Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 51


__ADS_3

Dua hari sebelum keberangkatan keduanya ke Indonesia, satu masalah akhirnya bisa diselesaikan. Walaupun Karen tetap tak mau melakukan tes DNA janinnya, tapi ada seorang pria yang datang dan mengakui anak yang ada dalam kandungan Karen. Pria itu bahkan membawa bukti video dan foto foto saat mereka bercinta di sebuah hotel setelah mabuk.


Awalnya Karen masih tetap mengatakan anak itu adalah anak Alvin, namun setelah melihat dari catatan dokter tentang usia kandungannya. Ia tak bisa lagi berbohong, jarak antara ia dan Alvin bertemu satu minggu sebelum ia bercinta dengan pria lain. Bahkan ternyata Karen saat itu masih wanita yang suci. Pria itu merasa bersalah karena menodai Karen.


Tangisan Karen terdengar memilukan, ia masih menginginkan Alvin, bukan pria yang sama sekali tak ia kenali. Melihat wanita itu menyedihkan, Alvin mencabut laporannya dari kepolisian. Ia ingin menyelesaikan semuanya dengan damai. Saat inilah konferensi pers akhirnya di gelar. Dengan suara yang serak karena terisak, Karen menjelaskan kebohongannya soal kehamilannya yang diakibatkan oleh Alvin Mark.


Alvin lega setelah wanita itu akhirnya membersihkan namanya, masalahnya dengan Karen akhirnya selesai. Karen akhirnya setuju juga menikah dengan pria yang menghamilinya. Satu masalah lagi tentang penyakitnya, Alvin akan menemui dokter Mattew untuk melihat hasil pemeriksaan 2 hari yang lalu.


Alvin bersama Calio berangkat menuju rumah sakit.


"Bagaimana perasaanmu Vin?" tanya Calio.


"Aku lega soal Karen, namaku berhasil dibersihkan." jawab Alvin.


"Kau terlalu baik dengan wanita itu, seharusnya kau memberinya hukuman yang setimpal atas pencemaran nama baikmu." ujar Calio.


"Ia sedang hamil Cal, aku tak ingin membuat wanita hamil berada dalam penjara. Aku pikir hukuman mentalnya sekarang sudah setimpal, ia akan terus di cap wanita yang jahat di negara ini." kata Alvin.


"Kau benar, tapi aku lebih suka hukumannya lebih dari ini karena bukan hanya kau dan Keke yang menjadi korban tapi aku juga." jawab Calio.


"Maafkan aku, jadi bagaimana hubunganmu dengan tunanganmu?" tanya Alvin.


Calio menggeleng. "Kali ini ia benar-benar marah padaku, jadi tak mungkin kami kembali lagi. Sudah saatnya aku mencari penggantinya." jawabnya.


"Apa semudah itu melupakan tunangan yang sudah bersamamu selama 5 tahun?" tanya Alvin lagi.


"Aku akan mencobanya." jawab Calio datar.


Alvin menggeleng. "Aku akan membantumu mengembalikan tunanganmu Cal. Kau tenang saja."


"Tidak perlu, kami benar-benar tidak cocok. Ia tak pernah mau mengerti kesibukanku." ujar Calio.


"Kau pria yang memiliki pikiran bebas Cal, tidak sepertiku." kata Alvin.


"Kau selalu mendramatisir keadaan." ejek Calio seraya tertawa.


"Sialan..." jawab Alvin.


Keduanya sampai ke rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan dokter Mattew karena memang sudah ada janji temu. Mereka sedang berhadapan, wajah dokter Mattew sudah bisa menunjukkan hasilnya. Dan Alvin sudah tahu itu.

__ADS_1


"Maafkan aku Mark, aku tak bisa berbuat apapun. Sudah stadium 2, aku pikir kau harus segera melakukan operasi sebelum semakin melebar." ujar dokter Mattew.


"Aku akan memikirkannya." jawab Alvin.


"Kau harus melakukannya Vin, bukan memikirkannya." ujar Calio kesal.


Alvin tertawa. "Tentu saja, tapi aku harus berangkat ke Indonesia lusa. Aku tak tahu sampai kapan berada disana." jawabnya.


"Aku akan mengatur jadwal operasimu setelah kau kembali dari Indonesia." kata dokter Mattew.


Alvin menggeleng. "Bukankah kita harus melakukan pemeriksaan terhadap Keke."


