
Setelah Alvin dibawa ke rumah sakit, Hara segera mencarikan baju yang bisa menutupi leher Keke, karena bekas kissmark yang ditinggalkan Alvin terlihat sangat jelas disana.
"Non Keke baik baik saja kan?" tanya Hara.
"Sebenarnya ada apa dengan Alvin, ia kembali seperti itu setelah menciumku." tanya Keke polos.
Hara hanya tersenyum sambil mengganti baju Keke. "Apakah kalian sudah melakukannya?" tanya Hara usil ingin tahu.
"Melakukan apa?" tanya Keke.
"Hubungan yang lebih dalam seperti suami istri." jawab Hara.
Keke menatap Hara bingung.
Non Keke ternyata benar benar polos walaupun sudah kehilangan ingatannya. pikir Hara.
Hara akhirnya membisikkan sesuatu rahasia itu pada Keke. Wanita itu terbelalak lalu menggeleng.
"Apakah Alvin ingin melakukan itu denganku?" tanya Keke.
Hara tertawa. "Artinya non Keke masih suci." ujarnya.
"Hentikan Hara, kau sangat usil." ujar Ayu masuk ke kamar.
"Aku hanya iseng, aku pikir mereka melakukannya karena banyak bekas kissmark di lehernya." ujar Hara.
"Kau pikirkan keadaan tuan Alvin, bukan malah menambah beban nona Keke. Jika tuan tahu, kau bisa dipecat menanyakan masalah pribadi mereka." kata Ayu kesal.
Keke tiba tiba kembali menangis.
"Non, ada apa?" tanya Ayu dan Hara mulai menenangkannya.
"Aku takut terjadi sesuatu pada Alvin. Aku ingin ke rumah sakit." ujar Keke.
Hara dan Ayu sama sama menggeleng. "Tidak non, tuan paling tidak suka melihatmu menangis. Dan ingatlah banyak orang jahat yang ingin mendekati non Keke. Lebih aman kita menunggu kabar dari tuan Calio saja di rumah." ujar Hara.
"Hara benar non, tuan Alvin pasti ingin non tetap di rumah menunggunya pulang." kata Ayu.
Akhirnya Keke pun mengangguk dan menuruti ucapan pelayannya. Ia hanya bisa menunggu kabar dari Calio tentang keadaan Alvin di rumah sakit.
*****
Calio terus mondar mandir di depan ruang ICU, ia menunggu dokter Mattew selesai memeriksa Alvin. Tak lama kemudian, dokter Mattew keluar. Ia menghela nafasnya dengan berat.
"Aku tak tahu mengapa cepat sekali membesar hanya dalam hitungan setengah hari. Aku pikir kita harus melakukan operasi segera mungkin, tapi Mark masih belum bangun." ujar dokter Mattew.
"Aku pikir kita harus segera bertindak dok, aku tak ingin kehilangannya." jawab Calio.
"Tapi jika kita melakukannya tanpa persetujuannya, aku takut ia akan membunuh kita." kata dokter Mattew.
__ADS_1
"Aku akan berbicara dengannya setelah ia sadar." kata Calio.
Dokter Mattew mengangguk. "Lakukanlah Cal, aku harap Mark mau mendengarkanmu."
"Terima kasih dokter." jawab Calio.
Alvin keluar dari ruang ICU menuju ruang perawatan. Calio terus menunggunya sampai pria itu sadar. Hari semakin sore, akhirnya pria itu bangun, matanya terbelalak karena melihat keadaan ruangan. Ia menatap tajam Calio yang tertidur di sofa ruangan.
"Cal..." panggil Alvin.
Calio terkejut lalu segera bangun dan mendekati Alvin.
"Kau sudah bangun?" tanya Calio.
"Apa yang terjadi? Mengapa aku ada di rumah sakit?" tanya Alvin.
"Kau sakit dan tak sadarkan diri Vin, aku dan dokter Mattew membawamu ke rumah sakit." jawab Calio.
"Kau gila Cal, untuk apa aku ke rumah sakit. Aku baik baik saja, dimana Keke?" tanya Alvin kesal.
"Tenanglah Vin, kau tidak baik baik saja. Kanker yang kau derita semakin menyebar, kita harus melakukan operasi besok. Wanitamu tentu saja di rumah, ia baik baik saja." jawab Calio lagi.
"Aku tahu seperti apa kekasihku itu, ia tak mungkin baik baik saja. Aku akan ke Indonesia besok, aku tak akan melakukan operasi sampai urusanku selesai." bentak Alvin.
"Jangan keras kepala Vin, kau bisa menyuruh pak Santoso mengurus pemindahan pemakaman orang tuamu. Kau butuh perawatan." ujar Calio.
"Tidak..." ujar Alvin seraya mencabut selang infusnya sendiri.
"Ya aku memang gila, kemarikan ponselmu." pinta Alvin.
"Untuk apa?" tanya Calio.
