
Keke melangkahkan kakinya ke ruang kerja itu dengan sangat hati hati. Ia menemukan Alvin tertidur dengan lelap di sofa. Keke menghampirinya dan duduk dibawah sofa sambil menatap pria itu. Jantung Keke berdebar sangat keras, ia tak boleh memiliki perasaan pada manusia tapi ia justru melanggar perintah raja peri. Keke merasa sangat nyaman saat menatap pria itu.
"Jangan menatapku seperti itu Keke, bagaimana aku bisa tidur." ujar Alvin tanpa membuka matanya.
Keke terkesiap membuatnya jatuh terduduk. "Kau tidak tidur." ujarnya.
Alvin membuka mata beratnya. "Aku tertidur, tapi telingaku sangat peka. Aku terbangun saat kau baru masuk ruangan." jawabnya seraya duduk di sofanya dan membangunkan Keke. Alvin menarik Keke untuk duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Alvin seraya menyentuh keningnya.
"Aku sudah tak apa apa, aku mulai terbiasa dengan tubuhku yang mengeluarkan kekuatanku." jawab Keke.
Alvin menggenggam tangannya. "Aku minta maaf Keke, aku selalu menyakitimu." ujarnya.
Keke menggeleng lalu memeluk Alvin, tapi Alvin segera melepaskannya.
"Jangan lakukan itu lagi, aku takut kau pingsan lagi." bentak Alvin.
Keke terkejut lalu menangis.
"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku tak bermaksud marah padamu, aku hanya khawatir sayang." ujar Alvin menenangkannya dan menarik Keke kedalam pelukannya. "Jangan bergerak dan membalas pelukanku, kau diam." perintahnya. Keke mengangguk dan menikmati pelukan Alvin.
Setelah Keke tenang, Alvin melepaskannya. "Apa tubuhmu baik baik saja?" tanya Alvin.
Keke mengangguk. "Aku baik baik saja, Alvin jangan tinggalkan aku lagi." pinta Keke.
"Satu minggu lagi sayang, aku akan menyelesaikannya segera." jawab Alvin.
"Sayang itu bukannya panggilan seseorang buat orang yang mereka cintai. Apa kau mencintaiku?" tanya Keke dengan sangat polos.
Alvin tertawa terbahak bahak, suaranya bergema di ruang kerjanya. Lalu ia mengangguk. "Aku mencintaimu, kau milikku sekarang." jawabnya.
Keke mundur dan bangun dari duduknya. "Jangan cintai aku." ujarnya.
Alvin terkejut mendapat penolakan itu. "Ada apa Keke, apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya.
"Aku tak bisa terlibat perasaan dengan manusia, jika aku lakukan itu..." jawab Keke tapi ia tak meneruskannya.
"Apa yang akan terjadi?" tanya Alvin.
Keke menggeleng lalu keluar meninggalkan Alvin, tentu saja Alvin mengejarnya dan menarik tangannya.
"Tunggu Keke, apa yang akan terjadi padamu jika aku mencintaimu? Katakan padaku, jika aku akan menyakitimu, aku akan berhenti. Tapi kau tak boleh pergi sebelum saatnya tiba." ujar Alvin.
Keke menatap Alvin dengan sedih. "Jangan mencintaiku, hanya itu yang bisa aku katakan padamu." jawab Keke.
Alvin melepaskan tangannya dan mengangguk. "Aku akan berhenti, maafkan aku. Aku pergi sekarang, jaga kesehatanmu di rumah. Terus makan Keke sampai aku kembali." ujar Alvin seraya meninggalkan rumah.
Keke sedih saat melihat pria itu pergi, ia sangat takut perasaannya berubah dan membuatnya tak bisa kembali ke dunianya. Para pelayan sempat mendengarkan keributan mereka sampai tuannya meninggalkan rumah kembali. Bu Farah menyuruh mereka tutup telinga dan melanjutkan pekerjaan masing masing, lalu menghampiri Keke ke kamarnya.
*****
Sepanjang perjalanan menuju pabrik, Alvin sangat bingung. Ia teringat wajah Keke yang ketakutan saat ia mengatakan perasaannya. Alvin tak mengerti apa yang akan terjadi pada Keke, tapi ia harus berhenti karena tak ingin terjadi apapun pada wanita itu.
__ADS_1
Pelukannya dan ciumanku membuatnya kesakitan, apa jika aku mencintainya akan membuatnya hilang atau berujung kematian? Tidak, aku harus berhenti sekarang. Aku hanya ingin ia terus berada disampingku, aku tak boleh membuatnya pergi. Aku akan memendam perasaanku, aku tak ingin membuatnya takut seperti tadi. gumam Alvin.
Akhirnya ia sampai ke pabriknya dan segera menuju ruang rahasianya kembali untuk melanjutkan manequinnya. Calio menghubunginya.
"Ada apa Cal?" tanya Alvin.
"Apa kau sudah kembali ke pabrik?" tanya Calio.
"Baru saja aku sampai." jawab Alvin.
"Kau sudah bicara pada bu Farah dan bertemu Keke?" tanya Calio lagi.
"Keduanya sudah aku lakukan Cal." jawab Alvin lagi.
"Aku akan ke pabrik sekarang, pesanan manequin Singapura dan Malaysia sudah di kemas seluruhnya, aku akan mengawasi pengirimannya. Selanjutnya kita akan menangani pesanan dari Australia. Tapi Vin, banyak sekali berkas yang harus kau tanda tangani. Apa kita bisa bertemu di pabrik, aku tak mau masuk ke ruang rahasiamu." ujar Calio.
