
Hari keberangkatan mereka ke Indonesia telah tiba, pelayan Alvin sangat berat melepaskan Keke, karena mereka tahu akan lama tidak bertemu dengan wanita itu. Calio sudah siap mengantarkan mereka ke bandara, bahkan jet pribadi Alvin Mark pun sudah siap mengantarkan mereka.
Mereka sudah sampai di bandara, Calio memeluk sahabatnya itu. "Ingat jaga kesehatanmu Vin, terus minum obat dokter Mattew. Dan kabari aku terus setelah sampai." kata Calio.
"Kau benar benar seperti ibuku Cal, sangat cerewet." jawab Alvin seraya tertawa.
Calio cemberut lalu menatap Keke. "Aku tak tahu haruskah aku mengatakannya padamu, tapi aku mohon tolong jaga Alvin." ujarnya.
Keke mengangguk. "Itu sudah pasti."
"Hei...kau bisa membuat kekasihku ketakutan Cal." ujar Alvin.
"Diamlah, aku sedang bicara." jawab Calio.
Kali ini Keke tertawa melihat mereka. Keduanya menatap Keke terkejut.
"Jangan lakukan itu sayang, jangan tertawa di depan orang lain selain aku atau aku akan menghukummu." ancam Alvin.
"Ya Tuhan, jantungku tiba-tiba berdebar dengan kencang saat melihat ia tertawa." goda Calio.
Alvin menatap Calio tajam. "Jangan coba-coba Cal." ancamnya.
Calio tertawa. "Kalian akan terlambat, kabari aku setelah sampai. Aku akan menjaga perusahaanmu disini."
Alvin kembali memeluk Calio. "Terima kasih Cal." ujarnya.
Calio menatap Keke lalu tersenyum. Alvin mendorong tubuh Calio. "Jangan coba-coba memeluknya." ancam Alvin.
Calio tertawa tapi Keke maju dan benar benar memeluk Calio sekilas membuat Alvin terbelalak.
"Bukan aku yang melakukannya." ujar Calio saat melihat wajah Alvin terlihat sangat kesal.
Keke menggamit tangan Alvin dan membawanya masuk ke bandara. Mereka melambaikan tangannya pada Calio dan berpisah disana.
*****
Alvin masih sangat kesal, ia terdiam saat berada di dalam pesawat. Sedangkan Keke terus menatap pemandangan lewat jendela pesawat. Ia seperti pernah mengalami hal itu tapi entah dimana.
"Apa kau tak mau minta maaf?" tanya Alvin kesal.
Keke menatap Alvin. "Maaf untuk apa?" tanyanya.
"Kau berani mendekati pria lain Keke, kau lupa keberadaanku." jawab Alvin.
Keke tertawa. "Kau cemburu, aku hanya mengucapkan selamat tinggal pada sahabatmu."
__ADS_1
"Apa kau perlu memeluknya?" tanya Alvin.
"Aku memeluknya hanya sekilas Alvin." jawab Keke.
"Kau tak memahami perasaanku Keke, aku akan memberimu hukuman saat sampai di rumah." ancam Alvin.
"Itu artinya sangat lama, rumahmu baru kau tinggalkan." kata Keke.
Alvin tertawa. "Kau pikir rumahku hanya di Bougival. Aku memiliki rumah di Indonesia sayang, kita akan tinggal disana bukan di hotel." jawabnya.
Keke terbelalak. "Mengapa kau tak bercerita padaku?"
"Ini sedang aku ceritakan sayang, tentu saja aku memiliki rumah di Bandung. Rumah orang tuaku yang dirawat oleh seorang pelayan dan keluarganya." ujar Alvin. "Jangan pernah memeluk pria lain Keke, aku bisa mati kesal." sambungnya.
Keke mendekati Alvin lalu merebahkan kepalanya di pundak Alvin. "Aku hanya sekilas melakukannya, itupun salam perpisahan pada sahabatmu. Aku tak akan melakukannya pada pria manapun lagi." jawabnya.
Alvin mengelus rambut Keke. "Aku cemburu, aku benar benar cemburu sayang."
Keke mengecup pipi Alvin. "Maaf."
Alvin terbelalak lalu menarik wajah wanita itu dan mencium bibirnya. "Jangan memancingku, kita masih di pesawat." bisiknya.
Keke mencubit lengan Alvin. "Alvin... Apakah aku pernah melakukan perjalanan sebelumnya?" tanyanya.
"Aku hanya merasa pernah melakukan ini. Aku seperti pernah terbang dan melihat pemandangan dunia dari udara." jawab Keke.
