Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 54


__ADS_3

Alvin menghampiri Keke yang terisak di ranjangnya. Wanita itu belum menyadari Alvin kembali. Alvin pelan pelan menghampirinya, ia duduk di samping Keke.


"Kau akan menenggelamkan kamar kita sayang jika kau terus seperti ini." ujar Alvin.


Keke terkejut lalu membuka mata sembabnya menatap Alvin. Alih-alih diam, ia justru semakin menangis dengan keras. Alvin membangunkannya lalu segera memeluknya.


"Maaf sayang, maafkan aku. Maaf telah membuatmu khawatir, jangan menangis." kata Alvin mengelus punggungnya.


Keke terus menangis, ia tak bisa mengatakan apapun.


"Sssstttt... berhentilah menangis Keke, aku sudah kembali, aku tak menyukai tangisanmu." ujar Alvin lagi.


"Pindahkan penyakitmu padaku, aku tak ingin kau kesakitan, kau membuatku hampir gila." ujar Keke sambil terisak.


"Dasar wanita bodoh, kau yang tak boleh sakit. Biar aku saja, aku mampu menahannya. Aku kembali karena sudah baik baik saja." jawab Alvin sambil mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya.


Alvin mengecupi mata sembabnya. "Hentikan, aku tak suka melihatmu menangis sayang."


Keke mengangguk. "Kau yakin sudah baik baik saja?" tanyanya.


Alvin mengangguk. "Aku akan sakit lagi jika kau terus menangis."


Keke segera menghapus air matanya dengan polos. "Aku tidak menangis lagi sekarang, janji kau tidak akan sakit lagi." pinta Keke.


Alvin tertawa lalu memeluk Keke lagi. "Kau obat terbaikku Keke. Ya Tuhan, izinkan kami bersama selamanya." ujarnya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu." jawab Keke.


"Seandainya kau mengatakan itu saat ingatanmu kembali sayang, aku pasti sangat senang." kata Alvin.


"Aku akan mengatakannya saat dalam kondisi apapun, aku tak akan meninggalkanmu." jawab Keke lagi.


Alvin tersenyum, ia menatap wajah Keke lalu mengecupi setiap jengkal yang ada di wajah wanita itu.


"Kau belum makan kan?" tanya Alvin. Keke menggeleng. "Ayo kita makan malam, aku takut ingin memakanmu." goda Alvin.


"Kau tidak boleh melakukannya, kita harus menikah sebelum melakukan hal itu." kata Keke.


Alvin menautkan alisnya. "Apa kau mau menikah denganku?" tanyanya.


"Tentu saja, Hara bilang kita boleh melakukannya jika sudah menikah." jawab Keke.

__ADS_1


"Hara? Baiklah pelayan itu sepertinya mengajarimu terlalu banyak. Aku akan menghukumnya." ancam Alvin.


"Jangan..." pinta Keke memelas.


Alvin kembali tertawa. "Aku hanya bercanda sayang. Wajahmu jelek sekali setelah menangis." godanya.


Keke terbelalak lalu turun dari ranjangnya dan terburu buru menuju kamar mandi. Alvin hanya tertawa terbahak bahak melihatnya. Ia benar benar senang bisa terus menggoda kekasihnya. Alvin berharap mereka bisa terus seperti ini, walaupun sepertinya itu tidak mungkin bagi mereka berdua.


*****


Calio sudah menanti mereka di ruang makan, ia tak meninggalkan rumah Alvin karena Alvin yang menginginkannya ia ikut makan malam. Alvin membawa kekasihnya turun, tapi wajah Keke sangat sembab.


Calio terbelalak saat melihat wajah Keke. "Siapa yang kau bawa kemari?" ejek Calio.


"Peri dalam hidupku." jawab Alvin.


"Tapi yang aku tahu peri mu itu sangat ceria, mengapa ia seperti seorang alien." goda Calio.


Alvin tertawa mendengarnya. "Jangan terus menggodanya Cal, ini semua karena ulahmu yang membawaku ke rumah sakit." ujarnya.


"Kenapa jadi aku?" tanya Calio.


"Kau mau aku usir dari sini tuan Calio." ancam Keke.


"Sudahlah ayo kita makan, aku tak mau wanitaku kelaparan." ajak Alvin.


Calio mengangguk, mereka menikmati makan malam bersama tanpa berbicara.


