
Calio sudah berada di pabrik, ia melihat dan menganalisa semua pekerjaan disana. Pak Danu adalah pengawas pabrik selama 2 tahun pengganti pak Anem yang hilang begitu saja. Pak Danu sedang mengajak Calio menuju ruang penyimpanan manequin yang sudah di kemas.
"Semuanya sudah ada seribu manequin siap kirim pak." ujar pak Danu.
"Bagaimana urusan cargo, apakah sudah siap?" tanya Calio.
"Seperti biasanya selalu siap, semenjak manequin kita bermata biru. Pemesan lebih banyak dari kalangan bisnis hotel. Mereka menggunakan manequin untuk pajangan kamar tamu. Hampir seluruh hotel Indonesia menggunakan manequin itu." ujar pak Danu.
"Baru kali ini aku mendengarnya, apakah manequin itu tak menakuti tamu mereka." ujar Calio seraya tertawa.
Pak Danu ikut tertawa. "Anda benar, tapi mungkin justru menyenangkan."
Saat mereka asyik berbincang, Calio mendengar suara keributan di dalam pabrik.
"Suara apa itu?" tanya Calio.
"Maaf pak Calio, sepertinya ada yang ingin menyatakan cintanya disini. Karyawan itu sudah meminta izin sebentar untuk melakukan itu." jawab pak Danu.
"Sangat menarik, tapi ini di jam kerja. Itu akan menganggu kan." ujar Calio.
"Anda lupa waktu pak, ini sudah jam makan siang." kata pak Danu.
Calio terbelalak, ia menatap jam tangannya. "Oh ya ampun, aku harus segera kembali ke kantor untuk menjemput pak Alvin." ujarnya.
"Silahkan pak Calio." jawab pak Danu.
Calio meninggalkan pak Danu, saat ia ingin keluar dari pabrik. Ia sekilas melihat adegan romantis itu, seorang pria berlutut memegang karangan bunga di depan salah satu wanita disana.
"Di Indonesia hal semacam ini masih ada, sangat lucu, tak perlu modal banyak." gumam Calio seraya tertawa sendiri.
Calio terus memperhatikan mereka, ia terkejut saat melihat satu bunga biru di tengah rangkaian bunga itu. Calio meyakinkan matanya, ia yakin itu bunga mawar biru. Tanpa ragu ia menghampiri mereka, Calio mengambil bunga itu dan terbelalak. Benar benar mawar biru, ia bahkan tak sabar mengganggu moment romantis kedua pasangan itu.
Semuanya seketika diam tanpa suara karena mereka tahu siapa pak Calio. Bahkan mereka berpikir akan di pecat karena melakukan ini di pabrik.
Calio menatap pria itu. "Darimana kau mendapatkan bunga ini?" tanyanya.
"Bu...bu.. bunga ini da..dari..." jawabnya tergagap.
"Iya bunga ini kau dapatkan darimana?" tanya Calio tak sabaran.
"Toko bu...bunga K' Florist pak." jawabnya.
"K' Florist? Dimana itu, katakan padaku." tanya Calio.
Pria itu memberikan kartu nama K' Florist padanya. Calio membaca kartu nama itu lalu ia mengangguk. Calio akhirnya sadar jika ia mengganggu moment pernyataan cinta itu. Ia menatap seluruh karyawan yang takut melihatnya.
Calio tertawa membuat mereka kebingungan. "Maaf telah mengganggu kalian, aku tak sadar. Nona siapa namamu?" tanya Calio.
"Rini pak." jawabnya.
"Dan kau?" tanya Calio lagi.
__ADS_1
"Aku Bobi pak." jawabnya.
"Bobi kau tak perlu takut padaku, jawab saja pertanyaanku. Apakah kau menyukai Rini?" tanya Calio.
Bobi mengangguk. Calio menatap Rini. "Nona, apakah kau mau menerima Bobi?" tanyanya.
Rini terdiam karena takut.
"Aku tak akan memecat kalian, aku hanya ingin kalian jujur. Dan aku telah mengganggu moment kalian." ujar Calio.
Rini akhirnya mengangguk. Calio tersenyum lalu menarik Bobi untuk mendekati Rini. Calio mengembalikan bunganya pada Rini.
"Aku yang menjadi saksi moment ini, mulai hari ini kalian resmi berpacaran. Dan sebagai permintaan maafku, aku akan mengatur makan malam spesial untuk kalian berdua malam ini." ujar Calio.
