Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 57


__ADS_3

Alvin dan Keke terbangun saat pramugari menawarkan makan malam mereka, keduanya tak sadar bisa tertidur begitu lama di dalam pesawat. Sepertinya akhir-akhir ini mereka memang kurang nyenyak tidur karena masalah yang mereka hadapi sebelumnya.


"Sayang bangun, waktunya makan." bisik Alvin.


Keke meregangkan tubuhnya dan menguap seperti di kamarnya sendiri membuat Alvin terkekeh. Keke baru sadar jika ia sedang dipandangi Alvin dan seorang wanita. Seketika ia terbelalak dan menutup mulutnya.


"Dimana kita?" tanya Keke.


"Sadarlah sayang, kita masih di pesawat." jawab Alvin.


"Ya Tuhan aku lupa." ujarnya.


"Sudah saatnya kita makan malam." kata Alvin.


"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Keke.


Alvin menatap jam tangannya. "Ini baru jam 8 malam, sekitar 12 jam lagi." jawabnya.


"Itu lama sekali, mengapa kita tidak terbang lebih cepat?" tanya Keke polos.


Pramugari dan Alvin akhirnya tertawa lepas. "Kau sangat lugu sayang, tentu saja tidak bisa. Bahkan seekor burung justru akan melakukannya perjalanan berhari-hari. Kita dari Eropa ke Asia, dua benua yang berbeda." jawab Alvin disela tawanya.


Keke menatap mereka dengan bingung, ia masih saja tak mengerti maksud Alvin.


"Hentikan pikiranmu Keke, aku sangat lapar." ujar Alvin.


Pramugari menyiapkan makan malam mereka, menunya begitu banyak karena memang Alvin yang mengaturnya sebelum mereka berangkat.


"Ayo kita makan." ajak Alvin.


Keke mengangguk dan mulai mencicipi makan malam mereka. Perut Keke bergejolak dan tiba tiba ia merasa mual dan ingin mengeluarkan makanan itu. Keke melepaskan sitbelt dan berlari ke toilet pesawat, disana ia mengeluarkan semua makanannya.


"Sayang, buka pintunya. Kau baik baik saja kan?" tanya Alvin.


Tubuh keke menggigil karena keringat dingin sudah mulai keluar.


"Keke... bukalah pintunya sayang." ujar Alvin lagi.


"Aku...aku tak apa apa." jawab Keke dengan susah payah.


Alvin segera meminta pramugari mengambil obat anti mabuk. Pria itu terus mendengarkan Keke yang memuntahkan isi perutnya.


"Keke, aku masuk ya. Aku akan membantumu." kata Alvin.


Kali ini tak ada jawaban, Alvin panik dan segera masuk ke toilet. Betapa ia sangat terkejut karena Keke sudah pingsan disana.

__ADS_1


"Keke..." teriaknya lalu segera membawanya kembali.


Alvin merebahkan tubuh Keke, ia begitu panik saat tubuh Keke semakin dingin. Beberapa Pramugari ikut sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Alvin bahkan mengoleskan minyak angin ke seluruh tubuh Keke, ia benar benar menyentuh tubuh Keke.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Alvin pada mereka.


"Tuan Mark tenang saja, kekasih anda hanya mabuk udara. Biarkan ia tertidur, saat ia bangun minumkan obat ini." ujar salah satu pramugari.


Alvin mengangguk. "Terima kasih, maaf merepotkan kalian."


"Itu sudah tugas kami tuan Mark, andalah yang memperkerjakan kami." jawab mereka.


"Baiklah, kalian boleh kembali. Aku akan memanggil kalian jika dibutuhkan." kata Alvin.


Mereka mengangguk dan meninggalkannya.


Alvin menunduk di depan Keke, sambil menggenggam tangannya. "Maaf sayang, maaf aku tak tahu kau bisa mabuk udara. Aku pikir kau makhluk yang sangat kuat, aku lupa jika kekuatanmu menghilang dan kau pun lupa ingatan." ujarnya.


Tubuh Keke mulai menghangat tapi wanita itu masih belum sadar juga. Alvin menghela nafasnya, ia menatap meja makan di dalam pesawat. Ia bahkan belum menyelesaikan makan malamnya. Rasa lapar yang ia rasakan berubah menjadi rasa takut yang mencekam.


"Tuan Mark, maaf. Anda sebaiknya kembali ke tempat duduk. Karena pilot mengatakan ada sedikit hambatan di depan setengah jam lagi. Kami hanya memikirkan keselamatan anda." ujar seorang pramugari.


