Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 63


__ADS_3

Alvin menghampiri kekasihnya di meja. "Maaf aku membuatmu menunggu." ujarnya.


"Kau baik-baik saja kan? Wajahmu sangat pucat." ujar Keke.


"Sepertinya aku kelaparan sayang." jawab Alvin.


"Kalau begitu cepat kita makan." ajak Keke.


Alvin mengangguk dan mulai membuka makanan yang di pesan Vina.


"Kau masih ingatkan, aku pernah mengatakan makanan kesukaanku nasi Padang. Seperti inilah makanan itu. Jika di Paris hanya ada 1 restoran, disini ada ratusan bahkan ribuan penjualnya." ujar Alvin.


Keke mencoba mengingat ucapan Alvin, tapi wanita itu sama sekali tak mengingatnya. Ia tak ingin membuat Alvin sedih jadi ia mengangguk.


"Kau pasti akan suka rendangnya. Ayo makan." ajak Alvin.


Keke mengangguk lalu mulai mencicipi makanan kesukaan Alvin. Wanita itu bergidik saat ia tak sengaja memakan sambal hijaunya. "Apa ini Alvin? rasanya aneh." tanyanya.


Alvin tersedak saat wanita itu menunjuknya, ia lalu tertawa. "Itu sambal sayang. Kau coba makan dengan ini." ujar Alvin menunjukkan daun singkong.


Pria itu lalu menarik nasi yang ada di depan Keke, ia menyingkirkan makanan itu. "Sepertinya aku yang harus menyuapimu." ujarnya seraya mulai memberikan Keke satu sendok makanan. "Bagaimana? Masih aneh atau tidak?" tanyanya.


Keke menggeleng. "Ini enak." jawabnya.


Alvin tersenyum, akhirnya mereka memakan nasi kotak itu berdua. Alvin dengan sabar terus menyuapi kekasihnya. Keduanya menyelesaikan makan siang mereka sampai benar-benar kekenyangan. Di lain sisi di balik pintu ruangan Alvin, Anem sedang mengintip mereka. Pria itu tak bisa menahan lagi untuk melihat Keke yang hilang selama berbulan-bulan.


"Apa kau ingin lagi?" tanya Alvin.


"Aku benar-benar kenyang." jawab Keke.


"Jika kau kenyang, maka kau bisa kembali ke ruang itu. Sebentar lagi aku akan bertemu seseorang, aku belum yakin apakah ia orang baik atau jahat." ujar Alvin.


Anem terbelalak mendengarnya. "Sialan pria itu mengatakan hal yang membuat takut Keke, jika wanita itu masuk ke ruangan pribadi itu. Bagaimana aku bisa memastikan siapa sebenarnya wanita itu? Auranya benar benar sangat terasa jika ia seorang peri. Tapi aku harus lebih memastikannya dengan mendekatinya." pikir Anem.


"Apa kau belum pernah bertemu sebelumnya?" tanya Keke.


Alvin menggeleng. "Tidak pernah sayang, pria itu termasuk karyawan baru disini. Walaupun ia terkenal jujur dan cerdas, tapi aku mendapatkan kejanggalan pada identitasnya. Aku akan menceritakan lebih rinci saat kita pulang nanti. Sekarang masuklah, bawa buah buahan ini kedalam. Kau bisa memakannya saat kau bosan." ujarnya.


Keke mengangguk lalu berdiri, sebelum meninggalkan Alvin wanita itu memberanikan diri mengecup pipi Alvin.


"Selamat bekerja sayang." ujarnya seraya berlari meninggalkan Alvin yang masih tercengang.


Alvin tertawa saat melihat kekasihnya menutup pintu itu terburu buru. Ia menggerakkan kepalanya sedikit untuk memastikan rasa sakit kepalanya. Untunglah obat dari dokter Mattew sangat bekerja. Ia sudah lebih baik. Alvin kembali ke mejanya sambil menunggu pengawas pabrik datang.


*****

__ADS_1


Vina kembali ke kantornya setelah makan siang, tempat ia bekerja memang melewati kantor Alvin Mark. Wanita itu terkejut saat melihat Anem yang sedang mengintip di depan pintu atasannya. Ia segera menghampirinya dan menepuk pundak Anem.


"Apa yang anda lakukan?" tanya Vina.


Tentu Anem sangat terkejut, ia terperanjat karena ketahuan Vina. "Ah tidak, a.aku hanya ragu ingin ma.masuk kedalam." jawabnya dengan gugup.


"Ya ampun pak Anem ada ada saja, pak Mark bukan pria menakutkan. Aku sudah bertemu dengannya 4 kali, dan atasan kita itu lebih baik dari pak Santoso." ujar Vina.


"Yah mungkin aku hanya gugup saja, apakah sudah saatnya aku masuk kedalam?" tanya Anem.


"Ikutlah ke ruangan aku dulu." ajak Vina.


Anem mengangguk dan mengikuti Vina ke ruangannya.


"Duduk dulu pak Anem." pinta Vina.


