
Cahaya matahari mulai masuk menyilaukan mata Keke. Wanita itu terbangun dan terkejut saat melihat Alvin tidur bersamanya. Pria itu sangat kelelahan, ia tertidur dengan pulas. Keke kelaparan jadi ia turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.
Alvin terbangun dan mencari keberadaan Keke. Tempat tidur disampingnya kosong, ia mendengar suara percikan air dalam kamar mandi lalu tersenyum. Alvin langsung keluar dari kamar itu.
"Selamat pagi tuan Mark." sapa Calio.
"Oh ya ampun, aku lupa jika kau masih di rumahku. Selamat pagi juga Cal, kau sudah sarapan?" tanya Alvin.
Calio mengangguk. "Jika kau tak membutuhkan aku lagi, sebaiknya aku kembali ke perusahaan. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku tangani mengingat kau belum bisa ke perusahaan." ujarnya.
Alvin mengangguk. "Tolong siapkan konferensi pers besok dengan baik Cal, aku akan membawa Keke dan mengenalkannya pada dunia." pintanya.
Calio kembali mengangguk. "Itu pasti Vin, aku akan menyiapkannya dengan baik. Bagaimana keadaan Keke?" tanyanya.
"Semalam dokter Mattew datang setelah operasi, ia mengatakan Keke sudah baik baik saja. Hanya saja ia dilarang memakan seafood untuk sementara." jawab Alvin.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat sekarang." ujar Calio.
"Sekali lagi terima kasih Cal dan hati hati dijalan." kata Alvin.
Calio melambaikan tangannya dan keluar dari rumah Alvin. Alvin kembali ke kamarnya dan mendapati wanita cantik itu sudah rapi.
"Pagi sayang." sapa Alvin seraya mendekati Keke.
"Pagi juga Vin, aku mencarimu." jawab Keke.
Alvin memeluk Keke dari belakang. "Apa kau merindukanku atau kau takut kehilanganku?" tanyanya.
"Keduanya." jawab Keke. "Kau mandilah lalu temani aku makan, aku sudah lapar." sambungnya.
Alvin mengecup pundak Keke. "Aku akan segera turun menemuimu." ujarnya seraya masuk ke kamar mandi.
Keke berusaha mengendalikan nafasnya yang memburu, entah mengapa kecupan Alvin membuat jantungnya berdebar semakin keras. Ia keluar dari kamar itu menuju ruang makan.
"Pagi non Keke." sapa Hara.
"Pagi juga, maaf soal kemarin. Aku sudah membuat kalian khawatir dan kerepotan." ujar Keke.
Hara menggeleng. "Tidak apa-apa non, kami yang salah karena tidak menjagamu dengan baik."
"Aku tak tahu kenapa aku alergi obat kolam renang, aku selalu berpikir dan mengingat masa laluku tapi aku masih tak ingat apa-apa." kata Keke.
"Jangan memaksakan ingatanmu sayang, kau akan melukai dirimu sendiri." ujar Alvin seraya bergabung dengan Keke di meja makan.
"Kau cepat sekali mandinya, bukankah kau paling lama saat mandi." ejek Keke.
__ADS_1
Hara terkekeh mendengar ucapan Keke, Alvin memang sangat lama jika sudah masuk kamar mandi.
"Aku tak ingin membuatmu menunggu sayang, bukankah dari semalam wanitaku ini kelaparan." jawab Alvin.
Keke tersenyum. "Baiklah ayo kita makan." ajaknya.
Alvin mengangguk, keduanya menikmati sarapan pagi bersama.
"Besok kita akan ke perusahaan, aku akan mengenalkanmu ke publik. Jangan banyak menjawab, kau ikuti saja apa kataku. Dan jangan jauh jauh dariku." ujar Alvin.
Keke mengangguk. "Apa selama ini aku belum pernah kau kenalkan?" tanyanya.
Alvin mengangguk. "Kau rahasia terbesarku sayang, kau tak mengingat apapun. Kita sudah pernah membicarakan ini." jawabnya. "Jangan coba-coba mengingatnya Keke, perlahan kau pasti akan mengingat semuanya tapi jangan pernah paksakan ingatanmu, aku tak ingin kau kesakitan." sambungnya.
"Oke, oke...kau cerewet sekali." jawab Keke.
Hara dan pelayan yang lain tertawa. Alvin menatap mereka dengan tajam, lalu seketika mereka terdiam menahan tawanya. Alvin sangat berbeda saat bersama Keke. Pria keras itu sangat penurut pada Keke.