Alvin mengangguk, ia kembali ke tempat duduknya dan memakai sitbelt lagi. Sedangkan pramugari, memasang beberapa sitbelt untuk menjaga tubuh Keke. Alvin terus menatap wanitanya, ia berharap Keke baik baik saja sampai di Indonesia.


*****


"Aku kehilangan indra pengecapku." jawab peri Anem.


"Apa??? Begitu tega raja peri menghukummu seperti itu, sampai kapan?" tanya peri Harva.


"Satu minggu, jadi selama itu lebih baik aku makan buah-buahan saja." jawab peri Anem lagi.


"Berubahlah peri Anem, jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi. Kau bisa kehilangan semua indramu." ujar peri Harva.


"Kau benar, aku masih beruntung tidak kehilangan penglihatan dan penciumanku." kata peri Anem. "Aku harus kembali sekarang, aku masih bekerja. Aku takut pria tua itu kembali mengamuk membuatku kehilangan kendali." sambungnya.


"Baiklah, selamat menikmati hukumanmu peri Anem. Jangan lupa kabari kami saat kau benar benar bertemu peri Keke." ejek peri Harva.


Peri Anem mengernyitkan dahinya karena ejekan itu lalu dengan kesal ia menutup teleponnya. Ia kembali mengerjakan beberapa berkas laporan tentang pembuatan manequin.


"Pak Anem, ada yang mencari anda." ujar Hendro.


"Mencariku? Siapa?" tanya Anem.


Hendro menggeleng. "Ia seorang wanita yang sangat cantik." jawabnya.

__ADS_1


Anem menautkan kedua alisnya. "Wanita cantik?" gumamnya. Ia segera keluar pabrik dan menemui orang yang dimaksud.


Anem sangat terkejut saat melihat wanita yang ia temui di bar seminggu yang lalu.


Sialan, bagaimana wanita itu tahu keberadaanku? pikir Anem.


Belum sempat Anem kabur, wanita itu sudah melihatnya.


"Anem..." panggilnya.


"Apa yang kau lakukan disini Ren? Darimana kau bisa tahu aku bekerja disini?" tanya Anem.


"Sangat mudah menemukanmu Anem, aku menyuruh anak buahku mencari biodata tentangmu. Mengapa kau menghindariku setelah apa yang kita lakukan malam itu?" tanya Renata.


"Maaf Ren, itu sebuah kesalahan karena aku mabuk, sekali lagi maaf." ujar Anem.


"Tapi aku menganggapnya bukan kesalahan. Aku menyukaimu sejak ciuman itu." kata Renata.


"Maaf aku sudah memiliki kekasih Ren, aku tak bisa membalas perasaanmu." jawab Anem.


"Tidak, semua informasi tentangmu tidak ada yang mengatakan kau memiliki kekasih. Jangan menghindariku Anem. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kau lah yang membuatku gila malam itu." ujar Renata.


"Kau sudah gila, kita hanya berciuman dan itu tak berarti apa-apa karena aku mabuk, dan kau sepertinya juga mabuk. Aku harus kembali bekerja sekarang." ujar Anem membalikkan tubuhnya.


Renata mengejarnya dan memeluknya dari belakang. "Jangan pergi dariku Anem, aku mencintaimu. Itu ciuman pertamaku."


Anem terbelalak. "Sialan, bagaimana caraku menghindari wanita ini. Ciuman pertama sangat berarti bagi manusia. Dan aku mengambil ciuman pertama wanita ini saat mabuk, aku memang sudah gila". pikirnya.


Anem melepaskan pelukan Renata lalu berbalik. "Dengarkan aku Ren, aku bukan pria yang baik buatmu. Aku bukan seperti diriku yang sekarang. Kita tak mungkin bersama, kita berbeda. Kau lupakan aku dan ciuman kita. Aku yakin kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Dan jangan datang kemari lagi, aku bisa dipecat." ujarnya seraya meninggalkan wanita itu.


Renata langsung terisak saat mendengar perkataan Anem, ia benar benar jatuh cinta pada pria itu. Ciuman mereka di bar malam itu sangat panas, keduanya benar benar saling membutuhkan. Tapi hari ini, Anem benar benar pria yang berbeda. Ia sangat jahat, dan itu sangat menyakiti perasaannya.


*****


Akankah Renata menyerah terhadap Anem???


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2