
Mbok Eni sangat terkejut saat melihat tuannya kembali ke rumah, wajah Alvin Mark sangat pucat membuatnya sangat takut.
"Ya Allah tuan, kenapa anda keluar dari rumah sakit?" tanya mbok Eni.
"Keke akan segera kembali, aku takut ia akan sedih jika tak melihatku. Dan aku juga ingin memastikan ia baik baik saja." jawab Alvin.
Mbok Eni segera membawa tuannya masuk. "Mbok tahu tuan, kalau nona Keke sudah ditemukan. Tuan Calio mengatakannya tadi, tapi tuan masih sakit. Bagaimana kalau tuan pingsan lagi di depan nona Keke nanti."
"Aku sudah baik baik saja mbok, aku akan sehat setelah melihat kekasihku." ujar Alvin.
"Kalau begitu, mbok ambilkan minum dulu ya..." ujar mbok Eni seraya meninggalkan Alvin.
Alvin menyenderkan tubuhnya di sofa, suara deru mobil memasuki rumah Alvin. Alvin segera bangun dan keluar dari rumahnya menyambut kedatangan Calio.
Calio menatapnya dengan marah. "Kau keras kepala." bentaknya.
"Aku minta maaf, dimana Keke?" tanya Alvin.
Calio menunjuk pintu belakang mobil. Alvin segera membuka pintu mobil dan masuk.
"Sayang, akhirnya aku menemukanmu." ujar Alvin seraya menangis.
Keke terbangun dari tidurnya, ia menatap wajah yang selama ini ia rindukan tepat didepannya. Keke menangis seraya memeluk Alvin. Keduanya menangis bersamaan. Calio meninggalkan mereka masuk ke rumah.
"Kau baik baik saja kan, kau tidak terluka kan?" tanya Alvin.
Keke menggeleng. "Aku baik baik saja." jawabnya.
"Ya Tuhan..." ujar Alvin seraya memeluk Keke kembali. "Aku sangat merindukanmu, aku hampir gila saat tahu kau diculik. Apa pria itu menyentuhmu, katakan padaku sayang. Aku akan membunuhnya saat pria itu tertangkap." sambungnya.
Keke kembali menggeleng. "Ia hanya mengatakan hal aneh padaku." jawab Keke.
"Apa yang ia katakan Keke?"
"Ia bilang aku tunangannya." jawab Keke lagi.
Alvin terkejut. "Tidak ada yang bisa memisahkan kita, pria itu gila sayang. Kau kekasihku bukan kekasih siapapun." kata Alvin.
Ya Tuhan... Apakah Anem berasal dari dunia yang sama dengan Keke? Apakah pria itu benar benar tunangan Keke? Aku tak rela melepaskan Keke untuk pria lain. pikir Alvin.
__ADS_1
"Kalian masuklah, malam semakin larut." teriak Calio.
Alvin mengajak Keke keluar dari mobilnya, tapi tiba-tiba Alvin sakit kepala. Ia nyaris terjatuh jika saja Keke tak memegangnya.
"Alvin...kau kenapa?" teriak Keke. "Calio, bantu aku..." teriaknya lagi.
Calio berlari keluar, ia seperti kebakaran jenggot. Terlihat sangat panik. "Vin...Ya Tuhan..." ujarnya.
Alvin menatap mereka dengan nanar, wajahnya semakin pucat sebelum akhirnya kembali jatuh pingsan.
*****
Calio sibuk di rumah sakit mengurus surat rujukan langsung kembali ke Perancis. Ia akhirnya memutuskan untuk membawa Alvin ke rumah sakit disana. Keke akhirnya tahu tentang penyakit kekasihnya, Calio terpaksa mengatakannya karena Keke terus menerus mendesaknya.
Mereka akan kembali ke Perancis besok, pesawat pribadi Alvin sudah menunggu di Bandara. Dengan bantuan beberapa dokter ahli di rumah sakit Harapan, Alvin diperbolehkan di rujuk ke rumah sakit di Perancis karena ia harus mendapat penanganan dari dokter Mattew.
Keke sangat sulit ditangani, pelayan Alvin akhirnya datang ke rumah sakit untuk membujuk Keke makan. Wanita itu tak henti hentinya menangis, wajahnya ikut memucat membuat Calio bingung.
"Nona Keke, jika kau sakit. Bagaimana kita bisa kembali ke Perancis?" tanya Calio. "Kau harus makan, dan kita hadapi bersama keadaan Alvin baik ataupun buruk. Aku mohon padamu, jangan menambah bebanku." pinta Calio.
Keke menatap Calio, ia mengangguk dan mengikuti mbok Eni untuk kembali pulang ke rumah. Ia harus makan dan sehat agar bisa menemani Alvin kembali ke Perancis.
