
Malam semakin larut, Alvin Mark akhirnya kembali ke rumahnya bersama Calio setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di perusahaan.
"Kau yakin tidak ingin masuk?" tanya Alvin.
Calio menggeleng. "Tunanganku akhir akhir ini marah karena aku tak ada waktu untuknya." jawabnya.
"Maaf Cal, ini semua salahku." ujar Alvin.
Calio tertawa. "Kau terlalu serius Vin, tunanganku marah karena ingin dimanja. Kau tenang saja, ia pasti akan kembali tenang saat aku menghampiri apartemennya."
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Alvin.
"Aku belum kepikiran sama sekali." jawab Calio sambil tertawa. Lalu ia tiba tiba mengerem saat melihat sekumpulan wartawan di depan rumah Alvin Mark. "Lihatlah." ujarnya.
Alvin mengikuti pandangan Calio. "Sialan, apa yang harus aku lakukan. Aku bisa terlambat makan malam bersama Keke."
"Kau menghindari mereka terus percuma, lebih baik kau temui mereka. Mungkin ada yang mereka ingin tanyakan lebih banyak untuk memuaskan rasa penasaran mereka." saran Calio.
"Kau benar, sudah waktunya aku menghadapi mereka lagi." jawab Alvin.
Calio menuju pintu gerbang rumah Alvin, Alvin turun dari mobilnya. Tentu saja jepretan kamera tak henti hentinya mengambil gambar Alvin.
"Apalagi yang kalian inginkan?" tanya Alvin.
"Tuan Mark, dimana kekasih anda sekarang?"
"Ada didalam rumahku." jawab Alvin.
"Apakah ia tinggal bersama anda?"
"Tentu saja sudah 2 bulan ia tinggal disini." kata Alvin.
"Apakah orang tua angkatnya setuju jika nona Keke tinggal bersama anda?"
"Jika sudah 2 bulan tentu saja setuju, aku tak menculik kekasihku. Bisakah kalian berhenti mengejar kami. Aku akan terlambat makan malam." ujar Alvin kesal.
"Kami masih penasaran tentang nona itu, siapa nama orang tua angkatnya di kota Dinan?"
Alvin menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar. "Aku pikir kalian cukup tahu saja jika aku memiliki kekasih yang tinggal bersamaku, aku akan ke Indonesia minggu depan jadi aku harap kalian berhenti mengejar kami, atau aku akan bertindak kasar dengan menutup perusahaan media kalian." ancamnya.
Mereka berhenti bertanya, mereka tahu Alvin Mark bisa melakukan itu karena pria itu memang orang yang berpengaruh di kota Paris.
"Mark...." suara teriakan Karen mengejutkan semuanya.
Wanita itu berlari lalu memeluk Alvin dengan erat. Tentu saja membuat kehebohan baru.
__ADS_1
"Jangan ada yang coba coba mengambil gambar mereka." ujar Calio.
Alvin segera melepaskan diri sambil mendorong Karen.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Alvin.
"Aku merindukanmu Mark, mengapa kau tak pernah menemuiku sejak kau mengunjungi apartemenku?" tanya Karen.
"Apakah kalian menjalin hubungan?"
"Tidak, wanita ini gila." jawab Alvin cepat.
"Kau melupakan kejadian malam itu Mark." ujar Karen seraya menangis.
"Apa yang kalian lakukan? Tuan Mark katakan sesuatu."
"Urus media dan wanita gila ini Cal." ujar Alvin seraya masuk ke rumahnya.
"Tunggu Mark, kau harus bertanggungjawab. Aku hamil anakmu." ujar Karen.
Tentu saja Calio tak sanggup membendung wartawan saat kata kata itu keluar dari mulut Karen.
"Kau wanita gila Karen, bagaimana kau bisa hamil anak Alvin Mark, jika kalian tak pernah berhubungan." bentak Calio.
"Saat itu Mark mabuk dan masuk ke apartemenku. Aku punya buktinya." jawab Karen seraya memperlihatkan foto foto Alvin Mark masuk ke apartemen Karen dari cctv.
*****
"Apa yang kau lakukan di apartemen Karen, ini gawat Vin, wanita itu membeberkan semuanya bahkan ia memiliki foto foto saat kau mengunjungi apartemennya." ujar Calio.
