
Keesokan harinya, Parut bersiap siap mengantarkan peri Keke ke kota Dinan. Sudah saatnya peri Keke menyelesaikan tugasnya dan kembali ke dunia peri. Kali ini Parut terus menatap wanita itu, Parut juga mulai menyukai berteman dengan peri Keke.
"Ada apa?" tanya peri Keke. "Apakah ada yang aneh dengan wajahku?" sambungnya.
Parut menggeleng. "Kapan kau akan menemuiku setelah kau kembali ke duniamu?"
"Jadi sejak tadi itu yang kau pikirkan, Parut...aku bukan peri sempurna lagi. Aku tidak bisa terbang kesana kemari. Jika ada peri lain yang ingin membantuku menemuimu, aku pasti akan datang padamu. Jangan bersedih, aku akan selalu mengingat setiap hal yang kau lakukan untukku." jawab peri Keke.
"Aku tak bisa ke duniamu, baiklah lupakan saja. Kita pasti akan bertemu jika ditakdirkan. Sudah siapkah?" tanya Parut.
Peri Keke mengangguk. "Aku sangat siap." jawabnya seraya menatap sekeliling tempat Parut.
Parut menundukkan tubuhnya. "Naiklah, perjalanan kita akan lama. Aku harap kesehatanmu benar benar sudah kembali."
Peri Keke menaiki tubuh Parut dan memegang bulunya dengan erat. Suara Parut kembali memekakkan telinganya, ia mulai mengepakkan sayapnya. Mereka pun sudah berada di angkasa menuju kota Dinan. Seperti De Ja Vu, peri Keke pernah menikmati pemandangan kota di negara ini saat terbang dengan pesawat bersama Alvin Mark.
Peri Keke kembali sedih saat mengingat pria itu, ia sangat merindukan Alvin Mark. Ia ingin sekali saja bertemu pria itu sebelum ia kembali ke dunianya, tapi hal itu tidak mungkin karena Alvin Mark tak akan melihatnya sebagai seorang peri. Dan juga itu akan membuat peri Keke semakin berat meninggalkan dunia manusia.
Satu jam mereka di angkasa, keduanya mulai di hantam hujan salju.
"Berlindunglah di bawah sayapku, kau akan mati Kedinginan." perintah Parut.
Peri Keke mengikuti perintah Parut, ia mulai melindungi tubuh kecilnya di balik sayap elang itu. Parut sedikit kesulitan menghadapi hujan salju itu.
"Parut, lebih baik kita cari tempat berlindung. Kau akan mematahkan sayapmu jika memaksakan diri." teriak peri Keke.
"Aku tak apa apa, sebentar lagi kita sampai. Jika kita berhenti, akan membuang waktumu." jawab Parut.
"Baiklah..." jawab peri Keke.
Mereka terus melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya Parut merendahkan tubuhnya.
"Keluarlah dari sayapku, kau harus melihat bunga yang kau cari selama ini dari angkasa." ujar Parut.
Peri Keke mengikuti Parut lagi, dan menatap ke bawah. Ia terbelalak melihat hamparan luas kebun itu, semuanya berwarna biru.
"Ya Tuhan, sangat indah. Ini pertama kalinya aku melihat mawar biru itu. Kau yakin ini tempatnya kan?" tanya peri Keke.
"Tentu saja, itulah yang namanya mawar biru. Jika kau dari awal mengatakannya padaku, mungkin aku bisa membantumu." jawab Parut.
"Itu tidak mungkin Parut, aku harus mencarinya sendiri tanpa bantuan siapapun. Dan aku sudah menemukan lokasinya walaupun aku belum tahu dimana tepatnya. Terima kasih, kau sudah cukup membantu." kata peri Keke.
"Aku senang membantumu, kau peri terbaik dan juga sangat cantik." goda Parut sambil tertawa.
__ADS_1
"Kau sangat baik Parut." ujar peri Keke.
Keduanya hampir mendarat ke kebun tersebut. Parut berhenti tepat di atas rumah kaca itu. Peri Keke turun dari tubuh Parut lalu menatap sekeliling mawar biru itu. Harum bunga itu semerbak walaupun tertutup rumah kaca. Peri Keke mengingat harum yang ia cium di gudang belakang rumah Alvin Mark.
"Ya Tuhan, pantas saja ingatanku langsung kembali saat menciumnya di gudang itu." gumam peri Keke.
"Apa yang kau katakan?" tanya Parut.
"Ah tidak, aku sedang mencium wanginya. Luar biasa membuat pikiranku bisa tenang Parut." jawab peri Keke.
"Berhati-hatilah masuk kesana, dan ambil yang kau butuhkan. Aku akan menunggumu disini." ujar Parut.
