Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 38


__ADS_3

Hamparan kebun yang luas hampir seluruhnya berwarna biru membuat mata Calio maupun bu Farah terbelalak. Ini pertama kalinya mereka melihat mawar biru tumbuh di musim dingin di negara Paris.


"Ya Tuhan... Ini sangat luar biasa tuan. Bagaimana tuan bisa melakukan ini semua tanpa diketahui?" tanya bu Farah.


"Inilah kelebihan tuanmu bu." jawab Calio.


"Kalian berlebihan, saat itu aku sedang mencari bahan bahan pembuatan mata manequin, dan aku baru tahu jika mawar biru itu bisa menghasilkan warna alami dan tahan lama. Aku mempelajari pengetahuan berkebun selama satu tahun, setelah aku memahaminya aku mencari lokasi yang tepat untuk menanamnya. Disinilah aku bertemu pak Jordi yang berpengalaman merawat tanaman mawar. Bahkan mawar biru ini ternyata bisa menghasilkan keharuman yang tahan lama, jadi selain aku berniat menggunakan mawar ini untuk pewarna, aku juga akan mencoba membuat parfum dari mawar ini." jawab Alvin.


"Dan setelah beberapa tahun, mawar ini akhirnya tumbuh dengan sempurna. Ini mawar yang paling susah tumbuh dari warna yang lain. Aku sempat kehilangan akal untuk mencari cara agar mawar ini tumbuh." ujar pak Jordi.


"Terima kasih pak Jordi, aku senang kau sangat sabar merawat kebunku ini." kata Alvin.


"Itu sudah menjadi tugasku tuan." jawab pak Jordi.


"Rasa penasaranku terjawab sudah Vin, selama ini kau hanya bercerita dan sekarang justru aku melihat mawar ini tumbuh dengan sempurna." ujar Calio.


"Lalu apa yang harus aku lakukan tuan?" tanya bu Farah.


"Mawar ini hanya bertahan satu bulan bu, aku tak ada waktu untuk mengurusnya karena selain konferensi pers untuk mengenalkan Keke, aku juga harus ke Indonesia. Aku butuh bantuanmu untuk mengawasi pembuatan pewarna juga pewangi dari mawar ini, karena pak Calio akan sibuk mengurus perusahaan." jawab Alvin.


Bu Farah mengangguk, ia mengerti maksud tuannya sekarang. Pak Jordi membawa mereka ke rumah pembuatan itu yang letaknya tak jauh dari kebun mawar.


"Aku sudah melakukan tes laboratorium tentang bahan ini, semuanya tak ada yang salah. Disini hanya ada 3 orang ahli dalam pembuatan pewarna dan pewangi itu." ujar Alvin.


Pak Jordi memperkenalkan ketiga orang tersebut pada bu Farah dan Calio.


"Merekalah yang akan anda awasi bu." ujar Alvin lagi.


Bu Farah mengangguk kembali. "Jadi setelah satu bulan, mawar itu tak akan tumbuh lagi sampai beberapa tahun." ujarnya.


Alvin mengangguk. "Tapi aku dan pak Jordi masih mencari cara agar mawar biru ini tumbuh kembali hanya beberapa bulan saja."


"Dan kami belum menemukan solusinya." sambung pak Jordi.


Sedangkan Calio sedang sibuk mengagumi alat alat untuk membuat pewarna dan pewangi itu.


"Wah, kapan kau menyiapkan semua ini? Biasanya kau selalu berbicara denganku." ujar Calio.


"Maafkan aku Cal, aku tahu kau sangat sibuk mengurus perusahaan. Jadi aku tak mengatakan semua ini." jawab Alvin.

__ADS_1


"Tak apa apa, setidaknya kau tak menyembunyikan semua ini dariku. Jika kau lakukan itu, mungkin aku akan marah padamu." kata Calio seraya tertawa.


"Dan aku tidak takut kau marah." ejek Alvin.


Tawa Calio seketika terhenti dan wajahnya berubah masam, kali ini justru Alvin yang tertawa melihat wajah sahabatnya itu. Bu Farah dan pak Jordi sangat senang melihat keduanya yang sedang saling menggoda.


Mereka kembali ke rumah pak Jordi setelah semuanya sudah dijelaskan Alvin dengan detail. Bu Farah sudah memahami apa yang harus ia lakukan di kota Dinan itu. Hari semakin sore, Alvin ingin segera kembali ke rumah untuk menepati janjinya pada Keke. Tapi sepertinya ia tak bisa kembali tepat jam makan malam.


