Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 83


__ADS_3

Keesokan harinya, Alvin Mark dan Calio kembali ke perusahaan. Dengan kerja keras Calio, Alvin bisa mendapatkan semua informasi karyawannya. Mereka akan segera menyerahkan perusahaan pada direktur baru pengganti pak Santoso.


"Kau benar pak Alvin, hanya Vina kandidat paling bersih." ujar Calio.


"Sudah aku duga, aku bahkan sudah menyiapkan berkas pemberian saham secara diam diam untuknya. Saat pemilihan, aku akan langsung mengangkatnya sebagai direktur. Mereka akan protes tapi aku akan memberikan dokumen kepemilikan sahamnya, aku akan memberikan saham diatas mereka." jawab Alvin.


"Maksudmu diatas 10%?" tanya Calio.


Alvin mengangguk. "15% untuknya."


"Tapi pak bukankah itu..."


"Aku tidak bodoh, aku memberinya hanya diatas kertas. Perjanjian sebenarnya ada antara aku dan Vina." potong Alvin.


"Aku tahu kau pembisnis hebat, aku percaya padamu. Lalu kapan kau akan memberitahu Vina soal ini?" tanya Calio.


"Tentu saja sekarang pak Calio. Kau yang akan menjadi saksinya." jawab Alvin seraya memanggil Vina.


Sekertaris itu masuk. "Iya pak..." ujar Vina.


"Duduklah di sofa, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu." ujar Alvin.


Vina mengikuti perintah atasannya. Alvin dan Calio ikut duduk.


"Kau sudah sangat lama bekerja di perusahaanku. Menurutmu siapa kandidat yang cocok untuk menggantikan pak Santoso Vin?" tanya Alvin.


"Tentu saja wakil direktur pak, setahuku wakil direktur akan naik jabatan jika direkturnya tak ada." jawab Vina.


"Secara logika harusnya iya, tapi aku tak ingin melakukannya. Aku ingin mengangkat karyawan yang lain sebagai direktur." kata Alvin. "Ini masalah kepercayaan, karena aku tak selamanya berada di Indonesia. Dan aku langsung saja mengatakannya padamu. Aku ingin kau lah yang menjadi direktur PT. Mark Manequin Indonesia." sambungnya.


Vina terkejut. "Tak mungkin pak." jawabnya.


"Tak ada yang tak mungkin, aku percaya padamu. Kau bisa menangani perusahaan. Bacalah ini..." perintah Alvin.


Vina mengambil dokumen perjanjian kepemilikan saham. Dalam perjanjian tertuliskan bahwa pemilik PT. Mark Manequin, Alvin Mark memberikan saham 5% padanya. Namun untuk mengelabui pemilik saham yang lain agar bisa menerima Vina sebagai direktur, saham tertuliskan 15%.


"Jika kau setuju, maka tanda tangani dokumen itu. Berpura-puralah sebagai pemilik saham selama ini. Aku akan menaikkan jabatanmu saat meeting besok." ujar Alvin.


"Aku seperti bermimpi, anda memberiku saham 5%. Apa anda yakin pak?" tanya Vina.


"Apa kau meragukan cara kerjaku?" tanya Alvin balik.


Vina menggeleng. "Bukan itu maksudku pak tapi bagaimana seorang sekertaris bisa berubah menjadi direktur. Ini hal yang akan sulit mereka terima."


"Itulah mengapa kau harus berpura-pura memiliki saham lebih besar dari mereka. Setelah mereka tahu kau pemilik saham di perusahaan, maka mereka semua akan segera tutup mulut. Vina, aku hanya percaya padamu. Aku bisa tenang meninggalkan perusahaan ini padamu." jawab Alvin.


"Bisakah aku berpikir terlebih dahulu pak, ini sangat mendadak dan aku masih tak percaya." pinta Vina.

__ADS_1


Calio tertawa. "Silahkan berpikir nona Vina, tapi rahasiakan semua ini dari siapapun termasuk keluargamu. Jika kau melanggarnya, maka kami tak akan membiarkannya begitu saja." ancamnya.


"Dan yang aku tawarkan adalah naik jabatan dan naik pendapatan. Aku tahu bagaimana keadaan keluargamu di Indonesia. Aku hanya ingin kau menjaga perusahaanku sebagai direktur diatas kertas." sambung Alvin.


Vina mengangguk, tangannya bergetar saat membawa dokumen yang diberikan Alvin, lalu ia pamit keluar ruangan.


