
Alvin Mark sangat senang dengan hasil kerja kerasnya selama satu minggu di ruangan rahasianya. Ia bahkan rela tidur di dalam ruangan itu walaupun banyak bahan yang berbahaya. Manequin Keke keduanya hampir selesai dan benar benar mirip dengan sebelumnya. Tapi entah mengapa walaupun wajah dan tubuhnya sama persis, ia tak merasakan apapun pada manequin itu. Ia hanya merindukan Keke sekarang. Berkali kali ponselnya berbunyi dari orang orang yang berbeda tapi ia tak mau mengangkat ponselnya sama sekali. Ia benar benar hanya ingin fokus pada pembuatan manequinnya.
Beberapa hari yang lalu, Calio sempat mengunjunginya hanya untuk membicarakan pesanan manequin dari Australia. Lalu pesanan untuk Singapura dan Malaysia, sudah hampir selesai jadi Calio memutuskan mengambil pesanan Australia bulan depan. Alvin menyetujuinya karena Calio adalah orang yang bisa menangani semuanya.
Beberapa hari yang lalu...
"Wow...ini luar biasa Vin. Aku sampai terkecoh dengan manequin yang kau buat. Aku kira kau membawa Keke kemari." ujar Calio.
"Apa kau yakin sangat mirip?" tanya Alvin.
Calio mengangguk. "Sama persis, ini sangat luar biasa." jawabnya.
"Cal, aku berpikir untuk satu tahun kemudian. Jika Keke pergi meninggalkan aku, apa yang harus aku lakukan dengan kedua manequin ini?" tanya Alvin lagi.
"Berikan padaku, aku akan merawatnya." jawab Calio.
"Kau gila, jika suatu saat ada yang tahu jika ada 2 manequin Keke, apa kau kira itu tidak akan menjadi masalah? Aku pasti dituduh pria yang tidak waras alias gila." ujar Alvin.
Calio akhirnya tertawa. "Kau sudah dianggap gila sejak lama Vin. Kau lupa kalau kau sering mengatakan merindukan Keke di rumah. Sejak saat itu pun gosip tentang mentalmu yang terganggu menyebar bagai virus di negara ini. Seorang pebisnis muda yang tampan namun gila. Itulah yang dikatakan mereka. Hanya aku dan para pelayanmu yang mengatakan kau sehat lahir batin." ejek Calio.
Alvin menendang kaki sahabatnya. "Sialan, kau malah mengejekku." ujarnya.
Calio tertawa lagi. "Bakar salah satunya Vin, itulah yang harus kau lakukan. Walaupun kau sangat sulit membuatnya, tapi untuk berjaga jaga tentu saja kau harus membakarnya." ujar Calio setelah menghentikan tawanya dan berubah menjadi serius kembali.
"Lalu bagaimana jika Keke ingin kembali padaku?" tanya Alvin.
Calio mengangkat kedua bahunya. "Itu hanya kau yang bisa menjawabnya sendiri. Aku benar benar penasaran dengan Keke mu sekarang. Setelah selesai kau membuatnya, sebelum kau membawa Keke keluar, undang aku ke rumahmu." pinta Calio.
Alvin mengangguk. "Aku akan mengenalkannya padamu sebelum aku mengenalkannya pada dunia." jawab Alvin.
"Baiklah, teruskan pekerjaanmu. Makan dan tidur yang teratur. Perusahaan masih dibawah kendaliku." pesan Calio sebelum meninggalkannya.
Dan masih disinilah Alvin menatap manequin yang ia buat sama persis seperti Keke. Satu minggu lagi semuanya akan selesai, dan tentu saja ia akan kembali ke rumah menemui wanita yang ia puja saat ini KEKE.
*****
Keke kembali ceria di rumahnya, ia tak ingin membuat para pelayan mengkhawatirkannya. Bagaimanapun Alvin akan segera kembali dan akan membuatnya keluar dari rumah. Ia ingin segera menemukan mawar biru dan kembali ke dunia peri lagi. Tapi memikirkan ia akan kembali, entah mengapa hatinya sangat sedih. Para pelayan Alvin beberapa hari ini sudah mengenalkan beberapa alat yang digunakan manusia sehari hari. Bahkan Keke sudah mengerti tentang ponsel sebagai alat komunikasi manusia.
__ADS_1
Keke juga sekarang tidak menganggap pesawat sebagai monster, ia sering diajak bicara Hara saat menonton televisi. Jadi pengetahuannya tentang dunia ini semakin banyak.
