
Setelah puas melihat bunga mawar biru itu, Alvin dan Keke kembali berbincang. Alvin seperti tak ada habisnya bertanya pada Keke. Ia ingin tahu lebih cepat tentang wanita itu.
"Apa kau tidak kesulitan merawat kebun sendirian?" tanya Alvin.
"Tidak." jawab Keke.
"Sejak kapan kau memiliki kebun mawar itu dan tinggal disini?" tanya Alvin lagi.
"Maaf pak, aku tak suka membicarakan soal pribadiku. Tolong kembali ke pokok pembicaraan kita." ujar Keke.
Alvin sedih, ia akan sulit mengetahui tentang wanita yang benar benar seperti kekasihnya. "Maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana. Menurutku kebunmu bisa menjadi pemasok untuk perusahaanku. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mawar mawarmu berkembang?" ujar Alvin.
"Hanya satu minggu, mawar mawarku tak pernah layu, dan akan tumbuh kembali selama satu minggu setelah aku petik. Ini keajaiban rahasia kebunku." jawab Keke.
Alvin terbelalak, kebunnya saja membutuhkan waktu sebulan untuk berkembang. "Bagaimana bisa? Aku butuh lebih dari satu bulan. Apakah kau mempunyai pupuk rahasia?" tanya Alvin penasaran.
Keke menggeleng. "Tidak ada, aku hanya merawat bungaku dengan air biasa saja. Itulah yang aku katakan keajaiban rahasia kebunku." jawab Keke.
"Sepertinya kau benar benar peri Keke, hanya orang yang memiliki kekuatan yang bisa memiliki keajaiban seperti itu. Keke, ingatlah aku. Aku Alvin Mark kekasihmu, aku pria yang sangat mencintaimu." pikir Alvin.
"Pak Alvin, anda baik baik saja kan?" tanya Keke.
"Ah iya, aku baik baik saja. Jadi bagaimana? Apakah anda mau bekerjasama dengan perusahaanku? Berapapun harganya, aku akan setuju." kata Alvin.
"Berapa tangkai yang anda butuhkan dalam satu bulan?" tanya Keke.
"Kemungkinan seribu tangkai." jawab Alvin.
Keke berpikir, ia memiliki lebih dari seribu tangkai mawar dalam seminggu. Tapi ia takut jika terlalu banyak memetiknya dalam satu bulan, mawar mawarnya akan mati. Tapi jika dihitung pendapatannya, maka ia bisa mendapatkan uang sebesar seratus juta per bulan. Karena ia jual satu tangkai seratus ribu rupiah.
"Apa terlalu banyak?" tanya Alvin karena melihat Keke kebingungan.
"Aku takut membuat mawarku mati karena terlalu banyak memetiknya. Dan biasanya aku menjual satu tangkainya seratus ribu. Jika anda memesan seribu maka anda akan mengeluarkan uang seratus juta." jawab Keke.
"Aku setuju dengan harganya. Kita bisa mencobanya selama satu bulan, jika mawar mawarmu mati maka aku akan memberi ganti ruginya 2 kali lipat dari harga sebelumnya." ujar Alvin.
Keke tertawa. "Anda sungguh kaya pak Alvin, tapi bukan itu keinginanku. Begini saja, aku akan memikirkannya selama 2 hari, jika aku sudah memiliki jawabannya, maka aku akan menghubungi anda."
Alvin terpaku, ia tak mendengar ucapan Keke. Ia hanya terpesona dengan tawa wanita itu, ia benar benar persis seperti Keke yang dulu. Wanita itu akan terlihat mempesona saat tertawa.
"Aku masih banyak urusan pak Alvin, aku harus mengunjungi putra putriku." kata Keke.
Lamunannya tiba tiba buyar karena perkataan wanita itu. "Kau sudah memiliki anak, lalu dimana suamimu?" tanyanya.
__ADS_1
Keke terkejut. "Suami? Aku tak memilikinya, aku masih sendiri pak." jawab Keke.
"Kau memiliki anak tapi tak memiliki suami, apa maksudmu?" tanya Alvin lagi.
Tawa Keke kembali pecah. "Bukankah anda sudah mendengar percakapanku dengan karyawanku tadi. Aku memiliki putra putri yang aku asuh, mereka penghuni panti asuhan. Bukan anak dalam arti sebenarnya pak Alvin."