Anem kembali mengangguk dan duduk di kursi tunggu.


"Jam istirahat masih 10 menit lagi, jadi kau tunggu sampai saatnya selesai. Aku akan menghubunginya terlebih dahulu." sambung Vina.


"Apa kau makan siang di luar?" tanya Anem.


"Tentu saja, selain atasan kita tidak ada yang boleh makan di perusahaan. Sudah ada kantin perusahaan, atau jika bosan bisa keluar. Bukankah anda sudah tahu akan hal itu." kata Vina.


Vina tertawa. "Aku bukan kekasihnya, bagaimana ada pengecualian. Ya Tuhan aku sangat iri dengan nona Keke. Wanita itu sangat cantik dan memiliki tubuh seperti boneka, sangat cocok dengan pak Mark." ujarnya.


"Tidak." ujar Anem tak sadar.


"Tidak? Apa maksud anda?" tanya Vina.


"Maksudku, kau tidak salah lagi. Ya itulah maksudku." jawab Anem.


Vina menyipitkan matanya. "Oh baiklah, apakah anda sudah makan siang?" tanyanya.


"Aku sedang diet, aku hanya makan buah-buahan." jawab Anem.


Vina melepaskan tawanya. "Aku pikir hanya wanita yang berdiet, ternyata ada pria sepertimu juga." ejek Vina.


Kau tidak akan tahu Vina, kalau mulutku hambar. Aku mati rasa, jangan terus mengejekku. Aku bisa membuatmu tak bisa menghentikan tawamu. pikir Anem**.


"Maafkan aku pak Anem, aku malah tertawa. Sebentar aku hubungi pak Mark." ujar Vina.


Wanita itu menghubungi Alvin lalu mengangguk anggukkan kepalanya.


"Pak Anem silahkan ke ruangan pak Mark." ujar Vina setelah menutup teleponnya.

__ADS_1


"Apa kau yakin aku akan baik-baik saja?" tanya Anem.


"Pak Mark hanya ingin berkenalan dengan anda. Anda tak perlu takut karena pekerjaan anda tidak ada yang salah." jawab Vina.


Anem menghela nafasnya lalu berdiri. "Baiklah aku kesana sekarang." ujarnya seraya meninggalkan Vina menuju ruangan Alvin Mark.


Anem masih berdiri di depan pintu ruangan Alvin, sebenarnya yang ia takutkan adalah tak bisa mengendalikan perasaannya saat ingin melihat peri Keke. Wanita yang ratusan tahun ia sukai. Anem kembali menghela nafasnya lalu mengetuk pintu itu.


Suara tegas dan berwibawa terdengar dari dalam ruangan. "Masuk..." ujar Alvin.


Anem membuka pintu itu lalu melangkahkan kakinya kedalam. Ia masih berdiri di depan Alvin, pria itu masih sibuk dengan dokumennya. "Selamat siang pak." sapa Anem.


Alvin mengangkat kepalanya lalu menatap Anem. "Selamat siang, apakah anda pak Anem?" tanya Alvin.


Anem mengangguk. "Benar pak Mark, aku Anem." jawabnya.


Alvin mengangguk lalu menyuruh Anem duduk. "Santai saja pak Anem, aku sedang membaca laporan pabrik yang anda buat. Sepertinya anda bukan pria biasa, anda sangat cerdas dan aku tak menyangka jika anda tampan seperti ini." ujar Alvin sambil tersenyum.


"Terima kasih pak Mark, ini adalah pertemuan pertama kita walaupun kita pernah berbicara beberapa kali lewat telepon." jawab Anem.


"Anda benar, sebelumnya kita pernah berbicara. Apakah anda mulai menyukai pekerjaan anda?" tanya Alvin.


"Tentu saja pak." jawab Anem.


Alvin terus menatap gerak gerik Anem, berkali kali mata pria sedang mencari sesuatu. Anem bahkan terus menatap ruangan dimana Keke beristirahat.


"Apakah anda sedang mencari sesuatu pak Anem?" tanya Alvin.


Anem terkejut. "Ah tidak pak, aku baru pertama kali masuk ke ruangan kerja anda. Ruangan ini tertata dengan rapi dan bersih membuat siapapun sangat nyaman berada disini." jawabnya.


"Ruangan seperti inilah yang aku sukai." ujar Alvin. "Kau lihatlah laporan ini, apa menurutmu ada yang salah?" tanya Alvin seraya memberikan dokumen laporan supervisor pabrik.


Anem menatap dokumen itu lalu membacanya, laporan itu sudah ia lihat dan ia juga menandatanganinya. Lalu apa yang salah dengan laporan itu, Anem masih sangat bingung. Pria itu terus membacanya hingga berulang ulang. Ia terbelalak saat melihat angka yang salah disana, ia baru menyadarinya sekarang walaupun totalnya benar tapi tetap saja ada yang salah dengan perinciannya. Anem menatap Alvin Mark yang sedang tersenyum padanya.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2