Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 8


__ADS_3

Alvin terkejut saat masuk ke kamarnya, Keke memakai baju yang sangat cantik dan ia terlihat seperti manusia pada umumnya. Alvin mengenyahkan pikirannya lalu menyerahkan makanannya pada Keke.


"Ini makanlah." perintah Alvin.


Keke menatap keranjang yang berisi buah buahan penuh di meja yang diletakkan Alvin.


"Terima kasih." jawab Keke.


"Aku akan berangkat bekerja sekarang. Kau harus tenang, jangan buat keributan dan juga jangan mencoba kabur dari kamar ini. Jika kau melakukannya, aku akan memaksamu keluar dari rumah ini." ancam Alvin.


Keke mengangguk, ia hanya bisa mengikuti saran pria itu, karena ia bingung harus bagaimana.


"Apa aku boleh bertanya?" tanya Keke.


"Silahkan." jawab Alvin datar.


"Aku berada di negara mana?" tanya Keke lagi.


Alvin terbelalak. "Bagaimana caramu sampai kemari jika kau tak tahu dimana kau berada?" tanyanya.


"Aku terjatuh." jawab Keke datar.


Alvin mengingat saat malam itu ia mendengar suara seperti benda terjatuh. "Apa kau jatuh di halaman rumahku? Apa kau berasal dari langit atau planet lain?" tanyanya.


Peri Keke mengangguk. "Aku jatuh di halaman rumahmu, tapi aku bukan dari langit." jawabnya.


Alvin mundur ketakutan. "Kau benar benar hantu, aku sudah mencari keberadaan benda terjatuh di halamanku. Tapi aku tak melihat apapun. Siapa kau sebenarnya?" tanyanya.


"Ya Tuhan, aku bukan hantu. Jangan kau takut seperti itu Alvin. Dan aku sudah mengatakan berkali kali padamu kalau aku tak bisa mengatakan siapa aku sebenarnya. Aku kemari hanya ingin menjalankan tugas dari rajaku, tapi aku juga tak bisa mengatakannya padamu. Percayalah, aku tak akan melukai kaum manusia." ujar Keke.


Alvin menghela nafasnya, ia benar benar masih sangat bingung menerima kenyataan jika manequin buatannya hidup dan berbicara padanya. "Aku berangkat sekarang, ingat pesanku jangan pergi kemanapun dan membuat keributan." ujarnya.


"Alvin aku ingin ikut denganmu." pinta Keke.


"Aku akan mencari cara agar kau bisa keluar dari rumahku, sementara kau harus mengikuti permintaanku Keke. Dan ini negara Paris." jawab Alvin seraya meninggalkan Keke dan menguncinya.


*****


Alvin terus berpikir sepanjang perjalanan menuju perusahaannya. Setelah sampai di perusahaannya, ia masih merenung di dalam mobilnya. Suara ketukan di kaca mobilnya membuatnya terkejut. Alvin menurunkan kaca mobilnya, ternyata itu Calio.


"Sejak kapan atasan kita berada di tempat parkir karyawan?" tanya Calio.


Alvin memandang sekitarnya, ia tak sadar jika berada di lahan parkir itu.


"Sialan, aku tak berkonsentrasi." jawab Alvin.


"Sepertinya kau harus mengatakannya padaku bos. Apakah ini menyangkut Keke?" tanya Calio lagi.


Alvin bingung harus menjawab apa pada sahabat sekaligus asistennya. "Bawa mobilku ke tempat biasa, dan temui aku di kantorku." perintah Alvin seraya ia turun dari mobilnya.

__ADS_1


Calio mengangguk dan menuruti perintah atasannya. Alvin menuju kantornya membuat security terkejut.


"Pagi pak, dimana kendaraan anda pak. Mengapa anda jalan kaki?" tanya security pak Bagas.


"Selamat pagi pak Bagas. Pak Calio yang memarkirkan mobilku." jawab Alvin sambil terus berjalan tanpa menunggu jawaban security itu lagi.


Ia menuju kantornya, disana sudah ada sekertarisnya Jane.


"Pagi pak Alvin." sapa Jane.


"Pagi juga Jane, kopi pahit hari ini." ujar Alvin.


"Baik pak." jawab Jane. Kopi pahit, artinya pak Alvin dalam keadaan kurang baik hari ini. pikir Jane.


Tak lama Jane masuk dan memberikan kopinya pada Alvin.


"Adakah jadwal yang mendesak hari ini?" tanya Alvin.


Jane menggeleng. "Anda tak ada jadwal meeting ataupun pertemuan penting pak, tapi nona Karen." ujar Jane.


"Jangan ganggu aku hari ini, aku akan berada disini dengan pak Calio. Ada yang harus kami diskusikan. Katakan pada Karen aku sibuk." jawab Alvin.


"Baik pak." jawab Jane seraya meninggalkan ruangannya.


Setengah jam kemudian, Calio mengetuk pintu. Alvin menyuruhnya masuk.


"Benarkah?" teriak Calio.


Alvin menendang kakinya agar diam. "Sialan, kau ini." ujarnya.


"Maaf, aku sangat terkejut Vin. Apa kau yakin tidak bermimpi?" tanya Calio.


