
Keke terus menatap wajah Alvin saat mereka sarapan bersama. Alvin tahu jika ia sedang ditatap Keke, dengan genit Alvin mengedipkan matanya.
"Tidak lucu, kau membuatku khawatir semalam." ujar Keke.
Alvin tertawa. "Aku hanya kelelahan sayang, maaf membuatmu kurang tidur."
"Aku tak masalah, aku tak tahu kapan kau memindahkan aku ke kamar. Tapi saat aku terbangun jam 3 pagi, aku terkejut merasakan tubuhmu yang sangat panas. Aku ingin memberikan obat padamu justru kau menciumku. Kau bilang itulah obatnya, dasar pria gila." ujar Keke.
Alvin tertawa terbahak-bahak, ia tak menyadari akan hal itu. Dibawah alam sadarnya pun ternyata ia hanya ingin dekat dengan wanita itu.
"Apakah kau menyukainya?" tanya Alvin.
Keke melempar serbet makan ke arah Alvin. "Kau membuatku gila, tidak lucu." jawabnya.
Alvin mendekati Keke dan menunduk didepan wanita itu. "Jangan pernah tinggalkan aku sayang, apapun yang terjadi aku ingin kau terus bersamaku. Bisakah kau janji padaku?" tanya Alvin.
Keke mengangguk dan mengangkat tubuh Alvin agar berdiri. "Aku janji tidak akan meninggalkanmu, walaupun aku akan melupakanmu, aku akan berusaha mengingatnya."
Alvin memeluk kekasihnya. "Terima kasih, hanya itu yang aku butuhkan saat ini."
"Alvin, katakan ada apa sebenarnya? Aku pikir ada masalah lain? Kau berbeda sejak semalam kembali ke rumah." tanya Keke.
Alvin menggeleng. "Tidak ada sayang, aku akan menyelesaikannya. Kau tak perlu tahu dan banyak berpikir." jawabnya.
"Mark... keluarlah...Aku tahu kau ada didalam belum pergi ke Indonesia. Kau jangan lari dari tanggungjawab." teriak Karen.
"Siapa itu yang berteriak?" tanya Keke.
Alvin mengumpat berkali-kali. "Wanita gila sayang, masuklah ke kamar. Jangan keluar sampai aku menemuimu." pintanya.
"Wanita gila siapa, ada apa sebenarnya?" Keke semakin penasaran.
"Mark... Aku akan memanggil wartawan kemari jika kau tak mau keluar." ancam Karen.
"Hara, katakan pada sekuriti untuk mengusir wanita itu." ujar Alvin. "Keke dengarkan aku sayang, aku akan menjelaskan semuanya jika aku sudah menyelesaikan masalah ini, bisakah kau tenang." pinta Alvin.
Keke mengangguk dan menuju kamarnya diatas.
"Tuan Alvin, wanita itu tak mau pergi juga." ujar Hara.
"Apakah aku harus menemuinya?" tanya Alvin.
"Seharusnya tidak tuan, kami sudah mengatakan anda pergi ke Indonesia." jawab Hara.
"Mark...aku sudah memeriksa penerbangan hari ini menuju Indonesia. Kau tidak ada di daftar penumpang. Aku yakin kau masih di rumah. Keluar Mark, kau harus bertanggungjawab atas kehamilanku." teriak Karen lagi.
Alvin menghubungi Calio. "Cal, wanita gila itu terus berteriak di depan rumahku."
"Kau tenanglah, aku sudah tahu ini akan terjadi. Aku sudah menghubungi pihak keamanan." ujar Calio. "Jangan keluar apapun yang terjadi Vin." sambungnya.
"Baiklah terima kasih Cal." jawab Alvin seraya mematikan ponselnya.
__ADS_1
Tak lama suara sirine kepolisian terdengar.
"Mark... jangan kau pikir aku akan berhenti setelah kau menghubungi kepolisian. Dasar pria brengsek..." teriak Karen.
"Sepertinya ia dipaksa dibawa pergi oleh polisi tuan." ujar Hara.
Alvin merasakan pusing lagi, lalu tiba tiba ia ambruk.
"Tuan..." teriak Hara.
Alvin tak ingat apa-apa lagi, ia hanya mendengar suara tangisan Keke disampingnya dan penjelasan dokter Mattew juga suara Calio. Ia pelan pelan mengerjapkan matanya.
"Alvin, kau bangun. Mana yang sakit?" tanya Keke sambil terisak.
Alvin mengusap air mata Keke. "Aku baik baik saja sayang, jangan menangis." jawabnya.
"Syukurlah kau sudah sadar Vin, aku sangat terkejut saat Hara menghubungiku." ujar Calio.
"Maaf lagi lagi aku membuatmu kerepotan." ujar Alvin.
"Kau jangan memikirkannya." kata Calio.
"Keke, jangan menangis terus. Aku tak apa apa." ujar Alvin.
