
Sepanjang pagi, Keke terus menempel pada Alvin. Wanita itu lebih manja dari biasanya karena Alvin akan pergi bersama bu Farah dan Calio. Pagi ini Alvin memang mengajak Keke jalan jalan di taman rumahnya bersama Milo, tapi wajah wanita itu tampak bersedih. Alvin mengajaknya duduk di taman itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alvin.
Keke menggeleng.
"Aku hanya pergi seharian, nanti malam sudah sampai di rumah lagi Keke." ujar Alvin.
Wanita itu masih saja menekuk wajahnya. Alvin menariknya ke pelukan. "Aku janji setelah ini aku tak akan meninggalkanmu." sambungnya.
"Bagaimana jika aku merindukan bu Farah?" tanya Keke.
Alvin menggeleng. "Kau tak akan ada waktu untuk merindukannya, karena aku akan membuatmu terus sibuk. Dan kita akan ke Indonesia untuk mengunjungi makam orang tuaku." jawab Alvin.
"Apakah Indonesia itu jauh?" tanya Keke lagi.
Alvin mengangguk. "Kita akan menaiki pesawat terbang untuk menuju kesana. Calio akan mengurus paspor dan identitas barumu." jawabnya.
"Apa itu?" Keke memang sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Alvin padanya.
"Nanti kau akan mengerti, tapi sebelumnya kita akan sibuk mempersiapkan konferensi pers untuk mengenalkanmu." ujar Alvin.
Keke mengangguk.
"Ayo kembali ke dalam, sudah waktunya sarapan. Sebentar lagi Calio akan datang." ajak Alvin.
Keke memegang tangan Alvin lalu bergelayut pada lengannya. Alvin tersenyum lalu mengelus kepala wanita itu.
"Aku janji akan menyelesaikan ini secepatnya agar aku bisa kembali sebelum makan malam." janji Alvin.
"Kau janji akan makan malam denganku." ujar Keke.
Alvin mengangguk. "Aku akan mengusahakannya sayang." jawab Alvin.
Wajah Keke mulai berseri, Alvin mengajak Keke masuk kedalam rumahnya. Dan bersiap siap untuk sarapan.
*****
"Bagaimana persiapannya bu? Apa kau sudah siap?" tanya Alvin saat mereka sudah sarapan.
"Sudah semuanya tuan." jawab bu Farah.
"Baiklah, kita tinggal menunggu Calio. Ia sedang menyelesaikan pekerjaan di perusahaan." kata Alvin.
__ADS_1
Bu Farah mengangguk lalu ia menatap wajah Keke. "Non, baik baik ya di rumah. Bu Farah pasti merindukan non Keke. Non Keke harus makan teratur dan katakan apapun yang non inginkan pada Hara." pesan bu Farah.
Keke mengangguk lalu memeluk wanita paruh baya itu. "Aku janji akan mengikuti apa yang bu Farah katakan. Bu Farah juga jaga kesehatan disana. Aku juga akan merindukan bu Farah." jawabnya.
"Jangan jauh jauh dari tuan Alvin, kehidupan di luar tidak seperti di rumah. Banyak orang jahat yang berpura-pura baik." ujar bu Farah.
"Bu Farah tak perlu khawatir, aku tak akan membiarkan siapapun mendekati wanitaku. Dan aku lupa mengatakannya padamu, aku mempercepat perjalananku ke Indonesia dua minggu lagi. Aku tak tahu akan berapa lama berada disana, karena aku akan memindahkan pemakaman orang tuaku." ujar Alvin.
Bu Farah terkejut mendengarnya. "Mengapa dipindahkan tuan, apa ada masalah?" tanyanya.
Alvin mengangguk. "Tanah pemakaman yang sekarang ternyata menjadi masalah dengan ahli waris. Jadi secepatnya aku harus memindahkan makam itu, walaupun pemakaman orang tuaku tinggal tanah sekalipun." jawab Alvin.
Bu Farah mengangguk mencoba memahami keadaan tuannya. Suara bel berbunyi.
"Sepertinya itu Calio sudah datang." ujar Alvin.
Wajah Keke seketika memerah, lalu air matanya mengalir semakin lama semakin deras. Tentu saja Alvin terkejut lalu memeluknya.
"Hei, aku hanya sehari. Jika kau ikut, kau pasti lelah sayang. Aku tak ingin kau masuk rumah sakit lagi." ujar Alvin.
"Tuan Alvin benar non, non Keke harus beristirahat di rumah. Tuan akan segera kembali." sambung bu Farah.
