
Calio menghubungi Alvin, pria itu langsung memarahi Alvin seperti ia seorang ayah.
"Kau gila Vin, aku sangat mengkhawatirkanmu tapi kau belum memberi kabar." ujar Calio.
Alvin tertawa. "Kau seperti kakek tua Cal, aku baru saja selesai makan siang bersama mereka, aku tahu ini sangat larut disana. Aku berniat menghubungimu nanti malam."
"Aku 24 jam bersedia menunggumu, setidaknya kau bisa kirim pesan padaku jika kau sudah sampai. Aku hanya memikirkan kesehatanmu." ujar Calio masih terdengar kesal.
"Aku tak merasakan apapun Cal, aku baik baik saja. Justru Keke yang sempat sakit karena jetlag. Tapi kami sekarang benar benar baik baik saja." jawab Alvin.
"Siapa?" tanya Keke menghampiri Alvin.
"Kemari sayang, ini ada kakek tua sedang mengomel." ejek Alvin seraya menyerahkan ponselnya pada Keke.
"Halo..." sapa Keke.
"Halo nona Keke, bagaimana keadaanmu?" tanya Calio.
"Kau Calio, aku baik baik saja." jawab Keke.
"Iya aku Calio, syukurlah jika kau dan Alvin baik baik saja." kata Calio.
"Kau jahat Alvin, mengapa kau bilang ini kakek tua." ujar Keke pada Alvin.
"Pria itu tak berhenti mengomel sayang karena aku tak memberi kabar padanya. Hanya kakek tua yang suka mengomel." jawab Alvin.
"Sialan." ujar Calio.
Alvin mengambil ponselnya dari Keke. "Baiklah tuan Calio yang terhormat, kau sudah tahu kabarku. Malam semakin larut disana, lebih baik kau beristirahat sekarang. Mungkin aku besok mulai sibuk, aku tak bisa menghubungimu. Tolong jaga perusahaanku dengan baik, dan ingat pesanku soal bu Farah." kata Alvin.
"Kau tenang saja, serahkan semuanya padaku. Minum terus obatmu, dan jaga Keke juga. Aku akan menghubungimu jika aku mendengar ada yang tidak beres." jawab Calio seraya mematikan ponselnya.
Alvin menghela nafasnya lalu menatap Keke. "Kau dengarkan seperti apa Calio, pria itu sangat bawel." ujarnya.
"Pria itu sangat baik Alvin, ia mengkhawatirkan kita. Kau sangat jahat memanggilnya kakek tua." kata Keke.
Alvin tertawa lalu menarik Keke kepangkuannya.
"Lepas Alvin, disini banyak pelayanmu." ujar Keke.
"Mereka tidak ada, mereka sudah kembali ke paviliun. Tinggal kita berdua saja." jawab Alvin.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Keke.
Alvin mengangkat tubuh Keke dan membopongnya. "Saatnya istirahat sampai makan malam nanti." jawabnya seraya membawa Keke ke kamarnya.
Keke hanya bisa tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari kekasihnya. Keduanya benar-benar menghabiskan waktu untuk beristirahat sampai datang makan malam.
*****
Keesokan harinya, Alvin dan Keke bersiap siap menuju perusahaannya. Alvin tak ingin memperlambat waktunya untuk menyelesaikan masalah di Indonesia, karena ia harus cepat kembali ke Paris untuk melakukan operasi dan pemeriksaan kesehatan Keke. Pak Santoso sudah berada di rumah Alvin untuk kembali menjemputnya.
"Pagi pak, nona..." sapa pak Santoso.
"Selamat pagi juga. Seharusnya kau tak perlu menjemputku, aku bisa menggunakan mobilku sendiri." jawab Alvin.
"Aku lebih nyaman menjemput anda pak. Apakah anda akan membawa nona Keke ke perusahaan?" tanya pak Santoso.
Alvin mengangguk. "Aku akan membawa kekasihku kemanapun." jawabnya sambil menggenggam tangan Keke.
"Baiklah, silahkan..." ujar pak Santoso sambil membukakan pintu mobilnya.
Alvin dan Keke masuk kedalam mobil itu, mereka semua berangkat menuju PT. Mark Manequin Indonesia.
"Mohon maaf pak Alvin, aku mengambil keputusan sendiri. Aku membatalkan acara penyambutan anda, karena aku tahu nona Keke takut berinteraksi dengan orang lain." jawab pak Santoso sambil mengendarai mobilnya.
"Anda memang sangat perhatian, terima kasih itulah yang aku harapkan. Aku ingin memasuki perusahaan dengan tenang bersamanya." ujar Alvin.
Pak Santoso menganggukkan kepalanya.