"Jangan banyak tanya Cal, kemarikan." pinta Alvin lagi.
Calio merogoh saku celananya dan memberikan ponselnya pada Alvin. Alvin segera mengambil ponsel itu.
"Halo Hara, bagaimana keadaan Keke?" tanya Alvin.
"Maafkan kami tuan, non Keke tak bisa kami tenangkan. Ia terus menangis dan menolak semua makanan yang kami berikan." jawab Hara.
"Aku akan segera kembali." jawab Alvin lalu mematikan ponselnya dan memberikannya pada Calio. "Kau mau mengantarku pulang atau membiarkanku pulang naik taksi?" tanyanya.
"Kita menunggu dokter Mattew terlebih dahulu Vin." jawab Calio.
"Aku tak bisa menunggu sampai rumahku banjir air mata Keke. Kalian memang sudah gila membuatnya seperti itu." jawab Alvin.
"Kau pikirkan kesehatanmu, apa kau mau kesakitan di depan Keke. Kau lah yang membuatnya seperti itu." ujar Calio.
Alvin turun dari ranjang rawatnya, ia sama sekali tak memperdulikan kata kata Calio, yang ia pikirkan hanya kekasihnya.
__ADS_1
"Tenanglah Mark, aku ingin bicara padamu." ujar dokter Mattew masuk ke ruangan. "Kau bukan anak kecil lagi yang harus dipaksa melakukan perawatan." sambungnya.
"Apapun itu, katakan nanti dok. Aku lebih khawatir pada kekasihku sekarang." jawab Alvin.
"Jangan membuat kesalahan persis seperti ibumu Mark." bentak dokter Mattew.
Alvin menatapnya tajam, ia marah karena lagi lagi dokter Mattew menyinggung ibunya.
"Kau tahu, ibumu tidak mau melakukan operasi saat penyakitnya masih stadium awal. Ia lebih suka menderita sendiri karena takut kehilangan ingatannya. Ia takut tak mengenali suami dan anaknya. Tapi Tuhan memanggilnya bersama ayahmu dalam situasi berbeda. Jangan lakukan itu Mark, kemungkinan kau kehilangan ingatanmu hanya 20%, sisanya berhasil. Jika kau terus menolak melakukan pengobatan dan operasi justru kau akan terus menyakiti kekasihmu, karena penyakitmu ini lebih cepat menyebar dibandingkan penyakit ibumu. Mark dengarkan aku, sebelum semakin membesar lebih baik kita lakukan operasi besok." ujar dokter Calio.
"Aku tak bisa, aku akan ke Indonesia dan tak mungkin aku membatalkan semua itu. Aku janji akan melakukannya dengan cepat dan kembali kemari, setelah itu aku serahkan tubuhku pada kalian." kata Alvin.
"Bagaimana jika kau sakit saat berada disana?" tanya Calio.
"Itulah gunanya dokter Mattew, berikan aku obat terbaik agar aku bisa menahan rasa sakitku." jawab Alvin.
Calio menatap dokter Mattew. Mereka sama sekali tak bisa merayu Alvin.
"Baiklah, aku akan memberikan obat terbaik. Tapi kau berjanjilah paling lama satu minggu disana. Lalu kita akan mengatur operasi sehari setelah kau kembali." ujar dokter Mattew.
"Akan aku usahakan. Ayo Cal, rumahku mungkin sudah penuh dengan air mata Keke." ajak Alvin.
Calio akhirnya mengangguk, dengan terpaksa ia membawa Alvin pulang ke Bougival. Sepanjang perjalanan, Calio hanya terdiam tidak seperti biasanya.
"Bicaralah Cal, jangan terus marah seperti ini. Aku sudah baik baik saja." ujar Alvin.
"Kau tak tahu seberapa khawatirnya aku saat ini Vin, bagaimana jika kau sakit saat jaug dariku?" tanya Calio.
"Aku membawa obat Cal, dan ada Keke. Aku bisa melewati semuanya jika berada di samping wanita itu." jawabnya.
"Omong kosong, kalian sama sama pasien. Bagaimana kalian bisa saling menguatkan." kata Calio kesal.
"Cinta... itulah kekuatan kami." ujar Alvin sambil tertawa.
"Aku akan menghubungi pak Santoso untuk menjagamu selama disana." ujar Calio.
"Kau sama saja menyebarkan penyakitku ke seluruh dunia tuan Calio. Aku akan menghubungimu agar kau tak khawatir terus menerus." janji Alvin.
"Aku pegang janjimu, jika kau melanggarnya aku akan mogok kerja." ancam Calio.
Alvin kembali tertawa, Calio hanya berdecak kesal pada temannya itu. Keduanya akhirnya sampai di Bougival, Alvin segera berlari masuk menuju kamar tanpa memperdulikan sapaan para pelayannya.
*****
1...
2...
3...
__ADS_1
Next Part...
Happy Reading All...😘