
Bandara itu sangat ramai, Alvin membawa Keke turun dari pesawat. Wanita itu terus menatap sekitar bandara bingung.
"Ada apa?" tanya Alvin.
"Mengapa sangat berbeda?" tanya Keke.
"Kita ada di Asia sayang, ini adalah negara Indonesia. Negara tempatku lahir dan tempat kedua orang tuaku berasal. Ini kota Bandung." jawab Alvin.
"Alvin, udaranya tak sedingin Paris. Dan bahasa mereka aku tak mengerti." ujar Keke.
Wanita itu kehilangan kekuatannya sehingga hanya bahasa Prancis yang ia tahu, jika saja kekuatannya masih ada, tentu dengan sangat mudah Keke mempelajarinya hanya dalam hitungan menit.
"Kau cukup berbicara denganku Keke. Udara di kota Bandung cukup dingin tapi tak sedingin Paris." jawab Alvin.
Saat keluar di bandara ternyata pak Santoso sudah menunggu mereka.
"Selamat datang di Indonesia pak Mark." sapa pak Santoso lalu menjabat tangannya.
Keke bersembunyi dibalik tubuh Alvin. "Tak apa apa sayang, ini pak Santoso direktur utama PT. Mark Manequin Indonesia." ujar Alvin.
Wanita itu perlahan maju.
"Selamat datang di Indonesia nona Keke. Aku Santoso." ujar pak Santoso mengulurkan tangannya, tapi Keke masih takut.
"Maaf, mungkin ia masih jetlag." ujar Alvin.
Pak Santoso menarik tangannya dan mengangguk. Pria itu membawa keduanya menuju parkiran mobil. Mereka menuju rumah mewah Alvin.
"Bagaimana kabar anda pak?" tanya pak Santoso.
"Seperti yang anda lihat, aku sangat baik. Kau tentu sudah mendengar soal kekasihku, wanita inilah yang aku perkenalkan pada dunia." jawab Alvin.
"Aku sempat terkejut saat melihat anda bersama nona Keke berjalan. Aku pikir anda membawa manequin cantik anda. Benar benar sangat mirip." ujarnya.
Alvin tertawa. "Seharusnya aku membawa tas besar yang berisi manequin Keke. Tapi aku membawa wanita yang nyata. Maaf telah merahasiakannya selama ini pak."
"Tak apa apa pak Mark, aku memang sangat terkejut melihat berita anda. Tapi aku lebih memahami keinginan anda. Mohon maaf jika aku sempat berpikir macam-macam karena masalah anda dengan nona Karen." ujar pak Santoso.
Alvin berdeham, ia tak ingin Keke tahu karena masalah ini sama sekali tak ia beritahukan. Pak Santoso sangat memahami maksud Alvin.
"Oh maaf." ujar pak Santoso lagi.
"Tak apa apa, kota ini banyak berubah. Saat terakhir kali aku kemari, belum seindah ini. Tapi sekarang benar benar sangat cantik." ujar Alvin.
"Ini karena walikota Bandung yang baru, kami sangat senang memiliki walikota seperti sekarang. Kota indah ini akan semakin indah." jawabnya.
__ADS_1
"Sayang kau lihatlah pemandangan kota ini." ujar Alvin pada Keke.
Keke mengikuti pandangan yang Alvin tunjukkan. Ia bahkan berkali-kali mengagumi keindahan alam itu. Mereka akhirnya sampai di rumah mewah Alvin. Pelayan bersama keluarganya menyambut kedatangan mereka, setidaknya ada 5 orang di rumah itu. Alvin membantu Keke turun dari mobil. Lagi lagi wanita itu ketakutan. Alvin menggenggam tangannya.
"Hai Deni, aku datang." sapa Alvin pada putra pelayannya yang masih berumur 8 tahun.
Deni langsung mengejarnya lalu memeluk Alvin dan menangis. Anak itu sangat merindukan Alvin Mark.
"Om Alvin..." ujarnya sambil menangis.
"Hei, jagoan tak boleh menangis." kata Alvin.
"Aku merindukan om Alvin." jawab Deni.
"Om juga sangat merindukanmu Den." jawab Alvin.
"Deni, om Alvin sangat lelah. Kemari." pinta mbok Eni. "Selamat datang kembali tuan Mark." sapanya.
"Terima kasih mbok, kalian tak perlu menyambutku." ujar Alvin.
"Tentu saja harus tuan." ujar pak Herman suami mbok Eni.
"Maaf, bisakah aku masuk sekarang. Sepertinya kekasihku masih takut menghadapi orang lain." ujar Alvin karena Keke terus bersembunyi.
