
Dokter Mattew memeriksa keadaan Keke, lalu menyuntikkan sesuatu pada cairan infusnya. Wanita itu perlahan lahan tertidur kembali.
"Seperti yang sudah pernah aku katakan, amnesia Keke bisa kembali setiap waktu. Kali ini ia melupakan kejadian yang baru dialaminya. Lagi lagi Keke yang sekarang adalah orang yang baru, dan kau harus menjelaskannya dari awal Mark." ujar dokter Mattew.
Alvin memegang kepalanya, ia benar benar pusing sekarang.
"Kau terlihat pucat Mark, kau pasti sangat lelah, lebih baik kau istirahat." pinta dokter Mattew.
Alvin mengangguk.
"Aku menyuntikkan obat bius padanya, kemungkinan ia kan terbangun besok pagi. Sabarlah menghadapinya Mark, tapi aku yakin hanya kau yang ia percaya." ujar dokter Mattew dan meninggalkannya.
Alvin mendekati Keke kembali, ia memegang tangannya.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan Keke, bagaimana kau bisa melupakan aku lagi. gumam Alvin sedih.
Malam semakin larut, akhirnya Alvin pun ikut tertidur disamping Keke.
*****
Keesokan harinya, Keke benar benar terbangun. Tapi Alvin masih terlelap. Keke menatap pria itu lalu ia mengingat siapa Alvin walaupun ia lupa apa yang terjadi selanjutnya.
"Alvin..." panggil Keke.
Alvin masih belum bergeming, sepertinya pria itu benar benar lelah. Keke hanya bisa menunggu sampai Alvin terbangun. Suster masuk dan membawa sarapan untuknya.
"Selamat pagi nona Keke." sapa suster.
"Selamat pagi sus, terima kasih." jawab Keke.
Suster itu mengangguk lalu memeriksa infus Keke, ia tersenyum saat melihat Alvin tertidur dengan nyenyak.
"Tuan Mark sangat menyayangi anda." kata suster.
Keke tersenyum lalu mengangguk. "Tapi aku tidak terlalu ingat tentangnya." jawab Keke.
Suster itu kembali tersenyum. "Nona tak perlu banyak berpikir, pelan pelan saja." ujarnya.
"Bisakah kau menghidupkan televisi, aku bosan." pinta Keke.
Suster itu memberikan remote televisi pada Keke, dan memberitahu caranya. Keke tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih sus." ujar Keke.
"Sama sama nona, jangan lupa sarapan jika anda mulai lapar. Aku tinggal dulu." ujar suster seraya keluar ruangan.
Keke terus mengganti ganti channel televisi tersebut, ia terbelalak saat melihat berita tentang konferensi pers Alvin bersamanya. Beberapa kepingan ingatannya mulai terkumpul dan kepalanya kembali berdenyut. Keke mengerang kesakitan, suaranya membangunkan Alvin.
"Keke ada apa?" tanya Alvin saat tahu Keke kesakitan. Ia menatap televisi lalu merebut remote itu dan mematikan televisinya.
"Keke... tenanglah..." ujar Alvin seraya memeluknya.
Keke menangis. "Maafkan aku, maafkan aku..." itulah yang ia ucapkan.
"Kau tidak bersalah untuk apa minta maaf. Tenanglah sayang..." ujar Alvin.
Setelah Keke mulai tenang, Alvin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik itu.
"Sepertinya sarapanmu sudah datang, kau mulai lapar kan?" tanya Alvin.
Keke mengangguk membuat Alvin tersenyum. Ia mengambil nampan makanan itu lalu mulai menyuapi Keke. Perlahan lahan Keke mengunyah makanannya sambil menatap wajah Alvin.
"Kau harus tahu, jika kekasihmu ini memang tampan." goda Alvin.
__ADS_1
Keke tersedak lalu tertawa. Alvin sangat senang melihat kekasihnya kembali ceria.
"Aku mengingatmu tapi tidak banyak." ujar Keke.
"Jadi apa yang kau ingat?" tanya Alvin.
"Kau kekasihku yang menyayangiku." jawab Keke.
"Kau percaya diri, aku tuanmu nona cantik. Kapan aku mengakui sebagai kekasihmu." goda Alvin.
Keke terbelalak, wajahnya merona membuat Alvin sangat gemas. Ia mencium pipi Keke.
"Maaf aku menggodamu, tentu saja aku kekasihmu yang sangat menyayangimu sayang." ujar Alvin.
"Aku tahu karena tadi aku mendengar pengakuanmu di televisi." jawab Keke.
"Jadi kau tidak ingat, hanya mendengar dari televisi." kata Alvin.
Keke menggeleng. "Aku juga pernah mendengar pengakuanmu langsung di ruangan ini. Itu yang aku ingat, tapi setelah itu aku benar benar lupa semuanya."
Alvin menaruh nampannya lalu memeluk Keke lagi. "Aku senang kau mengingat bagian itu sayang, aku memang kekasihmu." ujar Alvin.
Keke membalas pelukan Alvin. Suara dehaman dokter Mattew mengejutkan mereka.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat." ujar dokter Mattew.
Keke sangat malu, ia menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa dok, baru saja Keke menyelesaikan sarapannya. Silahkan anda periksa keadaannya." ujar Alvin.
