Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 62


__ADS_3

Ruang kantor khusus tempat Alvin Mark bekerja masih terawat dengan baik, walaupun pria itu jarang datang ke Indonesia. Di ruangan juga, ada sebuah ruang istirahat yang memiliki ranjang cukup besar. Alvin langsung membawa Keke ke ruang istirahat itu.


"Keke, aku akan bekerja hari ini. Mungkin sangat banyak hingga larut malam, kau tetaplah disini sayang, jika kau bosan kau bisa membaca atau menonton televisi. Semuanya ada di ruangan ini. Aku akan memanggilmu keluar saat makan siang. Kau mengerti kan?" ujar Alvin.


Keke mengangguk. "Kenapa aku tak boleh keluar menemanimu?" tanyanya.


Alvin mendekati telinga Keke. "Disini banyak penjahat." bisiknya.


Keke terbelalak. "Bukankah kau bilang semua yang disini karyawanmu?" tanyanya lagi.


Alvin tertawa. "Kau benar sayang, tapi aku ingin menemui orang jahat. Jadi kau tetaplah disini."


"Sangat bahaya Alvin, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Aku harus menjagamu seperti pesan Calio." ujar Keke.


Alvin tertawa lalu menarik kekasihnya kedalam pelukannya. "Aku mencintaimu Keke, aku sangat sangat mencintaimu. Aku akan baik baik saja, ini bukan seperti yang kau pikirkan." ujarnya.


Keke pun akhirnya mengangguk. Alvin meninggalkan wanita itu untuk keluar kembali menemui pak Santoso.


"Maaf membuat anda menunggu pak." ujar Alvin.


"Tidak apa-apa pak." jawab pak Santoso seraya menyerahkan beberapa dokumen perusahaan.


Alvin mulai membaca satu per satu dokumen itu, mulai dari laporan keuangan sampai penyediaan barang.


"Aku penasaran dengan pengawas pabrik. Kalian mengatakan pria itu sangat kompeten." kata Alvin.


Pak Santoso mengangguk. "Tidak ada kesalahan sedikit pun setelah ia memegang pabrik. Dan pesanan selalu tepat waktu, dan tak ada bahan yang hilang. Pak Anem sangat teliti dalam menangani pekerjaan." jawabnya.


"Aku ingin bertemu dengannya setelah makan siang. Bagaimana soal pemindahan makam orang tuaku?" tanya Alvin.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya pak, kita sudah mendapatkan tempat yang lebih baik. Aku hanya tinggal menunggu anda untuk langsung ke lokasi." jawab pak Santoso.


Alvin mengangguk. "Jika pekerjaanku selesai lebih cepat, mungkin besok atau lusa kita akan ke lokasi pemakaman." ujarnya.


"Apakah anda ingin mengadakan meeting hari ini?" tanya pak Santoso.


"Aku rasa besok saja pak, aku akan meneliti laporan ini dulu dan menandatangani berkas berkasnya." jawab Alvin.


"Baiklah kalau begitu, aku pamit melanjutkan pekerjaan. Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa memanggilku langsung atau Vina." ujar pak Santoso.


"Tentu saja, terima kasih." jawab Alvin.


Pak Santoso keluar dari ruangan Alvin, sedangkan Alvin terus sibuk dengan pekerjaannya hingga waktu makan siang tiba.


*****


Vina mengetuk pintu kantor Alvin.


"Masuk..." ujar Alvin.


Vina melangkahkan kakinya dan menghadapi atasannya. "Maaf pak Mark, sudah waktunya makan siang. Apa perlu aku memesan restoran Padang kesukaan anda?" tanya Vina.


Alvin menutup dokumennya dan menatap wanita itu. "Sepertinya Keke belum sepenuhnya bisa beradaptasi disini, jadi lebih baik kau pesankan saja makan siangnya. Seperti biasa kesukaanku dan beberapa buah-buahan." pintanya.

__ADS_1


Vina menganggukkan kepalanya. "Baik pak, aku akan memesannya."


"Terima kasih Vina." ujar Alvin.


"Itu sudah tugasku pak." jawab Vina.


Wanita itu pamit keluar dari ruangan Alvin untuk memesan makan siang atasannya, tentu saja nasi Padang kesukaannya.


Alvin menghentikan pekerjaannya, ia masuk ke ruang istirahat. Ia melihat Keke sedang membaca majalah yang ada disana.


"Apa kau bosan?" tanya Alvin.


Keke mendongak lalu menggeleng.


"Apa kau mengerti isi majalah itu?" tanya Alvin lagi.


Keke kembali menggeleng membuat Alvin tertawa.


"Lalu apa yang kau lihat?" ujar Alvin.


"Gambarnya dan pakaian mereka." jawab Keke.