"Keke dengarkan aku, mereka semua yang ada disini orang orang baik. Kau tak perlu takut, tapi kau tenangkan pikiranmu dulu. Jika kau ingin mandi dan ganti pakaian disana." ujar Alvin seraya menunjukkan kamar dan ruang ganti. "Aku akan keluar menemui mereka dahulu." sambungnya seraya mengecup kening wanita itu.
Keke hanya mengangguk dan melihat kekasihnya keluar kamar.
Alvin menemui mereka yang sudah menunggunya di ruang santai. "Maaf." ujarnya.
"Tak apa apa tuan, kami sangat mengerti. Mungkin nona Keke belum terbiasa menghadapi orang banyak." jawab mbok Eni.
"Terima kasih sudah mengerti. Den kemari." pinta Alvin.
Deni mendekatinya. "Siapa tante cantik itu?" tanyanya.
"Istriku." jawab Alvin membuat semuanya tertawa.
"Kenapa om tidak bilang kalau menikah?" tanya Deni lagi.
"Aku belum mengadakan pesta, jadi tentu saja aku akan mengundangmu jika akan merayakannya." jawab Alvin.
Deni hanya menganggukkan kepalanya.
"Pak Santoso terima kasih untuk menjemputku langsung, apakah anda akan kembali ke perusahaan?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Tentu pak Mark, kedatangan anda adalah kebahagiaan dan tanggung jawab kami. Aku akan kembali ke perusahaan." jawab pak Santoso.
"Kita akan membahas masalah pemakaman dan perusahaan besok. Aku masih sangat lelah." ujar Alvin.
"Tentu saja pak Mark, anda tak perlu terburu-buru untuk ke perusahaan dan mengurusi pemakaman, beristirahatlah sampai anda siap. Aku akan menunggu kabar dari anda. Sebentar lagi ada meeting, aku harus segera kembali." jawab pak Santoso.
Alvin mengangguk dan membiarkan pak Santoso pamit untuk pergi. Alvin kembali menatap pelayan dan keluarganya.
"Terima kasih terus menjaga rumah ini." ujar Alvin.
"Itu sudah tugas kami tuan Mark. Anda sudah memberikan tempat tinggal yang sangat layak di paviliun rumah ini. Kami sangat senang bertahun tahun merawat rumah ini. Bahkan anda terus mengirim uang pada kami yang sangat besar jumlahnya sehingga kami bisa menguliahkan putra putri kami. Kami bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik anda." ujar pak Herman.
"Justru akulah yang sangat beruntung bertemu dengan keluarga yang sangat jujur seperti kalian. Dan aku ingin Deni tumbuh dengan baik, sekolah, kuliah dan menjadi seorang polisi seperti yang ia inginkan." ujar Alvin.
"Aku ingin menjadi seperti om Alvin." jawab Deni.
Alvin terbelalak. "Kau berubah lagi?" tanyanya.
Semuanya tertawa. "Ia terus mengubah cita citanya tuan." ujar mbok Eni.
Alvin ikut tertawa. "Kau belum menemukan apa yang sebenarnya kau inginkan, setelah dewasa nanti kau akan tahu. Jika kau ingin seperti aku, maka dengan senang hati PT. Mark Manequin menyambutmu. Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Alvin pada Dodi dan Alya.
"Kami masih kuliah tuan Mark, tapi kami ingin bekerja untuk anda." ujar Dodi dan mendapat anggukan dari Alya.
"Kejarlah cita cita kalian, jangan masuk ke perusahaanku karena balas budi. Aku ingin kalian menemukan kebahagiaan kalian, dan berapa kali aku mengatakannya jangan panggil aku tuan, lakukan seperti Deni memanggilku. Kalian itu sudah menjadi keluarga Mark." kata Alvin.
Keduanya mengangguk, mata mbok Eni berkaca kaca. Ia benar benar beruntung bisa mendapatkan seorang malaikat seperti Alvin Mark. Walaupun keluarganya beragama Islam, tapi Alvin Mark sangat menghargai mereka tanpa memandang agama apapun.
"Ya Tuhan aku lupa kekasihku, aku akan mengajaknya keluar saat makan siang. Aku harap kalian bisa makan siang bersama kami, aku akan meyakinkan Keke kalau kalian keluargaku. Deni kita bertemu lagi nanti, oke." ujar Alvin.
"Siap om..." jawab Deni.
Alvin Mark meninggalkan mereka menuju kamarnya untuk menemui Keke.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1