*****


Malam semakin larut, Calio dan Alvin sedang berbicara di ruang santai. Sedangkan Keke lebih memilih tidur terlebih dahulu karena matanya sangat sulit ia buka akibat tangisannya sendiri.


"Kau yakin besok berangkat?" tanya Calio.


Alvin mengangguk. "Jangan mengubah jadwalku lagi Cal, aku dan Keke sudah siap berangkat. Pemindahan pemakaman orang tuaku itu tak boleh dilakukan orang lain." jawabnya.


"Kau memang keras kepala Vin, aku tak bisa melarangmu. Aku hanya khawatir tentang kesehatanmu saja Vin." ujar Calio.


Alvin tertawa. "Aku sudah lebih baik setelah meminum obat. Cal, saat aku berada di Indonesia mungkin bu Farah akan kembali kemari. Dan aku ingin kau yang menjemputnya. Mungkin ia akan membawa banyak hasil dari bunga itu. Kau gunakan mobil pick up perusahaan, dan bawa semuanya ke gudang belakang rumah. Jangan ada satu pun orang yang tahu tentang ini." ujarnya.


Calio mengangguk. "Kau tenang saja, aku akan menjaga rahasiamu ini." jawabnya. "Vin apa yang kau lakukan pada Keke sebelum kau tak sadarkan diri?" tanya Calio.

__ADS_1


Alvin mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang kau tanyakan?"


Calio tertawa. "Mungkin seisi rumahmu termasuk aku dan dokter Mattew melihatnya dengan jelas, banyak sekali bekas kissmark di lehernya. Kau ternyata cepat juga." godanya.


Alvin menendang kaki Calio. "Sialan, apa itu terlihat sangat jelas?" tanyanya.


Calio tertawa dengan keras. "Pria yang hebat."


"Kau jangan berpikir macam-macam, aku tak melakukan apapun. Karena kepalaku sakit disaat yang tidak tepat. Aku baru mencium lehernya, hanya itu." jawab Alvin tanpa malu.


"Jangan lakukan malam ini Vin, kalian akan melakukan perjalanan jauh. Jangan buat kekasihmu itu kesakitan sepanjang perjalanan." ujar Calio.


"Dasar pria breng***, tentu saja aku tak mungkin melakukannya. Dan sepertinya ia akan menolakku sebelum menikah, pelayanku terlalu banyak mengajarinya." jawab Alvin.


Calio kembali tertawa terbahak-bahak. "Rasakan itu." ejeknya.


"Diamlah, ini sudah malam. Kau bisa membangunkan seisi rumah ini." kata Alvin kesal.


"Baiklah tuan Mark, sepertinya aku juga harus kembali. Aku akan menjemputmu besok, ingat obat yang diberikan dokter Mattew. Aku akan menghilang dari perusahaan kalau sampai kau tak mau mengikuti kata kataku." ancam Calio.


"Baiklah tuan Calio, aku akan mengikuti apa katamu asal kau tidak menghilang. Kaulah yang menjadi tuanku saat ini." jawab Alvin.


Calio tersenyum lalu pamit meninggalkan rumah Alvin.


*****


Alvin masuk ke kamarnya, wanita yang ia cintai benar benar tertidur dengan lelap. Alvin mendekati wanita itu dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Ia mengecup pipi Keke.


"Sayang, haruskah aku mengirimmu kembali ke duniamu agar kau tak menangis lagi karena aku? Tapi bagaimana caranya kau bisa kembali jika ingatanmu belum kembali? Aku benar benar ingin tahu siapa kau sebenarnya, mengapa kau bisa membuatku jatuh cinta seperti ini?" gumam Alvin.


"Keke, seandainya saja kita bisa selamanya bersama. Aku tak akan pernah menyakitimu, aku akan membahagiakanmu selamanya. Tapi sepertinya aku sendiri saja tak bisa hidup lebih lama, aku tidak yakin bisa melawan penyakitku ini. Tuhan tidak berpihak pada kita sayang, ia akan tetap memisahkan kita." sambung Alvin.


Alvin mengecup kening wanita itu lalu memutari ranjangnya, ia merebahkan diri di samping Keke. Wanita itu memeluknya tanpa sadar, Alvin hanya tersenyum lalu memeluk Keke dan ikut tertidur.


*****


1...


2...


3...

__ADS_1


Next Part...


Happy Reading All...😘


__ADS_2