Calio masuk dan terkejut melihat adegan itu. "Ada apa ini?" tanyanya.
Calio mengangguk. "Sudah siap semua." jawabnya.
"Bu Farah bawa barang barangmu ke mobil, kalian tunggulah disana." perintah Alvin.
Keduanya mengangguk dan meninggalkan Alvin bersama Keke yang membutuhkan waktu berdua. Alvin menunduk di depan Keke lalu menggenggam kedua tangannya.
"Jangan lupa makan siang, aku akan segera kembali. Jangan keluar rumah walaupun itu hanya ke taman. Dan jangan menangis lagi sayang, bagaimana aku bisa tenang melakukan perjalanan jika kau seperti ini." ujar Alvin.
Keke mengusap air matanya lalu mengangguk. "Aku akan menunggumu kembali, aku tak akan makan malam jika kau belum kembali." jawabnya.
Alvin menggeleng. "Jika aku belum kembali sampai melebihi waktu makan, kau harus makan duluan. Aku akan menghukummu jika kau nakal." ancamnya.
"Aku tidak perduli, aku akan menunggumu terus." jawabnya keras kepala.
Alvin menghela nafasnya. "Baiklah, aku akan usahakan kembali secepatnya." jawabnya lalu memeluk Keke lagi.
Setelah keduanya berbicara, Alvin mengajak Keke keluar untuk mengantarnya. Di luar ternyata para pelayannya sedang melepas kepergian bu Farah. Mereka semua menangis seperti tak akan bertemu lagi dengan bu Farah.
"Hei kalian sudah cukup, aku hanya meminjam bu Farah sebulan. Ia akan kembali lagi kemari. Ingat, jaga kekasihku ini selama aku pergi. Jangan biarkan siapapun masuk ke rumah. Jangan biarkan juga Keke keluar rumah. Kalian bisa aku pecat jika sampai terjadi sesuatu pada Keke." ancam Alvin.
__ADS_1
Semua pelayannya mengangguk dan melepaskan kepergian bu Farah. Alvin tersenyum pada Keke lalu menciumnya sebelum masuk kedalam mobil. Mereka akhirnya berangkat ke kota Dinan. Setelah mobil mereka menghilang dari pandangan. Para pelayan satu per satu mulai masuk kedalam, sedangkan Hara mengajak Keke ke kamarnya.
*****
"Sialan, aku hampir mengurungkan niatku mengantar bu Farah saat melihat wajah Keke seperti itu." ujar Alvin.
Calio tertawa. "Kau berlebihan tuan Mark, kau hanya pergi sebentar. Kau pernah meninggalkannya dua minggu saat membuat manequin Keke palsu." ujarnya.
"Saat itu bu Farah ada di rumah, ini lain lagi ceritanya. Keke hanya dekat dan nyaman dengan bu Farah, tapi aku mengajak bu Farah pergi sekarang." jawab Alvin.
Bu Farah membenarkan pernyataan tuannya. "Non Keke benar benar tertekan saat melihat kita pergi tuan, aku tak tega melihatnya."
"Ya ampun, kalian ini. Mengapa kita tak mengambil resiko untuk mengajaknya, jika kalian sangat mengkhawatirkannya." ujar Calio.
"Tidak." jawab Alvin. "Sudahlah, kita cepat selesaikan urusan ini. Lalu segera kembali ke rumah." sambungnya.
"Baiklah pak Alvin, aku siap melayani anda." goda Calio.
"Hanya kau yang bisa aku andalkan pak Calio." ejek Alvin.
Bu Farah tersenyum melihat keduanya, memang hanya Calio lah yang dekat dengan tuannya dan bisa diandalkan. Perjalanan mereka menuju kota Dinan memang memakan waktu.
"Aku sangat penasaran pada kebun anda tuan." ujar bu Farah.
"Kau akan mengagumi kebun mawar biru itu bu, aku saja saat pertama kali melihatnya sangat terkejut. Kebun itu seperti sedang disemprot pewarna. Sangat cantik dan sangat harum." jawab Alvin.
"Tuan sangat pintar merahasiakannya, awalnya aku sangat terkejut saat tuan mengatakan rahasia kebun ini. Selama ini aku tak tahu jika tuan memiliki kebun mawar biru di kota terpencil itu." ujar bu Farah lagi.
"Hanya aku yang tahu bu, seandainya pekerjaan tuanmu ini tidak banyak, mungkin ia akan terus merahasiakannya." ujar Calio.
"Aku hanya percaya pada kalian berdua." kata Alvin.
Keduanya mengangguk dan terus berbicara sampai memasuki kota Dinan.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