"Oh ya ampun, maafkan aku. Aku lupa soal percakapan kau tadi dengan karyawanmu. Bisakah aku mengantarmu kesana?" tanya Alvin.
"Terima kasih pak, tapi aku tak ingin merepotkan anda. Aku biasa menggunakan kendaraan umum." jawab Keke.
"Aku mohon, aku juga ingin melihat anak anak itu. Mungkin aku bisa membantu mereka sedikit." pinta Alvin.
Keke sangat senang mendengarnya, tapi ia masih ragu untuk pergi bersamanya. Keke menatap Alvin, ia melihat kesungguhan di mata pria itu. Akhirnya ia mengangguk.
Alvin tersenyum, ia senang Keke tak menolak ajakannya.
"Aku ambil tas sebentar ya pak." ujar Keke.
Alvin mengangguk, Keke beranjak dari duduknya. Saat ia melewati Alvin, kakinya tersangkut dan hampir jatuh kalau saja Alvin tak menangkapnya. Keduanya saling berpandangan dan suara jantung yang berdegup kencang saling bersahutan.
Ya Tuhan, kenapa jantungku seperti ini. pikir Keke.
Aku mencintaimu Keke, selalu mencintaimu. Apakah kau tak merasakan detak jantungku yang begitu cepat. pikir Alvin.
"Nona Keke, ada telepon dari panti asuhan." ujar mbok Sari tiba tiba.
Tentu saja Alvin dan Keke segera tersadar dari apa yang hampir mereka lakukan bersama.
"Te... terima kasih pak. Tunggu sebentar." ujar Keke tergagap.
Alvin menghela nafasnya dan mengangguk. Hampir saja ia bisa membuktikan semuanya.
*****
Hampir 15 menit Alvin menunggu, wanita itu akhirnya keluar dari rumah dan menghampirinya.
"Maaf anda menunggu lama, aku harus ke tempat lain pak. Anak anak panti melakukan kegiatan di luar panti. Anda tak perlu mengantarku." ujar Keke.
"Aku akan mengantarmu kemanapun nona. Aku tak ada pekerjaan di perusahaan, asistenku yang menanganinya." ujar Alvin.
Keke tak ingin terus dekat dengan pria itu, karena sampai saat ini jantungnya terus berdebar dengan cepat. Ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini, padahal ia baru bertemu pria itu 2 kali.
"Tapi pak..."
__ADS_1
"Aku mohon, aku ingin mengenal mereka juga." potong Alvin.
Keke menghela nafasnya, ia tak bisa menolak pria itu. "Baiklah..." jawabnya.
Alvin lega, ia membawa Keke menuju mobilnya yang terparkir di depan toko bunga itu.
"Putri, Lina, Bili... Aku ke panti sekarang. Aku akan menyusul kalian nanti sore ke tempat resepsi. Tolong jaga bunganya agar tetap segar." ujar Keke pada karyawannya.
"Baik bu..." jawab mereka.
Keke mengikuti Alvin, membuat karyawannya saling bergosip.
"Mereka pasangan serasi." ujar Putri.
"Ya ampun, gemas sekali." ujar Lina.
"Aku harap mereka benar benar jadian." kata Putri lagi.
"Benar, nona Keke harus memiliki pasangan seperti itu. Tampan dan kaya." jawab Lina.
"Berhentilah menggosipkan bos kalian." ujar Bili.
Mereka terdiam dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Alvin mengendarai mobilnya, ia mengantarkan Keke ke tempat kegiatan anak anak panti. Setengah perjalanan, Alvin baru menyadari jika wanita itu tak menggunakan sitbelt. Ia menepikan mobilnya, lalu mendekati Keke. Sontak saja Keke terkejut, ia menjauh dari wajah pria itu.
"Maaf nona Keke." ujar Alvin seraya memakaikan sitbelt nya.
Wajah Keke merah padam, tapi Alvin melanjutkan perjalanan mereka tanpa melihat Keke lagi.
Aku ingin sekali menciummu, tapi sepertinya akan terlalu cepat dan membuatmu takut. pikir Alvin sambil mengendarai mobilnya.
Sedangkan Keke hanya menatap keluar jendela mobil, ia terus berusaha mengendalikan debaran jantungnya.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