Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 34


__ADS_3

"Keke...buka pintunya." ujar Alvin sambil mengetuk pintu kamar itu.


"Kau gila, kau membiarkan aku tidur dipangkuanmu saat temanmu datang." teriak Keke.


"Oh ayolah sayang, aku hanya takut membangunkanmu. Jadi aku biarkan kau tetap berada dipangkuanku. Tapi mengapa kau marah, Calio bukan hanya temanku. Ia juga sudah seperti keluarga sendiri. Kau tak perlu malu sayang." ujar Alvin lagi.


"Tinggalkan aku Alvin." teriak Keke lagi.


Alvin sangat kesal sekali, ia akhirnya meninggalkan Keke untuk menemui Calio lagi.


"Bagaimana tuan Mark?" tanya Calio menggodanya.


"Diamlah, ia benar benar marah padaku. Sialan, baru kali ini aku takut menghadapi wanita yang sedang marah." jawab Alvin.


Calio tertawa terbahak-bahak, ia tak bisa menahan tawanya karena melihat atasan sekaligus sahabatnya itu ketakutan. "Biarkan saja dulu, nanti juga ia akan bicara lagi padamu. Wanita yang malu itu sangat wajar Vin, jangan kau ganggu dulu." ujarnya.


Alvin semakin kesal mendengar tawa Calio. "Kau tahu ini pertama kalinya aku menyukai wanita, jadi aku benar benar takut saat ia marah seperti itu." jawab Alvin kesal.


"Wanita hanya butuh dirayu, setelah itu ia akan kembali normal lagi." kata Calio.


Alvin mengangguk dan mengambil dokumen itu. "Seharusnya aku menyuruhmu menunggu di ruang kerjaku, bukan memperhatikan aku dan Keke bermesraan." ujar Alvin seraya menandatangani dokumen itu.


Calio kembali tertawa. "Kau masih juga kesal, bukan salahku. Kau lah yang menyuruhku duduk di depanmu." jawabnya.


"Sudahlah, lupakan saja masalahku. Besok kita berangkat jam 8 pagi. Aku ingin segera kembali ke rumah. Aku tak tahan jauh dari Keke." ujar Alvin.


"Kau berlebihan Vin, kita tak sampai seharian di kota kecil itu. Jika saat ini saja kau tak bisa jauh dari Keke, lalu bagaimana jika wanita itu meninggalkan dunia ini?" tanya Calio.


"Aku hanya memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bersamanya." jawab Alvin.


"Ajak saja Keke bersama kita." ujar Calio.


Alvin menggeleng. "Bukankah aku sudah bilang, aku tak ingin membuat Keke kelelahan. Ia masih butuh istirahat, dan aku belum mengatakan apapun soal kebun itu padanya. Hanya kau dan bu Farah yang tahu soal itu Cal. Aku tak ingin orang lain lagi tahu soal kebun itu." ujarnya dengan suara yang pelan.


"Apa kau tidak percaya pada Keke?" tanya Calio.


Alvin menggeleng. "Bukan itu, tapi aku harus lebih berhati-hati. Keke sekarang amnesia, aku takut semua ingatan yang aku berikan terlalu banyak, justru itu akan mengganggu ketenangan pikirannya." jawabnya.

__ADS_1


Calio mengangguk. "Terserah padamu saja Vin, aku sudah mengatur jadwal konferensi pers minggu depan. Siapkan dirimu memperkenalkan Keke pada dunia, saat kau selesai mengenalkannya, kau harus lebih berhati-hati menjaganya. Aku yakin selain Karen, ada pihak lain yang akan mengganggu wanitamu. Kau ingat, manequin Keke dulu sangat diinginkan, apalagi setelah mereka tahu ada yang asli dan hidup. Aku yakin banyak yang akan mendekati wanita itu dan berusaha memisahkannya darimu." pesan Calio.


"Aku akan membunuh mereka satu per satu." jawab Alvin datar.


Calio tertawa lagi, hiburan baru buatnya menganggu Alvin. "Baiklah, aku akan kembali ke perusahaan sekarang. Kau masih belum bisa kembali sampai kau mengenalkan Keke ke publik, selama itu serahkan perusahaan padaku." ujar Calio seraya berdiri.


Sebelum Calio keluar, ia kembali menggoda Alvin. "Selamat mencoba merayu kekasihmu, semoga berhasil."