Alvin teringat saat pertama kali mereka bertemu, Keke pernah mengatakan ia jatuh di halaman dari angkasa. Apa wanita itu pernah terbang atau justru ia memiliki sayap seperti burung.
"Jangan paksakan ingatanmu, kita sedang melakukan perjalanan cukup jauh. Aku tak ingin kau sakit selama perjalanan." ujar Alvin. "Tidurlah sayang." pintanya.
Keke mengangguk dan kembali merebahkan kepalanya di pundak Alvin. Perjalanan sangat jauh. Mereka harus melakukan perjalanan kurang lebih selama 18 jam. Alvin pun akhirnya ikut tertidur bersama kekasihnya di dalam pesawat.
*****
Sedangkan di Indonesia, perusahaan PT. Mark Manequin mulai sibuk untuk menyambut pemilik utama perusahaan. Anem ikut menanti kedatangan Alvin Mark karena ia penasaran dengan wanita yang sangat mirip dengan peri Keke. Mereka semua tahu jika pimpinan mereka membawa kekasihnya ke Indonesia, walaupun sempat ada masalah saat gosip menyebutkan Alvin Mark menghamili wanita lain. Ternyata berita itu dengan cepat ditangani pimpinan mereka dan mengembalikan nama baiknya.
"Pak Anem...Pak..." panggil Hendro.
"Ada apa?" tanya Anem.
"Dari tadi aku bertanya dimana bahan bakunya, kami sudah hampir kehabisan bahan di pabrik." jawab Hendro.
"Ya ampun maafkan aku, aku akan ke gudang sekarang." ujar Anem seraya ia pergi.
Anem manuju gudang penyimpanan penyediaan bahan. Lalu memerintahkan beberapa karyawan untuk mengambil bahannya dan membawanya ke pabrik.
__ADS_1
"Pak Anem, anda mendapat telepon dari pak Santoso." ujar salah satu karyawan pabrik.
Anem mengangguk lalu segera menuju kantornya.
"Halo pak." sapa Anem.
"Pak Anem kau tahu kan pimpinan kita akan datang, mengapa anda masih belum melaporkan seberapa banyak manequin yang sudah kita buat. Aku sudah menunggu anda sejak pagi." ujar pak Santoso.
"Aku masih mengerjakannya pak, sebentar lagi aku akan menuju kantor anda." jawab Anem.
"Jangan terlalu lama pak Anem, pimpinan kita akan sampai besok pagi. Aku tak ingin melakukan kesalahan saat ia berada disini." kata pak Santoso seraya menutup teleponnya.
Anem menghela nafasnya, ia terlalu banyak melamun sehingga ia terlambat mengerjakannya. Anem segera menyelesaikan data datanya, dan segera menuju perusahaan.
Anem sudah berada di kantor pak Santoso. Seperti biasa Vina menyambutnya.
"Pak Anem, sepertinya pak Santoso dalam mood yang buruk, jadi apapun perkataan kasarnya aku harap anda bisa menerimanya." ujar Vina.
Anem mengangguk. "Terima kasih Vina." jawabnya seraya mengetuk pintu ruang kerja pak Santoso.
"Selamat siang pak." sapa Anem. "Ini data yang anda butuhkan." sambungnya seraya menyerahkan dokumennya.
Pak Santoso menerima dokumen itu lalu membacanya. Lalu ia menatap Anem dengan tajam. "Anda adalah orang pilihan perusahaan, seharusnya pekerjaan seperti ini tak perlu menunggu waktu lama. Mengapa aku harus menghubungi anda terlebih dahulu agar anda menyerahkan dokumen seperti ini." bentaknya.
"Maafkan aku pak." jawab Anem.
"Apa cukup hanya maaf, kau membuatku kesal saja." ujar pak Santoso. "Keluarlah, jangan lupa meeting hari ini jam 2 siang." sambungnya mengusir Anem.
Mata Anem berkilat kesal, ia keluar dari ruangan itu tapi sebelum benar benar meninggalkan ruangan pak Santoso, ia mengeluarkan kekuatannya untuk menggeser kursi pria itu. Benar saja saat ia menutup pintu, suara erangan pria itu terdengar saat terjatuh. Anem tersenyum sinis lalu meninggalkan kantor itu tanpa pamit pada Vina.
Sialan manusia itu, ia hanya bisa memerintah bawahannya dengan kasar tanpa perasaan dan seenaknya saja membentakku. gumam Anem.
Dengan kesal ia mengendarai mobilnya menuju pabrik kembali.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1