Semua karyawan pabrik bergemuruh, mereka bertepuk tangan mendengarnya. Calio tersenyum lalu meninggalkan mereka, ia segera menemui Alvin untuk memberitahu semua ini.
*****
Alvin terus mondar mandir di kantornya, ia sudah menunggu Calio terlalu lama. Bahkan jam makan siangnya hampir selesai. Calio segera masuk tanpa mengetuk pintu, nafas pria itu tak beraturan.
"Apakah berlari siang hari membuatmu senang?" ejek Alvin.
"Maafkan aku, aku terlambat. Tapi ada alasannya." jawab Calio.
"Aku harap alasanmu menyenangkan hatiku Cal." ujar Alvin.
"Benar Vin, ini akan menyenangkan. Aku menemukannya." jawab Calio lagi.
"Tariklah nafasmu dalam dalam agar kau tenang, lalu jelaskan padaku apa yang kau temukan." pinta Alvin.
"Apa ini?" tanya Alvin.
"Itu kartu nama toko bunga Vin, disana ada mawar biru. Kita menemukannya." jawab Calio.
Alvin terkejut. "Mawar biru? Apa kau yakin?" tanyanya.
Calio mengangguk.
"Lalu tunggu apalagi, ayo kita kesana." ajak Alvin.
Calio kembali mengangguk, ia mengikuti Alvin yang sudah berjalan lebih dulu. Mereka segera menuju toko bunga K' Florist.
*****
Keke sedang mengatur bunganya, ia sudah kembali dari panti asuhan. Ia keluar dari toko itu lalu menuju kebun mawarnya. Ia terkadang bingung sendiri, bunga mawar yang ia punya tak pernah layu dan terus berkembang. Bahkan karyawannya pun ikut merasakan keanehan dari kebun itu.
"Nona Keke, anda belum makan siang sejak pulang dari panti." ujar mbok Sari pelayannya.
"Sebentar lagi mbok, aku akan segera masuk." jawab Keke.
Toko bunga yang ia bangun memang berada di depan rumah besarnya, sedangkan kebun mawar itu berada di samping rumahnya. Setelah ia puas menikmati pemandangan taman itu, ia kembali masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Sementara itu, Calio dan Alvin akhirnya bisa menemukan toko bunga K' Florist. Mereka turun dari mobilnya menuju toko itu.
"Permisi..." ujar Calio.
"Iya pak, ada yang bisa aku bantu." tanya penjaga toko yang tak lain adalah Putri.
"Apakah benar toko ini menjual bunga mawar biru?" tanya Calio.
Putri mengangguk. "Benar pak, kami menjualnya. Tapi hanya nona kami, maksud kami pemilik toko ini yang melayani pelanggan mawar biru." jawabnya.
"Kalau begitu bisakah kami bertemu pemilik toko. Kami ingin membeli mawar biru itu." ujar Calio.
Sedangkan Alvin terus mencium aroma mawar biru itu. Ia yakin, kalau ada mawar biru di toko ini.
"Silahkan kalian menunggu, kami akan memanggil nona." ujar Putri.
Calio mengangguk. "Mengapa kau diam saja Vin?" tanyanya.
"Aku sedang menikmati aroma khas mawar biru itu, aku heran mengapa ada mawar biru disini. Mawar itu sangat langka Cal." jawab Alvin.
"Anda benar tuan, hanya kami yang memiliki mawar biru itu di Bandung, tak ada toko lain." ujar Lina penjaga toko yang lain.
"Anda ingin teh atau kopi tuan, sepertinya nona kami sedang makan siang." tanya Lina.
"Tidak perlu, terima kasih." jawab Alvin.
Benar saja, Putri kembali dan mengatakan jika pemilik toko sedang makan siang. Alvin menatap jam tangannya.
"Ada meeting jam 3 Cal. Kita tidak sempat." ujar Alvin.
"Tunggulah sebentar lagi. Kita takut kehabisan mawar itu. Kita perlu memesannya dari sekarang." jawab Calio.
Alvin menghela nafasnya. "Kita belum makan siang."
"Kau benar, lebih baik besok saja kita kembali." jawab Calio.
Saat keduanya ingin pamit, mereka justru mendengar suara langkah kaki yang anggun datang.
"Itu sepertinya nona Keke." ujar Putri.
Jantung Alvin berdetak lebih cepat, ia terkejut mendengar nama wanita itu. Entah mengapa tubuhnya semakin bergetar saat langkah kaki itu semakin dekat.
*****
Akankah mereka bertemu?
1...
2...
3...
__ADS_1
Next Part...
Happy Reading All...😘