"Tentu saja itu tetap kita lakukan. Kau jangan mengulur waktu lagi, penyakitmu cepat sekali menyebar. Aku masih ingat saat menangani ibumu." ujar dokter Mattew.


"Dokter Mattew benar Vin, kau harus segera mencegah penyebarannya. Kita lakukan operasi segera mungkin." sambung Calio.


Alvin menghela nafasnya. "Baiklah terserah kalian saja, apakah ada efek dari operasi itu?" tanyanya.


Dokter Mattew mengangguk. "Jika operasi kita berhasil, kemungkinan kanker itu bisa kita angkat sampai ke akarnya dan kau bisa sembuh seperti sedia kala. Tapi jika kita gagal dan meninggalkan akarnya, kanker itu akan kambuh bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Dan satu hal yang akan terjadi, kemungkinan kau bisa melupakan kami semua." jawabnya.


"Seberapa persen perbandingan antara gagal dan berhasil?" tanya Alvin lagi.


Alvin tertawa. "Lebih baik aku tak melakukan operasi jika akhirnya akan gagal dok, aku tak ingin melupakan Keke dan kalian semua."


"Tidak Vin, kau harus melakukannya. Aku tak ingin kehilanganmu." kata Calio.


"Hei, siapa yang akan menghilang. Aku tak selemah itu Cal." jawab Alvin.


"Pikirkanlah Mark, jangan kau melakukan hal yang sama seperti ibumu." ujar dokter Mattew.


"Terima kasih dok, aku akan memikirkannya. Aku lebih baik kembali sekarang. Keke menungguku." ujar Alvin. "Ayo Cal..." ajaknya.


Calio menarik nafas beratnya seraya mengangguk. Keduanya berpamitan pada dokter Mattew. Dalam perjalanan Alvin lebih banyak terdiam dan melamun.


"Apa kau yakin ingin kembali ke rumah dengan wajah seperti itu?" goda Calio.


Alvin tersenyum. "Obat terbaikku saat ini adalah Keke. Tentu saja kita kembali sekarang. Cal aku titip perusahaan selama aku berada di Indonesia, dan mungkin aku akan menitipkan perusahaanku untuk selamanya padamu."


Calio menginjak rem mobilnya tiba tiba, lalu menatap Alvin tajam. "Kau gila, aku tak mau menjaga perusahaanmu Vin, aku akan buat perusahaanmu bangkrut agar kau tak mengatakan hal itu." ujarnya kesal.

__ADS_1


Alvin tertawa. "Ya Tuhan Cal, aku hanya bercanda. Kau sangat serius, penyakitku baru stadium 2." ujarnya.


"Bercandamu sama sekali tidak lucu Vin. Aku benci kau membicarakan kematian." jawab Calio.


"Baiklah, ayo kita jalan. Untung saja dibelakang tidak ada mobil, bisa bisa kita kecelakaan karena kau mengerem dadakan." goda Alvin.


Calio kembali mengendarai mobilnya, wajahnya masih sangat terlihat kesal. Alvin tak mau berbicara lagi, sebenarnya pikirannya memang benar benar kusut. Disaat ia mulai menemukan kebahagiaan bersama Keke, justru ia harus menelan pahitnya hidup karena penyakit turunannya.


Keduanya sudah sampai di Bougival. Alvin turun dari mobilnya.


"Kau tak mau masuk?" tanya Alvin.


Calio menggeleng. "Masih banyak pekerjaan di perusahaan, kau beristirahat saja. Aku pergi sekarang." jawabnya datar seraya meninggalkan Alvin.


Alvin hanya bisa tersenyum saat mobil Calio lama lama menghilang dari hadapannya. Ini pertama kalinya, Calio marah karena candaannya. Ia tahu sahabatnya itu sangat menyayangi seperti saudara. Tapi siap ataupun tidak siap itulah yang harus ia katakan pada sahabatnya itu. Alvin lebih percaya perusahaan jatuh ditangan Calio daripada pemegang saham yang lain.


Alvin masuk ke dalam rumah, Ayu yang menyambutnya.


"Dimana Keke?" tanya Alvin.


"Nona ada di ruang santai tuan." jawab Ayu.


Alvin mengangguk dan menghampiri kekasihnya yang sedang asyik menonton kartun sambil terus tertawa. Alvin memeluknya dari belakang. Keke terkesiap lalu membalikkan tubuhnya.


"Alvin..." ujarnya lalu berdiri.


Wanita itu memutari sofa lalu memeluk Alvin. Alvin mengangkat tubuhnya lalu mencium bibirnya.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2