Alvin menggeleng. "Sampai pagi tadi pun aku memberinya sarapan, ia seorang vegetarian. Tapi ia bilang berasal dari dunia lain. Awalnya aku pikir ia hantu yang masuk dalam tubuh Keke. Tapi ia mengatakan ia bukanlah hantu tapi ia juga tak bisa mengatakan siapa ia sebenarnya. Dan secara kebetulan namanya pun Keke." ujarnya.


"Lalu?" tanya Calio penasaran.


"Aku menyuruhnya pergi dari rumahku, tapi ia tak bisa keluar dari tubuh Keke. Jika ia pergi maka Keke akan dibawanya, dan kau tahu kan Keke sudah terkenal di Paris, itu akan membahayakannya. Dan aku tak ingin kehilangan Keke. Aku makin gila memikirkannya Cal." jawab Alvin.


"Bisakah aku bertemu dengannya?" tanya Calio.


Alvin mengangguk. "Tapi tidak sekarang, aku takut ia ketakutan saat bertemu orang lain. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.


Calio bingung harus menjawab apa, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa kau bisa membuat Keke kedua?" tanyanya.


"Maksudmu?" tanya Alvin.


"Maksudku, buatlah Keke yang baru, yang sangat mirip sebelumnya. Dan kau perkenalkan Keke yang hidup sebagai saudara atau teman kecilmu. Katakan pada dunia, kau membuat manequin Keke karena terinspirasi wajahnya. Jadi kau tak akan mengurung Keke terus menerus Vin. Selama itu kita harus cari cara melepaskan Keke dari tubuhnya untuk kembali ke dunianya." jawab Calio.


"Kau benar, tapi apakah ada orang yang akan percaya. Bagaimana para pelayanku?" tanya Alvin lagi.

__ADS_1


"Tentu saja seorang Alvin akan dipercaya, dan soal pelayanmu, mereka sangat setia padamu. Mereka bisa menjaga rahasiamu. Aku bisa membantumu membuatkan identitas baru buat Keke. Bagaimana?" tanya Calio.


"Lebih baik aku katakan Keke adalah teman kecilku, aku akan memanfaatkan keberadaannya untuk jauh dari Karen. Idemu sangat cemerlang Cal. Tapi aku membutuhkan waktu setidaknya satu bulan untuk membuat Keke kedua." ujar Alvin.


"Aku pikir kau tak butuh waktu selama itu Vin, kau pernah membuatnya bukankah akan lebih mudah membuat yang kedua." ujar Calio.


"Aku sudah lama tak menyentuh Keke, aku harus tahu detail ukuran tubuhnya. Dan aku tak mungkin menyentuhnya sekarang, ia wanita hidup Cal." jawab Alvin.


Calio tertawa. "Kau memang pria memiliki harga diri yang sangat tinggi Vin. Kau membuat manequin tapi kau sangat menghargai jenis kelaminnya." ejeknya.


"Diamlah Cal, atau aku tendang kau sampai ke ruanganmu." ancam Alvin.


"Maafkan aku Vin, aku hanya menggodamu. Sejak kau membuat Keke, kau tak pernah mau dekat dengan wanita termasuk Karen. Aku pikir karena kau selalu melakukannya dengan Keke di rumah." ujar Calio.


Alvin menendang kaki Calio lagi. "Sialan, kau pikir aku pria semacam itu. Kau tak mengenalku Cal. Aku cukup merasa nyaman saja berada di dekat Keke tanpa harus menyentuhnya. Selama ini pelayanku yang mengganti bajunya. Walaupun ia hanya sebuah boneka, tapi aku menghormatinya sebagai wanita. Dan untung saja selama ini aku tak pernah membiarkannya melihatku berganti pakaian." ujarnya.


Calio tertawa lebih keras membuat Alvin semakin kesal.


"Aku sangat penasaran dengan Keke yang hidup. Lakukanlah pendapatku Vin, aku akan menjaga rahasiamu sampai mati." janji Calio.


Alvin mengangguk. "Aku percaya padamu, selama satu bulan ke depan, aku akan menyerahkan perusahaan padamu Cal. Aku akan memangkas waktu kerjaku didalam ruang rahasia pabrik. Jika kau butuh aku, kau tahu kan bagaimana caramu kesana." tanyanya.


Calio mengangguk. "Baiklah sobat, kau harus melakukan yang terbaik. Aku akan kembali bekerja sekarang." ujarnya.


"Terima kasih atas segalanya Cal." ucap Alvin.


"Siap pak bos." jawab Calio seraya meninggalkan ruangan Alvin.


Alvin memanggil Jane. "Jane, mulai besok sampai sebulan kedepan aku akan pulang lebih awal. Mungkin aku hanya bekerja sampai pukul 1 siang, apapun pekerjaanku setelah jam itu serahkan pada pak Calio. Ada sesuatu yang akan aku kerjakan selama sebulan kedepan. Kau mengerti kan? Jika ada yang mencariku katakan aku ke luar negeri." ujarnya.


"Bagaimana klien kita yang ingin bertemu anda langsung?" tanya Jane.


"Atur sebelum jam 1 siang." jawab Alvin.


"Baiklah pak, aku mengerti." jawab Jane.


Alvin hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Besok adalah awal baru untuknya membuat manequin Keke kedua. Ia berharap Keke bisa keluar sebelum waktu itu, jadi ia tak akan repot memperkenalkannya ke publik.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2