Alvin menarik majalah itu lalu melihat beberapa model busana. "Kau menyukai baju ini?" tanya Alvin.


Keke menggeleng. "Bajuku sudah sangat cantik. Alvin apa pekerjaanmu belum selesai?" tanyanya.


Alvin menggeleng. "Banyak sekali pekerjaan yang harus aku lihat selama setahun terakhir ini sayang, aku sedang mengumpulkan bahan untuk meeting besok. Saat ini sudah jam makan siang, kau pasti sudah lapar." ujarnya.


Alvin menyipitkan matanya. "Sejak kapan kekasihku lebih memilih orang lain dibandingkan aku. Bukankah kau selalu ingin bersamaku?" tanyanya.


Keke mengangguk. "Tapi aku tak suka didalam sini, aku pikir aku bisa terus disampingmu." jawabnya.


Alvin tersenyum lalu menarik Keke ke pangkuannya. Ia mengelus pipi Keke. "Jadi kau ingin melihatku bekerja."


Keke mengangguk.


Alvin menarik kedua pipi Keke lalu menciumnya. "Tentu saja boleh, tapi saat ada orang lain ingin datang. Kau harus masuk kamar ini. Aku tak ingin orang lain menatap kekasihku." ujarnya.


"Apa kau cemburu?" tanya Keke.


"Tentu saja, jangan tanyakan itu sayang." jawab Alvin.


Keke mendekatkan bibirnya pada telinga Alvin. "Aku hanya milikmu sayang." bisiknya malu malu.


Alvin terbelalak. "Kau panggil aku apa? Coba ulangi." ujarnya.


Keke turun dari pangkuannya. "Kau salah dengar." ujarnya malu.


Alvin mendekati wanita itu lalu mulai menggelitik pinggangnya, Keke terus tertawa.


"Katakan sekali lagi." pinta Alvin.


"Aku hanya milikmu." jawab Keke.

__ADS_1


"Bukan bagian itu Keke, cepat katakan lagi atau aku akan menghukummu disini." ancam Alvin.


"Tidak, cukup sekali saja. Aku malu Alvin." ujar Keke, ia berusaha menghindari gelitikan Alvin.


Alvin terus mendekatinya. "Kau tidak bisa lari sayang." ujarnya seraya menarik Keke ke pelukannya. "Katakan lagi, please." pinta Alvin.


Keke menatap wajah Alvin. "Aku mencintaimu sayang." ujarnya.


Tentu saja kata kata itu lebih dari apapun, Alvin mencium bibir Keke dengan penuh hasrat. Keke mulai mengeluarkan suara lenguhan saat bibirnya digigit Alvin. Pria itu memiliki kesempatan untuk mencicipi dalam mulut Keke. Tapi suara ketukan pintu membuyarkan adegan itu.


Alvin mengumpat karena kesal. "Aku akan kembali." ujarnya seraya keluar ruangan.


"Masuk." ujar Alvin.


Vina masuk dengan makanan dan buah-buahan ditangannya. "Ini pak Mark pesanan anda." ujarnya.


"Terima kasih Vina, selama makan siang jangan biarkan siapapun masuk kemari. Aku tak ingin diganggu saat makan siang." ujar Alvin.


"Baik pak Mark." jawab Vina seraya keluar ruangan.


Alvin kembali ke ruangan Keke. "Sayang sudah waktunya makan siang." ujarnya.


Keke mengangguk dan menghampiri Alvin. "Ayo." ajaknya.


Alih-alih membiarkan Keke keluar, Alvin justru mendorong tubuh Keke sampai menempel di dinding.


"Alvin apa yang ingin kau lakukan?" tanya Keke.


"Melanjutkan adegan yang tertunda." jawab Alvin seraya mencium Keke kembali dan benar benar melakukan keinginannya.


Keke hampir kehabisan nafas saat Alvin tak mau berhenti menciumnya. Sakit kepala yang mulai terasa menghentikan Alvin mencium wanita itu.


"Lebih baik kita makan sekarang." ajak Alvin.


Ia sedikit kesal dengan penyakitnya yang mulai datang disaat yang tidak tepat. Keke mengatur nafasnya lalu mengangguk.


"Sayang kau keluar duluan, aku mau ke toilet." ujar Alvin.


Walaupun Keke bingung tapi wanita itu kembali mengangguk, ia keluar ruangan menuju meja yang sudah tersedia makanan disana. Sedangkan tangan Alvin mulai bergetar saat mencari obatnya. Ia tak ingin menunjukkan kesakitannya di depan Keke. Alvin segera meminum obatnya, ia bisa bernafas lega saat obat itu mulai bekerja.


Sakit kepalanya perlahan hilang, ia mengelap peluh yang keluar dari dahinya lalu keluar dari ruangan dengan senyum yang ia paksakan.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2