Dokter Mattew mengangguk dan menyapa Keke lalu memeriksanya.
"Ini keadaan yang bagus Mark, sepertinya tidak sepenuhnya ingatan barunya hilang. Ia merasa nyaman di dekatmu. Itu yang membuatnya ingat siapa dirimu." ujar dokter Mattew.
"Baiklah lebih aman pulang ke rumahmu daripada disini, kalian boleh pulang setelah semuanya selesai." jawab dokter Mattew. "Setelah kalian pulang dari Indonesia, bawa Keke langsung padaku Mark." sambungnya.
"Itu pasti dok, terima kasih." jawab Alvin.
Dokter Mattew kembali meninggalkan ruangan, Alvin mengurus prosedur kepulangannya lalu menghubungi Calio.
*****
Calio sudah ada di rumah sakit kembali menemui mereka. Pria itu benar benar dibuat sibuk oleh Alvin.
"Kau yakin akan membawa Keke pulang hari ini?" tanya Calio.
"Dokter Mattew sudah mengizinkannya, maafkan aku Cal membuatmu kembali kemari di sela sela kesibukan bekerja." jawab Alvin.
Calio tertawa. "Kau lupa jika aku bawahanmu tuan Mark. Kapanpun kau membutuhkan aku, tentu saja aku akan datang." jawabnya.
"Setelah kita mengantarkan Keke pulang, aku akan ke perusahaan bersamamu." ujar Alvin.
"Kau yakin akan meninggalkan Keke di rumah?" tanya Calio.
Alvin mengangguk. "Ada pelayan yang akan mengurusnya. Aku akan ke Indonesia dan aku tidak mau meninggalkan perusahaan terus menerus Cal dan membebankan seluruh pekerjaan padamu dan Jane."
"Baiklah, terserah padamu saja. Aku sudah mempersiapkan dan mengurus kepergianmu dan Keke ke Indonesia." ujar Calio.
"Terima kasih, kau memang yang terbaik." jawab Alvin.
Mereka bersiap siap untuk kembali ke Bougival. Calio menyapa Keke.
"Hai nona Keke." sapa Calio.
__ADS_1
Keke menatap Alvin.
"Pak Calio, sahabat sekaligus karyawaku." ujar Alvin.
Calio menatap Alvin. "Ia tak mengenaliku lagi?" tanyanya.
Alvin tersenyum lalu mengangguk.
"Maaf pak Calio, maafkan aku melupakanmu." ujar Keke.
Calio justru tertawa. "Tidak apa-apa nona, aku memahami keadaanmu. Aku Calio..." ujarnya kembali mengulurkan tangannya.
Kali ini Alvin lah yang menyambut tangannya.
"Jangan coba-coba mencari kesempatan tuan." ancam Alvin.
"Sialan..." ujar Calio lalu tertawa.
Keke ikut tersenyum melihat keduanya.
Hari semakin siang, Alvin membawa Keke dengan memakaikan pakaian pria dan topi yang sudah dibawa Calio untuk penyamaran. Sedangkan Alvin juga menggunakan topi menuju parkiran rumah sakit.
Entah darimana para wartawan tahu soal keberadaan mereka, ternyata para wartawan itu benar benar menunggu mereka di luar rumah sakit.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Saat mereka fokus padaku, kalian segera keluar lalu menuju mobil. Bersikaplah seperti biasa agar mereka tak curiga." ujar Calio.
Alvin mengangguk dan menunggu di lobi rumah sakit. Calio keluar dari rumah sakit dan benar saja para reporter dan wartawan memburunya.
"Pak Calio bagaimana keadaan nona Keke, mengapa ia dibawa ke rumah sakit?"
"Apa mungkin justru tuan Mark yang sakit? Tolong katakan kepada kami."
"Mereka semua baik baik saja, hanya kelelahan karena melakukan konferensi pers kemarin." jawab Calio.
"Tapi kami dapat info jika keadaan nona Keke sangat parah. Apakah itu benar?"
"Kalian mendapat informasi darimana, mengada ada saja. Mereka akan keluar dari rumah sakit hari ini, jika parah mana mungkin itu terjadi." jawab Calio. Ia melihat keadaan dan keduanya berhasil lolos. "Baiklah sudah sampai disini dulu, aku akan kembali ke perusahaan." ujar Calio.
Mereka mengikuti Calio dengan pertanyaan pertanyaan lainnya, tapi Calio mengabaikannya. Kaca mobil sangat gelap, sehingga orang luar tak mungkin bisa melihat kedalam kecuali mengintipnya, tapi sepertinya Alvin dan Keke menunduk di dalam. Calio cepat cepat masuk ke mobilnya dan segera keluar dari rumah sakit.
"Ya Tuhan, ini seperti adegan drama Korea saja." ujar Calio.
Alvin tertawa mendengarnya. "Terima kasih Cal, tanpamu mungkin kami tak bisa lolos walaupun kau membuat kekasihku persis seperti badut."
Keke mencubitnya.
"Awww..." teriak Alvin kesakitan.
Calio tertawa terbahak-bahak. "Jangan lupa kunci kamarmu nona, agar tuan Mark tidak bisa masuk." goda Calio.
"Sialan, kau membumbuinya." bentak Alvin.
Calio kembali tertawa, ketiganya terus bercanda tawa sambil menuju rumah Alvin di Bougival.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