
Dengan kesal Alvin Mark menerima telepon itu. "Halo..." bentaknya.
"Maaf jika aku menganggu anda pak Mark." jawab pak Santoso.
"Oh tidak apa apa pak, maaf aku membentakmu. Ada sesuatu yang terjadi sehingga kau menghubungiku langsung?" tanya Alvin.
"Bisakah anda mempercepat perjalanan anda ke Indonesia? Ada sesuatu yang akan aku bicarakan, ini tentang tempat pemakaman orang tua anda." ujar pak Santoso.
Pak Santoso memang bukan hanya seorang direktur PT. Mark Manequin, tapi ia juga orang yang sangat dipercayai Alvin untuk menjaga pemakaman orang tuanya di Bandung.
"Ada masalah apa dengan tempat pemakaman itu?" tanya Alvin, ia sedikit ketakutan.
"Terjadi sengketa tanah pemakaman itu pak, jadi setiap makam harus dipindahkan ke tempat pemakaman lain sebelum bulan depan. Pemilik tanah yang asli memenangkan sengketa di pengadilan. Jadi kita tak bisa berbuat apapun, jika semua makam itu tak dipindahkan, maka akan diratakan tanahnya." jawab pak Santoso.
Alvin mengumpat sangat banyak, saat ia kehilangan orang tuanya, ia memang tak tahu soal pemakaman jadi orang lain yang mengurusnya, saat itu Alvin memang masih kecil untuk memahami itu.
"Kemana kita akan memindahkan makam itu pak, disanalah kota asal mereka. Aku tak ingin membuat mereka tidak tenang." ujar Alvin.
"Jika anda menginginkan pemakaman mewah, sebaiknya kita memesan 2 tempat pemakaman di Firdaus Memorial Park." jawab pak Santoso.
"Tentu saja aku menginginkan yang terbaik untuk orang tuaku. Tapi bagaimana lokasi tempat pemakaman itu?" tanya Alvin.
"Lokasinya sangat jauh dari pemakaman yang sekarang, tapi masih tetap di kota Bandung." jawab pak Santoso lagi.
Alvin berpikir sangat lama, tapi ia menginginkan yang terbaik untuk orang tuanya. Saat ia sedang berpikir, ia tak sadar jika Keke sudah menemaninya dan memeluknya dari belakang.
"Jangan lakukan itu sayang, aku sedang bicara pada pak Santoso." ujar Alvin.
"Siapa pak Santoso itu?" tanya Keke.
"Direktur PT. Mark Manequin di Indonesia." jawab Alvin.
"Negara lain?" tanya Keke lagi.
Alvin mengangguk, sedangkan pak Santoso terus mendengarkan pembicaraan mereka dari telepon.
"Baiklah pak Santoso, pesan pemakaman itu. Paling lambat 2 minggu aku akan ke Indonesia. Kita akan mengurusnya bersama." ujar Alvin.
"Baiklah pak Mark, aku akan mengaturnya. Anda memiliki kekasih?" tanya pak Santoso.
Alvin tertawa. "Anda akan tahu kabarnya minggu depan. Tapi ya untuk pertanyaan anda." jawabnya seraya mematikan teleponnya.
Alvin menarik Keke dan mendudukkan wanita itu dipangkuannya. "Kau berani menggodaku sayang." ujarnya.
__ADS_1
Keke menggeleng. "Apa aku tak boleh memelukmu?" tanyanya.
Alvin menggeleng. "Hanya aku yang boleh memelukmu." jawabnya seraya memeluk Keke dengan erat. "Aku mencintaimu Keke." ujarnya.
Keke menerima pelukan itu. Bu Farah berdeham untuk menarik perhatian mereka. Alvin mendongak. "Ada apa bu?" tanya Alvin.
"Tuan, apa yang ingin kalian makan untuk makan malam hari ini?" tanya bu Farah.
Alvin menatap jam tangannya. "Ya Tuhan sudah hampir malam, Keke mandilah lalu siap siap untuk makan malam." perintahnya.
Keke mengangguk dan berdiri dari pangkuan Alvin. Wanita itu kembali ke kamarnya untuk mandi.
"Adakah makanan yang Keke belum makan?" tanya Alvin pada bu Farah.
Bu Farah mengangguk menjawab pertanyaan tuannya.
"Buatkan makanan itu bu. Aku akan menuju meja makan bersama Keke setelah kami selesai membersihkan diri." pinta Alvin.