*****


"Kau begitu jahat pada wanita itu pak Alvin." ujar Calio.


"Dari sisi mana aku jahat, aku memberinya saham dan jabatan." jawab Alvin.


"Tapi wanita itu sepertinya belum siap mengurus perusahaan ini." kata Calio.


"Wanita itu terlalu merendahkan dirinya sendiri, ia karyawan lama dan sangat tahu seperti apa perusahaan ini. Aku yakin dengan kemampuannya, ia bisa menjaga perusahaanku." kata Alvin.


"Kau benar, lalu bagaimana dengan pewarna mata manequin? Apa kita akan terus mengimpor dari Perancis? Lebih baik kita cari mawar itu disini." ujar Calio.


"Aku tak yakin ada mawar biru di Indonesia Cal, mawar itu sangat langka." jawab Alvin.


"Kau benar, memang sangat langka. Tapi jika kita bisa menemukannya maka itu akan lebih baik, kau bisa membuatnya disini." ujar Calio.


"Dan aku harus mencari karyawan lab, penganalisa dan pembuat warna disini. Repot sekali..." kata Alvin.


"Kau lupa ada aku, bisa aku atur semua itu asal kita bisa menemukan mawarnya." kata Calio.


"Baiklah, aku sekarang harus ke pabrik. Aku akan kembali saat makan siang." ujar Calio seraya pamit.


Alvin membiarkan Calio pergi bekerja lagi, ia juga kembali mengurus pekerjaan sambil menunggu keputusan Vina.


*****


Keke sedang berada di toko bunganya, ia sedang menatap karyawan tokonya yang sibuk dengan beberapa pesanan.


"Kau yakin pemesan bunga dari pabrik. Untuk apa pria itu menginginkan bunga ini di pabrik." ujar Lina.


"Aku dengar pria itu ingin menyatakan cintanya." jawab Bili.


"Sangat tidak romantis, bagaimana seorang pria ingin menyatakan cintanya di dalam pabrik. Aku sih tidak mau menerima pria tanpa modal." kata Lina.


"Kau terlalu jual mahal, biar saja jadi perawan tua." ejek Bili.


"Hei, apa yang kalian lakukan?" tanya Keke.


"Nona Keke maaf." jawab keduanya.


"Tugas kalian hanya menyiapkan karangan bunganya dan mengantarkan ke tujuan. Untuk apa dan bagaimana cara mereka menggunakan karangan bunga itu bukan urusan kalian. Tak boleh menilai orang dari segi apapun." ujar Keke.

__ADS_1


"Iya maaf nona." jawab mereka lagi.


"Tunggu Bili, benarkah karangan bunga ini untuk menyatakan cinta?" tanya Keke.


Bili mengangguk. "Pemesan bilang seperti itu." jawabnya.


Keke mengambil setangkai bunga mawar biru. "Ini bonus." ujarnya sambil menyelipkan tangkai itu ke tengah karangan bunganya.


"Tapi nona, mawar ini sangat mahal." ujar Bili.


"Tak apa apa Bil, aku harap bunga itu sebagai keberuntungan untuknya. Berhati-hatilah di jalan." jawab Keke.


"Nona benar benar seperti malaikat." ujar Bili.


Keke hanya tersenyum menanggapinya. Bili mengendarai motornya lalu mengantarkan karangan bunga itu ke pabrik.


"Lin, pabrik mana yang memesan?" tanya Keke.


"Kalau tidak salah pabrik pembuatan manequin nona, tapi aku lupa nama pabriknya." jawab Lina.


"Baiklah, aku akan ke panti asuhan sekarang. Aku takut tak dapat bus lagi. Kalian jaga toko ya." ujar Keke.


"Kenapa nona tak beli mobil pribadi sih, nona beli motor untuk kami, nona beli mobil pickup untuk mengantar bunga, tapi untuk nona sendiri..." ujar Putri.


"Aku lebih suka naik kendaraan umum, jika aku ke panti dengan mobil pribadi, maka anak anak akan sedih. Mereka harus tahu jika aku juga hidup sama seperti mereka." jawab Keke.


"Benar benar malaikat, seandainya saja aku memiliki kakak pria." ujar Lina.


"Nona Keke tak mungkin mau dengan kakakmu." ejek Putri.


Keke tertawa. "Sudahlah kalian senang sekali menggodaku, sampai jumpa." ujarnya.


"Hati hati nona..." ujar keduanya.


Keke hanya melambaikan tangannya dan segera menuju halte bus untuk menuju panti asuhan Hidayatullah.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2