"Kabari aku jika kau sudah sampai di pabrik, aku akan keluar kesana." kata Alvin.
"Baiklah, aku akan membawa makan siang sekalian untukmu." kata Calio.
"Terima kasih Cal." jawab Alvin seraya mematikan ponselnya.
Alvin kembali meneruskan pembuatan manequin Keke palsu dengan sangat teliti, ciuman serta pelukannya dengan Keke membuatnya harus mengubah beberapa bentuk tubuh manequinnya agar sangat mirip dengan Keke.
*****
"Non Keke, masih sedih?" tanya bu Farah saat menghampiri Keke dikamarnya. "Apa yang terjadi pada kalian?" tanya bu Farah.
Keke menatap bu Farah dengan sedih. "Alvin bilang mencintaiku." jawab Keke.
"Aku tak bisa terlibat perasaan dengan manusia bu, itu larangan terbesar di duniaku." jawab Keke.
"Apa non Keke juga mencintai tuan Alvin?" tanya bu Farah.
Keke menggeleng, ia tak boleh memiliki perasaan apapun pada Alvin.
Bu Farah sedih mendengar pengakuan Keke. "Lalu apa yang kalian debatkan tadi, bukankah tuan tidak memaksa non Keke." ujar bu Farah.
"Kami tidak berdebat, aku hanya meminta Alvin untuk berhenti." kata Keke.
"Lalu?" tanya bu Farah penasaran.
"Alvin setuju, lalu pergi lagi." jawab Keke polos.
"Kenapa non Keke masih sedih?" tanya bu Farah.
"Aku tidak akan bertemu dengannya selama satu minggu lagi." jawab Keke.
Bu Farah tersenyum, wanita itu tak mungkin tak memiliki perasaan pada tuannya. Keke hanya berusaha menutupinya, biarkan waktu yang akan menjawabnya. Tapi bu Farah sangat berharap keduanya bisa bahagia.
"Lebih baik non Keke ke ruang santai, di kamar akan membuat non jenuh. Non Keke mau makan apa siang ini." ujar bu Farah.
__ADS_1
"Aku ingin capcay dan salad buah." kata Keke lalu ia bangun dan keluar dari kamarnya.
Bu Farah mengikutinya. "Baik, bu Farah akan membuatkan makan siang seperti yang non Keke pinta, tapi tersenyumlah sekarang." pintanya.
Keke tersenyum membuatnya semakin cantik. Bu Farah meninggalkan Keke di ruang santai, ia kembali ke dapur untuk membuat makan siang yang Keke pinta. Capcay goreng dan kuah serta salad buah. Bu Farah tersenyum, yang Keke pinta masih saja berhubungan dengan sayuran dan buah buahan, walaupun wanita itu sudah mulai bisa memakan apapun yang mereka buatkan tapi sayur dan buah tetap pokok utamanya.
Hara kembali setelah ia sejak pagi pergi menemui kekasihnya. Dan menatap Keke yang sedang menatap layar televisi dengan ekspresi sedih.
"Pagi jelang siang nona cantik, kenapa wajah non Keke di tekuk?" tanya Hara.
"Kau darimana saja Hara?" tanya Keke.
"Ini jadwalku bertemu kekasihku, tuan Alvin dimana?" tanya Hara.
"Alvin sudah pergi, kau memiliki kekasih seperti apa pria itu?" tanya Keke lagi.
"Non Keke sangat ingin tahu ya." jawab Hara sambil tertawa.
"Tidak, aku hanya bertanya. Hara seperti apa memiliki kekasih itu? Apa perasaan manusia sama seperti kami?" tanya Keke semakin penasaran.
"Memang di dunia kalian bagaimana?" tanya Hara balik.
"Raja kami yang akan menentukan pasangan lalu menikahkan kami. Bahkan raja juga yang menentukan tanggal saat kami akan membuat keturunan kami." jawab Keke.
Tentu saja Hara tertawa mendengar jawaban Keke. Bagaimana bisa perasaan itu ditentukan oleh pimpinan mereka
"Maafkan aku non, hanya saja apa kalian tak perlu saling jatuh cinta." ujar Hara.
Keke menggeleng. "Jatuh cinta juga boleh, tapi tetap raja yang menentukan pantas apa tidaknya pasangan itu. Itu menyangkut kaum kami agar terus bertahan. Keturunan yang baik itu yang diinginkan sang raja." jawab Keke.
"Apa non Keke pernah jatuh cinta atau memiliki kekasih di dunia non?" tanya Hara.
Keke menggeleng. "Aku tak pernah keluar rumah, aku terkenal diam dan penurut. Tapi ada seseorang yang sangat menyukaiku, hanya saja aku tak menyukainya. Sekarang kami terpisah di dunia manusia ini, entah ia ada dimana." ujar Keke sedih.
"Maksud non Keke, pria itu ada di dunia manusia juga? Lalu mengapa kalian terpisah?" tanya Hara penasaran.
"Kau banyak tanya Hara, biarkan non Keke tenang. Kau sudah izin setengah hari, sekarang lanjutkan pekerjaanmu jangan ganggu non Keke." ujar bu Farah.
Hara menghela nafasnya. "Baiklah bu Farah." jawabnya.
"Jangan banyak bercerita pada pelayan non jika itu tidak nyaman." kata bu Farah setelah Hara pergi. Keke mengangguk dan kembali menonton acara televisi.
Bu Farah meninggalkannya lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
*****
1...
2...
3...
__ADS_1
Next Part...
Happy Reading All...😘