
Alvin menunggu kekasihnya keluar dari kamar mandi, wanita itu cukup lama berendam disana. Sementara Alvin menunggu sambil membereskan barang bawaannya ke dalam lemari pakaian. Alvin juga membereskan gaun gaun cantik milik Keke termasuk pakaian dalamnya sambil tersenyum.
Aku bahkan sudah tahu isi tubuhmu sayang, kau sangat cantik. gumam Alvin.
"Kau bicara dengan siapa?" tanya Keke.
Alvin terkejut dan hampir menjatuhkan pakaian dalam Keke. "Kau mengejutkanku Keke." jawabnya. "Aku berbicara sendiri." sambungnya.
"Kau sedang tidak waras ya." ejek Keke.
Alvin menarik wanita itu sampai tubuhnya menempel pada tubuh Alvin. "Kau mulai berani mengejekku sayang, kau mau aku hukum." ancamnya.
"Lepaskan aku Alvin." ujar Keke.
"Tidak akan." jawab Alvin seraya menciumi wajah kekasihnya hingga Keke tertawa.
"Hentikan, kau mandi sana." pinta Keke.
"Sebentar sayang, aku ingin memelukmu." jawab Alvin seraya memeluk wanita itu. "Apa kau masih pusing atau mual?" tanyanya.
Keke menggeleng. "Aku semakin membaik setelah mandi. Airnya sangat dingin tapi segar." jawabnya.
Alvin terbelalak lalu menatap kekasihnya. "Apa kau tak tahu cara menghidupkan kran air panas?" tanyanya.
Keke menggeleng membuat Alvin tertawa. "Ya Tuhan aku lupa mengajarimu. Sini..." ajak Alvin. Pria menarik tangan Keke masuk ke kamar mandi lalu menunjukkan cara membuat air hangat di bathub. "Walaupun aku sudah lama tidak kembali, tapi para pelayan di rumah selalu menjaga rumah ini. Jadi semuanya masih terawat." ujarnya.
"Tapi aku suka air dingin disini, tak perlu memakai air hangat." jawab Keke.
Alvin mengecup bibir Keke. "Apapun keinginanmu sayang, sekarang keluarlah atau aku akan mengajakmu mandi bersamaku." godanya.
Keke melepaskan diri. "Tidak akan." jawabnya seraya berlari keluar kamar mandi.
Alvin tertawa melihat kekasihnya lari menghindarinya.
Ya Tuhan, bisakah aku terus seperti ini bersama Keke. Mengapa kau pertemukan kami dengan cara yang tak biasa. pikir Alvin.
Ia pun akhirnya membersihkan dirinya, ia juga cukup lama mandi hingga membuat Keke tertidur. Alvin keluar dari kamar mandinya, dan tersenyum saat melihat kekasihnya memejamkan matanya di atas ranjang.
Alvin mengganti bajunya, lalu menatap jam dinding di kamar. Ia mendekati Keke, namun benar benar tak tega membangunkannya.
"Keke..." panggilnya lembut. "Sayang..." lagi lagi Alvin memanggil wanita itu nyaris tak terdengar.
Ia mendekati telinga Keke. "Bangun sayang, waktunya makan siang." bisiknya.
Keke membuka matanya perlahan. "Kau lama sekali saat mandi." gumamnya.
"Maaf membuatmu menunggu. Ayo bangun." ajaknya, wanita itupun bangun dan duduk di atas ranjang. "Keke, apa kau masih takut bertemu mereka?" tanyanya.
__ADS_1
Keke mengangguk.
"Dengar sayang, pelayanku sudah seperti keluargaku sendiri. Mereka tidak jahat, justru kau harus percaya pada mereka. Mereka yang akan menjagamu selama disini. Jadi kemanapun kau pergi, merekalah yang akan mengikutimu. Kau harus percaya pada mereka, kecuali mereka kau tak boleh bergaul dengan siapapun. Apa kau mengerti?" tanya Alvin lagi.
Keke mengangguk. "Apa mereka tidak akan membuatmu terluka?" tanyanya.
Alvin terbelalak. "Kenapa aku?"
"Aku takut mereka akan menyakitimu lewat aku, Hara bilang mereka semua akan menyakitiku untuk menyakitimu. Jadi aku tak boleh percaya pada siapapun." jawab Keke.
Nasehat Hara memang benar, tapi cara pelayan itu mengatakannya membuat kekasihku ketakutan. pikir Alvin.
"Hara benar sayang, tapi tidak semua orang akan melukai kita. Mereka yang ada disini dan pak Santoso serta sekertaris yang bernama Vina, mereka semua orang baik. Selain yang aku sebutkan tadi kau tak boleh mendekatinya." jawab Alvin.