Pria itu juga menuju kamarnya, bu Farah memperhatikan tuannya yang semakin hari semakin terlihat senang karena kehadiran Keke. Lalu bu Farah menyuruh beberapa pelayan membantunya memasak makan malam.
*****
Sudah lebih dari 2 jam mereka di kamar, ternyata Keke lah yang sangat lama saat mandi kali ini. Lamanya wanita itu melebihi lamanya Alvin saat mandi.
"Aku suka dengan busa didalam bathub. Aku jauh lebih tenang saat berendam." jawab Keke.
Alvin tersenyum. "Asal kau senang aku akan ikut senang. Ayo kita turun, bu Farah sudah membuat makanan yang belum pernah kau coba." ajak Alvin.
"Benarkah?" ujar Keke bersemangat. Alvin mengangguk dan mengajak wanita itu ke ruang makan.
Disanalah makanan yang cukup banyak tersedia di meja makan, Keke duduk bersama Alvin tapi wanita itu lebih cerewet dari biasanya. Ia terus menanyakan pada bu Farah nama makanan itu.
"Kapan kau memakannya sayang, jika kau banyak tanya seperti itu." ujar Alvin.
Para pelayan tertawa. "Makanlah non, nanti dingin." ujar bu Farah.
"Alvin, bagaimana cara memakan ini?" tanya Keke.
Alvin tertawa mendengar pertanyaan itu. Kerang dara dan Lobster yang bu Farah sediakan membuat Keke kebingungan. Alvin mengajarinya dengan pelan agar wanita itu memahaminya. Keke mengikuti cara Alvin dan akhirnya bisa memakannya membuat ia sangat senang.
Wanita ini tetap saja polos saat ia kehilangan ingatannya, prilakunya sama seperti pertama kali ia berada di dalam manequin Keke. Ia tak memahami makanan manusia, tapi kini ia bahkan tak mempermasalahkan teman temannya di masak manusia. Jika aku ingat ia mengatakan manusia jahat karena membunuh sesama makhluk hidup. Mungkin jika Keke mengingatnya juga, ia tak akan mau memakan semua ini. pikir Alvin.
Bu Farah sangat tahu apa yang dipikirkan tuannya saat ini, ia sekarang hanya bisa tersenyum melihat keduanya. Pelayan Alvin berharap adegan ini tak berakhir setelah satu tahun.
__ADS_1
Keduanya menikmati makan malam mereka bersama. Besok pagi Alvin akan meninggalkan Keke untuk mengantar bu Farah menangani kebun mawar biru. Setelah mereka selesai, Alvin mengajak Keke ke ruang santai lagi.
"Kapan kau mengajakku jalan-jalan?" tanya Keke.
"Lusa setelah aku kembali dari kota Dinan." jawab Alvin.
"Tak bisakah aku ikut bersamamu?" pinta Keke.
"Tempatnya sangat jauh sayang, itu akan membuatmu kelelahan. Jadi berdiamlah di rumah. Kau bisa menonton televisi dan tidur seharian, tapi jangan lupa makan." ujar Alvin.
"Apa aku boleh tahu apa yang dilakukan bu Farah disana?" tanya Keke.
"Bekerja." jawab Alvin singkat.
"Aku tahu ia bekerja, tapi apa yang ia kerjakan." ujar Keke.
"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Alvin menghindari pertanyaan Keke.
Keke menggeleng. "Aku mau menonton film kartun." jawabnya.
Alvin mengangguk. "Aku akan mengambil obatmu." ujarnya.
"Bisakah aku berhenti meminumnya, setiap aku minum obat itu, aku akan tertidur terus menerus." kata Keke.
Tentu saja Alvin menggeleng dengan cepat. "Kau harus menghabiskan obatnya sampai minggu depan. Dokter Mattew akan memeriksa keadaanmu minggu depan, jika kau berhenti meminumnya, maka kau akan bersiap siap di infus lagi." jawab Alvin.
Keke memajukan bibirnya membuat Alvin gemas. "Kau ingin aku hukum lagi ya karena marah." ancam Alvin.
Keke menggeleng. "Baiklah tuan Mark, aku akan menjadi penurut." jawabnya.
Alvin tertawa mendengar Keke memanggilnya tuan Mark. Ia mengecup puncak kepala Keke sekilas lalu menuju kamarnya untuk mengambil obat Keke.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1