"Non Keke waktunya makan siang." ujar bu Farah.
Kali ini bu Farah mengenalkan makanan baru padanya, dan Keke ingin mencoba makanan itu. Ia tak ingin terpaku pada buah buahan dan sayuran mentah.
"Sebentar bu." jawab Keke.
"Segera non, nanti keburu dingin. Bukankah kau ingin mencoba makanan kami?" ujar bu Farah lagi.
Keke berdiri dari duduknya dan segera menghampiri ruang makan. Ia menatap meja yang penuh dengan makanan. Bu Farah langsung mengenalkan nama nama makanan itu satu persatu. Salad buah, salad sayuran semuanya masih berhubungan dengan makanan yang ia makan. Tapi menu yang lain sangat asing di telinganya.
Pelayan yang lain tertawa melihat Keke yang kebingungan.
"Apa semua ini makanan Alvin?" tanya Keke.
Mereka semua mengangguk.
"Cobalah non, ini semua sangat lezat." ujar bu Farah.
Tangan Keke bergetar saat memegang alat makannya. Tapi ia memberanikan diri mencoba makanan itu, ini pertama kalinya ia mengubah makanannya. Ia takut akan melanggar peraturan dunianya. Keke terbelalak saat mencobanya.
"Bagaimana non, kau suka?" tanya Hara.
Keke mengangguk dan terus memakan makanan di meja itu membuat para pelayan yang menyaksikannya tertawa.
"Tuan Alvin pasti senang melihat perubahan non Keke." ujar bu Farah.
"Benar, tuan Alvin akan senang saat membawa non Keke keluar rumah dan mengajaknya ke restoran khususnya restoran nasi Padang kesukaan tuan." jawab Hara.
"Apa itu restoran nasi Padang?" tanya Keke.
"Nanti non juga tahu." jawab bu Farah.
Keke mengangguk dan kembali menikmati makan siangnya. Setelah selesai Keke kembali ke ruang santai, ia mengelus perutnya yang kenyang dan berharap tidak ada yang terjadi pada tubuhnya. Keke kembali menonton acara di televisi dan mempelajari bahasa yang mereka ucapkan. Tanpa sadar matanya perlahan menutup antara mengantuk dan kekenyangan.
*****
__ADS_1
"Bu Farah yakin, non Keke hanya tertidur?" tanya Hara.
"Iya, non Keke tidur siang. Ambilkan selimut di kamar. Udara semakin dingin." perintah bu Farah.
Hara menghela nafasnya, ia pikir terjadi sesuatu pada Keke karena makan makanan yang disediakan bu Farah. Ternyata Keke hanya tertidur karena kekenyangan. Hara tersenyum seraya mengambil selimut di kamar Keke.
Bu Farah menyelimuti Keke perlahan agar wanita itu tak terbangun.
"Cantik sekali seperti peri." gumam bu Farah.
Hara mengangguk. "Seandainya tuan Alvin dan non Keke benar benar menjadi pasangan." ujarnya.
"Tapi aku memiliki perasaan jika mereka memang ditakdirkan bersama." ujar bu Farah.
"Bagaimana mungkin jika non Keke berbeda bu." kata Hara.
Bu Farah mengangguk. "Tapi lihatlah non Keke, apanya yang berbeda. Ia sekarang seperti kita, walaupun tubuhnya menggunakan manequin tapi sekarang ini nyata. Ia manusia bukan makhluk lain. Kau lihat cara ia makan, mandi, tidur dan berbicara, semuanya sama seperti kita." ujarnya.
"Bu Farah benar, semoga ia tak bisa kembali ke dunianya dan terus bersama tuan." harap Hara.
"Ssssttt... Jangan keras keras. Non Keke akan sedih jika ia mendengar kita berharap seperti itu." ujar bu Farah. "Sekarang biarkan ia tertidur." sambungnya.
"Apa tuan sudah menghubungi?" tanya Hara.
Bu Farah menggeleng. "Tapi tuan Calio mengatakan jika tuan Alvin baik baik saja, beberapa hari yang lalu tuan Calio mengunjunginya." jawabnya.
Hara mengangguk, keduanya meninggalkan Keke di ruang santai. Bu Farah memerintahkan para pelayan agar tetap tenang saat bekerja tanpa menimbulkan suara bising yang akan membangunkan Keke.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