Keke menggeleng tapi terus menangis. Alvin bangun dan langsung memeluk wanita itu.
"Sejak kapan kau merasakan sakit kepala ini Mark? tanya dokter Mattew.
"Kita harus melakukan CT scan untuk memastikan penyakitmu walaupun aku sudah tahu tapi aku tak mau menebak." ujar dokter Mattew.
Alvin menatap wajah dokter Mattew dan Calio yang khawatir. "Apa kalian mengatakannya pada Keke?" tanyanya.
Keduanya menggeleng.
"Syukurlah, Keke dengar sayang. Aku baik baik saja, hanya sakit kepala." ujar Alvin. "Aku tak suka air matamu." sambungnya seraya menghapus air mata Keke.
"Aku takut, tiba tiba kau pingsan." jawab Keke.
"Kau tak malu dilihat mereka terus menangis seperti anak kecil." goda Alvin.
"Kami keluar dulu Vin, aku akan berbicara dengan dokter Mattew." ujar Calio.
Alvin mengangguk, ia kembali menarik Keke kedalam pelukannya setelah mereka keluar.
"Dasar cengeng." ujar Alvin. "Jika memang benar dugaan dokter Mattew, umurku tak lama lagi sayang. Aku memiliki penyakit kanker otak turunan. Walaupun kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan pesawat, tapi sebenarnya mama memiliki penyakit kanker otak stadium akhir." pikir Alvin.
"Jangan menangis lagi, kau jelek saat menangis." ejek Alvin.
Keke cemberut sambil memukul pelan dada Alvin. "Jangan pingsan lagi, jangan membuatku takut." ujarnya.
Alvin menarik dan memeluknya lagi. "Aku janji, bermainlah dengan Milo. Aku ingin berbicara dengan dokter Mattew dan Calio." pintanya.
__ADS_1
Keke menggeleng. "Aku ingin disampingmu, kau janji ingin memberitahu soal wanita yang berteriak tadi."
"Aku ingin berbicara sebentar dengan mereka, aku mohon." pinta Alvin.
Dengan enggan Keke mengangguk dan memanggil dokter Mattew dan Calio agar masuk ke kamarnya.
"Aku akan kembali lagi setelah kau selesai berbicara pada mereka." ujar Keke seraya meninggalkan Alvin.
*****
"Apakah kemungkinan aku memiliki penyakit yang sama dengan mama?" tanya Alvin pada dokter Mattew.
"Aku tak mau menebak terlalu jauh Mark, tapi kau harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit." jawab dokter Mattew.
"Aku harap tebakan dokter Mattew meleset Vin, aku tak ingin kehilanganmu. Dan kau harus ingat, Keke membutuhkanmu." ujar Calio sedih.
"Kau jangan melankolis Cal, aku bukan pria yang mudah mati." goda Alvin.
"Hentikan jangan katakan soal kematian Mark, umurmu ada di tangan Tuhan." kata dokter Mattew. "Kau harus segera melakukan pemeriksaan jika ingin sehat dan terus bersama kekasihmu." sambungnya.
"Aku akan ke rumah sakit sebelum berangkat ke Indonesia." jawab Alvin.
"Baguslah, itu jawaban yang aku inginkan." ujar dokter Mattew.
"Terima kasih dok. Cal, bagaimana dengan Karen?" tanya Alvin.
"Kau tenang saja, ia sudah diatasi kepolisian agar tidak menggangu daerah Bougival. Dan dokter Mattew ternyata mengenal dokter yang bisa melakukan tes DNA janin." jawab Calio.
"Aku percaya padamu, kau tak mungkin menyentuh wanita sembarangan. Aku akan membantumu mengatasi masalahmu dengan wanita itu." ujar dokter Mattew.
Alvin bernafas lega. "Akhirnya aku bisa sedikit tenang, tapi Keke sangat ingin tahu masalahku. Apa ia akan baik baik saja jika aku mengatakan masalah ini?" tanyanya.
"Aku tak terlalu yakin, tapi cobalah setelah kau benar benar sehat Mark. Aku tak ingin merawat 2 pasien di rumah ini." jawab dokter Mattew.
"Dokter Mattew benar Vin, sebaiknya kau mengatakan masalah ini pada Keke setelah kau sehat." sambung Calio.
Alvin mengangguk. "Tolong antarkan dokter Mattew Cal." pinta Alvin.
Calio mengangguk. "Aku juga sekalian pamit ke perusahaan, masih banyak pekerjaan." ujarnya dan mengantar dokter Mattew keluar dari kamarnya sampai kedepan rumah.
Alvin menghela nafasnya, ia berharap ia hanya kelelahan. Ia tak ingin memiliki penyakit seperti ibunya. Alvin turun dari ranjangnya menuju pintu balkon. Ia menatap ke halaman rumah samping, disanalah pujaan hatinya sedang bermain bersama Milo.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