"Ini sangat mendesak, aku harus membawa pak Alvin kembali ke Perancis. Aku tahu pemindahan makam orang tuanya belum dilakukan, jadi aku mohon anda yang melakukannya. Aku akan bertanggung jawab jika pak Alvin bertanya. Dan urus perusahaan seperti biasanya, cari pengganti pak Anem sebagai pengawas pabrik. Pria itu menghilang tanpa jejak dan aku sudah menarik kembali laporannya. Kami tak ingin meninggalkan jejak apapun di Indonesia. Jangan biarkan gosip aneh tentang pak Alvin Mark dan kekasihnya tersebar. Aku percaya pada anda pak." ujar Calio.
"Anda tenang saja pak Calio, aku akan mengurus semuanya. Kabari aku saat kalian sampai di Perancis. Aku tak bisa mengantar kalian ke bandara untuk mengurangi kecurigaan karyawan perusahaan." jawab pak Santoso.
"Terima kasih pak." kata Calio seraya menutup teleponnya.
Calio menghela nafasnya, ia bisa mengatasi semua masalah sekaligus. Jika saja Alvin Mark bukan sahabatnya, mungkin ia tak akan mau melakukan semua ini. Tapi rasa khawatirnya sekarang melebihi rasa khawatir pada diri sendiri. Ia sangat takut kehilangan sahabatnya yang selama ini membantunya.
"Ya Tuhan, selamatkanlah Alvin Mark. Aku bersedia menukar nyawaku dengan nyawanya. Ia adalah orang yang sangat baik, tak pantas mendapat cobaan seperti ini Tuhan." gumam Calio.
Calio sama sekali tidak tidur sampai pagi menjelang. Ia terus menunggu Alvin sampai pria itu sadar.
"Cal..." panggil Alvin.
Calio menatap Alvin. "Bisakah kau tidak keras kepala Vin, kau membuatku ketakutan setengah mati." jawab Calio.
"Bagaimana dengan Keke?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Jangan pikirkan orang lain, pikirkanlah dirimu sendiri Vin. Keke sudah aku bujuk untuk kembali ke rumah, untunglah wanita itu menuruti permintaanku. Jika tidak, mungkin aku merawat dua pasien sekaligus. Kita akan kembali ke Perancis jam 10 nanti, jangan bertanya apapun Vin." pinta Calio.
Alvin sangat lemah untuk berdebat, ia menatap wajah lelah Calio. "Tidurlah, aku tahu kau sangat lelah. Kau belum beristirahat sedikit pun dari kau sampai disini. Aku akan menuruti keinginanmu Cal." janji Alvin.
Calio tersenyum. "Bangunkan aku sebelum jam 9 pagi." pintanya seraya tidur di sofa.
Alvin kembali menatap sahabatnya, ia tahu Calio benar benar lelah sekarang. Seharusnya dari awal ia mengikuti kata kata Calio, ia memang terlalu keras kepala. Ia sangat benci pada dirinya sendiri karena tak bisa melawan penyakitnya.
Alvin mencari ponselnya lalu menghubungi rumahnya.
"Halo..." jawab mbok Eni.
"Aku Alvin mbok, bagaimana Keke?" tanya Alvin.
"Tuan, anda sudah siuman. Nona Keke baik baik saja, ia masih tertidur." jawab mbok Eni.
"Apa ia mau makan?" tanya Alvin lagi.
"Setelah tuan Calio merayunya, nona akhirnya mau makan dan beristirahat. Mbok juga sudah membereskan barang-barang yang akan kalian bawa kembali ke Perancis." kata mbok Eni.
"Terima kasih mbok, maafkan aku malah membawa masalah disini. Katakan pada Deni, aku akan kembali ke Indonesia setelah aku kembali sehat. Aku janji akan membawa kalian ke Perancis saat aku menikahi Keke." janji Alvin.
Mbok Eni terisak dibalik teleponnya. "Tuan... Cepat sembuh ya... Kami tak ingin kehilangan tuan. Kami ingin tuan bahagia bersama non Keke. Maaf mbok tak bisa mengantar tuan ke bandara. Mbok takut menangis saat kalian pergi. Deni juga akan mbok beri penjelasan disini. Tuan Alvin, mbok ingin kabar baik setelah tuan menjalani operasi." ujarnya masih terisak.
"Aku janji akan kembali sehat, jangan menangis mbok. Aku ingin kalian selalu bahagia." ujar Alvin.
"Pasti tuan." jawab mbok Eni.
Alvin menutup ponselnya, ia kembali menatap Calio yang tertidur dengan pulas. Tak lama kemudian, dokter masuk dan memeriksanya kembali.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