
Suara langkah kaki itu semakin mendekati toko bunga. Alvin semakin penasaran siapa pemiliknya, apa hanya kebetulan saja namanya sama dengan kekasihnya yang menghilang.
"Siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Keke dengan suara lembutnya.
Seperti tersambar petir di siang hari, itulah yang Alvin rasakan. Matanya terbuka lebar seperti halnya Calio saat ini. Keduanya terpaku dengan mulut yang menganga, nama dan wajahnya sama persis dengan Keke yang hilang begitu saja.
"Keke..." panggil keduanya bersamaan.
Keke tersenyum pada mereka. "Benar aku Keke, pemilik K' Florist. Ada yang bisa aku bantu pak?" tanyanya.
Alvin tak bisa menahan dirinya, ia memeluk wanita itu seraya menangis. "Mengapa kau tinggalkan aku, mengapa kau ada disini, mengapa kau tak mengatakan apapun padaku sebelum kau pergi?" tanya Alvin.
Keke berusaha melepaskan pelukan Alvin. "Pak, tolong sopan. Apa maksud pertanyaanmu? Tolong lepaskan aku." ujar Keke.
Alvin bergeming, ia semakin erat memeluknya. Keke terus memberontak, melihat Keanehan pada Keke. Calio menghentikan Alvin.
"Hentikan Vin, kau salah orang." ujar Calio.
Alvin melepaskan pelukannya seraya menatap wajah Keke yang menahan emosinya.
"Maafkan aku nona, temanku ini pernah kehilangan kekasihnya yang wajahnya sama persis dengan anda." ujar Calio.
"Bagaimana mungkin Cal, wanita ini benar benar Keke milikku." ujar Alvin tak percaya. "Keke apa kau kehilangan ingatanmu kembali, katakan padaku. Aku merindukanmu sayang." sambung Alvin.
Keke mundur, ia semakin merasa pria yang ia hadapi gila. "Jika kalian tak ada urusan lagi, lebih baik keluar dari sini." usirnya.
Calio mengangguk. "Maaf sekali lagi nona." ujarnya seraya menarik Alvin keluar.
Alvin memberontak, ia sangat enggan meninggalkan wanita yang selama ini ia cari.
"Hentikan Vin, kita bicara terlebih dahulu." pinta Calio.
Alvin akhirnya menuruti keinginan sahabatnya, ia mengikuti Calio menuju mobilnya.
"Aku yakin wanita itu Keke." ujar Alvin.
"Aku juga percaya itu, nama dan wajahnya sama persis. Tapi kita tak bisa terburu buru Vin, bisa saja wanita itu kehilangan ingatannya. Kau membuatnya takut dan marah tadi." jawab Calio.
Alvin menundukkan kepalanya, air matanya kembali tumpah. Ia sama sekali tak malu pada sahabatnya, selama ini ia memendam kerinduan yang begitu mendalam pada kekasihnya. Calio hanya bisa menghela nafasnya, ia sangat tahu apa yang Alvin rasakan sekarang.
Calio menghidupkan mobilnya, tujuan awal mereka gagal karena kehadiran wanita itu. Calio membawa Alvin menuju rumahnya.
"Beristirahatlah, tenangkan dirimu Vin. Aku yang akan menangani perusahaan." ujar Calio, tapi sahabatnya tak menjawab apapun.
Alvin terus menunduk, ia merasakan sesak pada dadanya semakin mencengkram. Ingin sekali tadi ia memeluk, mencium dan membawa Keke kembali padanya. Tapi benar kata Calio, ia harus bersabar lagi. Dua tahun saja ia bisa lalui, mengapa ia tak mampu untuk menunggu sedikit lagi.
__ADS_1
*****
"Darimana asal pria pria tadi?" tanya Keke kesal.
"Kami tak tahu nona, mereka datang dan menanyakan mawar biru, itu saja." jawab Putri.
"Pria itu sedikit gila, bagaimana ia bisa memelukku." ujar Keke. "Entah kenapa ada perasaan aneh saat ia memelukku, seperti ada perasaan tak asing dan aku sebenarnya ingin menangis saat pria itu memelukku." pikir Keke.
"Tapi nona pria tadi tampan sekali." goda Lina.
"Husss... sudahlah, lanjutkan pekerjaan kalian. Aku akan ke kebun saja, jika sudah sore kalian boleh pulang." ujar Keke seraya meninggalkan mereka.
Keke kembali ke kebun mawarnya, ia menatap hamparan indah itu. Tapi ia mulai terganggu dengan pria yang memeluknya sambil menangis.
"Ya Tuhan, siapa pria itu? Mengapa aku merasa dekat saat ia memelukku? Jantungku ikut berdetak lebih cepat saat pria itu menatap wajahku. Apakah aku begitu mirip dengan kekasihnya yang hilang, kasian sekali ia." gumam Keke.
Tangannya tiba-tiba tertusuk duri mawar yang ia pegang.