"Tuan, aku masih penasaran dengan ucapan anda tadi siang tentang mengenalkan Keke. Bukankah anda sudah mengenalkan manequin itu pada dunia." tanya pak Jordi tiba tiba saat mereka akan pamit pulang.


Alvin menghentikan langkahnya dan menghadapi pak Jordi. "Aku hampir lupa mengatakannya padamu, aku menemukan wanita pujaanku. Namanya Keke, ia memang sangat mirip dengan manequin buatanku. Karena sebenarnya aku membuat manequin itu teringat wajah kekasih kecilku yang hilang. Anda akan melihat penjelasanku saat aku mengadakan konferensi pers." jawab Alvin mulai mengarang cerita.


"Jadi anda sekarang bersama manequin yang hidup?" tanya Else istri pak Jordi.


Alvin tertawa. "Wanita itu manusia bukan manequin bu Else." jawabnya.


"Dan sangat cantik persis seperti manequin Keke. Wanita yang polos dan juga sangat baik, tepat sekali buat tuan Alvin." sambung bu Farah.


"Aku ikut bahagia mendengarnya, semoga kalian bisa bersatu sampai ke pernikahan." harap pak Jordi.


"Amin, itulah yang aku inginkan." kata Alvin.


"Terima kasih atas semuanya, aku senang kalian selalu memikirkanku. Sepertinya sudah waktunya aku kembali, aku sudah janji pada Keke akan kembali saat makan malam." jawab Alvin.


Mereka semua mengangguk. "Bu Farah tolong bantu aku dan jaga kesehatanmu disini." sambung Alvin.


"Tentu tuan, tolong jaga non Keke juga. Tolong sampaikan pada non Keke, aku akan menghubunginya sesering mungkin jika aku santai." jawab bu Farah.


Alvin mengangguk. "Tentu akan aku sampaikan."


"Aku pamit, terima kasih jamuannya bu Else." ujar Calio.


"Sering sering datang tuan Calio, kami akan menyambut anda dengan senang hati." ujar Else.


"Jika aku ada waktu pasti akan berkunjung." jawab Calio.


Keduanya pamit kembali ke kota Bougival.


*****

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Alvin sangat berisik lebih dari biasanya, ia terus menyuruh Calio agar lebih cepat mengendarai mobilnya. Calio sangat kesal dibuatnya.


"Hentikan Vin, kau bisa membuat kita masuk ke rumah sakit." bentak Calio.


"Sialan, kau tidak tahu seperti apa jika Keke marah." jawab Alvin.


"Aku tahu, tapi kita tak bisa lebih cepat dari ini. Kau mau masuk rumah sakit atau penjara." kata Calio kesal.


Alvin justru tertawa membuat Calio semakin kesal. "Baiklah tuan Calio, aku akan diam." ujarnya.


"Hubungilah kekasihmu itu, katakan kau akan terlambat. Wanita itu bukankah sangat baik, ia akan mengerti keadaanmu." perintah Calio.


"Kau mulai mengajariku Cal, tapi aku tak mau menghubungi Keke di depanmu. Aku takut kau iri mendengarnya." ejek Alvin.


"Ciiiih...tidak akan." jawab Calio.


Alvin kembali tertawa, ia akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi Keke. Mata Alvin terbelalak saat mendengar ucapan pelayannya dari balik telepon. Calio memperhatikan raut wajah Alvin yang berubah ketakutan.


"Ada apa Vin?" tanya Calio.


"Cepatlah Cal, Keke pingsan dan sekarang sedang ditangani dokter Mattew." jawab Alvin panik.


Calio mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya. "Kau tenanglah, sudah ada dokter Mattew."


"Apa yang dilakukan pelayanku, ya Tuhan aku bisa gila." ujar Alvin kesal.


"Jangan salahkan pelayan, kita harus mendengarkan apa kata dokter Mattew. Aku pikir ini menyangkut amnesia nya." kata Calio berusaha menenangkan.


Tapi Alvin sama sekali tidak tenang, berkali kali wajahnya merah padam. Ia juga tidak bisa duduk dengan tenang. Calio terus mempercepat mobilnya namun masih dalam batas yang ditentukan dalam berkendara.


*****


1...


2...


3...


Next Part...

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2