duduk didalam baththup, dan Eveleen duduk di kursi yang baru saja ia bawa maauk ke dalam kamar mandi.


Eveleen membasahi dan menyampo rambut Fabilio, "ntah kenapa aku takut kehilangan mu, selama ini aku tidak takut papa pun" ucap Fabilio. "karna kamu sudah mencintai ku, aku pun takut kehilangan mu" ucap Eveleen. "apa kamu masih bermimpi buruk?" tanya Eveleen. "tidak semejak aku sudah mendapat mu menjadi milikku" ucap Fabilio. "baguslah, kamu bisa tidur dengan nyenyak sekarang" ucap Eveleen. "bolehlan aku bertanya sesuatu pada mu?" tanya Fabilio. "katakan ucap Eveleen dengan santai. "apa kamu benar-benar pernah menikah?" tanya Fabilio membuat Eveleen terdiam. "aku hanya ingin tau saja, karna banyak orang yang bilang kalau Chao chao mirip dengan ku" ucap Fabilio. "apa kamu berfikir kalau Chao chao anak mu?" tanya Eveleen.


"kenapa tidak sekalian" ucap Fabilio dengan wajah mengggoda melihat kebawah. "jangan berfikir aneh-aneh, jika sudah selesai panggil saja aku" ucap Eveleen dengan wajah yang memerah. "sayang, kamu bisa melihat semuanya" ucap Fabilio menggoda Eveleen yang keluar dari kamar mandi. "aku tidak mendengarkan mu!" menutup pintu kamar mandi telinganya. "menggoda mu sangat menyenangkan" ucap Fabilio bicara sendiri dan menggerakkan tangannya dengan mudah yang tidak kaku. "apa dia tidak malu bicara seperti itu? wah dia benar-benar gila" ucap Eveleen memegang pipinya yang merah.

__ADS_1


"hah~ hari ini sangat melelahkan" ucap Eveleen berbaring di ranjang Fabilio. Tak lama ia berbaring seseorang memanggilnya dengan nyaring, "Eveleen! Eveleen!" panggil seseorang dari luar kamar dengan udara yang familia bagi Eveleen. "Luiz? kenapa dia berteriak-teriak" ucap Eveleen yang mager untuk mengangkat tubuhnya. "diamana dia? Eveleen dimana?" tanya Luiz kepada salah satu asisten disana. "ada di kamar itu tuan" jawabnya. "aishh" berjalan ke arah kamar itu sambil menggendong Chao di pelukannya. "Eveleen!" ucap Luiz yang membuka pintu kamar Fabilio dan melihat Eveleen tidur di ranjang Fabilio.


"ada kenapa kamu teriak-teriak dirumah ku" ucap Eveleen duduk. "dimana pria bodoh itu?" tanya Luiz yang berdiri di depan Eveleen. "Chao chao, mama punya kabar baik untuk mu" ucap Eveleen menggendong Chao ke pangkuannya dan mengabaikan pertanyaan Luiz. "kamu!" tidak bisa berkata-kata. "hai Chao chao" ucap Fabilio keluar dengan telanjang dada dan dengan celana panjangnya yang sudah Eveleen siapkan tadi. "papa?!" senang Chao berlari ke pelukan Fabilio. "bagaimana dengan hari mu di sekolah hari ini?" tanya Fabilio yang mengangkat Chao kepelukannya dengan menahan tubuh memegang dinding. "hanya hari dengan pelajaran yang membosankan" jawab Chao. "aku tau itu" ucap Fabilio melihat Chao gemas.


"kenapa kamu disini?" tanya kesal Luiz. "bukan urusan mu" ucap Fabilio. "Chao chao papa sedang sakit, kamu turun dulu ya "ucap Eveleen menurunkan Chao. "sini aku bantu" Eveleen membantu Fabilio duduk di sisi ranjang. "kita bicarakan nanti tunggu aku diluar, Chao chao tukar bajumu sayang" ucap Eveleen. "baik" ucap Chao. "jangan lama-lama" ucap Luiz dengan kesal dan keluar. "rambut mu sangat basah, aku akan mengeringkannya" ucap Eveleen membawa Fabilio duduk di depan meja rias. "aku sangat senang kamu merawatku" ucap Fabilio. "kamu harus mebayarku tuan Fabilio" ucap Eveleen. "aku akan membayar dengan waktu ku selanjutnya dan seterusnya" ucap Fabilio. "tepati janji mu tuan" ucap Eveleen mengeringkan rambut Fabilio dengan hair dryer. "menikahlah dengan ku nona Eveleen" ucap Fabilio menatap Eveleen dari cermin yang memantulkan wajah mereka. "aku.. aku belum siap" ucap Eveleen menolak.


Fabilio sedikit kecewa, "tidak papa, aku terlalu cepat mengatakannya, aku akan menunggu mu" ucap nya. "maafkan aku, ayo kita mulai perlahan sayang" ucap Eveleen memeluk leher Fabilio. Fabilio mengangguk dengan senyuman tanpa leberatan.

__ADS_1


__ADS_2