"Dasar pria breng***..." teriak Alvin.


Calio tertawa terbahak-bahak dan segera lari meninggalkan Alvin yang sedang kesal sebelum ia terkena tendangan Alvin lagi.


*****


Hari semakin sore, Keke masih juga tak mau membuka pintu kamarnya. Alvin masuk ke ruang kerjanya, dan membuka pintu penghubung. Alvin tersenyum saja tahu pintu penghubung itu tak dikunci. Ia segera masuk dan menghampiri Keke. Pantas saja, Keke tak mau membuka pintunya. Ternyata wanita itu tertidur dengan pulas.


Obat yang sangat luar biasa, wanita ini bisa beristirahat sebanyak mungkin. Aku senang melihatnya tertidur tanpa harus merasakan kesakitan seperti pertama kali kami bertemu. gumam Alvin.


Ia menatap wanita cantik itu, dan membelai rambutnya yang panjang. Alvin terus menatap wajah imutnya, ia tak bisa menahan senyumnya. Keberadaan Keke sekarang membuatnya sangat bahagia.


Alvin menunjuk pintu penghubung kantornya.


"Oh ya ampun, aku bodoh. Seharusnya aku kunci juga pintu itu." ujar Keke lagi.


"Oh ayolah sayang, sampai kapan kau akan marah padaku. Aku tak bisa melihat wajahmu seperti ini. Aku janji tak akan mengulanginya lagi." ujar Alvin.


Keke terdiam namun sambil berpikir bagaimana caranya menghukum kekasihnya itu. Lalu ia tersenyum licik. "Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat." ujarnya.


"Katakan, aku akan menurutinya." jawab Alvin.


"Ajak aku jalan jalan keluar rumah." kata Keke.


Alvin terbelalak lalu menggeleng. "Yang lain." pinta Alvin.


Keke kembali merajuk membuat Alvin kebingungan. "Oh baiklah, tapi hanya sekitar taman rumah dan kolam renang. Kau belum pernah melihatnya kan." ujar Alvin.


"Bukan seperti itu, apa bedanya dengan ada di kamar ini. Aku ingin keluar dari rumah dan lingkungan ini." kata Keke keras kepala.

__ADS_1


Alvin menunduk di depan Keke. "Bersabarlah sayang sampai minggu depan, aku janji akan membawamu kemanapun kau mau. Tapi sekarang tidak bisa, hanya sekitar rumah ini yang aman buatmu. Ku mohon jangan marah." jawabnya.


Keke menghela nafasnya kesal. "Biarkan aku tidur sebentar lagi, kau keluarlah." pintanya.


Alvin memegang kedua pipi wanita itu, lalu ia mulai menciumi wajahnya. Keke berusaha menghindar tapi pegangan tangan Alvin sangat kuat.


"Aku tak akan berhenti sampai kau memaafkanku." ujar Alvin.


"Hentikan Alvin, aku tak bisa bernafas." jawab Keke.


Bukannya berhenti, Alvin justru menciumnya lebih lembut dan mulai memainkan lidahnya pada mulut Keke. Keke terkesiap merasakan sesuatu yang berbeda saat ini. Alvin mendorongnya sampai posisi Keke berada dibawah Alvin.


"Ini hukuman buat wanita yang suka marah." gumam Alvin seraya meneruskan ciumannya itu.


"Alvin aku tak bisa bernafas." ujar Keke lagi.


Alvin berhenti dan membiarkan mereka menarik nafas dalam-dalam. Setelah kembali normal, Alvin meneruskan ciuman itu. Kali ini, Keke sama sekali tak menolaknya. Mereka saling memanggut, Keke cepat belajar dari ciuman itu. Suara ketukan pintu menghentikan mereka.


"Sialan..." umpat Alvin. "Siapa?" teriaknya.


"Tuan Alvin ada telepon dari luar negeri. Pak Santoso ingin berbicara." ujar Ayu pelayannya.


Alvin kembali mengumpat, membuat Keke justru tertawa mendengarnya. "Tunggu aku sayang, jangan coba coba kabur dariku." ancam Alvin.


Keke malah semakin tertawa dengan keras. Alvin menatapnya kesal lalu keluar dari kamarnya untuk menerima telepon dari direktur PT. Mark Manequin di Indonesia.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2