Keke akhirnya mengerti apa yang diucapkan Alvin, ia pun menganggukkan kepalanya.
"Sudah waktunya makan siang, kita akan makan bersama pelayan. Mereka bukan hanya pelayan biasa tapi juga sudah seperti keluargaku sendiri, tentunya keluargamu juga." ujar Alvin.
Keke tersenyum. "Tuan Mark, kau terus mengulang kata katamu." ejeknya.
Alvin terbelalak lalu tertawa. "Kau mulai lagi sayang, ayo kita makan siang atau aku akan memakanmu disini." godanya.
Keke mendorong tubuh Alvin. "Kau genit."
"Hei darimana kau dapatkan kata kata itu?" tanya Alvin.
*****
Keke mulai bisa berbaur dengan mereka, berkali kali wanita itu tertawa saat mendengar celotehan Deni. Pelayan dan keluarganya memang selalu makan bersama menemani Alvin, walaupun awalnya mereka sangat canggung harus satu meja dengan tuannya. Tapi akhirnya mereka mulai terbiasa sekarang.
Alvin terus menatap kekasihnya yang berkali-kali tertawa, ia sangat cantik saat seperti itu membuat Alvin sangat gemas melihatnya. Lalu ia memperhatikan Dodi dan Alya yang terus-menerus menatap Keke.
Alvin berdeham. "Apa yang kalian lihat pada kekasihku?" tanyanya.
Dodi dan Alya menatap Alvin lalu menggeleng.
"Jangan takut, katakan saja apa yang ingin kalian katakan." pinta Alvin.
"Kami hanya bingung, mengapa om Alvin memiliki wanita yang sama persis dengan manequin kesayangan om. Tahun lalu om selalu membawa manequin Keke kemari, tapi kali ini om membawa sebuah manequin yang benar benar hidup." ujar Dodi.
"Dodi yang sopan kalau bicara." ujar mbok Eni.
Alvin tertawa. "Tak apa apa mbok, ini bukan pertama kalinya orang yang bertemu Keke mengatakannya. Yang pasti inilah kenyataan, Keke adalah seseorang yang sangat aku cintai. Wanita yang hidup pengganti manequin kesayanganku." jawabnya.
"Tante Keke, bagaimana caranya menjadi cantik seperti boneka sepertimu?" tanya Alya.
"Alya..." ujar mbok Eni sambil melotot.
__ADS_1
Alvin kembali tertawa. "Biar mereka bertanya apa yang mereka pikirkan mbok, biar semakin dekat." jawabnya lalu menatap Keke. "Jawab sayang." ujarnya.
Keke menatap Alvin lalu menatap Alya. "Aku tidak tahu, aku sudah seperti ini saat aku terlahir. Apakah kau menyukai wajahku?" tanyanya.
Alya tersedak makanannya. "Bagaimana tante bisa polos seperti ini?" jawabnya lalu tertawa.
Akhirnya semuanya ikut tertawa, suasana makan siang begitu hangat dengan candaan candaan mereka semua.
"Tuan Alvin maafkan kekasaran putra putriku." ujar Herman.
Alvin menggeleng. "Tentu tidak apa-apa pak, aku senang mereka mengajak kekasihku berbicara." jawabnya.
"Ayo minta maaf." pinta mbok Eni pada kedua anaknya.
"Hei...aku bilang tidak apa-apa, kalian seperti bukan keluargaku saja. Dodi, Alya terima kasih karena bertanya. Aku semakin mencintainya." ujar Alvin.
"Om sangat beruntung, aku benar benar ingin memiliki kekasih yang cantik seperti tante." jawab Dodi.
"Dan aku ingin menjadi cantik sepertinya." sambung Alya.
"Kalau begitu kau harus mengenalkan wanita yang akan menjadi kekasihmu kelak Dod. Dan kau Alya, kau bisa menjadi cantik seperti tante Keke setelah semakin dewasa nanti." jawab Alvin.
Mereka mengangguk.
"Deni sudah waktunya tidur siang, ayo habiskan makan siangmu." ujar Alvin. Ia sangat tahu jika Deni sangat suka tidur siang.
Deni mengangguk, ia menghabiskan makanannya. "Aku akan kembali ke kamarku sekarang." ujarnya.
"Alya, bawa adikmu ke kamar." perintah mbik Eni.
Alya mengangguk. Tapi tiba-tiba Deni mendekati Keke lalu mencium pipi wanita itu seraya berlari. Keke terbelalak begitu juga dengan Alvin.
"Ya Tuhan tuan, maafkan putraku." ujar mbok Eni ketakutan.
Alih-alih marah, Alvin justru tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan Keke membuat mereka semua bingung.
******
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1