Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 23


__ADS_3

Alvin Mark bertemu Calio untuk membicarakan pekerjaannya. Keduanya saling berbincang mengenai pembuatan manequin baru untuk Australia dan juga kebun rahasianya.


"Jangan banyak tanya disini Cal, banyak sekali telinga. Aku tak mau ada orang lain yang tahu soal kebun itu." ujar Alvin.


"Maafkan aku Vin, aku hanya penasaran saja. Apa aku boleh ke Dinan?" tanya Calio.


"Tentu saja, kita akan kesana bersama bu Farah. Setelah itu atur konferensi pers untuk pengenalan Keke. Aku ingin segera membawanya keluar minggu depan." jawab Alvin.


"Kau yakin manequin Keke palsu sangat mirip." bisik Calio.


Alvin mengangguk. "Aku sangat yakin, aku membutuhkanmu tengah malam untuk membawa manequin itu. Lalu akan aku bawa di acara konferensi pers. Keduanya harus disandingkan sebagai bukti jika aku tak berbohong pada mereka. Tapi aku masih takut, aku takut membuat Keke tidak nyaman bertemu orang orang di sekitarnya." ujar Alvin.


"Aku bisa mati penasaran dengan Keke mu itu Vin, kau sama sekali belum mempertemukan aku dengannya." kata Calio.


"Minggu depan saat kita akan berangkat ke Dinan, aku akan memperkenalkan Keke padamu. Bersabarlah Cal, ini tidak mudah. Aku masih merasa seperti mimpi bertemu dengan manequin kesayanganku hidup." jawab Alvin.


Alvin sudah menandatangani semua dokumen yang dibawa Calio. Wajahnya kembali murung saat mengingat penolakan Keke.


"Ada masalah lain?" tanya Calio.


Alvin mengangguk. "Tapi aku bingung haruskah aku menceritakannya padamu." jawabnya.


"Kau bisa membuatku mati penasaran Vin, katakanlah. Aku selalu menjaga setiap ucapanmu." ujar Calio.


"Dasar bodoh, bukan itu maksudku. Aku sangat percaya padamu, tapi aku bingung dan tentu saja malu." kata Alvin, ia menghela nafasnya dengan berat. "Aku mengatakan perasaanku pada Keke tadi pagi." sambungnya.


"Wah, itu sangat bagus. Selama ini kau selalu menolak wanita manapun yang mendekatimu termasuk Karen, sekarang justru kau yang mengatakannya terlebih dahulu. Selamat Vin." ujar Calio.


Alvin tertawa tapi wajahnya sangat sedih. "Aku ditolak." ujarnya membuat Calio terkejut.


"Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana mungkin seorang Alvin di tolak wanita?" tanya Calio.


"Tentu saja karena Keke berbeda Cal, bahkan ia menyuruhku berhenti mencintai. Tapi bukan itu yang aku pikirkan Cal, Keke sangat ketakutan saat aku mengatakan cinta padanya. Ia bilang tak boleh terlibat perasaan dengan manusia." jawab Alvin.


"Itulah jawabannya Vin, mengapa kau sedih. Keke menolakmu karena memiliki alasan yang kuat, artinya ia mungkin saja memiliki perasaan yang sama padamu." ujar Calio.


"Aku harus berhenti Cal, aku tak ingin melihatnya ketakutan seperti itu." ujar Alvin.

__ADS_1


Calio menepuk pundak Alvin. "Lakukanlah apapun yang menurutmu baik, kau tak perlu meminta pendapat apapun pada orang lain tentang perasaanmu Vin." pesannya.


Alvin mengangguk. "Kau benar sekali Cal, terima kasih." ujarnya.


"Baiklah pak Alvin, aku tak akan menyita waktumu lebih banyak lagi. Aku tunggu kabar selanjutnya, kau tenang saja soal perusahaan. Aku akan membantumu sebisa mungkin." kata Calio.


"Terima kasih sekali lagi pak Calio, aku serahkan semuanya padamu." jawab Alvin.


Calio mengangguk dan segera meninggalkan Alvin di pabrik, sedangkan Alvin kembali ke ruang rahasianya yang ada di pabrik itu untuk menyelesaikan pembuatan manequin Keke palsu.


*****


INDONESIA


Anem sudah mengunjungi beberapa kota dan pedesaan di Indonesia untuk mencari mawar biru, tapi ia masih tak menemukannya di negara ini. Ia juga sudah berkomunikasi dengan peri yang ditugaskan bersamanya. Peri Harva ada di China sedangkan peri Vivi ada di Amerika, mereka semua masih belum menemukan mawar biru. Sedangkan Anem masih kehilangan kontak dengan peri Keke.


