Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 80


__ADS_3

2 Tahun kemudian...


Alvin Mark dan Calio sedang berada di Indonesia, menjalani hidup selama bertahun-tahun tanpa Keke membuat Alvin akhirnya terbiasa dengan keadaannya, ia kembali seperti pria lajang yang sulit di dekati wanita manapun. Bahkan akhirnya Alvin berhenti untuk mencari keberadaan kekasihnya.


Perusahaan manequin yang berada di Indonesia semakin maju dengan pesat, bahkan permintaan lokal pun ikut melonjak, setelah 2 tahun akhirnya Alvin kembali ke Indonesia, tapi kali ini ia membawa Calio untuk memilih karyawan pengganti pak Santoso.


Pak Santoso berhenti bekerja karena terkena penyakit yang serius, sementara ini hanya wakil direktur yang menangani perusahaan.


"Pak Alvin, ada tiga kandidat untuk menggantikan pak Santoso. Tapi menurut pak Santoso, ketiganya sulit untuk dipercaya." ujar Calio.


"Termasuk wakil direktur?" tanya Alvin.


"Benar pak, menurut pak Santoso wakil direktur pernah melakukan korupsi pesanan manequin walaupun akhirnya ia bertanggungjawab penuh. Tapi pak Santoso belum yakin jika pria itu bisa berubah." jawab Calio.


"Lalu bagaimana dengan 2 kandidat lainnya, apakah pak Jeremy dan pak Beni selaku pemegang saham?" tanya Alvin.


"Tebakan anda benar, tapi..." jawab Calio.


"Aku tahu." potong Alvin. "Bagaimana dengan Vina?" tanya Alvin.


"Vina? Bagaimana ia bisa menjadi direktur perusahaan pak. Ia tak memiliki saham disini dan ia hanya sekertaris biasa." ujar Calio.


"Vina adalah wanita yang paling bisa dipercaya, aku sudah mengetahui cara kerjanya selama bertahun-tahun. Dan soal saham, aku bisa memberinya saham beberapa persen." kata Alvin.


Calio terkejut, tapi Alvin memang ada benarnya juga. Hanya sekertaris itu yang bisa diandalkan untuk perusahaan manequin Indonesia.


"Tapi ini akan sulit pak Calio, para pemegang saham pasti tidak akan setuju. Tolong selidiki karyawan utama disini, sedetail mungkin. Ini akan menjadi pertimbangan kita bulan depan. Sementara kita disini 3 bulan, kau hubungi Jane agar mengatasi perusahaan disana selama kita ada disini. Kita tak bisa terburu buru untuk kembali ke Perancis." kata Alvin.


"Baik pak." jawab Calio.


"Dan kita akan kembali lebih awal, mbok Eni menyiapkan makan siang di rumah." ujar Alvin lagi.


"Siap bos." jawab Calio seraya meninggalkan ruangan kerja Alvin Mark.


Alvin kembali bekerja, kali ini ia membuka dokumen yang diberikan Calio. Matanya terbelalak saat melihat dokumen itu.


"Dasar pria gila." gumam Alvin.


Ternyata dokumen yang diberikan Calio adalah kandidat beberapa wanita yang direkomendasikan Calio untuk mendampinginya. Wanita wanita cantik yang berasal dari Indonesia. Alvin menutup dokumen itu lalu membuangnya ke kotak sampah.


*****


Jam makan siang tiba, Calio menunggu Alvin di parkiran. Ia menunggu hampir setengah jam, dan akhirnya pria itu muncul juga.


"Kau lama sekali pak." ujar Calio kesal.


"Berhentilah memanggilku pak, ini sudah di luar perusahaan." jawab Alvin.

__ADS_1


Calio menghela nafasnya. "Lalu sedang apa saja kau, bukankah kau bilang jam istirahat. Ini sudah hampir setengah jam melewati jam makan siang. Apa kau masih bingung untuk memilih?" tanyanya.


"Memilih? Kau gila, aku membuangnya ke kotak sampah." jawab Alvin.


"Apa? Kau yang gila..." teriak Calio.


"Sialan, suaramu memecahkan gendang telingaku bodoh." bentak Alvin. "Sejak kapan kau berubah menjadi mak comblang?" tanyanya.


"Sejak sahabatku terus menutup dirinya. Aku sebentar lagi menikah, dan apa yang harus aku lakukan untukmu Vin. Aku tak mungkin 24 jam terus bersamamu saat aku memiliki istri." jawab Calio.


Alvin tertawa. "Kapan kau 24 jam bersamaku Cal, kau berlebihan. Sudahlah, aku sudah bilang aku ingin melajang seumur hidupku. Jangan ubah itu." katanya.


"Terserahlah... Semoga Tuhan cepat membuatmu sadar." ujar Calio seraya menyalakan mobilnya dan membawa Alvin kembali ke rumah.


Sepanjang perjalanan, Alvin terus menatap luar jendela mobilnya. Ia sama sekali tak memikirkan untuk memiliki kekasih. Mereka berhenti di lampu merah, Alvin terbelalak saat melihat wanita sedang duduk di halte. Wanita itu sangat cantik, dan wajahnya sangat mirip dengan Keke.