Peri Keke menggeleng. "Jangan menungguku Parut, setelah aku menemukannya. Aku akan menghubungi raja Peri. Kemungkinan aku akan kembali ke duniaku disini."
"Jadi sekarang adalah perpisahan kita." kata Parut sedih.
Peri Keke mendekati Parut, ia mengelus kepala elang itu lalu mencium pipinya. "Terima kasih kau membantuku, dan selamat tinggal Parut. Aku tak akan pernah melupakanmu." ujarnya.
Untuk pertama kalinya sang elang mengeluarkan air matanya, elang itu sangat sedih karena harus berpisah dengan peri cantik itu. Peri Keke memeluk Parut, keduanya saling terisak. Bukan hanya Parut yang akan ditinggalkannya, tapi juga semua kenangannya selama di dunia manusia.
Peri Keke melepaskan pelukannya, Parut segera mengepakkan sayapnya meninggalkan peri Keke tanpa menoleh sama sekali. Sepertinya Parut sangat berat berpisah dengannya. Lama kelamaan burung elang itu menghilang di angkasa.
Peri Keke berusaha turun dari atas rumah kaca itu hingga membuatnya terjatuh ke bawah.
Peri Keke mulai mencari cara agar bisa masuk ke rumah kaca itu, ia hampir tersandung alat kebun disana. Peri Keke bersedih karena rumah kaca itu terkunci rapat. Ia hanya bisa menunggu sampai ada seseorang yang membuka pintunya, ia memutuskan untuk bersembunyi di sekitar rumah kaca itu.
*****
Pesanan manequin di perusahaan semakin melonjak tinggi, Alvin merasa beruntung bisa menyibukkan dirinya dengan bekerja siang dan malam di perusahaannya. Ia sangat jarang kembali ke rumah, Alvin Mark yang gila kerja kembali seperti dulu lagi.
Suara pintu terketuk. "Masuk..." ujar Alvin.
"Pak Alvin, ini data pesanan manequin bulan ini. Pabrik kita kekurangan tenaga kerja pak." ujar Jane.
"Apa kau sudah memasang iklan?" tanya Alvin.
"Sudah pak, tapi semuanya belum berpengalaman. Kita membutuhkan orang berpengalaman segera." jawab Jane.
"Rekrut semuanya dan suruh kepala pabrik dan pengawas mengajari mereka selama satu minggu. Setelah itu kita bisa memilih orang yang layak atau tidak untuk bekerja di pabrik manequin." perintah Alvin.
Jane ragu kepala pabrik dan pengawas itu bersedia.
Alvin menatap sekertarisnya. "Katakan pada keduanya, selama seminggu aku akan memberikan bonus tambahan untuk melatih karyawan baru itu." ujar Alvin.
__ADS_1
Jane akhirnya mengangguk. "Baik pak, akan aku sampaikan." jawabnya. "Dan ini laporan keuangan dari Indonesia yang dikirim pak Santoso." sambungnya.
Alvin mengangguk. "Terima kasih." jawabnya.
Jane pamit keluar dan hampir menabrak tubuh Calio. "Oh maaf..."
"Aku yang minta maaf Jane." jawab Calio.
Alvin menatap sahabat sekaligus asistennya.
"Jangan menatapku seperti itu pak Alvin." ujar Calio saat Jane sudah keluar.
"Ini mataku, apa urusannya denganmu." jawab Alvin.
"Sudah waktunya makan siang pak, dan aku mengajakmu makan sebagai sahabatmu. Kau semakin menggila saat berada di perusahaan. Kau bisa melukai kepalamu lagi." ujar Calio.
"Aku sudah melakukan pemeriksaan kembali, dan penyakit sialan itu sudah hilang tanpa bekas. Ini semua berkat..."
"Jangan teruskan, ayo kita makan." potong Calio.
Alvin meletakkan dokumennya. "Bisakah aku tak makan? Pekerjaanku sangat banyak."
Calio menggeleng. "Manusia butuh makan, bahkan monster, hantu dan lain sebagainya butuh makan." ejeknya.
"Kau cerewet seperti nenek nenek." kata Alvin.
"Yah anggap saja aku nenekmu sekarang, jangan membantah nenek nenek ini Vin." jawab Calio.
Alvin tertawa terbahak-bahak. "Baiklah nek, ayo kita makan." ajaknya.
Calio tersenyum dan membiarkan Alvin keluar terlebih dahulu. Mereka akan menuju restoran nasi Padang kesukaan Alvin Mark yang sudah berbulan-bulan tak ia kunjungi.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Menjelang Episode terakhir...
__ADS_1
Happy Reading All...😘