Anem sangat bingung mengapa sulit menghubungi peri Keke, ia sudah mengirimkan pesan pada Raja Peri tentang peri Keke tapi belum ada balasan dari sang Raja. Anem kembali sibuk mengawasi pengemasan manequin untuk dikirim ke Paris karena di Paris lah perusahaan utama yang akan mengirimkan manequin ke negara Singapura dan Malaysia. Setelah itu ia akan sibuk kembali mengawasi pabrik untuk pembuatan manequin pesanan negara Australia.


Tentu saja Anem juga sangat penasaran dengan pimpinan perusahaan, Alvin Mark yang akan datang ke Indonesia. Ia ingin sekali menemui pria itu, pria yang terkesan angkuh dan sombong dari cara bicaranya.


"Pak Anem, bagaimana pengemasannya?" tanya pak Santoso.


Pak Santoso tersenyum. "Kau sedang memikirkan apa pak. Mengapa kau sangat terkejut?" tanyanya.


"Tidak ada apa apa, mungkin aku hanya lelah melihat barang barang itu." ujar Anem.


Pak Santoso kembali tertawa. "Cepatlah mencari istri, agar lelahmu akan digantikan dengan senyumannya di rumah." goda pak Santoso.


Anem menghela nafasnya. "Aku kehilangan kekasihku pak, aku akan mencarinya sampai kemanapun. Jadi aku tak memiliki niat untuk mencari wanita lain." jawabnya.


"Kekasihmu hilang? Maksudmu diculik atau bagaimana?" tanya pak Santoso terkejut.


"Ada suatu musibah alam yang membuat kami terpisah." jawab Anem datar.


"Aku turut prihatin pak Anem, pria tampan seperti anda sangat setia pada satu wanita. Aku harap kau bisa menemukan wanita itu." ujar pak Santoso.


"Terima kasih banyak pak Santoso." jawab Anem.

__ADS_1


"Baiklah aku percayakan pengemasan ini padamu, jangan sampai salah pak Anem. Pimpinan kita sangat benci sedikit saja kesalahan pada karyawannya. Aku akan kembali ke kantor untuk mengurus dokumen Australia." pesan pak Santoso.


Anem mengangguk dan membiarkan orang kepercayaan Alvin Mark itu kembali ke kantornya. Anem kembali menatap manequin manequin itu.


"Manusia memiliki teknologi canggih yang bisa membuat tiruan seperti boneka ini, mereka memang sangat hebat dan boneka boneka ini sangat diminati di berbagai negara di dunia manusia. Mereka menggunakan manequin ini untuk pajangan toko pakaian dan macam macam lainnya." gumam Anem.


"Bahkan ada yang dipakai sebagai pemuas nafsu mereka." ujar Hendro dibelakang Anem.


"Kau mengejutkan aku." bentak Anem.


Hendro terkekeh. "Maaf pak, aku ingin mengambil cuti selama 2 hari. Aku sudah mengajukannya ke kantor." ujarnya.


"Lalu...?" tanya Anem.


"Aku takut pak Anem merindukan aku, makanya aku pamit." ujar Hendro seraya tertawa.


Anem menendang kaki Hendro. "Aku masih pria normal, aku menyukai wanita." jawab Anem. "Sudah sana pulang, jika ingin cuti." sambungnya.


"Yah malah diusir, padahal aku masih ingin melihat pengemasannya." ujar Hendro.


"Tugasmu di dalam pabrik, kau hanya akan mengganggu yang lain." ujar Anem.


"Baiklah pak Anem yang pemarah, aku pulang sekarang. Lebih baik anda juga beristirahat, karena setelah pengemasan selesai, bos di Paris memberi libur satu hari." ujar Hendro.


Anem menendang kaki Hendro lagi. "Sialan, kau malah mengajariku." ujarnya.


Hendro tertawa dengan keras sambil berlari meninggalkan Anem. Hendro memang karyawan pabrik yang sangat dekat dengan Anem saat ini. Hendro juga seperti adik bagi Anem. Pria itu sedikit tengil dan usil, tapi itu sangat menghibur Anem disaat ia sedih memikirkan peri Keke. Anem kembali mengawasi pengemasan itu, sebelum ia kembali ke apartemennya untuk beristirahat.


*****


1...


2...


3...


Next Part...

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2