Alvin mengerjapkan matanya berkali-kali. "Keke..." teriaknya membuat Calio terkejut dan mengikuti arah pandangan Alvin.


"Siapa yang kau lihat?" tanya Calio.


Alvin ingin turun dari mobilnya, tapi lampu hijau sudah menyala. Suara klakson mobil di belakang mereka terus berbunyi. Calio menahan Alvin lalu melanjutkan perjalanan.


"Hentikan mobilnya Cal..." teriak Alvin.


Calio menghentikan mobilnya, Alvin segera turun lalu berlari ke arah wanita itu. Tapi wanita itu sudah menaiki taksi.


"Keke..." teriak Alvin.


"Aku yakin wanita tadi adalah Keke Cal, cepat kejar taksi tadi." pinta Alvin.


"Kau gila mana mungkin..." jawab Calio.


Alvin tak sabaran, ia berlari ke mobilnya tanpa mendengarkan ucapan Calio. Pria itu mengendarai mobilnya sendiri, ia memutar balik mobilnya dan mengejar taksi tadi. Bahkan Calio ditinggalkannya di jalan.


*****


Sudah lebih dari 3 jam, Alvin belum kembali ke rumah. Calio terpaksa naik taksi untuk kembali ke rumah. Untung saja ia sudah tahu jalanan Bandung, jika tidak mungkin Calio akan menunggu di jalan tadi selama berjam-jam.


"Tuan Calio, apakah tuan benar benar melihat non Keke?" tanya mbok Eni.


"Entahlah, tapi ia berkali-kali berteriak memanggil wanita itu dengan namanya. Aku tak melihat jelas wajah wanita itu, dan aku masih kesal ditinggalkannya di jalanan." jawab Calio.


"Kasian tuan Alvin, ia tak bisa melupakan nona Keke walaupun ini sudah 2 tahun." ujar pak Herman.


"Anda benar pak, aku bahkan berkali-kali mengenalkannya pada wanita. Tapi ia tak pernah melirik wanita itu. Ia sangat dingin, dan aku sangat sedih saat melihatnya masih menginginkan wanita yang meninggalkannya itu." jawab Calio.


"Apa tuan sudah menghubungi tuan Alvin, mbok takut terjadi sesuatu padanya?" tanya mbok Eni.

__ADS_1


Calio mengangguk. "Tapi ia tak mengangkat ponselnya."


Suara derum mobil terdengar, mereka saling bertatapan.


"Itu sepertinya tuan." ujar mbok Eni.


Ketiganya keluar, benar saja Alvin kembali tapi wajahnya sangat murung. Ia masuk ke rumah tanpa menyapa siapapun. Alvin segera masuk ke kamarnya.


Calio menghela nafasnya. "Biarkan ia tenang, aku sudah biasa melihatnya seperti itu. Aku akan berbicara dengannya."


Kedua pelayan itu mengangguk. Mereka tak bisa melakukan apapun untuk tuannya itu. Calio menghampiri Alvin di kamarnya. Pria itu sedang tertunduk sedih di atas ranjangnya.


"Mengapa kau lakukan ini lagi Vin? Bukankah kau bilang sudah melupakan semuanya." tanya Calio.


"Mataku masih bagus Cal, aku yakin wanita itu Keke." jawab Alvin.


"Lalu dimana ia sekarang jika memang wanita itu Keke?" tanya Calio lagi.


"Aku kehilangan jejaknya." jawab Alvin datar.


"Ya Tuhan, kau tidak waras Vin. Kau berputar putar kota Bandung untuk mencari taksi yang membawa wanita itu kan." teriak Calio.


"Jangan berteriak Cal, aku sudah lelah sekarang." kata Alvin.


"Aku harus berteriak denganmu agar kau bisa sadar. Sudah 2 tahun, dan kau membuatku semakin gila Vin. Wanita itu seorang peri, kau tak mungkin bisa bersamanya. Dan wanita yang kau lihat hari ini bukanlah Keke. Itu hanya imajinasimu saja karena terlalu terobsesi dengan wanita itu." teriak Calio lagi.


Alvin melemparkan bantal ke arah Calio. "Keluarlah..." teriaknya.


Calio keluar dengan sangat marah, tapi ia terkejut saat membuka pintu kamar itu. Di balik pintu ada Deni, putra pelayan yang sangat dekat dengan Alvin. Deni menatap Calio penuh tanya.


"Apa kau mendengar semuanya?" tanya Calio.


Deni memucat tapi ia mengangguk.


Calio mengumpat, ia bahkan membuka rahasia tentang Keke.


"Mengapa kau belum pergi?" teriak Alvin.


Calio menggeser tubuhnya agar Alvin bisa melihat Deni. Alvin terkejut lalu mengumpat begitu banyak karena tahu apa yang dimaksud Calio.


*****


1...


2...


3...

__ADS_1


Next Part...


Happy Reading All...😘


__ADS_2