"Aw...kau menyakitiku." ujar Keke seperti wanita gila. "Ya ampun, kenapa wajah pria itu menggangguku sih. Sepertinya ia tidak berpura pura, sayang sekali aku tak tahu siapa mereka." sambungnya.
Keke akhirnya kembali ke rumahnya, ia ingin merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak.
*****
"Aku tahu kau terpaksa Keke, kembalilah padaku. Aku sangat merindukanmu, Aku mohon Keke tetaplah bersamaku di dunia ini." ujar Alvin.
"Aku bisa melakukannya jika aku benar benar menjadi manusia Alvin, tapi aku tak mungkin bersamamu sekarang karena aku adalah seorang..."
Keke terbangun dengan peluh yang memenuhi tubuhnya. "Ya Tuhan, mimpi apa itu. Siapa Alvin, apa hubungannya denganku?" ujarnya.
Keke turun dari ranjangnya, ia menatap jam dinding masih jam 5 sore. "Ternyata aku ketiduran sampai mimpi aneh seperti itu." ujarnya lagi.
Keke keluar kamar menuju dapur, disana masih ada pelayannya.
"Nona sudah bangun." ujar mbok Sari.
"Iya mbok, masak apa?" tanya Keke.
"Rendang non, non kan paling suka rendang. Oh ya non, dari tadi ada telepon dari seorang pria, katanya namanya Alvin." ujar mbok Sari.
Seketika Keke menjatuhkan gelasnya hingga berdentang keras ke lantai.
"Non tidak apa apa kan?" tanya mbok Sari panik.
"Ah maaf mbok aku tak sengaja." jawab Keke.
__ADS_1
"Hati hati non, biar mbok yang bersihkan." ujar mbok Sari.
"Siapa tadi yang mencariku?" tanya Keke.
"Tuan Alvin, ia sudah 5 kali menghubungi kemari. Mbok pikir mau memesan bunga, tapi katanya mau berbicara sama non Keke." Jawab mbok Sari.
Keke mengangguk. "Terima kasih mbok, kalau pria itu menelpon lagi, katakan aku tak mengenalnya." pintanya seraya meninggalkan dapur menuju ruang santai.
Jantung Keke terus berdebar lebih cepat, ia merasa aneh. Dalam mimpinya juga memanggil nama itu dan sekarang pria yang namanya sama mencarinya. Keke mengedikkan tubuhnya, ia merasa semua seperti ada kaitannya tapi justru membuatnya takut. Suara dering telepon mengejutkannya, ketakutannya semakin bertambah. Sepertinya mbok Sari sedang mengangkatnya.
Keke menunggu beberapa menit, benar saja mbok Sari memanggilnya.
"Non maaf, pria itu memaksa ingin berbicara." ujar mbok Sari.
Keke menghela nafasnya. "Baiklah." ujarnya seraya menuju letak telepon.
"Halo...anda siapa?" tanya Keke.
"Syukurlah akhirnya kau mau mengangkat teleponnya, maafkan aku nona Keke. Aku Alvin Mark yang tadi siang ke toko bunga anda. Aku mau minta maaf atas perlakuan yang tak masuk akal tadi. Aku bukan sengaja melakukannya, aku benar benar teringat kekasihku yang sama persis sepertimu." ujar Alvin.
"Lupakan saja pak Alvin, aku sudah memaafkanmu. Jika tak ada..."
"Tunggu nona..." potong Alvin. "Aku ingin membicarakan soal bisnis dengan anda, bisakah kita bertemu?" tanya Alvin.
"Bisnis? Maaf pak Alvin, aku tak ingin bekerja sama menjalankan bisnis bungaku. Aku cukup puas dengan toko yang ada sekarang." jawab Keke.
"Ini bukan toko bunga anda, tapi aku hanya butuh mawar biru. Aku pemilik perusahaan PT. Mark Manequin, usahaku adalah membuat boneka atau manequin. Aku membutuhkan mawar biru untuk pewarna matanya. Sebenarnya aku tinggal di Paris dan memiliki kebun yang sama dengan anda, hanya saja aku sedikit repot jika harus mengimpor bahan tersebut. Aku mohon nona." pinta Alvin.
"Baiklah anda bisa datang besok." jawab Keke seraya menutup teleponnya.
Keke bingung dengan dirinya sendiri, mengapa kali ini ia sama sekali tak menolak pria itu. Tapi ia hanya ingin tahu seperti apa yang pria itu inginkan darinya. Di lain sisi Alvin bisa bernafas lega, dengan cepat Calio bisa mendapatkan nomor telepon rumah wanita itu. Ia akan mendekati Keke perlahan sampai wanita itu mengingat semuanya.
*****
Wah... harusnya sudah selesai, akan dilanjutkan ke season kedua. Tapi kalian pasti akan kecewa, jadi author akan memperpanjang cerita ini sedikit sampai mereka hidup bahagia bersama.
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1