"Sayang, mungkin ada banyak orang di perusahaan. Tapi kau tak perlu takut, aku selalu bersamamu. Jangan jauh-jauh dariku, nanti kau akan bertemu dengan Vina, sekertaris yang aku ceritakan kemarin." ujar Alvin pada Keke.
Wanita itu mengangguk. "Apa banyak orang jahat di perusahaanmu?" tanyanya.
Alvin tertawa sedangkan pak Santoso hanya tersenyum mendengarnya. "Tentu tidak ada orang jahat di perusahaanku sayang, hanya karyawan biasa. Aku mengatakannya bukan untuk menakutimu, hanya saja aku takut kau tidak nyaman berada disana."
"Iya aku mengerti." jawab Keke.
Alvin menggenggam tangan Keke sambil menepuk punggung tangannya mencoba menenangkannya. Perjalanan ke perusahaan cukup jauh karena kota Bandung juga cukup macet.
Di sisi lain, walaupun tidak ada acara penyambutan buat atasan mereka tapi mereka tetap sibuk mempersiapkan semuanya, apalagi kabar yang didengar jika Alvin Mark akan datang bersama kekasihnya yang sangat mirip dengan manequin buatan pertamanya. Walaupun Alvin Mark selalu membawa manequin Keke bersamanya tapi kali ini berbeda, atasan mereka membawa seseorang yang benar benar bisa berjalan dan berbicara.
Setelah merasakan hukuman dari raja peri, Anem lebih banyak diam. Beberapa hari sudah ia jalani hukuman itu, sedangkan pak Santoso sudah sembuh total dan menjemput atasannya. Tapi Anem masih belum lepas dari rasa hambar pada mulutnya. Ia kini berada di lobi perusahaan, karena ia ingin sekali menatap wajah kekasih atasannya langsung. Jika wanita itu benar benar peri Keke, ia akan melakukan hal apapun untuk mengambilnya dari tangan Alvin Mark.
__ADS_1
Dua jam telah berlalu, karyawan perusahaan mulai heboh saat mobil pak Santoso sudah ada di pintu masuk. Pak Santoso turun dari mobilnya, sedangkan sekuriti sedang membukakan pintu mobil penumpang. Seorang pria yang sangat tampan turun dari mobil itu.
Pria yang gagah sekali membuat para wanita di perusahaan itu berdecak kagum. Pria itu menunduk ke pintu penumpang dan mengulurkan tangannya. Sebuah tangan wanita menyambut uluran tangan pria itu dan keluar dari mobil.
Anem seketika terbelalak saat melihat wanita itu, benar dugaannya ia adalah wanita yang selama ini terpisah dengannya, peri Keke. Semua karyawan ikut menatap kagum wanita yang sedang berjalan masuk ke perusahaan bersama Alvin Mark.
Semuanya berbisik heran karena wanita yang dibawa Alvin Mark benar benar mirip sebuah manequin.
Benar benar cantik sekali seperti boneka, apa ini suatu kebetulan saja atau memang kabar dari pak Mark itu nyata jika wanita itu teman kecilnya. Sungguh sangat serasi, keduanya seperti seorang raja dan ratu. Ya Tuhan, aku iri sekali.
Seperti itulah yang Anem dengar dari ucapan para karyawan yang ada di sekitarnya.
"Pak Anem, anda sedang apa disini?" tanya Vina.
Anem terkejut lalu menatap wanita yang menyapanya. "Aku ingin melihat atasan kita, aku penasaran." jawabnya.
"Anda bisa menemuinya nanti, karena pak Mark memang ingin menemui anda. Aku permisi untuk menyambutnya." kata Vina seraya meninggalkan Anem.
Vina menyambut kedatangan Alvin dan Keke. "Selamat pagi pak Mark, apa kabarnya?" sapanya seraya mengulurkan tangannya.
Alvin Mark menyambut uluran tangan Vina. "Pagi Vina, tentu aku baik baik saja. Bagaimana denganmu? Oh ya, ini kekasihku Keke. Sayang, ini sekertaris yang aku ceritakan padamu." ujar Alvin.
Vina tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Keke. Keke mau menyambut uluran tangan Vina.
"Aku juga sangat baik pak Mark, mari kita ke kantor." ajak Vina.
Alvin mengangguk dan membawa kekasihnya mengikuti Vina dan pak Santoso menuju kantornya. Anem semakin terbelalak saat mereka melewatinya, ia tak salah lagi wanita itu benar benar peri Keke. Ia bisa merasakan aroma tubuhnya. Ingin sekali Anem menarik wanita itu, menyadarkannya dan memeluknya.
Mereka semua menghilang di dalam lift, Anem hanya bisa menunggu kesempatan untuk bertemu Alvin Mark dan mendekati peri Keke.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1