"Wanita gila, aku tak memiliki hubungan apapun dengannya. Percayalah aku sama sekali tak menyentuhnya. Saat itu ia menghubungiku, ia bilang diancam seseorang, mereka ingin membunuhnya. Wanita itu meminta bantuanku. Saat itu aku sedang membuat manequin Keke palsu. Aku memiliki perasaan sebagai seorang pria. Aku takut ia benar-benar diancam, aku tak ingin merasa bersalah seumur hidupku. Jadi aku terpaksa mengunjungi apartemennya. Dan saat itu aku akhirnya tahu jika aku dijebak. Tapi sumpah aku berhasil kabur sebelum ia melakukan sesuatu." jawab Alvin.
"Ya Tuhan, aku mungkin percaya Vin. Tapi media dan bukti itu bagaimana?" ujar Calio.
Alvin menggelengkan kepalanya karena sangat pusing. "Hubungi pihak media, singkirkan semua berita itu dan cari cctv aslinya, aku tak sampai 5 menit berada di dalam apartemennya. Tak mungkin aku bisa menghamili wanita itu, dan cari bukti tentang kehamilan Karen. Ya ampun lebih baik kau temui tunanganmu dulu Cal, aku takut wanitamu semakin marah." ujarnya.
"Kau lebih penting saat ini Vin, jangan pikirkan aku. Aku akan membantumu, kau tenang saja. Jangan biarkan Keke tahu soal ini." ujar Calio.
"Kau memang sahabat terbaikku Cal, tapi aku serius. Kau pulanglah...Kita akan mengatasinya besok." ujar Alvin.
Calio menghela nafasnya, ia tahu Alvin sangat lelah. "Baiklah, jangan banyak berpikir Vin. Aku yakin kau bisa mengatasinya." ujar Calio seraya pamit pulang.
*****
Alvin menemui Keke dikamarnya, wanita itu sedang menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Selamat malam sayang, ada apa dengan wajah cantikmu?" sapa Alvin.
Keke menatap Alvin. "Kau terlambat pulang." jawabnya.
Alvin mendekati Keke lalu memeluknya. "Maaf sayang, sebenarnya aku sudah kembali sejak tadi tapi aku tertahan wartawan di depan rumah. Keke kau percaya padaku kan?" katanya.
Keke melepaskan pelukan Alvin, ia menatap wajah Alvin yang sangat lelah. Wanita itu menyentuh wajahnya. "Ada apa? Apa ada masalah?" tanyanya.
Alvin mengangguk. "Hanya sedikit, aku masih bisa mengatasinya." jawabnya.
"Maafkan aku menyambutmu dengan wajah muram, aku tak tahu jika kau menghadapi masalah. Ayo kita makan malam walaupun ini terlambat, kau butuh asupan makanan agar tetap sehat." ajak Keke.
Alvin tersenyum. "Aku lebih membutuhkanmu daripada makanan Keke." ujarnya seraya menarik wajah Keke dan menciumnya.
Keduanya berciuman, setelah Alvin puas ia kembali memeluk Keke.
"Rasanya aku ingin mati jika kau tak ada disampingku." ujar Alvin.
Keke menggeleng. "Jangan katakan itu Alvin, aku tak ingin kehilanganmu. Aku tak akan meninggalkanmu juga, aku sangat percaya padamu."
Alvin memeluk Keke lebih erat, ia sangat tenang saat memeluk wanita itu. Perut Keke berbunyi karena kelaparan. Tentu saja Alvin tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Wajah Keke berubah menjadi merah padam. Ia sangat malu, perutnya bunyi disaat yang tidak tepat.
Alvin mengecupi wajah Keke. "Ayo kita makan." ajaknya.
Keke mengangguk, keduanya turun menuju ruang makan. Di ruang makan, Alvin lebih banyak menatap kekasihnya daripada makan makanannya.
"Makanlah, jika kau tak makan aku lebih baik kelaparan." ancam Keke.
"Aku tak m memiliki nafsu makan sayang." jawab Alvin.
"Apa yang ingin kau makan, aku akan menyuruh Hara membuatkan untukmu." ujar Keke.
Alvin menggeleng. "Tidak Keke, aku tak ingin apapun." jawabnya.
Keke menggeser kursinya lebih dekat, ia mengambil sendoknya lalu mulai menyuapi pria itu. Dengan enggan akhirnya Alvin membuka mulutnya karena tatapan mata Keke sangat tajam padanya. Keduanya akhirnya sama sama makan di piring yang sama. Pelayan mereka senang melihat adegan romantis itu, mereka berharap Keke tak pernah kembali ke dunianya.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