Alvin menyelesaikan sarapannya. "Kau akan aku hukum karena mengatakan aku cerewet." ujarnya seraya menarik wajah Keke lalu mencium bibirnya, ia melakukan itu tanpa malu di depan para pelayan.
Keke terbelalak saat Alvin menyentuh bibirnya, Alvin tak mau melepaskan bibirnya sampai akhirnya Keke menyerah. Para pelayan meninggalkan keduanya karena mereka tak ingin mengganggu adegan romantis itu.
Alvin melepaskan ciumannya. "Apa kau ingin aku hukum lebih dari ini?" tanyanya.
Alvin tertawa terbahak-bahak saat melihat Keke berlari meninggalkannya.
*****
INDONESIA
Peri Anem akhirnya dapat berkomunikasi lagi dengan peri Harva dan peri Vivi. Keduanya sudah berpindah ke negara yang baru. Peri Harva kini ada di Italia, sedangkan peri Vivi sudah ada di Jepang. Keduanya masih belum menemukan mawar biru, peri Vivi justru sangat antusias menceritakan bunga sakura yang ia lihat di Jepang.
Ketiganya sedang melakukan panggilan video paralel.
"Oh ayolah Vi, kita tak ada waktu untuk mengagumi bunga yang lain." ujar Anem.
"Aku juga sedang mencari mawar biru, tapi aku tak bisa mengabaikan bunga ini. Aku datang tepat di musim semi. Ya Tuhan, aku benar benar takjub." ujar Vivi.
Peri Harva tertawa mendengarnya. "Vi, kita sudah menghabiskan waktu 2 bulan di dunia manusia. Jika kita gagal, kita bisa berakhir seperti peri Keke." ujarnya.
"Apa kau sudah menemukan Keke?" tanya Vivi pada Anem.
Anem menggeleng. "Aku tak tahu kapan akan bertemu dengannya, tapi raja peri mengatakan aku akan segera bertemu dengannya." jawabnya.
"Aku sangat merindukannya, peri yang malang." ujar Vivi.
__ADS_1
"Jangan katakan itu, raja peri mengatakan ia jatuh cinta pada manusia. Tapi aku yakin peri Keke tak tahu soal cinta, mungkin yang dimaksud raja peri, wanita itu hanya terlalu dekat dengan manusia." kata Anem.
"Baiklah, kau mungkin saja benar. Aku harap wanitamu itu tak benar benar jatuh cinta pada manusia." ujar Harva.
"Aku akan menghancurkan siapapun yang mengambil Keke dariku, walaupun itu manusia." jawab Anem.
"Kau harus bersabar peri Anem, aku yakin kita bisa berkumpul dan kembali lagi ke dunia kita." ujar Vivi.
"Aku harap seperti itu, tapi apa kalian sudah melihat tanda tanda keberadaan mawar biru itu?" tanya Anem.
Keduanya menggeleng. "Kenapa kau masih berada di Indonesia? Berpindahlah seperti kami." ujar Harva.
Anem menggeleng. "Aku belum bisa berpindah, raja peri bilang aku akan bertemu dengan Keke disini. Aku akan menunggunya, membawanya pergi dan berpindah negara lain untuk mencari mawar biru itu bersama." jawabnya.
"Jadi raja peri mengatakan kalian akan bertemu di Indonesia, aku jadi ingin kesana." ujar Vivi.
"Tidak." jawab Anem dan Harva bersamaan.
"Ya...ya... baiklah... Kalian ini kapan mengerti aku." ujar Vivi kesal.
"Lebih cepat mendapatkan mawar biru lebih baik. Tapi hukuman peri Keke akan berakhir jika ia yang bisa menemukan mawar biru itu. Bagaimana jika kita terlebih dahulu yang menemukannya?" ujar Anem.
"Kami akan mencari keberadaan mawar itu saja, lalu kami akan mengatakannya padamu. Jadi kau dan peri Keke bisa melihat lokasi mawar itu." ujar Harva.
"Itu buruk, raja peri ingin Keke menemukannya sendiri. Jadi jika kalian menemukannya pun, percuma itu tidak akan membuat Keke lepas dari kutukannya." jawab Anem.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Vivi.
"Kalian tetap mencarinya, aku dan Keke juga akan mencari. Kedepannya kita lihat saja harus seperti apa, aku akan memohon ke raja peri untuk melepaskan hukuman itu." jawab Anem.
Keduanya mengangguk. "Baiklah cukup sekian hari ini, kita akan berhubungan bulan depan lagi. Selamat berusaha, jangan pernah melakukan kesalahan seperti peri Keke." ujar Harva.
Ketiganya memutuskan sambungan telepon itu dan kembali dengan kegiatan masing-masing sambil mencari keberadaan mawar biru.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1